
Di rumah utama Nyonya Eliana sedang menyiram tanaman seperti biasanya, saat sedang menyiram entah kenapa kepala Nyonya Eliana seperti berputar-putar lalu dia memegang kepalanya yang terasa sakit sehingga penyiram tanaman pun terjatuh.
Nyonya Eliana pun melangkahkan kakinya dengan gontai, kala rasa sakit di kepalanya tidak tertahankan. Nyonya Eliana perlahan-lahan menaiki anak tangga menuju kamarnya, dia akan mengambil obat sakit kepala yang berada di laci kamarnya.
Masuk ke dalam kamar dan mencari obat sakit kepala lalu meminumnya, sepersekian detik obat pun telah di minum dan Nyonya Eliana pun menarik nafasnya dalam-dalam.
“Kenapa kepalaku terasa sakit sekali.” Gumam Nyonya Eliana.
Lalu pintu di buka dan masuklah Tuan Vikram dan menghampiri sang istri tercinta.
“Sayang ada apa denganmu?”Menghampiri sang istri.
“Tidak apa-apa sayang, aku baik-baik saja.”Tersenyum manis.
“Baiklah, aku akan mandi dulu.”Jawab Tuan Vikram, lalu melangkahkan kaki menuju kamar mandi.
“Iya sayang.”
Setelah kepergian Tuan Vikram, Nyonya Eliana memegang kepalanya yang begitu sakit, seperti sakit kepala dia mencoba memijat perlahan kepalanya mungkin bisa mengurangi rasa sakit. Tetapi bukan berkurang malah semakin sakit di tambah lagi dengan mimisan yang membuat Nyonya Eliana semakin bingung dengan penyakitnya.
Dia pun mengambil tisu dan menyumpal kedua hidungnya agar tidak mimisan. Sepersekian detik pun mulai normal kembali, tetapi belum lama tiba-tiba tubuhnya mulai terasa demam dan badannya mulai menggigil kedinginan.
Nyonya Eliana naik ke atas ranjang dan menyelimuti tubuhnya yang terasa dingin, lalu Tuan Vikram telah selesai dengan ritual mandinya dan menghampiri sang istri. Melihat sang istri memakai selimut di siang hari membuatnya begitu khawatir.
“Sayang, apa kau sakit?”Tanya Tuan Vikram, lalu memegang keningnya.”Panas sekali, ayo kita ke dokter.” Bangun dari duduknya.
Nyonya Eliana menarik tangan Tuan Vikram.”Tidak perlu sayang, aku hanya kelelahan saja tidak perlu ke dokter, setelah istirahat pasti akan membaik.”
“Iya sudah kau istirahat saja, jika butuh sesuatu kau panggil saja aku.”Mengecup kening Nyonya Eliana.
Nyonya Eliana menganggukkan kepalanya, sementara Tuan Vikram keluar dari kamarnya menuju lantai bawah dan di sana sudah ada Yehezkiel yang sedang mengerjakan berkas yang belum selesai, karena ini hari libur begitu juga dengan Kezia yang sibuk dengan tugas kampusnya.
“Kiel, apa pekerjaanmu masih banyak?” Tanya Tuan Vikram lalu duduk di samping Yehezkiel.
“Lumayan Pi, ada apa?”Menoleh sekilas, lalu fokus kembali ke laptopnya.
“Tidak apa-apa, Papi hanya bertanya saja. Iya sudah, Papi akan kembali ke kamar menemani Mamimu.”Bangun dari duduk.
“Mami kenapa Pi? Sakit?”
“Mamimu sedang istirahat, mungkin dia kelelahan.”
“Baiklah Pi.”
Tuan Vikram menaiki anak untuk menemani sang istri tercinta. Yehezkiel pun melanjutkan kembali pekerjaannya, lalu Kezia menghampiri Yehzkiel.
“Kakak, apa kau tahu dimana mie ayam yang enak?” Tanya Kezia.
Yehezkiel mengerutkan alisnya.”Mie ayam? Maksudmu orang yang berjualan pake gerobak gitu.”
“Iya kak, sekarang aku jarang melihat kak Eve. Apa kakak tahu dimana tempat tinggal kak Eve?”Ucap Kezia antusias.
__ADS_1
Yehezkiel yang sedang minum pun tersedak hingga mengenai wajah Kezia, dan Kezia pun kesal kepada Yehezkiel.
“Uukh...”
“Blurrr”
“Kakak.... Aku Kezia bukan tanaman Mami.”Sambil mengusap wajahnya yang basah.
“Maaf Zia, tidak sengaja!”Jawab Yehezkiel.
“Sudahlah kakak membuatku kesal.”
Kezia bangun dari duduknya dan melangkahkan kakinya dengan raut wajah kesalnya, Setelah kepergian Kezia lalu Yehezkiel pun teringat dengan Evelyn. Karena sudah seminggu dia tidak pernah menemuinya, sejak saat itu Evelyn selalu menghindar dan tidak mau bertemu dengannya.
“Lebih aku cari dia saja.”Gumamnya.
Yehezkiel merapikan pekerjaannya lalu dia mengambil kunci mobil tak lupa juga memakai jaket dan juga kacamata hitamnya. Keluar dari dalam rumah menuju mobil dan masuk lalu melajukannya ke rumah Evelyn.
Mobil pun telah sampai di gang kecil lalu dia pun keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam gang. Menyusuri gang yang sempit lalu sampai di depan kontrakkan sederhana, lalu perlahan melangkah maju dan tangannya mulai terulur untuk mengetuk pintu tetapi dia ragu.
Di saat bersamaan pintu pun di buka oleh gadis kecil, dia pun menyambut seseorang yang berdiri di depan pintu yang terdiam.
“Paman tampan, kenapa kau ke sini? Oh aku tahu pasti paman mencari kakakku ‘kan!” Tebaknya dengan senyum manis.
“Hah! It-itu, apakah kakakmu ada?”Jawab Yehezkiel gugup.
“Ada paman, masuklah! Kau tunggu di sini, aku akan memanggil kakak dulu.” Menarik tangan Yehezkiel masuk ke dalam dan menyuruhnya untuk duduk.
“Lucu sekali mereka berdua.”Gumam Yehezkiel, sambil mengambil salah satu foto tersebut.
Saat sedang melihat foto tersebut suara seseorang mengejutkan Yehezkiel dan hampir saja bingkai itu terjatuh.
“Jangan menyentuhnya.”Ucapnya datar.
Yehezkiel menoleh lalu dia meletakkan kembali bingkai foto itu ke tempat asalnya.
“Eve, apa kabarmu?”Tanya Yehezkiel.
“Tidak perlu basa basi lagi, untuk apa kau ke sini.”Melipat tangan di dada.
Yehezkiel menarik nafasnya lalu menghembuskannya perlahan-lahan.
“Eve, aku mohon...”Ucapannya menggantung, kala dering ponsel Yehezkiel berdering.
Drrrttt Drrttt Drtt
Yehezkiel pun merogoh saku celananya, dengan cepat menjawab karena panggilan dari Tuan Vikram.
“Ada apa Papi?”
.........
__ADS_1
“Apa? Baiklah aku segera pulang!”
.........
Dengan cepat Yehezkiel menutup panggilan tersebut, lalu dia menatap sebentar Evelyn lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumah Evelyn dengan terburu-buru.
Setelah Yehezkiel pergi, Evelyn pun penasaran ada apa sebenarnya karena terlihat dari raut wajah Yehezkiel begitu khawatir.
“Apa terjadi sesuatu? Tetapi untuk apa aku memikirkan, itu bukan urusanku lebih baik aku lanjutkan lagi pekerjaanku.”
Mobil Yehezkiel telah sampai di rumahnya lalu dengan cepat dia pun keluar dari dalam mobil dan membanting pintu mobil tersebut, karena dia begitu khawatir dengan kabar yang di beri tahu oleh Tuan Vikram.
“Papi, ada apa dengan Mami? Kenapa Mami pingsan.”Tanya Yehezkiel dengan raut wajah cemasnya.
“Papi tidak tahu Mamimu sakit apa, yang pasti badan Mamimu terasa panas dan juga mimisan Kiel.”Menggendong tubuh Nyonya Eliana dan masuk ke dalam mobil.
“Kiel, Papi akan ke rumah sakit, jika kau mau ikut menyusul saja.”Ucapnya dengan terburu-buru.
Yehezkiel menganggukkan kepalanya dia pun masuk ke dalam rumah, dan Kezia sudah rapi dengan pakaiannya.
“Kak, ayo kita ke rumah sakit.”Ajak Kezia.
“Ayo cepat.”
Setelah masuk ke dalam mobil dan melajukannya menuju rumah sakit, selama perjalanan mau Yehezkiel ataupun Kezia, mereka sama- sama khawatir dengan keadaan Nyonya Eliana yang semakin lama semakin menua.
Mobil telah sampai di depan rumah sakit, keduanya pun segera keluar dari dalam mobil lalu dengan langkah cepat mencari keberadaan Tuan Vikram, Kezia pun melihat Tuan Vikram dan langsung menarik tangan Yehezkiel.
“Papi... Bagaimana keadaan Mami sekarang? Apakah baik-baik saja.” Tanya Kezia khawatir.
“Sayang sabarlah, dokter sedang memeriksa keadaan Mamimu.”Mengussp lembut rambut Kezia.
Mereka pun memutuskan untuk menunggu di kursi tunggu sampai dokter keluar dari ruangan tersebut. Tak lama dokter pun keluar dari ruangan tersebut Tuan Vikram, Yehezkiel, begitu juga kezia mereka semua bangun dari duduknya segera menghampiri dokter tersebut.
“Dok, bagaimana keadaan istri saya? Apakah dia baik-baik saja?”Tanya Tuan Vikram.
“Istri Tuan harus di rawat di ruang ICU, karena penyakitnya yang begitu serius sehingga harus di rawat di ruangan yang lebih intensif.”
“Lakukan saja dokter, yang terbaik untuk istriku.”Menepuk bahu dokter tersebut.
“Bima, tolong selamatkan Mami agar dia cepat pulih kembali.”Menepuk bahu sebelahnya.
“Kau tenang saja Kiel, tim dokter akan melakukan yang terbaik.”Sahut dokter tampan tersebut.
“Baiklah.”
Setelah memindahkan ruangan Nyonya Eliana ke ruangan yang lebih intensif, semuanya pun saling berdoa demi kesembuhannya Nyonya Eliana.
Bersambung
__ADS_1