
Setelah sekian lama mencari tahu tentang keberadaan adiknya kini dia pun sangat yakin jika orang yang selama ini di carinya selalu ada di sekitarnya.
"Bagaimana caraku memberitahunya?"Ucapnya dengan menatap lurus ke depan.
Lalu dering ponsel miliknya pun berdering lalu di melihatnya dan menekan tombol hijau.
"Bagaimana keadaanmu dan apakah kau sudah menemukan dia?"
"Ibu tenang saja, aku sudah menemukannya, ibu sabarlah aku akan berusaha menyakinkan dia Bu"
"Baik nak, ibu tutup dulu teleponnya"
Dia pun menutup telepon dan memikirkan lagi bagaimana caranya agar dia bisa tahu. Lalu dia pun teringat dengan seseorang yang pernah bertemu dengannya beberapa waktu yang lalu.
"Baiklah, lebih baik aku menghubunginya saja"gumamnya.
Dia pun mencari kontak nama seseorang dan meneleponnya.
Tutt
"Hallo Nona, bisakah kita bertemu?"
"Baiklah, Tuan di tempat biasa saja"
"Baiklah"
Dia pun mematikan ponselnya lalu bersiap melangkahkan kakinya keluar dari Apartemennya menuju mobilnya, lalu di melajukan ke cafe tempat biasa mereka bertemu.
Beberapa menit kemudian mobil pun telah sampai di cafe tersebut dan keluar dari dalam mobil melangkah masuk dan mengedarkan pandangannya.
Seseorang pun melambaikan tangannya ke arah dia, dia pun menghampirinya dan duduk berhadapan di depannya.
"Apakah kau sudah menunggu lama Nona?"Tanya lalu duduk.
__ADS_1
"Tidak Tuan, aku baru saja sampai"Ucapnya tersenyum manis.
Sebelum bertanya dia pun menghembuskan nafas kasarnya."Baiklah Nona, aku ingin bertanya lagi tentang dia"
"Iya Tuan silahkan saja, aku pasti akan menjawab pertanyaan darimu"sahutnya.
"Jadi begini Nona Aini, kau 'kan temannya Eliana selama di panti asuhan, apa kau pernah melihat benda ataupun sejenisnya"
Aini dia adalah orang yang di temui olehnya karena beberapa waktu yang lalu dia tidak sengaja melihat Eliana bersamanya.
"Sepertinya tidak ada Tuan? apakah Tuan yakin jika Eliana adalah adik Tuan yang selama ini hilang?"Tanya Aini, dia tidak begitu yakin.
"Aku tidak tahu pasti, tetapi aku yakin Nona Aini jika Eliana adalah adikku yang selama ini aku cari"ucap Tuan Daniel, iya dia adalah Tuan Daniel yang sedang mencari tahu tentang Eliana sebenernya."Tetapi Aini, aku minta tolong padamu,bujuk Eliana agar mau melakukan tes DNA, agar aku yakin jika dia adalah adikku"
"Aku harus bagaimana Tuan? Aku takut jika Eliana akan curiga padaku!"Jawab Aini yang khawatir.
"Apa kau punya cara?"Tanya Tuan Daniel yang bingung.
"Aku akan berusaha mencari caranya Tuan, kau tenang saja."Melihat jam di pergelengan tangannya."Baiklah Tuan, ada hal penting yang harus aku urus Tuan, kalau begitu aku permisi dulu" bangun dari duduknya.
"Terima kasih Nona Aini, atas kerja samanya"
Aini pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis meninggalkan Tuan Daniel.
Sementara di dalam kamar seorang gadis masih terlelap dalam pelukkan seseorang yang membuatnya lelah bertempur semalaman. Perlahan-lahan dia membuka matanya dan terkejut kerena terlintas di pikirannya tentang semalam dan membuatnya mendorong tubuh seseorang tersebut.
"Kau sudah bangun"ucapnya dengan suara seraknya.
"Kau..kau...Apa yang kau lakukan!"Ucapnya yang malu jika dia mengingatnya.
"Kau semalam tidak bersikap seperti sayang, kau malah menikmatinya dan menyuruhku lagi dan lagi"ucapnya menggoda.
"Vikram mesum.."ucap Eliana, memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Hahahaha kau sangat menggoda sayang"ucap Vikram bangun dari tidurnya dan bersandar pada ujung ranjang.
Eliana masih memalingkan wajahnya dia masih malu lalu dia menoleh kebelakang dan tentu saja membuat Vikram semakin ingin menggodanya lagi.
"Tidak perlu mengintip seperti itu, apakah kau mau lagi?Goda Vikram lalu menarik bahu Eliana.
"Ishh siapa yang mau lagi Vikram mesum, sudahlah aku akan ke kamar mandi"Ucap Eliana yang langsung bangun, tetapi dia merasakan sakit di are sentitifnya."Aduh... sakit"
Vikram yang melihat hal itupun segera bangun dan menghampiri Eliana yang kesakitan.
"Ada El, apa kau sakit?"Tanya Vikram yang khawatir.
Lalu Eliana menatap Vikram dengan tubuh yang polos dan memperlihat si belut licinnya yang sedang tertidur pulas dan mata Eliana membulat lalu berteriak dan menutup matanya.
"Akh..belut licin,"teriak Eliana.
Vikram pun mengedarkan pandangannya melihat ke sana ke mari karena Eliana berteriak menyebut belut.
"Dimana.. dimana belutnya?"Ucap Vikram yang mencari belut tersebut.
Eliana masih menutup matanya lalu dia sedikit mengintip di balik celah tangannya dan menunjuk ke arah senjata Vikram, dan Vikram mengikuti arah tangan Eliana dan membuat ya tersenyum tipis.
"Aku kira belut yang mana, jika belut yang ini bukankah kau sudah merasakannya dan menikmatinya"ucap Vikram terkekeh.
Melihat Vikram yang menggodanya membuat Eliana semakin kesal saja.
"Cepat tutup belut mu itu!" ujar Eliana.
"Untuk apa aku menutupnya, kau bahkan sudah puas dengan belut ku ini, oh aku tahu atau kau ingin merasakan belut ini lagi"mengedipkan sebelah matanya.
"Vikram, menyebalkan kau"Ucap eliana berusaha untuk bangun dan menuju kamar mandi.
Vikram hanya terkekeh melihat tingkah Eliana sementara Eliana dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi, karena wajahnya sudah memerah menahan malu sedari tadi dan dia pun langsung membersihkan tubuhnya.
__ADS_1