Di Nikahi Tuan Muda

Di Nikahi Tuan Muda
Kedatangan Merliana


__ADS_3

Masuk ke dalam ruangan dokter tuan Daniel dan Fika pun langsung duduk dengan wajah yang begitu tegang. Sebelum mengatakan semuanya sang dokter menanyakan sesuatu kepada Fika.


"Nona apakah sebelumnya pasien pernah seperti itu?"


"Tidak pernah dok, memang dia sakit apa?"


"Baiklah, untuk sekarang saya tidak bisa mengatakan apapun pada nona. Karena saya tidak mempunyai riwayat tentang pasien! Apakah nona tahu pasien memiliki riwayat apa?"


Sejenak Fika berfikir entah dia pun tidak tahu sebenarnya Fika bukanlah teman Eliana saat di panti asuhan, dia tidak tahu harus mengatakan apa pada dokter tersebut.


"Sepertinya...tidak ada dok!"jawab Fika ragu.


"Baiklah, untuk sementara biarkan pasien beristirahat jika dia merasakan pusing lagi barulah akan di periksa lebih lanjut"tutur dokter tersebut.


Tuan Daniel sedari tadi hanya mendengarkannya saja karena dia pun sangat penasaran dengan jati diri Eliana yang sebenarnya.


"Baiklah dok, terima kasih"


Fika dan Tuan Daniel keluar dari ruangan dokter mereka berjalan beriringan, lalu tuan Daniel pun sangat penasaran dan dia bertanya kepada Fika tentang Eliana.


"Nona, ada apa sebenarnya ini? Kenapa kau begitu ragu menjawab pertanyaan dari dokter atau kau berbohong kepada dokter!"selidik tuan Daniel.


Fika pun gelagapan mendengar ucapan dari tuan Daniel."Hah! Apa maksud tuan?"


"Tidak ada"jawabnya acuh.


Lalu Fika mengerutkan keningnya dia bingung sendiri lalu Fika dan Tuan Daniel duduk di kursi tunggu.


...****...


Kini mobil Vikram melaju menuju rumah sakit setelah Ronal menanyakan ke beberapa orang yang melihat Eliana dan bersama Fika.


Selama perjalanan pikiran Vikram tidak tenang sebelum dia melihat keadaan Eliana saat ini, tak berapa lama mobil sudah sampai di rumah sakit dengan cepat Vikram keluar dari dalam mobil dan dia masuk ke dalam rumah sakit. Menyusuri lorong-lorong rumah sakit dan dia melihat seseorang yang dia kenali lalu menghampirinya.


"Fika, dimana El?"mengedarkan pandangannya.


"Tuan, El masih di dalam dia belum sadar"jawab Fika.


Vikram pun menoleh ke arah tuan Daniel dia menyipitkan matanya entah kenapa dia begitu, lalu dengan wajah datarnya Vikram bertanya kepada tuan Daniel.


"Tuan Daniel, kebetulan sekali kita bertemu lagi dan ada urusan apa anda bisa ada di sini?"selidik Vikram.


"Tuan Vikram, kenapa anda bertanya seperti itu"tersenyum kecil."Aku hanya kebetulan lewat saja"


"Oh benarkah?"


Fika yang melihat keduanya saling menatap dengan tatapan yang saling menajam satu sama lain membuatnya kesal.


"Ini rumah sakit, jangan bertengkar"lerai Fika.


Keduanya pun tersadar lalu masing-masing memalingkan wajahnya dan melipat kedua tangannya di dada. Sedangkan Fika hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kedua orang itu bertengkar.


Tak berapa lama dokter pun datang untuk memeriksa keadaan Eliana, melihat kedua orang tersebut dokter Anwar hanya menatap bingung tetapi dia tetap melangkah masuk ke ruangan Eliana.


Bersama perawat dokter memeriksa keadaan Eliana setelah selesai dokter itupun keluar dari kamar rawat Eliana.


"Bagaimana dok, keadaan El? Apakah dia sudah sadar?"tanya Fika yang tidak sabar.


"Belum, kaliana boleh masuk satu persatu dan jangan membuat keributan di sini"ucap dokter Anwar.


"Baik dok, aku akan masuk lebih dulu"Fika masuk lebih dulu meninggalkan kedua pria yang sedangkan berdebat sedari tadi.


Lalu dokter Anwar pun menoleh ke arah Vikram dan bertanya kepada Vikram.


"Vik, ada apa denganmu? Apa kau sakit?"tanya dokter Anwar.


"Berisik sekali kau, Anwar! Lebih baik kau lakukan tugasmu saja, lihatlah banyak pasien yang menunggumu"dengan tatapan dinginnya.


"Haiish..temanku yang satu selalu saja bersikap seperti itu," menarik nafas dalam-dalam."Pantas saja kau tidak mendapatkan pacar"gumam dokter Anwar.


Vikram mendengar apa yang di katakan oleh dokter Anwar lalu dia menatap tajam seperti burung Elang yang sedang memburu mangsanya. Merasa ada hawa dingin di dalam ruangan tetapi bukan AC yang membuatnya terasa dingin, dengan cepat Anwar segera berpamitan kepada semuanya.

__ADS_1


"Baiklah, aku masih banyak pasien, aku permisi dulu"ucap dokter Anwar yang mengerti kondisi Vikram saat ini.


Dokter Anwar bersama suster itupun pergi meninggalkan keduanya setelah itu tuan Daniel saat ini sedang berperang dengan fikirannya.


Apakah Eli adalah dia? Tapi bagaimana mungkin aku bahkan melihat jelas mobilnya saat itu.batin tuan Daniel.


Tak lama tangan Eliana bergerak Fika yang melihat hal itupun segera menggengggam tangan Eliana dengan wajah berbinarnya dan memanggil namanya.


"El, kau sudah sadar? Aku senang sekali!"ucap Fika yang masih terus menggenggam tangannya.


Perlahan-lahan Eliana membuka matanya lalu dia mengedarkan pandangannya karena terasa asing baginya.


"Fik, aku ada dimana ini?"tanya Eliana bingung.


"Kau ada di rumah sakit El, tadi kau pingsan" tutur Fika.


Lalu pandangan Eliana tertuju ke arah pintu dia melihat sosok yang dia kenal dan yang baru dia kenal. Kedua orang tersebut melangkahkan kakinya masuk ke dalam menghampiri Eliana yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit.


"Hai, nona El, bagaimana perasaanmu saat ini? Apakah sudah membaik"tanya tuan Daniel.


Vikram yang mendengar tuan Daniel begitu perhatian kepada Eliana membuatnya mendengus kesal mendengarnya.


"Cih"


Fika yang melihat hal itupun menahan senyumnya sedangkan Eliana menatap intens ke arah tuan Daniel.


"Aku baik-baik saja tuan" ucap Eliana ramah.


"Baguslah.."belum selesai mengatakannya, Vikram sudah memotongnya lebih dulu.


"Ehm..."Vikram berdehem dan membuat keduanya menoleh.


"Vik, kau kenapa?"tanya Eliana.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu, kau itu kenapa bisa di rumah sakit"tanya Vikram datar, sekaligus dia menahan kesal karena tuan Daniel terus saja menatap Eliana.


"Itu....itu..ak..aku.."ucapan Eliana langsung di potong oleh tuan Daniel.


"Tadi Eliana pingsan jadi aku membawanya ke rumah sakit"tutur tuan Daniel.


...*****...


Seminggu telah berlalu begitu juga dengan Eliana yang telah keluar dari rumah sakit dan hari ini dia sedang bersama Fika karena Vikram ada pekerjaan di luar negri jadi dia menyuruh Fika untuk menemaninya.


"El, suamimu kemana?"tanya Fika sambil mengedarkan pandangannya.


"Suami?"mengerutkan keningnya.


"Astaga El, jangan bilang kalau Vikram bukan suamimu!"menepuk keningnya.


"Oh itu, dia lagi ke luar negri katanya ada pekerjaan mendadak"jawab Eliana santai.


Namun dari ruangan depan terdengar suara keributan dan membuat keduanya saling menatap satu sama lain, lalu bangun dari duduknya menghampiri ke ruang depan.


"Ada apa ini"tanya Eliana.


"Nyonya ada tamu yang ingin bertemu dengan tuan muda"


Gadis yang ada di hadapannya pun sedang membelangkinya dan berkata dengan nada ketusnya, lalu membalikan badanya.


"Hey, gadis perebut kekasih orang berani sekali kau tinggal di umah mewah ini"kesalnya.


 "Merliana"ucap Eliana terkejut.


"Jadi.."dia tidak dapat melanjutkan perkataannya dan menutup kedua tangannya."Apa yang kau lakukan di sini Eliana?"


"Aku....."ucapannya langsung di potong oleh bibi Helen.


"Nyonya muda sebaiknya anda beristirahat saja" ucap Bi Helen.


"Apa..Nyonya muda?"dia semakin kesal kepada Eliana."Dengan cara apa kau bisa masuk ke vila Vikram hah!"

__ADS_1


"Merlin, aku bisa jelaskan kepadamu"tutur Eliana.


Tanpa mengatakan apapun Merliana melangkah maju dan dia menampar Eliana karena benar-benar kesal.


Plak


Semua orang terkejut begitu juga dengan Fika yang ada di dekat Eliana pun tidak mengira jika gadis bar-bar ini menampar Eliana. Sebenarnya Merliana sudah tahu jika Eliana adalah tuanangan Vikram tetapi dia tidak akan menyerah begitu saja, apa yang menjadi miliknya harus kembali kepadanya.


Eliana hanya memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan dari Merliana, lalu Fika pun melangkah menghalangi Eliana.


"Eh, bar-bar kau tidak punya sopan santu hah! Seenak jidat kau menampar Eliana"kesal Fika.


"Heh! Aku tidak punya urusan denganmu,menyingkirlah,"usir Merliana.


"Hey ini bukan rumahmu, lebih baik kau pergi dari sini"usir Fika dengan sorot mata tajam.


"Kau tidak ada hak mengusirku!"bentak Merliana.


Sedangkan bi Helen memapah Eliana yang sedang memegang pipinya, lalu Fika memanggil security untuk membawa Merliana pergi.


"Pak satpam, usir orang ini"teriak Fika.


Security pun lari tergopoh-gopoh mendengar seseorang berteriak memanggilnya, sesampainya di depan Fika, dia menyuruh security untuk menyeret Merliana.


"Lepaskan aku, kau tidak ada hak mengusirku"Merliana pun berontak minta di lepaskan."Lepaskan aku, kau tidak tahu siapa aku hah! Aku calon nyonya muda kalian!"teriak Merliana.


Tetapi security dan temannya tidak peduli dengan bentakan ataupun teriakkan dari Merliana, Merliana pun di lempar ke luar lalu security pun menutup pintu pagar dan menguncinya.


Sementara Fika menghampiri Eliana yang sudah masuk lebih dulu. Bi Helen sedang mengambil air dingin untuk mengompres pipi Eliana yang memerah.


"El, kenapa kau tidak melawannya! Dia sudah keterlaluan" ucap Fika kesal.


"Sudahlah Fik, aku tidak apa-apa"


Bi Helen pun menghampiri keduanya lalu Eliana segera mengambil kompresan tersebut.


"Bi berikan padaku, aku bisa sendiri"pinta Eliana dengan tersenyum manis.


"Baik Nyonya"


Bi Helen pun melanjutkan lagi pekerjaannya kembali, sedangkan Fika menatap Eliana dengan tatapan yang sulit di artikan.


...*****...


Pagi hari matahari hari telah masuk ke celah jendela dan membuat seorang gadis terusik dari mimpi indahnya. Dengan malas dia pun bangun dan mengedarkan pandangannya lalu melangkah ke kamar mandi.


Dua puluh menit kemudian dia telah selesai dan telah rapi dengan pakaiannya, keluar dari kamar menuruni anak tangga dan duduk di meja makan di meja sudah tertata rapi makanan yang telah di siapkan oleh bibi Helen.


"Selamat pagi Nyonya"sapa bi Helen ramah.


"Pagi juga bi, heumm sepertinya bibi masak enak hari ini"ucap Eliana tersenyum manis.


"Nyonya bisa saja, silahkan Nyonya sarapan terlebih dahulu. Bibi mau melanjutkan pekerjaan bibi"pamit Bi Helen.


Eliana hanya menganggukkan kepalanya karena perut dia sudah berisik minta di isi, setelah puas sarapan dia pun di antar oleh sopir yang lain karena Ronal dan Vikram belum kembali dari luar negri.


Sesampainya di kantor Eliana keluar dari dalam mobil dan tatapan para karyawan juga resepsionis pun terlihat aneh baginya, karena dari awal masuk ke lobi semua orang menatap Eliana dengan tatapan sinis dan tetapi Eliana tidak mempermasalahkannya.


Sampainya di ruangannya Fika sudah ada dan duduk lalu melihat Eliana telah datang dengan cepat Fika menghampirinya.


"El, kemarilah" Fika menarik tangan Eliana.


"Ada apa Fik?"tanya Eliana bingung.


"Ini lihatlah!"memberikan ponsel miliknya.


Lalu Eliana pun melihat postingan tersebut dan dia pun terkejut dengan isi postingan itu, dan membuat mata Eliana membulat sempurna. Bagaimana dia tidak terkejut di postingan itu tertulis namanya yang menyebutkan bahwa dia merebut calon suaminya.


"Apaan ini, siapa yang merebut suami orang!"kesal Eliana.


"Entahlah El, yang pasti orang itu sangat iri padamu"

__ADS_1


Eliana dan Fika pun saling berfikir seingatnya dia tidak pernah memiliki musuh.


Bersambung


__ADS_2