Di Nikahi Tuan Muda

Di Nikahi Tuan Muda
Season 2


__ADS_3

Sebulan telah berlalu kini Devanius pun telah pulang dari rumah sakit dia tinggal di rumah Callista sebagai supir. Setiap hari Devanius selalu mengantar Callista ke kantornya.


Seperti pagi Devanius telah bersiap-siap akan mengantar Callista ke kantornya, dan dia pun telah keluar dari dalam rumahnya.


"Devan, ayo aku hampir telat"ucap Callista yang langsung masuk ke dalam mobil.


"Baik Nona"sahut Devanius.


Devanius masuk ke dalam mobil dan melajukannya ke perusahaan Wijaya, sesampainya di kantor dengan tergesa-gesa Callista pun keluar dari dalam mobil sebelum kembali Devanius sempat melihat ke arah kursi belakang dia melihat berkas milik Callista yang tertinggal di dalam mobil.


Devanius menghentikan mobilnya dan keluar dari dalam mobil lalu melangkah masuk ke dalam untuk memberikan berkas tersebut. Namun langkahnya di tahan oleh security.


"Pak, pak"panggil security yang sedang di pos jaga, dia melihat Devanius akan melangkah masuk.


"Ada apa pak?"Tanya Devanius sopan.


"Anda mau kemana? Dan ingin bertemu dengan siapa?"Selidik security, dia melihat Devanius dari atas sampai bawah karena memakai pakaian biasa saja.


"Saya mau memberikan ini, berkasnya ketinggalan"memperlihatkan berkas tersebut.


"Siapa namanya?"Tanyanya lagi.


"Nona Callista, pak!"Jawab Devanius, tetapi matanya menatap ke arah kantor tersebut, dia berharap jika Callista keluar dan mencarinya.


"Pak sudahlah, bapak tidak perlu berbohong pasti mau minta sumbangan 'kan! Ayo mengaku saja pak!"Ucap security, yang tidak percaya pada Devanius.


"Pak saya serius, ini berkas penting miliknya Nona Callista, hari ini akan ada metting di kantornya, tolonglah pak percaya kepada saya" memohon.


"Sudahlah, cepatlah kamu pergi dari sini, membuat mata orang sakit saja"mendorong Devanius.


Devanius pun terjatuh bersama berkas tersebut, lalu security itu masuk kembali ke dalam pos jaga tetapi Devanius tidak akan menyerah begitu saja kalau dia pun berterima di depan perusahaan Wijaya.


"NONA CALLISTA BERKASMU KETINGGALAN" teriak Devanius.


Membuat semua karyawan pun terkejut dan begitu juga dengan security yang menutup kedua telinganya, lalu dia keluar lagi dari pos jaga dan memaki Devanius.


"Sudah aku bilang lebih baik kau pergi cepat sana" mendorong lagi.


"Tidak akan!"tegasnya.


Scurity itupun mendorong paksa Devanius, lalu terdengar suara orang berteriak memanggil security itu.


"Hentikan pak Bonan, apa yang kau lakukan hah! bentaknya, lalu menghampiri mereka berdua.

__ADS_1


"Maafkan saya Nona, ini ada orang yang mengatakan jika dia membawa berkas milik Nona, saya kira dia bohong makanya saya mengusirnya."tutur Paka Bonan, lalu menundukkan kepalanya.


Callista pun menggelengkan kepalanya melihat sikap pak Bonan yang tidak sopan.


"Ck Ck pak Bonan , saya baru tahu kinerja bapak seperti itu, apa mungkin setiap ada orang yang ingin bertemu dengan saya sikap bapak seperti itu?"


"Maafkan saya Nona, sa-saya..."Pak Bonan tidak bisa berkata-kata lagi, dia benar-benar gugup.


"Sudahlah, Devan mana berkasnya terima kasih sudah mengingatku"tersenyum manis ke arah Devanius."Dan kau pak Bonan, besok kau tidak perlu bekerja lagi, cukup sampai disini"ucapnya lalu berbalik menuju kantornya.


Kaki pak Bonan bergetar saat Callista mengatakan hal seperti itu, lalu dia pun mengejar Callista dan memohon kepadanya.


"Nona tolong jangan pecat saya" pak Bonan memohon dan bersimpuh di kaki Callista.


"Maaf pak, jika anda masih bersikap seperti itu saya tidak bisa mempertahankan bapak lagi, lebih baik bapak cari saja pekerjaan yang lain" melangkahkan kakinya meninggalkan pak Bonan.


"Nona saya mohon"dengan sisa tenaga yang dia miliki ingin mengejar Callista.


Tetapi sayang pintu lift sudah tertutup dan pak Bonan hanya bisa menatap kepergian Callista. Resepsionis yang melihatnya pun terasa ngeri jika dia melakukan kesalahan seperti pak Bonan.


Melangkah keluar dari perusahaan dan meninggalkannya, Kini Devanius sudah sampai di rumah kontrakannya karena dia telah selsai mengantar berkas milik Callista.


Entah apa lagi yang harus dia kerjakan saat ini lalu dia pun mengendari mobilnya menuju rumah Callista dia akan membantu para pekerja atau tukang kebun lainnya.


Setelah habis memakan es krim Yehezkiel meminta lagi kepada Nyonya Mely untuk mengantarnya ke kantor Eliana.


"Nenek, aku ingin ke kantor Mami"ucap Yehezkiel meminta kepada Nyonya Mely.


"Sayang, Mami sedang bekerja nak lain kali saja ya nak"ucap Nyonya Mely mengelus puncak kepala Yehezkiel.


"Nenek, aku ada tugas menggambar kedua orang tuaku, tetapi aku hanya punya Mami sedangkan Papiku sudah meninggal"ucapnya lesu, sambil menundukkan kepalanya.


Hati Nyonya Mely terasa sakit melihat keadaan Yehezkiel karena dia tidak memiliki ayah kandung dan malah sudah lebih dulu meninggalkannya. Lalu Nyonya Mely pun memeluk Yehezkiel dengan penuh kasih sayang.


"Iya sudah, ayo kita ke kantor Mami, pak tolong antar ke perusahaan VV grup"titahnya kepada supir.


"Baik Nyonya"


Mobil telah sampai di depan perusahaan dengan langkah semangat Yehezkiel pun segera berlari menuju pintu lift, sementara Nyonya Mely mencoba untuk mengejar Yehezkiel tetapi tenaganya tidak seperti dulu lagi.


Melewati Resepsionis dan para karyawan membungkuk hormat, karena mereka sudah tahu jika Nyonya Mely adalah ibu dari Eliana.


Yehezkiel sampai di depan ruangan Eliana dengan cepat mendorong pintu dan berteriak memanggil Eliana, dan membuat Eliana terlonjak kaget hampir saja ballpoint miliknya terjatuh.

__ADS_1


"MAMI......"teriak Yehezkiel.


"Astaga, kurang asem,"mengelus dadanya."Sayang kau membuat Mami terkejut"ucapnya.


"Hehehe maafkan aku Mami, Mami ayo bantu aku mengerjakan tugas sekolah"menarik tangan Eliana.


"Iya sebentar sayang, tunggu dulu kau bersama siap ke sini?"Tanya Eliana yang agak bingung karena Yehezkiel sendirian.


Dimana ibunya berada, saat akan melangkah keluar pintu pun ditarik dari luar dan masuklah Nyonya Mely ke dalam.


"Ya ampun Kiel, kenapa kau meninggalkan nenek sendirian"lalu langsung duduk di sofa.


Yehezkiel hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal."Maafkan aku nenek, karena aku sangat merindukan Mami"


Eliana pun menggelengkan kepalanya lalu dia pun membuka tasnya dan mengerjakan tugas dari sekolahnya.


Saat akan menggambar Vikram, yehezkiel meminta Eliana untuk memperlihatkan foto sang ayah.


"Mami, aku mau lihat foto Papi, bolehkan?"Ucapnya dengan memohon kepada Eliana.


Dengan berat hati Eliana pun berjalan ke arah laci dan mengambil bingkai foto dan memberikannya kepada yehezkiel.


Yehezkiel menerimanya dengan senang hati.


"Terima kasih Mami,"ucap yehezkiel senang.


Eliana hanya tersenyum kecil tetapi raut wajahnya berubah menjadi sendu, Nyonya Mely yang melihat hal itupun segera bangun dari duduknya dan menghampiri Eliana lalu mengusap lembut punggung Eliana.


Eliana menoleh dan tersenyum kecut, tetapi bola matanya sudah berkaca-kaca lalu Eliana pun menengadahkan kepalanya ke atas agar air matanya tidak tumpah.


Sementara yehezkiel telah selsai menggambar dan memperlihatkan hasil gambarnya kepada Eliana dan Nyonya Mely.


"Mami, nenek lihatlah gambar punyaku, bagus tidak?"Memperlihatkan hasil gambarnya.


"Wah Kiel, gambarmu bagus sekali sayang"puji Nyonya Mely.


Begitu juga dengan Eliana dia mendekati ke arah Yehezkiel dan mengusap lembut puncak kepalanya.


"Anak Mami pintar ya, bagus sekali gambarnya"puji Eliana.


"Iya Mami, karena aku anak Mami dan Papi"ucapnya bangga."Mami lihatlah Papi memakai mahkota, bagus 'kan? Kiel sengaja menggambarnya Mami karena Papi sudah ada di surga, pasti Papi bahagia karena Kiel menggambar Papi juga, benar 'kan Mami"ucap Kiel polos.


Hati Eliana semakin sakit saat mendengar ucapan dari Yehezkiel, Nyonya Mely pun ikut merasakannya setelah puas menggambar yehezkiel kelelahan akhirnya diapun terlelap di sofa setelah makan siang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2