
Weekend kali ini Vikram menemani Eliana di rumah saja karena Eliana enggan keluar rumah apa lagi perutnya yang semakin lama semakin buncit dan membuatnya semakin cepat lelah.
Kini mereka berdua sedang di taman belakang karena di taman belakang banyak sekali tanaman bunga melati selain warnanya yang putih wanginya pun tidak terkalahkan.
Lalu dering ponsel Vikram pun berdering, lalu dia pun merogoh saku celananya.
"Sayang sebentar ada panggilan telepon,"ucap Vikram yang melepaskan pelukkannya dari Eliana.
Merogoh dan mengerutkan keningnya.
Nomor siapa ini.batin Vikram.
Dia tidak langsung menjawab dan masih menatap ponselnya, Eliana menatap vikram yang sedari tadi hanya memandangi ponselnya saja.
"Ada apa? kenapa kau tidak menjawabnya!"Tanya Eliana.
"Tidak apa-apa sayang, aku tidak mengenalnya"jawab Vikram yang menaruh kembali di meja kecil.
Lalu Eliana bersandar lagi di dada bidang milik suaminya, lagi-lagi dering ponsel itu mengalihkan Eliana.
"Sayang lebih baik kau jawab dulu, mungkin itu penting"Eliana mendongkakkan kepalanya.
"Baiklah"
Lalu Eliana pun duduk dan memakan cemilannya, dan Vikram menjawab panggilan telepon tersebut.
"Kau tunggu sebentar ya"
"Iya sayang"
Vikram sedikit menjauh dari Eliana dan menuju taman bunga lalu menjawab panggilan tersebut. Tetapi matanya menatap Eliana dari kejauhan.
Tutt
"Hallo, kau siapa?"tanyanya dingin.
"Sayang, kenapa kau bersikap dingin padaku"ucapnya manja.
"Cukup, kenapa kau menghubungiku"geram Vikram.
"Apa kau tidak mau bertemu denganku lagi? Jika kau menganggapku sebagai adikmu sendiri lalu kau tidak datang untuk menyambutku Vik"ucapnya kesal.
"Maaf Patricia, istriku sedang hamil, tidak mungkin aku meninggalkannya, jika tidak ada hal penting lagi aku tutup teleponnya"ucapnya, tanpa mendengarkannya.
"Vik, Vik hallo Vik, Vikram, akh sial!"ucap kesal dan melempar ponselnya.
Setelah menutup ponselnya Vikram kembali menghampiri Eliana, dan duduk di samping Eliana.
"Apa ada masalah di kantor?"Tanya Eliana.
"Tidak ada, semua aman"ucapnya lalu melihat jam di pergelangan tangannya."Sayang, ayo hari sudah semakin siang"bangun dari duduknya.
__ADS_1
"Baiklah"
Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah.
Sementara di Apartemen milik Patricia dia sedang mendungus kesal karena Vikram mengacuhkannya bahkan tidak merespon apapun.
"Damn! Aku harus merebut apa yang pernah menjadi milikku, maka harus memisahkan mereka berdua"ucapnya, lalu dia mengambil ponselnya kembali.
Dan mencari kontak nama seseorang, lalu memanggilnya.
Tutt...
"Ada apa?"
"Ada pekerjaan untukmu, datanglah ke cafe X"
"Baiklah"
Kemudian Patricia pun menutup panggilan telepon tersebut, dan dia pun segera bersiap-siap akan pergi ke cafe X.
Keluar dari kamar dan melangkah kakinya menuju pintu lift, lalu keluar dan menuju parkiran mobil, Patricia melajukan mobilnya. Tak berapa lama mobil Patricia sudah sampai di depan cafe, lalu dia keluar dari dalam mobil dan masuk ke cafe.
Mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang dia tunggu tetapi dia belum datang juga, dan akhirnya Patricia pun memesan makanan sambil menunggu dia datang.
Setelah memesan tak lama pesanan datang lalu dia pun telah sampai, dan menghampiri Patricia.
"Ada pekerjaan apa, sehingga kau meneleponku?"ucapnya dingin.
"Santailah dulu, kau mau pesan apa"tanyanya sambil meminum jusnya.
"Ck Ck kau ini selalu saja seperti itu"
Patricia berdecak kesal dengan seseorang yang ada di hadapannya saat ini.
"Roger, aku membutuhkan bantuanmu itu masalah ini"
Patricia pun menceritakan semuanya kepada Roger dan Roger mengerti, lalu dia pun bersedia membantu Patricia.
"Baiklah, aku akan membantumu untuk mendapatkan dia kembali" ucapnya datar.
"Baiklah semoga kau bisa di andalkan, aku sangat berharap Roger jika kau dapat menyelesaikannya"
"Tentu saja"
Patricia pun minum jusnya kembali sedangkan Tiger sedang mengetik sesuatu di ponselnya kepada bawahannya agar segera bersiap-siap untuk mencari tahu keberadaan orang itu.
"Baiklah, aku harus pergi"bangun dari duduknya.
"Baiklah sekali lagi terima kasih, kau sudah mau membantuku"ucap Patricia, lalu dia mengeluarkan amplop kecil berwarna coklat."Ini setengah dulu, sisanya nanti menyusul" memberikan kepada Roger.
Dengan senang hati Roger menerimanya dan dia akan melaksanakan tugasnya sebaik mungkin. Setelah mengatakan hal itupun Roger maupun Patricia sama-sama keluar dari cafe tersebut dan masuk ke dalam mobil masing-masing.
__ADS_1
Malam hari kini Eliana sedang makan malam bersama Vikram, setelah selesai makan malam Vikram mengajak Eliana ke ruang keluarga untuk mengatakan hal yang begitu penting.
"Sayang, mungkin dua hari lagi aku akan pergi ke luar kota untuk mengurus beberapa perusahaan"ucap Vikram yang menarik Eliana agar bersandar di dada bidang miliknya.
"Kenapa mendadak sekali, lalu akau dengan siapa Vik?" ucapnya dengan nada manja."Kau akan pergi berapa lama?"Mendongakkan kepalanya.
"Mungkin tiga hari paling cepat sayang, kau akan bersama ibumu aku akan menyuruh supir untuk menjemput ibu, bagaimana?" Tanya Vikram dia menatap Eliana.
"Baiklah, kau jangan lupa untuk memberi kabar padaku ya"jawabnya dengan tersenyum manis.
"Iya sayang"mengecup kening Eliana.
Eliana pun kembali memeluk erat Vikram dan Vikram pun mengusap lembut rambut Eliana.
"Vikram, aku sayang padamu"ucapnya.
"Iya sayang, akupun sama sangat menyayangimu"
Lalu Eliana pun melepaskan pelukkannya dan mengajaknya untuk kembali ke kamarnya karena eliana sudah mengantuk.
"Vik, ayo ke kamar aku sangat lelah sekali"ajak Eliana.
"Baiklah sayang,"jawab Vikram.
Eliana pun bangun saat akan melangkah lalu Vikram pun menggendong Eliana, Eliana terkejut dan langsung melingkarkan tangannya di leher Vikram.
Lalu masuk ke dalam kamar dan Vikram merebahkan tubuh Eliana perlahan, dan mengecup kening Eliana.
"Beristirahatlah sayang dan mimpi indah"ucap Vikram mengusap lembut rambut Eliana.
"Iya sayang" Eliana pun memejamkan matanya.
Di susul oleh Vikram yang langsung naik ke ranjangnya lalu memeluk Eliana.
Pagi telah datang matahari telah bersinar dan suara kicauan burung pun saling bersahutan satu sama lain. Begitu juga dengan Eliana yang sudah bangun, lalu dia mengedarkan pandangannya mencari sosok yang dia rindukan.
"Sayang, sayang kau dimana?"Ucap Eliana, lalu bersandar pada ranjangnya, sambil mengerjapkan matanya.
Dari ruang ganti pakaian Vikram telah selesai dengan pakaiannya pun keluar lalu dia mengalihkan pandangannya, Vikram melihat Eliana sudah bangun dan segera menghampirinya.
"Sudah bangun"ucapnya, lalu menghampirinya.
"Iya, kau akan pergi ke kantor?"Tanya Eliana yang langsung memeluk Vikram.
"Iya sayang, kau pergilah ke kamar mandi dan kita sarapan bersama"
Eliana pun melepaskan pelukkannya."Benar ya kau tunggu aku"
"Iya Tuan putri"mencubit hidung Eliana.
"Vikram hentikan"mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Vikram pun terkekeh melihat Eliana seperti itu, lalu Eliana pun segera bangun dan pergi ke kamar mandi. Vikram dengan setia menunggunya dan duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
Bersambung