Di Nikahi Tuan Muda

Di Nikahi Tuan Muda
Season 2


__ADS_3

Sore hari setelah pulang bekerja Yehezkiel pun mandi dan selesai dengan ritual mandinya, dia pun menghampiri Eliana.


"Mami..."ucap Yehezkiel lalu memeluk Eliana.


Eliana yang melihat putranya memeluk pun dia segera mensejajarkan dirinya dengan Yehezkiel.


"Ada apa nak?"Tanya Eliana, lalu membelai lembut pipi gembulnya.


"Kiel rindu Papi, Mami"ucap Yehezkiel sedih dengan raut wajah yang memelas.


Eliana menarik nafasnya dia pun tidak tahu harus mengatakan apa, karena petugas polisi mengatakan jika mobilnya jatuh ke jurang dan jasad Vikram belum di temukan sampai sekarang, tetapi jasad Lukas telah di temukan. Namun sayang dia sudah tidak bernyawa dan polisi tidak bisa menemukan bukti apapun karena Lukas yang tahu kejadian sebenarnya.


"Sayang, kau berdoa ya nak, semoga Papi tenang di sana ya. Kalau Kiel rindu, Kiel boleh peluk foto Papi"ucap Eliana dengan tersenyum kecil.


"Benarkah Mami, terima kasih!"Peluk Yehezkiel, dia sangat senang sekali.


Yehezkiel pun menuju kamarnya dengan mengambil bingkai foto yang berada di meja kecil dan membawanya ke kamar miliknya. Eliana hanya menatap nanar dia benar-benar tidak bisa menahan lagi, lalu bulir bening pun jatuh di kedua pipinya.


Nyonya Mely pun menghampirinya dan menepuk pelan bahu Eliana, lalu Eliana menolah dan memeluk Nyonya Mely dia menumpahkan segala rasa sedih, kecewa, dan marah semua bercampur jadi satu. Nyonya Mely hanya bisa mengusap lembut punggung Eliana.


Kembali ke aktifitas di pagi hari ini Devanius sudah siap dengan mobilnya seperti bisa dia mengantar Callista pergi ke kantornya.


"Devan, kemarilah"ucap Tuan Handoko Wijaya.


Devan yang sedang mencuci mobil pun segera berlari menghampiri Tuan Handoko.


"Ada apa Tuan?"Jawab Devanius, lalu membungkuk sopan.


"Devan setelah aku berfikir cukup lama akhirnya aku" menjeda kalimatnya."Kau akan menjadi asisten pribadi putriku, bagaimana apakah kau mau menjadi asisten putriku?" Tanya Tuan Handoko.


Mata Devanius membulat sempurna karena dia begitu terkejut dengan ucap Tuan Handoko.


"Mak-maksud Tuan, sa- sa- saya"ucapnya gugup.


"Iya Devan, bagaimana kau mau?"Tanya Tuan Handoko sekali lagi.


"Baiklah Tuan, saya mau !"Ucapnya dengan semangat.


"Baiklah, sekarang kau bisa antar Callista ke kantornya"ucap Tuan Handoko, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


Tak berapa lama Callista pun datang dengan pakaian sudah rapi.


"Devan, Daddy mengatakan jika kau akan menjadi asistenku 'kan?"Tanya Callista dengan wajah senangnya.

__ADS_1


"Iya Nona"


"Ayo kita ke kantor"


Devan pun membukakan pintu mobil untuk Callista dan dia pun masuk lalu Devan mengitari mobilnya dan masuk ke kursi kemudi dan melajukan menuju perusahaan.


Tak berapa lama mobil telah sampai di depan kantor, seperti biasa tugas Devan membukakan pintu mobil lalu Callista pun keluar dari dalam mobil.


"Terima kasih Devan"ucapnya ramah.


"Sama-sama Nona"


Callista pun berjalan lebih dulu dan di susul oleh Devan dari belakang banyak mata yang memandang ke arahnya, dan tentu saja tidak ada yang berani karena mereka tidak ingin nasibnya sama seperti pak Bonan yang di pecat secara tidak hormat.


Masuk ke dalam lift dan tak berapa lama mereka keluar dari lift menuju ruangan Callista, lalu sekertarisnya pun menghampirinya.


"Selamat pagi Nona, jadwal hari adalah metting bersama klien dan Nona dua Minggu lagi kita di undang oleh perusahaan VV grup di kota A"ucap sekertaris itu, sambil melihat jadwal di tabletnya.


"Baiklah, kau Atur saja penerbanganku ke kota A, dan sekarang dia adalah asistenku"ucapnya, lalu menoleh ke arah Devanius."Aku harap kalian bisa bekerja sama"ucapnya, lalu melangkah masuk ke dalam.


"Baik Nona"


Sekertaris pun mengantar Devanius ke ruangannya untuk mengerjakan pekerjaannya.


"Baiklah, terima kasih Nona"ucapnya sopan.


Devanius mengedarkan pandangan menatap ruangan tersebut lalu diapun duduk di kursi dan di hadapannya ada laptop yang siap di gunakan.


Sementara di kota A kini Eliana sudah selesai dengan mettingnya semua klien pun sudah keluar dari ruangan tersebut tinggallah Eliana bersama asistenya Vera yang sedang membantu Eliana membereskan berkas tersebut.


"Nona El, apa kabar?"Ucapnya sopan.


"Evan...ja-jadi kau.."ucap Eliana gugup sekaligus terkejut.


"Iya El, kau apa kabar? Ternyata kau pemilik perusahaan VV grup Ini!" Ucapnya tersenyum manis.


"Tidak, bukan aku pemiliknya Van,"raut wajah Eliana pun berubah.


Evan yang melihat raut wajah Eliana berubah pun sedikit bingung dengan perubahannya.


"Ada apa El? Apa terjadi sesuatu?"Tanya Evan khawatir.


Eliana tersenyum getir menatap ke arah Evan.

__ADS_1


"Kantor ini milik suamiku Van, tetapi kecelakaan pun menimpanya dan dia pun tidak bisa di temukan hiks hiks"Eliana menangis dengan air mata yang sudah membasahi wajah cantiknya.


"Eh maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk membuka luka lamamu"ucap Evan yang tidak enak hati.


Eliana mengusap air matanya lalu tersenyum.


"Tidak apa-apa, karena sampai kapanpun dia tetap di hatiku Van, tidak ada yang bisa menggantikannya"ucap Eliana mantap.


Evan yang mendengar hal itupun dia merasa kecewa karena Eliana tidak akan membuka hatinya lagi untuk orang lain, tetapi Evan tidak akan menyerah sebisa mungkin dia akan berusaha untuk mendapatkan hati Eliana lagi.


"Iya sudah El, kau jangan bersedih lagi dan ini kartu namaku jika kau butuh sesuatu katakan saja padaku El"memberikan kartu nama kepada Eliana.


Eliana menerimanya dan menyimpannya."Terima kasih Van, kau memang temanku yang terbaik"


Evan hanya tersenyum tipis mendengarnya, lalu dia pun segera berpamitan kepada Eliana.


"Baiklah, kalau begitu aku harus kembali ke perusahaan, sampai jumpa lagi" melangkah keluar dan meninggalkan Eliana bersama asistennya.


Eliana hanya tersenyum saja, lalu dia menatap ke arah Vera yang sudah selesai mengerjakan pekerjaannya.


Sedangkan teman Eliana yang bernama Fika sudah menikah dengan tuanangannya dan mereka pun pindah rumah. Sedangkan Aini kini menjadi kakak iparnya karena dia menikah dengan Tuan Daniel.


"Vera kau sudah selesai?"Hanya Eliana.


"Sudah Nona"


"Baiklah kembali ke ruangan"jawab Eliana.


Mereka berdua pun keluar dari ruang meeting laluaki menuju ruangan masing-masing. Lalu Eliana pun bersandar pada kursi kebesarannya sambil memejamkan matanya lalu bayangan Vikram pun terlintas di pikirannya.


"Sayang kau pasti lelah ya"ucapnya, lalu membelai pipi cantiknya.


Eliana pun membuka matanya."Vik-Vikram benarkah itu kau?"


Eliana terkejut dan air matanya pun menetes begitu saja lalu Eliana pun memegang pipi vikram, dan Vikram pun tersenyum manis ke arahnya.


"Iya sayang ini aku, jangan menangis lagi ya. Aku harus pergi sayang jaga dirimu baik-baik"ucapnya lalu melepaskan tangan Eliana.


"Tidak Vikram kau tidak boleh pergi meninggalkanku"ucap Eliana dengan air mata yang menetes.


Tetapi Vikram tidak menghiraukan teriakan Eliana dia terus saja melangkah jauh meninggalkan Eliana yang sedang menangis.


"TIDAK......."teriaknya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2