
Setiap harinya Vikram selalu di buat susah oleh Eliana jika keinginannya tidak terpenuhi maka Eliana akan mengeluarkan jurus andalannya yaitu dengan cara memasang wajah sedihnya ataupun dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Dengan sabar Vikram mencoba bersabar menghadapi sikap Eliana yang selalu berubah-ubah, karena Vikram selalu bertanya kepada dokter Mawar dan dokter Mawar pun menjelaskannya secara detail kepada Vikram.
Hari-hari telah banyak di lewati oleh vikram, hingga dia pun kewalahan sendirian karena Eliana tidak mau orang lain yang melakukannya.
"Vik, ayolah aku ingin pergi keluar rumah bosan di rumah terus"rengek Eliana sedari tadi pagi, tetapi sangat di sayangkan karena cuaca di luar tidak mendukung karena hujan.
"Sayang di luar masih hujan, sabar ya jika hujan sudah berhenti aku akan mengajakmu keluar"ucap Vikram lembut.
Eliana melipat tangan di dadanya dan juga mengerucutkan bibirnya, sudah berapa kali Vikram selalu mengatakan hal itu kepadanya. Eliana pun bangun dari ranjangnya berjalan menuju balkon.
Rintik hujan belum juga reda malah semakin deras Eliana duduk sambil melihat air hujan, dia menghembuskan nafasnya lalu Vikram menyusulnya.
"Sayang, lihatlah hujannya semakin deras,"duduk di samping Eliana.
Eliana diam saja dia tidak menjawabnya, lalu terdengar suara pintu di ketuk lalu Vikram pun bangun dari duduknya.
Tok tok tok
"Sebentar ya sayang"ucap Vikram, melangkah mendekati pintu dan membuka pintunya.
"Tuan, di ruang tamu ada Nyonya Mely dia kemari ingin bertemu dengan Nyonya"ucap Bi Helen sopan.
"Baik Bi terima kasih, sebentar lagi kami akan turun"jawab Vikram
Lalu bi Helen pun melangkahkan kakinya menuju lantai bawah untuk membuatkan minuman, sementara Vikram menghampiri Eliana yang masih setia menunggu hujan reda.
"Sayang ayo kita ke lantai bawah, ada ibu datang kemari"ucap Vikram menggenggam tangan Eliana.
"Benarkah? Baiklah aku rindu dengan ibu"ucapnya bersemangat.
Mereka berdua pun menuruni anak tangga tetapi tidak dengan Eliana dengan langkah cepatnya dia pun sedikit berlari mencari Nyonya Mely.
"Sayang hati-hati, ingat kau sedang hamil"ucap Vikram mengingatkan.
Eliana tidak peduli dengan ucapan Vikram dia terus berlari dan sampai di ruang tamu Eliana pun tersenyum bahagia saat akan melangkah, entah kenapa kakinya tersandung dan membuat Eliana kehilangan keseimbangannya. Nyonya Mely yang melihat hal itupun berteriak melihat Eliana akan terjatuh.
"Akhhh"teriak Eliana.
"El, awas.." ucap Nyonya Mely.
Dengan cepat tangan kekar menangkapnya dan memeluknya dari belakang, Eliana terkejut sekaligus takut tubuhnya bergetar hebat, lalu seseorang yang ada di belakangnya pun membisikkan sesuatu ke telinga Eliana.
"Sudah aku katakan, kenapa kau tidak mendengarkanku" bisiknya.
__ADS_1
Eliana bergidik ngeri saat tarikan nafas terasa menembus kulitnya, lalu dia menoleh ke belakang dengan mata yang sudah berkaca-kaca lalu memeluk erat.
"Hiks.. hiks vik, aku takut!"Ucap Eliana yang langsung memeluk Vikram.
Ya tangan kekar tersebut adalah milik Vikram, lalu Vikram pun membalas pelukkan dari Eliana dan mengusap lembut rambut Eliana.
"Sudahlah, kau jangan menangis lagi. Aku selalu ada untukmu!"Ucap Vikram lembut.
"Maafkan aku Vik, karena aku tidak mendengarkanmu"mendongkakkan kepalanya.
"Iya sayang, yang terpenting kau dan anak kita baik-baik saja"ucapnya.
Nyonya Mely yang melihat itupun dia bisa tenang dan menarik nafasnya lega, lalu Vikram dan Eliana melepaskan pelukkan dan menghampiri Nyonya Mely.
"Ibu, El rindu ibu!" Langsung memeluk Nyonya Mely.
"Iya nak, ibu juga merindukanmu" membalas pelukkannya.
Sedangkan Vikram langsung mencium punggung tangan Nyonya Mely, Eliana pun melepaskan pelukkannya lalu mereka pun duduk di sofa. Tak lama Bi Helen pun datang dengan membawa minuman dan langsung menata di meja.
"Silahkan Nyonya dan Tuan, minumannya"ucap Bi Helen sopan.
"Terima kasih Bi"ucap Eliana tersenyum manis.
Bi Helen pun kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya kembali, lalu Eliana mengedarkan pandangannya seperti mencari seseorang yang kurang menurutnya.
"Kau mencari siapa nak?"Tanya Nyonya Mely.
"Kakak dimana Bu, kenapa dia tidak ikut denganmu"jawab Eliana yang masih mencari keberadaan Tuan Daniel.
"Kakakmu sedang ke luar kota nak, sedang mengurus perusahaan ayahmu"
"Oh begitu ya Bu, Semoga kakak cepat kembali"ucap Eliana penuh harap.
"Iya sayang, bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah kau sudah lebih baik?"Tanya Nyonya Mely yang mengusap lembut punggung tangan Eliana.
"Iya Bu, aku baik-baik saja"sahut Eliana yang mengusap lembut perutnya.
Sementara Vikram hanya menjadi pendengar setia diantara keduanya, tetapi ponselnya berdering lalu dia pun merogoh saku celananya.
"Bu, maaf aku harus menjawab panggilan ini"ucap Vikram bangun dari duduknya.
"Iya nak"
"Sebentar ya sayang"
__ADS_1
Eliana pun menganggukkan kepalanya lalu Vikram mengacak-acak rambut Eliana dan bangun dari duduknya, Eliana pun bercerita semasa kehamilannya kepada sang ibu dan Vikram sendiri menuju ruang kerjanya.
"Ada apa Lukas?"Tanya datar.
"Tuan, ada undangan dari Tuan Steven Gerrard acara pertunangan putrinya. Apakah Tuan akan datang?"Tanya Lukas di sebrang sana.
"Kapan acaranya di mulai?"Tanya Vikram lagi.
"Besok Tuan"jawab Lukas.
"Baiklah, apakah ada hal penting lagi?"
"Sepertinya tidak ada Tuan,"
"Hari ini kau jangan menggangguku, apa kau paham Lukas"ucapnya dingin.
"Iya Tuan aku mengerti"
Vikram pun menutup panggilan tersebut tanpa mengatakan apapun dan dia menaruh ponselnya di sampingnya, lalu dia membuka laptopnya dan mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda karena Eliana sedari tadi mengganggunya.
Sore hari hujan pun telah reda Eliana yang sedari tadi menunggu hujan pun akhirnya terlelap di pangkuan Nyonya Mely, dengan penuh kasih sayang Nyonya Mely pun mengusap lembut rambut Eliana dan tersenyum kecil melihat putri kecilnya sudah tumbuh dewasa dan sebentar lagi akan mempunyai seorang bayi kecil.
"Ibu berharap semoga kau baik-baik saja nak, dan kau juga cucu nenek semoga sehat selalu"mengusap perut Eliana.
Tak lama Vikram pun keluar dari ruang kerja lalu dia akan menyusul Eliana dan Nyonya Mely, sampai di ruang keluarga dia melihat Eliana yang terlelap di pangkuan Nyonya Mely, karena sebelumnya di ruang tamu mereka bercerita dan Eliana merasa bosan. Akhirnya pindah ke ruang keluarga.
Dengan langkah cepat Vikram menghampiri Eliana yang sudah terlelap."Ibu maafkan aku, kau pasti lelah".
Nyonya Mely tersenyum manis melihat sikap Vikram."Ibu tidak lelah nak, ibu malah bahagia bisa melihat Eliana sekarang."
"Iya Bu, dia bahagia karena bertemu dengan ibu. Karena sedari tadi dia merengek terus minta keluar untuk jalan-jalan"ucap Vikram yang menatap Eliana yang begitu damai saat dia tertidur.
"Iya nak, ibu cuma minta agar kau bisa lebih sabar lagi karena ibu hamil memang seperti itu,selalu berubah-ubah sikapnya"
"Iya Bu, aku selalu sabar menghadapi sikap Eliana. Bu, aku akan mengendong Eliana ke kamar. Bagaimana jika ibu menginap saja? Aku khawatir jika Eliana terbangun nanti dia mencari ibu"ujar Vikram yang berharap Nyonya Mely mau menginap di rumahnya.
"Baiklah nak, ibu akan menginap di sini"
"Iya sudah Bu, aku akan kemar dulu, nanti bi Helen yang akan menunjukkan kamar ibu"
"Iya nak."
Vikram pun menggendong tubuh Eliana yang sudah mulai berat baginya, berbeda dengan yang dulu karena sekarang Vikram sedang menggendong dua orang, perlahan-lahan menaiki anak tangga dan menuju kamarnya.
Bersambung
__ADS_1