
'Dia kenapa ada di sini' batin Eliana.
Dia pun melepaskan bekapannya, Eliana pun segera menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Kenapa kau di sini? Apakah ada masalah?"tanya Eliana heran.
"Iya kau yang membuat masalah itu,"menatap datar Eliana.
"Kenapa harus membicarakannya di sini? Tidak bisakah di ruanganmu!" Eliana memiringkan kepalanya.
"Berisik sekali kau, sudah diam saja,"ketusnya.
Eliana pun segera menutup mulutnya dengan tangannya.
******
Sementara di ruangan Vikram sudah ada seorang gadis yang telah menunggunya sedari tadi dan di temani oleh Ronal, sesekali dia melihat jam yang melingkar di pergelengan tangannya.
"Ronal, Vikram sebenarnya kemana?kenapa dia lama sekali"keluhnya.
"Maafkan saya Nona, saya tidak tahu dimana Tuan berada karena dia tidak memberikan pesan apapun"elak Ronal.
Dia mendengus kesal lalu bangun dari duduknya."Katakan pada Tuanmu jika aku datang, dan jangan lupa nanti malam ada acara makan malam bersama"
"Baik Nona"
Dia melangkah keluar meninggalkan ruang Vikram, Ronal pun segera menghubungi Vikram yang entah ada dimana kini, dia hanya mengatakan ingin keluar sebentar. Awalnya Ronal tidak banyak bertanya tetapi sudah satu jam Vikram belum kembali, karena rasa penasaran Ronal pun menuju ruangan Vikram dan dia pun begitu terkejut melihat seseorang yang sedang duduk.
"Ronal, apakah dia sudah pergi?"tanya Vikram yang sedang mengendap-endap di belakang Eliana.
"Astaga Vik, apa yang kau lakukan!"menepuk keningnya.
"Ronal, apa yang dia takutkan?"tanya Eliana.
__ADS_1
"Dia..."Ronal menggantungkan ucapannya, lalu dengan cepat Vikram mendorong Eliana untuk bekerja.
"Sudah sana bekerja, jangan membuat masalah"
Eliana mengerucutkan bibirnya lalu melangkah menuju ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya kembali.
Sementara Ronal masuk ke dalam ruangan Vikram karena dia akan mengatakan hal yang penting.
"Vik, dia bilang jika malam ini keluarganya dan keluargamu akan makan malam bersama,"ujar Ronal.
Vikram menghembuskan nafasnya dalam-dalam dia sudah tahu apa yang di inginkan keluarganya, yaitu perjodohan yang sudah di tetapkan keluarganya.
"Aku sudah tahu, mereka akan membahas masalah pernikahanku"menopang dagunya.
"Jika kau menikah bagaimana dengan Eliana? Apa kau akan meninggalkannya? Jika begitu berikan saja Eliana padaku"ucapnya dengan senang.
Vikram menatap tajam ke arah Ronal."Apa kau ingin aku pindahkan ke kandang macan?"
Ronal pun menelen kasar salivanya melihat sorot mata tajam dari Vikram, Ronal pun tersenyum canggung.
Melangkahkan kakinya dengan cepat dia tidak ingin berlama-lama di ruangan yang sesak menurutnya.
*******
Saat ini Eliana sudah pulang bekerja lalu dia pun sampai di rumahnya tetapi sebelum masuk dia sudah melihat kopernya sudah berada di depan pintu.
"Kenapa koperku ada di sini?"gumam Eliana.
Eliana pun melangkah masuk di sana sudah ada Imel bersama dengan Nyonya Sinta yang sedang menatap sinis ke arahnya.
"Bawa barangmu pergi, kau tidak perlu tinggal di sini lagi" ucap Nyonya Sinta, melipat tangan di dada.
"Ibu, ada apa denganmu? Kenapa kau mengusirku?"mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Heh! Seharusnya kau tahu diri, siapa putri kandung dari keluarga Wijaya?"ucapnya sinis.
Eliana menggigit bibir bawahnya dia tahu kenapa sekarang dia di usir karena perbuatan Imel yang mengadu kepada Nyonya Sinta.
"Kak,kenapa kau melakukan ini? Apakah kau begitu membenciku?"menatap Imel.
"Aku sangat membencimu, karena kau selalu saja menggoda suamiku. Dia sebenarnya sangat mencintaiku, tetapi kau malah mengganggu kehidupan rumah tangga kami,"dengan Isak tangisnya.
"Kak, bukan aku yang menggodanya tetapi dia terus saja mendektiku, percayalah padaku kak" ucap Eliana dengan mata berkaca-kaca.
"Eli, kenapa kau masih saja menggoda kakak iparmu sendiri hah!"bentak Nyonya Sinta.
"Ibu,aku tidak menggoda kakak ipar"bantah Eliana.
Nyonya Sinta pun geram lalu dia pun melayangkan satu tamparan ke pipi Eliana, dan hal itu membuat Imel tersenyum puas.
Plakk..
"Mulai hari ini kau bukan bagian dari keluarga Wijaya lagi, pergilah kau dari rumah ini" ucap Nyonya Sinta menatap tajam.
Eliana memegangi pipinya yang terasa panas tanpa mengatakan apapun Eliana langsung menarik kopernya dengan mata yang berkaca-kaca. Dia tidak ingin menangis karena hal ini lalu Eliana melangkahkan kakinya.
Sudah cukup jauh Eliana berjalan dan cuaca hari ini tidak bersahabat dengannya, langit pun mendung kumpulan awan hitam pun telah berkumpul seakan dia tidak ingin bersahabat dengannya. Lalu tetesan air pun mulai membasahi jalanan begitu juga dengan langkah kaki Eliana.
Tetesan air itu pun berubah menjadi guyuran yang sangat deras serta petir yang saling menyambar, membuat langkah Eliana harus mencari tempat berlindung.
'Aku harus kemana, tidak ada tempat tinggal untukku'batin Eliana.
Dia pun duduk di hatle bus sambil menunggu hujan reda, hembusan angin membuat Eliana merasakan kedinginan.
"Tidak ada satupun yang mengerti aku,"
Eliana pun menyandarkan kepala pada tiang halte bus tanpa di sadarinya rasa kantuk mulai menyerangnya perlahan-lahan Eliana pun memejamkan matanya.
__ADS_1
Bersambung