
Setelah mengeluarkan barang miliknya kini Evelyn bersama Jeslyn menyusuri jalanan yang mungkin akan turun hujan. Karena awan hitam sudah berkumpul, dan sebentar lagi hujan akan turun.
Dengan langkah gontainya dia bersama Jeslyn terus saja berjalan tanpa tujuan. Entah harus kemana lagi dia meminta bantuan, apa lagi Evelyn tidak tahu keberadaan bibi Sherly yang menghilang begitu saja dan kabar pamannya pun sampai saat ini belum di ketahui.
Awalnya gerimis kecil tetapi semakin lama gerimis kecil itupun berubah menjadi titik-titik besar dan turunlah hujan dengan derasnya di sertai deru angin yang kencang juga petir yang menggelegar, membuat langkah Evelyn dan Jeslyn pun terhenti mereka berdua pun berteduh di depan ruko yang berukuran kecil.
"Kak, Jes takut sekali." Ucapnya sambil menutup kedua telinga dengan tangannya.
Evelyn pun memeluk erat agar Jeslyn merasa lebih tenang." Jangan takut sayang, kakak ada bersamamu."
"Iya kak."
Mereka berdua pun saling berpelukkan lalu hawa dingin pun mulai terasa Jeslyn mulai kedinginan, lalu Evelyn membuka tasnya untuk mengambil jaket dan memakaikannya kepada Jeslyn.
"Sayang pakailah ini, agar tubuhmu hangat." Memberikan jaket tersebut.
"Baik kak."
Jeslyn pun memakainya dan hujan belum juga reda, akhirnya Evelyn dan Jeslyn memutuskan untuk menunggu hujan sampai reda. Lalu mereka berdua pun tertidur.
Malam hari pun telah datang dan salah satu pemilik toko tersebut membangunkan Evelyn dan Jeslyn.
"Hei bangun, cepat pergi dari sini. Pengemis di larang di sini." Ketus pemilik toko tersebut.
"Eugh..." Evelyn membuka matanya." Akh maafkan aku Tuan,aku dan adikku ketiduran." Bangun dan sedikit membungkuk.
"Cepat pergi dari sini, lihatlah kalian sangat bau!" Menutup mulutnya.
"Apa? Ta-tapi kami bukan pengemis Tuan, jadi tolong izinkan kami sebentar lagi saja."Ucap Evelyn memohon.
"Tidak bisa cepat pergi kalian, ini tokoku nanti para pelangganku akan pergi jika melihat kalian di sini, saja pergi."Usirnya, lalu menarik paksa tangan Evelyn.
"Kakak!" Ucap Jeslyn yang ketakutan.
Dengan cepat Evelyn menghampirinya.
"Tidak apa-apa, ayo kita pergi." memapah sang adik dan juga membawa tasnya.
Evelyn tidak tahu kemana lagi dia harus tinggal, jika dia meminta bantuan Delon itu tidak mungkin karena ibunya Delon tidak menyukainya.
Dengan langkah berat Evelyn dan Jeslyn pun berjalan menyusuri gelapnya malam tanpa cahaya bulan dan juga udara semakin dingin membuat keduanya kedinginan. Tetapi Evelyn mencoba bertahan demi sang adik, lalu ada sebuah cahaya terang yang menerangi jalan dan itu lampu mobil.
__ADS_1
Entah mobil siapa itu dan membuat langkah Evelyn semakin takut jika ada perampok ataupun pencuri. Mobil mewah pun berhenti tepat di hadapan mereka berdua, lalu seseorang keluar dari dalam mobil dan menghampirinya.
"Eve! Kenapa kau bisa ada di sini, ini sudah malam." Ucapnya menghampiri Evelyn dan Jeslyn.
"Kak Delon? Apakah itu kau? Syukurlah jika itu kau kak." Sahut Evelyn merasa lega.
"Iya ini aku, ayo masuklah ke mobilku dulu."
"Tapi kak!"
"Sudahlah, lihatlah adikmu itu dia sudah kedinginan."
"Baiklah."
Akhirnya Evelyn dan Jeslyn masuk ke dalam mobil Delon, lalu Delon pun melajukan kembali mobilnya. Pertama dia akan mengajak Evelyn untuk makan malam, karena dia sangat tahu pasti mereka belum makan.
Berhenti di depan Restauran dan membuat Evelyn mengerutkan keningnya, berbeda dengan Jeslyn wajah pun berbinar-binar karena dia sudah sangat lapar.
"Wah kak tempatnya bagus sekali, aku sudah sangat lapar." Ucap Jeslyn polos.
"Iya kita makan dulu ya." Jawab Delon lembut.
"Yey.. makan." Keluar dari dalam mobil.
"Kak Delon, em... Kenapa membawa aku dan adikku ke sini?" Tanya Evelyn hati-hati." Apa lagi tempat ini sangat mewah kak." Ucap Evelyn lagi dengan tersenyum kecut.
"Tidak apa-apa, ayo masuk." Ajaknya.
Mereka pun masuk ke dalam lalu duduk tak lama pelayan pun datang menghampirinya dan langsung mencatat pesanan mereka, selesai mencatat pelayan pun pergi dan mereka menunggunya.
"Eve, kenapa bisa terjadi seperti ini? Sebenarnya ada apa?" Tanya Delon yang mulai penasaran.
"Akh.. itu ya kak, emm.. A-aku di usir dari rumah bibiku, karena bibiku tidak membayar hutangnya dan rumahnya pun menjadi jaminan." Ucap Evelyn dengan menundukkan wajahnya.
Hati Delon sakit melihat keadaan Evelyn saat ini lalu dia menggenggam lembut tangan Evelyn dan membuat Evelyn terkejut.
"Bersabarlah, setelah makan malam selesai untuk sementara kau tinggal di rumahku saja dulu."Menatap lembut.
"Eh tidak usah kak, aku tidak ingin merepotkan kakak." Tolak Evelyn, sebenarnya bukan hal itu tetapi dia tahu jika ibunya Delon tidak menyukainya.
"Tidak apa-apa Eve, lihatlah adikmu dan fikirkanlah." Ucap Delon dengan tatapan memohon.
__ADS_1
Evelyn pun memikirkan kata-kata Delon untuk saat ini memang dia sangat membutuhkan tempat tinggal sementara, lalu setelah itu dia pun akan mencari pekerjaan yang lain.
"Baiklah kak!" Jawab Evelyn dan menghembuskan nafas kasarnya.
Pelayan pun datang menghampirinya lalu dia pun menata makanan di atas meja, setelah selesai pelayan pun melanjutkan pekerjaannya kembali. Evelyn pun memakan makanan begitu juga dengan Jeslyn yang begitu lahap karena makanannya sangat enak.
Selesai memakan makanannya mereka pun masuk ke dalam mobil dan melajukan kembali menuju rumah Delon. Kini mobil telah sampai di depan rumah mewah dan megah, lalu mobil masuk dan berhenti. Kemudian Delon pun keluar lebih dulu, sedangkan Evelyn tidak berani keluar karena dia sangat gugup dan juga takut.
"Eve, ayo keluar dan Jes kemarilah." Ucap Delon, lalu Jeslyn pun keluar dari dalam mobil.
"Iya kak, wah.. Rumahnya bagus sekali kak! Kak Eve lihatlah rumah kak Delon sangat bagus dan besar sekali." Ucap Jeslyn yang menatap kagum dengan rumah Delon.
Evelyn pun tersenyum getir lalu dia pun keluar dari dalam mobil, saat bersamaan juga keluarlah Nyonya Cindy dengan tatapan sinisnya menatap ke arah Evelyn dan Jeslyn.
"Ada pengemis darimana ini? Siapa yang membawanya." Ucapnya sinis, dengan tangan di lipat di dada.
"Mami, jangan seperti itu, Evelyn dan juga adiknya. Untuk sementara mereka akan tinggal di sini sampai Evelyn mendapatkan pekerjaan." Tutur Delon yang sudah mengerti maksud dari perkataan sang ibu.
"Delon, rumah kita bukan panti asuhan kau malah sesuka hatimu saja, Mami tidak setuju." Ucapnya dengan sorot mata tajam.
Jeslyn pun berlari ke arah Evelyn karena dia sangat takut dengan tatapan Nyonya Cindy.
"Kakak aku takut." Ucapnya menatap wajah Evelyn.
Lalu Evelyn pun mengusap lembut punggung sang adik, Delon yang melihat itupun segera melarainya.
"Mami cukup, kau menakuti Jeslyn dia masih kecil dan belum mengerti."Pinta Delon dengan nada lembutnya.
"Mami sudah mengatakannya jika rumah kita bukan panti asuhan, hei kau pengemis pergilah tidak ada tempat untukmu. Cepat pergi." Usir Nyonya Cindy yang tidak suka menatap Evelyn.
Lalu seorang pria paru baya menghampirinya karena mendengar keributan di luar." Ada apa ini, kenapa kalian selalu saja bertengkar."
Semua mata menatap ke arah pria paruh baya itu, lalu Nyonya Cindy pun menghampirinya dan mengadu kepada Tuan Karsten.
"Sayang lihatlah putra kita membawa pengemis ke dalam rumah kita." Ucapnya dengan manja.
"Mami, dia bukan pengemis, dia.." Ucapnnya langsung di potong Nyonya Cindy.
"Kau diam saja, biarkan Papimu yang mengurusnya." Menatap tajam ke arah Delon.
Delon hanya diam saja dia tidak bisa melawan perkataan sang ibu, lalu Tuan Karsten menatap tajam ke arah Evelyn dan juga Jeslyn dia melihat dari atas sampai bawah. Pakaiannya juga tidak bagus dan membuat Evelyn semakin menundukkan wajahnya.
__ADS_1
Bersambung