
Seminggu telah berlalu kini Eliana pun telah pulih dan di bekerja seperti biasanya, di temani oleh Fika kemana pun Eliana pergi Fika selalu menemaninya sampai membuat Eliana kesal karena Fika selalu mengikutinya.
"Fik, cukup kau tidak perlu mengikuti ku kemana pun aku pergi"kesal Eliana.
"El, kau baru saja sembuh mana mungkin aku membiarkanmu pergi sendirian"ucap Fika santai.
"Jangan bilang jika Vikram yang menyuruh mu?"Eliana menyipitkan matanya.
Fika hanya cengengesan mendengarnya.
"Hehe kau tahu saja El, mang benar sih suami posesif mu itu membuat kepalaku pusing"memijat pelipisnya.
Eliana menarik nafasnya dan menghembuskan nya."Sudahlah, ayo kita makan siang ini sudah waktunya"
"Baiklah"
Mereka berdua pun keluar dari ruangannya menuju lobi, sesampainya di lobi Eliana dan Fika pun berjalan keluar lalu mereka akan ke cafe dekat dengan kantor.
Mereka berdua masuk dan pelayan pun menghampirinya dan memberikan buku menu.
"Silahkan mbak, mau pesan apa?"Tanya pelayan , lalu memberikan buku menu tersebut.
Eliana dan Fika pun memesan makanan yang mereka suka, lalu pelayan pun menulis pesanan Eliana dan Fika. Setelah itu pelayan pun pergi sambil menunggu pesanan datang Eliana dan Fika pun memainkan ponselnya.
Sementara Vikram di ruangan masih sibuk dengan pekerjaannya lalu Lukas mengetuk pintu ruangan Vikram.
Tok Tok Tok
"Tuan, apakah aku boleh masuk?"Ucap Lukas di balik pintu.
"Masuklah"
Lukas pun memegang gagang pintu dan mendorongnya lalu dia pun masuk ke dalam dan Lukas pun menghampiri Vikram.
"Ada apa Lukas?"Tanya Vikram datar.
"Maafkan aku Tuan, di ruang tunggu ada Tuan Daniel dia bilang ada hal penting yang ingin dia katakan"jawab Lukas.
Vikram yang sedang menatap lapornya pun terhenti lalu menatap Lukas.
"Kau suruh saja dia ke ruanganku"
"Baik Tuan"
Lukas pun keluar dari ruangan Vikram dan dia menyuruh sekertaris untuk menelepon ke bagian resepsionis agar Tuan Daniel segera ke ruangan Vikram.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama Tuan Daniel pun sampai di ruangan Vikram dan dia pun masuk ke dalam ruangan tersebut dan Vikram menyambutnya.
"Selamat datang Tuan Daniel, bagaimana kabarmu?"Tanya Vikram lalu mengulurkan tangannya.
"Baik Tuan Vikram,"tersenyum ramah dan menyambut uluran tangan dari Vikram.
"Silahkan duduk, ada masalah apa?"Tanya Vikram penasaran.
"Begini Tuan, kedatangan saya kemari ingin bertemu dengan Eliana, apakah bisa bertemu dengannya?" Langsung ke intinya.
"Sepertinya Eliana sedang makan siang bersama dengan temannya Tuan Daniel"melihat jam di pergelangan tangannya.
"Baiklah, jika memang seperti itu, apakah saya bisa menunggunya karena ada hal yang sangat penting"
"Baiklah Tuan, jika memang seperti itu"
Kini Eliana pun sampai di kantornya bersama Fika karena selama perjalanan menuju kantornya Vikram sempat mengirim pesan kepada Eliana jika Tuan Daniel ingin bertemu dengannya.
"Fik, aku keruangan Vikram dulu"Eliana melangkah menuju ruangan Vikram.
"Oh, baiklah"
Eliana pun menuju ruangan Vikram dan mengetuk pintu ruangan tersebut dan setelah mendapat izin dari sang pemilik barulah Eliana masuk ke dalam.
"Ada apa Vik?"Tanya Eliana yang baru saja masuk.
Eliana menatap Tuan Daniel lalu tiba-tiba kepalanya terasa sakit.
"Ugh.. sakit, Tuan Daniel apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Eliana yang memegang kepalanya.
"Iya memang belum pernah bertemu, tetapi aku memiliki buktinya El?"Memberikan amplop berwarna putih.
"Ini apa Tuan Daniel?" Kening Eliana berkerut.
"Bukalah dan lihat saja Nona"sahut Tuan Daniel.
Eliana pun penasaran begitu juga dengan Vikram yang sedari tadi sudah di buat penasaran, perlahan Eliana membuka lalu dia pun membacanya.
Eliana terkejut lalu telapak tangannya menutup mulutnya dan kertas tersebut pun terjatuh dari tangannya. Vikram yang melihat itupun segera mengambil kertas tersebut lalu membacanya, tak kalah terkejutnya mata Vikram pun membulat lalu dia menatap Tuan Daniel dan menatap Eliana.
"Tidak mungkin, i- ini pasti salah"ucap Eliana menggeleng pelan.
"Tidak El ini benar, akulah keluargamu yang sebenarnya"jawab Tuan Daniel, menyentuh tangan Eliana.
Dengan cepat eliaan menepis tangan Tuan Daniel." Kau pasti berbohong 'kan agar aku bisa mempercayaimu"
__ADS_1
"Tidak El, ini benar adanya kau adalah adikku yang hilang dan diculik oleh musuh Ayah, sehingga ayah pun telah tiada karena selalu memikirkan mu"Ucap Tuan Daniel dengan mata berkaca-kaca."Ini lihatlah foto ini mirip denganmu 'kan?"Mengeluarkan selembar foto keluarga.
Eliana menatap foto tersebut dengan keringat dingin yang bercucuran di pelipisnya.
"Maaf aku tidak ingat siapa keluargaku, tetapi aku begitu merasa familiar jika bertemu denganmu"
Vikram sedarai tadi hanya melihatnya saja tanpa mau menganggu sedikitpun, karena dia pun yakin jika tuan Daniel adalah kakak kandung Eliana tetapi bagaimana dengan Eliana yang belum bisa menginat apapun, karena Vikram sempat menyelidiki siapa Eliana sebenarnya.
"El, lebih baik tenangkan pikiranmu itu"sela Vikram.
"Vik, aku benar-benar tidak ingat jika aku memilik keluarga kandung" ucap Eliana dengan wajah bingungnya.
"Iya aku mengerti, ini minumlah dulu"Vikram memberikan segelas air pada Eliana.
Eliana menerimanya dan meneguk air minum tersebut sampai habis, sepersekian detik perasaan Eliana mulai tenang lalu dia pun menarik nafas dalam-dalam dan mulai menatap Tuan Daniel lagi.
"Tuan Daniel, jika benar kau adalah kakakku lalu dimana ibu kandungku?"Tanya Eliana.
"Ibu ada Apartementku, karena dia pun ingin melihatmu jika kau mau kau bisa ikut denganku"jawab Tuan Daniel."Karena kemarin aku baru saja pulang ke rumah dan menjemput ibu, malam hari kami memutuskan untuk datang ke kota ini karena demi bertemu denganmu El"
Eliana menatap Vikram lalu yang di tatap pun menganggukkan kepalanya tanda dia setuju.
"Baiklah, Tuan Daniel setelah selesai pekerjaanku, aku akan ikut denganmu untuk bertemu ibu"putus Eliana.
"Benarkah El?"Dengan mata yang berbinar.
"Iya Tuan, baiklah kalau begitu aku akan kembali bekerja lagi"
Eliana pun keluar dari ruangan tersebut dan Tuan Daniel hanya tersenyum melihat Eliana yang kini sudah tumbuh menjadi seorang gadis cantik.
"Terima kasih, Tuan Vikram kau telah memberikan ku kesempatan untuk bertemu dengan Eliana"ujar Tuan Daniel.
"Tidak perlu sungkan kakak ipar"jawab Vikram.
Tuan Daniel begitu terkejut dengan ucapan Vikram yang memanggilnya dengan sebutan kakak ipar.
"Ad apa Tuan Daniel, kenapa wajah mu begitu terkejut? Apakah ada yang salah dengan ucapan ku ini?" Tanya Vikram santai.
"Ah, tidak apa-apa mungkin aku salah mendengar"jawab Tuan Daniel.
" Iya kau memang salah karena tidak memanggil ku adik iparmu"jawab Vikram terkekeh.
"ja-jadi ini benar!" sahut Tuan Daniel tidak percaya.
"Benar kakak ipar ku, aku tidak mungkin salah"
__ADS_1
Tuan Daniel begitu bahagia dengan ucapan Vikram lalu dia pun memeluk Vikram, tentu saja Vikram menyambutnya.
Bersambung