Di Nikahi Tuan Muda

Di Nikahi Tuan Muda
Season 2


__ADS_3

Sudah satu bulan Devanius menemani Yehezkiel karena Yehezkiel tidak mau di tinggal oleh Devanius. Seperti hari ini saat Devanius akan kembali ke kotanya Yehezkiel menangis dia tidak mau di tinggal olehnya.


"Om Devan jangan tinggalkan Kiel"ucapnya dengan memelas.


"Sayang, om harus kembali ke kotanya nak"ucap Eliana yang mencoba membujuk Yehezkiel."Kemarilah nak, ayo kita pergi ke taman ya"


"Tidak mau, aku mau om Devan"memeluk erat Devanius.


"Kiel sayang, om janji nanti akan kembali lagi" ucap Devanius yang membelai rambut Yehezkiel.


"Hiks hiks om jahat, om sama seperti Papa hiks hiks" berlari keluar dari kamar hotel.


"Kiel... Kiel... tunggu nak" Eliana pun mengejar Yehezkiel.


Sementara hati Devanius terasa begitu sakit saat Yehezkiel mengatakan hal seperti itu.


Ada apa denganku? Kenapa hatiku sesak dan sakit seperti ini saat melihat Kiel menangis, sebenarnya ada apa denganku.batin Devanius.


Di kamar Callista kini dia sudah selesai dengan kopernya lalu di keluar dari kamarnya dengan menyeret koper tersebut. Lalu dia melihat Devanius yang mematung sedari tadi, Callista pun menghampirinya Callista melihat Devanius sedang melamun dan dia pun mengibaskan tangannya di depan wajah Devanuis.


"Devan, kau kenapa?" Ucap Callista, dia mengibaskan tangannya di depan wajah Devanius.


"Akh... tidak apa-apa Nona"


"Apa kau sudah membereskan koper milikmu? Jika sudah ayo kita pergi!" Ucap Callista yang melihat ke arah pintu kamar Devanius.


"Ah i-iya sebentar ya," ucap Devanius seperti orang yang bingung.


"Kau ini kenapa Devan?" Tanya Callista.


Sebenarnya Callista mendengar teriakkan Yehezkiel, tetapi dia diam saja karena bagaimanapun caranya Callista tetap akan membawa Devanius pulang kembali. Sepertinya Callista menyukai Devanius.


"Devan, apa lagi yang kau tunggu cepatlah"


Devanius pun menuju kamarnya lalu dia menyeret koper miliknya keluar dari kamar, Callista pun tersenyum manis melihat hal itu. Dia pun menutup pintu kamar miliknya dan segera menyeret koper miliknya juga.


"Ayo Devan"


"Iya Nona"

__ADS_1


Callista melangkah lebih dulu, tetapi Devanius sepertinya enggan sekali meninggalkan Yehezkiel dia masih memikirkannya. Sampai di depan loby, memesan taxsi menuju Bandara, Devanius pun hanya diam saja dia sedang berfikir kenapa hatinya bisa sesakit itu saat bayangan Yehezkiel menangis di depannya.


Callista sibuk memainkan ponselnya, dia tahu jika Devanius sedang memikirkan Yehezkiel tetapi dia tetap acuh dan sibuk sendiri. Tak lama taxsi pun sampai di Bandara, mereka keluar dan di bantu supir membawa koper mereka.


Callista langsung menarik koper miliknya, tetapi langkahnya terhenti saat menoleh ke belakang dia melihat Devanius yang diam saja sambil memegang erat koper miliknya.


"Devan ada apa denganmu? Kita hampir terlambat, ayo cepat" ucap Callista.


"Nona maaf sepertinya, saya tidak bisa pergi denganmu!" Ucap Devanius, yang berubah menjadi lebih serius.


"Maksudmu apa Devan? Aku tidak mengerti?" Callista mengerutkan keningnya.


Devanius menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya."Aku tidak bisa meninggalkan Kiel, dia terlihat sedih melihat kepergianku Nona"


"Tidak Devan, kita harus pulang kembali, jika kau di sini maka kau akan tersiksa Devan. Kau hanya di jadikan sebagai pengganti saja bagi Kiel, dan aku tidak mau hal itu terjadi padamu Devan" ucap Callista dengan raut wajah kesalnya.


"Aku juga tidak tahu, kenapa setiap kali melihat wajah Kiel, hatiku merasa tenang Nona tetapi jika melihat dia menangis hatiku semakin sakit" ucap Devanius, yang merasa sesak di dadanya.


"Tidak Devan, kita harus segera pulang" tolak Callista.


"Tetapi apa alasanmu menolakku untuk melihat Kiel?" Tanya Devanius, yang nada bicaranya sudah mulai sedikit meninggi.


"Tidak Nona, aku tidak bisa meninggalkannya" membalikkan badanya, akan kembali menuju hotel.


"Tunggu Devan, kau tidak bisa pergi sembarangan seperti itu" ucap Callista yang sudah mulai marah." Kau tidak boleh menemui Kiel lagi, cepat kembali!" Ucap Callista tegas.


Devanius menghentikan langkah kakinya lalu membalikkan badannya." Apa alasannya? Apa kau bisa mengatakannya?"


Callista tidak tahu pasti ada hubungan apa antara Devanius dan Yehezkiel, tetapi selama ini dia melihat wajah keduanya semakin lama semakin mirip saja, dan hal itu membuat Callista ingin sekali memisahkan mereka berdua.


"Apa kau ingin tahu, Devan?" Ucap Callista dengan raut wajah sedihnya. Lalu dia mendekati Devanius.


Devanius menyipitkan matanya menatap Callista dan dia menunggu alasan dari Callista, kenapa dia melarang dirinya untuk bertemu Yehezkiel.


Callista pun menghampiri Devanius, lalu dia pun menggenggam kedua tangan Devanius dan menatap kedua bola mata Devanius. Callista menghembuskan nafasnya dan barulah dia mengatakannya.


"Karena........aku...aku....menyukaimu Devan, aku jatuh cinta padamu" ucap Callista memberanikan dirinya." Jadi aku mohon ayo kita pulang, aku ingin sekali menikah denganmu, apa sekarang kau sudah mengerti alasan dariku?" Tanyanya.


Devanius pun melepaskan kedua tangannya dari tangan Callista dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Maaf Nona, tetapi aku tidak bisa, karena saya menganggap Nona sebagai atasan saya. Mana mungkin pantas Nona, Nona itu cantik pasti akan mendapatkan pria yang baik untukmu nantinya" tolak Devanius.


"Tidak Devan, orang yang baik itu adalah kamu karena sejak lama aku sudah menyukaimu. Jadi ayo kita pulang ya" memasang wajah sedihnya.


Devanius menggelengkan kepalanya dia benar-benar tidak bisa meninggalkan yehezkiel begitu saja.


"Tetap Nona aku tidak bisa dan terima kasih kau sudah menyukaimu tetapi maaf aku tidak bisa menerimamu"ucap Devanius lalu melanjutkan kembali langkah kakinya.


Mata callista pun sudah berkaca-kaca dia tidak menerima alasan apapun dari Devanius, dia harus bisa mendapatkan Devanius. Callista mengejar Devanius dan memeluknya dari belakang dengan erat.


"Hiks hiks Devan, kenapa kau begitu jahat padaku apakah aku tidak pantas bahagia" ucap Callista yang sudah menangis.


Devanius terkejut saat Callista memeluknya dari belakang." Nona maaf, ini tidak pantas"


Dengan cepat Devanius melepaskan pelukkan dari Callista, dia merasa tidak nyaman, air mata callista terus membasahi wajah cantiknya.


"Devan aku sangat mencintaimu, kenapa kau tidak bisa melihatku yang sudah bertahun-tahun menemanimu dan merawatmu di saat kau terluka hiks hiks apa kau tidak bisa mengatakannya. Jika kau menyukaiku juga!" Dengan Isak tangisnya.


Entah kenapa hati Devanius tidak tergerak sama sekali, dia hanya acuh saja melihat Callista menangis.


"Maaf Nona, tetapi aku tidak bisa. Maafkan aku!" Mengatupkan kedua tangannya.


Callista menggelengkan kepalanya dia tidak ingin Devanius pergi dan lebih memilih Yehezkiel, di bandingankan dengannya.


"Tidak Devan, aku mohon jangan pergi"


"Maaf Nona, aku tidak bisa aku harus pergi dan tidak bisa ikut bersamamu"menarik koper kembali.


Callista menangis melihat kepergian Devanius hatinya benar-benar hancur dan dadanya terasa sesak melihat Devanius bersikap seperti itu.


"Hiks hiks kau tega Devan, demi anak itu kau rela meninggalkanku, hiks hiks tetapi aku tidak akan menyerah begitu saja, aku harus bisa membawamu pulang kembali"ucapnya dengan mengusap kasar air matanya.


Kini Devanius sudah di dalam taxsi dia akan mencari Yehezkiel sampai ketemu dan meminta maaf kepadanya.


Sementara Eliana sedang menangkan Yehezkiel yanag sedang menangis tiada hentinya.


"Kiel benci Om Devan, Kiel tidak mau ketemu lagi sama om Devan. Om Devan jahat"


"Kiel..."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2