Di Nikahi Tuan Muda

Di Nikahi Tuan Muda
Season 2


__ADS_3

Yehezkiel menangis di taman dekat hotel di susul oleh Eliana lalu dia duduk di samping Yehezkiel dan mengusap air matanya.


"Kiel benci om Devan, om Devan jahat Mami hiks hiks" memeluk Eliana.


"Ssttt Kiel, jangan begitu nak. Om Devan kembali ke kotanya karena pekerjaan di sini sudah selesai"mengusap punggung Yehezkiel.


"Om Devan bilang kalau dia mau temani Kiel, dia tidak akan seperti papi tetapi sekarang.....Huaaahhhh" Yehezkiel menangis dengan kencang.


Membuat Eliana kebingungan harus bagaimana agar Yehezkiel tidak menangis lagi, terdengar suara seseorang yang memanggil nama Yehezkiel dan keduanya pun menoleh.


"Kiel...."panggilnya.


Yehezkiel yang sedang menangis pun berhenti dan melihat siapa yang memanggil namanya. Lalu mata yehezkiel membulat dia melihat seseorang dengan tatapan yang sulit di artikan, lalu mengusap kasar air matanya dan berlari menghampiri Devanius.


"Om Devan"teriak Yehezkiel.


Eliana yang melihat hal itupun tidak habis pikir kenapa Devanius bisa kembali lagi hanya demi Yehezkiel, tetapi dia tidak bisa di pungkiri jika dia pun bahagia jika Devanius kembali lagi.


Karena beberapa waktu yang lalu Eliana pernah menyuruh seseorang untuk mencari tahu siapa Devanius sebenarnya, dan orang itu pun tahu kebenarannya jika Devanius adalah Vikram yang mengalami kecelakaan pada tahun itu. Tetapi bagaimana caranya agar ingatan Devanius atau Vikram bisa kembali lagi?


Mungkin hanya dengan cara ini dia bisa membuat ingatan Vikram sedikit demi sedikit pulih kembali dengan cara mendekatkan Vikram dan Yehezkiel.


"Om kenapa kembali lagi, bukankah kau akan kembali ke kotamu?" Tanya Yehezkiel yang kini sudah di gendong oleh Devanius.


"Om tidak tega melihatmu menangis Kiel, jadi om memutuskan untuk beberapa hari lagi tinggal di sini. Dan barulah Om bisa pulang ke kota Om lagi"ucap Devanius yang berjalan menghampiri Eliana.


"Kiel, kenapa kau di gendong oleh Om Devan nak, ayo cepat turun" ucap Eliana tidak enak hati.


"Mami, Kiel tidak mau! Jika Kiel turun Om Devan pasti akan meninggalkan Kiel lagi, sama seperti papi" ucapnya dengan tegas.


"Tetapi...." belum selesai mengatakannya Devanius sudah memotong ucapan Eliana lebih dulu.


"Tidak apa-apa"


Eliana tidak bisa mengatakan apapun lagi, lalu Yehezkiel mengajak Devanius dan Eliana untuk pergi ke taman bermain dan mereka pun mau tidak mau mengikuti yang di inginkan Yehezkiel.


Sementara di tempat berbeda seorang gadis telah sampai di rumahnya dengan raut wajah kesal dia melempar koper tersebut kesembarang arah dan menghempaskan tubuhnya ke sofa.


Lalu pria paruh baya menghampirinya dan mengerutkan keningnya ketika melihat putrinya pulang sendirian dan tidak ada seseorang yang dia cari.


"Dimana Devan, Callista? Kenapa tidak pulang bersamamu?" Tanya Tuan Wijaya, yang mengedarkan pandangannya.


"Papa aku kesal dengan Devan!" Ketus Callista, sambil melipat tangan di dadanya.

__ADS_1


"Kau kesal kenapa sayang, katakan kepada papa"ucap Tuan Handoko.


Callista pun menarik nafasnya."Aku kesal kepada Devan, dia lebih memilih wanita itu daripada aku" mengerucutkan bibirnya.


"Maksudmu apa Callista?" Selidik Tuan Handoko." Atau kau menyukai Devanius?" Tanya Tuan Handoko lagi yang menatap intens ke arah Callista.


"Ap- apa maksud Papa!" Tersenyum kikuk."Tidak mungkin Papa, kau ini sembarangan saja"memalingkan wajahnya, karena ketahuan oleh Tuan Handoko dan wajahnya saat ini memerah.


Tuan Handoko menggelengkan kepalanya melihat sikap putrinya saat ini.


"Ck Ck Callista, Callista kenapa kau membohongi perasaanmu sendiri nak" menghampiri Callista dan duduk di samping putrinya."Katakan kepada Papa siapa wanita itu?"


Callista pun menoleh dan menatap Tuan Handoko."Dia hanya seorang single parents, Papa karena suaminya telah meninggalkan lalu dia memanfaatkan anaknya untuk terus dekat dengan Devan, sehingga dia jauh dariku!"


"Iya namanya siapa nak?"


"Eliana pemilik VV grup, papa"ucapnya lemas.


"Bukankah kau dan perusahaan itu sudah bekerja sama?"


"Iya Papa, tetapi aku ingin membatalkannya karena dia berani merebut Devan dariku!" Ucapnya dengan sorot mata tajam.


"Tadi kau bilang tidak menyukai Devan, lalu sekarang raut wajahmu begitu kesal. Sebenarnya kau menyukainya atau tidak hm?" Tanya Ttg uan Handoko yang penasaran dengan jawaban putrinya saat ini.


"Sudahlah Papa mengerti, jika kau menyukai Devan Papa akan membantumu mendapatkan Devan kembali" mengusap lembut kepala Callista.


"Benarkah Papa?"


"Iya sayang"


Wajah Callista pun berubah menjadi bahagia karena impiannya sebentar lagi akan terwujud. Dia pun memeluk Tuan Handoko dengan senang.


Di tempat bermain kini Yehezkiel bersama Eliana dan Devan sedang bermain dan berfoto bersama kadang-kadang membuat keduanya canggung saat Yehezkiel meminta Devan memegang tangan Eliana saat berfoto seperti sekarang.


"Om Devan, pegang tangan Mamiku jangan sampai jatuh" ucap Devan polos.


Keduanya pun tersenyum canggung dan saling menatap satu sama lain, entah kenapa detak jantung Devan berdetak sangat kencang saat di dekat Eliana.


Kenapa dengan jantungku saat ini.batin Devanius.


Begitu juga dengan Eliana yang malu-malu menatap Devan. Sementara Yehezkiel menepuk keningnya melihat tingkah keduanya, lalu dia menghampirinya dan menautkan kedua tangan Devanius dan Eliana.


"Kalian ini kenapa malu-malu sih, ayo sini!" akhirnya Yehezkiel pun yang menyatukannya."Nah seperti ini baru bagus" ucap yehezkiel lalu dia pun memotretnya.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang Mami dan Om Devan ikut foto juga ya bersama Kiel" ucapnya.


Dan akhirnya mereka bertiga pun saling Selfi dsn setelah puas bermain main, kini perut Yehezkiel terasa lapar dan merek memutuskan untuk makan bersama karena hari sudah semakin sore.


"Mami, Kiel lapar" ucapnya dengan wajah sedihnya.


"Baiklah sayang, ayo" ajak Eliana.


"Tunggu, Om Devan juga ikut ya?" Pinta Yehezkiel.


"Ah.. itu..."


"Ayolah Om, demi Kiel"


Yehezkiel pun mengatupkan kedua tangannya dan membuat Devanius tidak bisa menolak melihat wajah polos Yehezkiel saat ini. Lalu mereka memutuskan untuk makan bersama di tempat biasa.


Mereka pun sampai di tempat biasa dan memesan makanannya, lalu yehezkiel pun ingin ke toilet dan dia pun bangun dari duduknya.


"Mami aku ke toilet sebentar ya" ucap Yehezkiel yang melangkah meninggalkan keduanya.


Sebenarnya Yehezkiel sengaja meninggalkan mereka berdua agar mereka memilik waktu bersama, kini keduanya saling terdiam entah harus memulai darimana baik itu Eliana maupun Devanius keduanya sama-sama terdiam.


"Kau..."ucapnya bersamaan.


Membuat keduanya canggung lalu Devanius menyuruh Eliana mengatakan lebih dulu.


"Lady first, silahkan" ucap Devanius.


"Eh, kau saja dulu, tidak apa-apa" jawab Eliana tersenyum canggung.


"Tidak Nona, kau saja dulu"


Eliana pun menganggukkan kepalanya dan menarik nafasnya dalam-dalam, sepersekian detik kemudian barulah dia mengatakannya.


"Kenapa kau memutuskan untuk tinggal di sini? Bukankah kau harus pulang!" Tanya Eliana hati-hati.


"Entah kenapa Nona, saat aku melihat Kiel menangis hatiku merasa sakit dan begitu berat melangkah untuk meninggalkannya" menjeda kalimatnya."Tetapi aku tidak tahu perasaan apa ini, dan aku merasa sangat nyaman jika bersama Kiel dan juga...."ucapnya menggantung.


"Juga apa Tuan Devan?" Selidik Eliana.


"Juga.....emm juga....ber-bersamamu" cicitnya, tetapi masih bisa di dengar oleh Eliana.


Eliana tidak mengira jika Devan mengatakan hal itu kepadanya dan sudut bibirnya pun tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2