
Pagi ini Evelyn sudah rapi dengan pakaiannya kali ini dia akan mencoba melamar pekerjaan lagi walaupun sebagai OB nantinya Evelyn tetap bersyukur. Setelah berpamitan kepada Jeslyn, kini Evelyn sudah sampai di perusahaan yang kemarin dia datangi berharap ada lowongan untuknya.
Mata Evelyn tak sengaja melihat ada sebuah tulisan yang mengatakan jika ada lowongan pekerjaan, dengan semangat Evelyn pun melangkahkan kakinya untuk mencobanya lagi.
"Pagi pak, maaf mau tanya apa benar perusahaan ini ada lowongan pekerjaan?" Tanya Evelyn sopan.
"Wah neng beruntung datang lagi, benar neng silahkan di coba siap tahu neng beruntung." Jawab Securty itu.
"Baik, pak terima kasih."
Evelyn melangkahkan kakinya dengan semangat dan sampai di resepsionis, lalu dia pun bertanya kembali.
"Permisi mbak, saya mau melamar pekerjaan di sini." Ucap Evelyn ramah.
Bukan sambutan atau perkataan yang ramah dan sopan tetapi malah mendapatkan tatapan sinis dari resepsionis tersebut, dengan malas dia pun mengatakannya.
"Tidak ada lowongan, kau pergi saja." Usir resepsionis itu.
"Tetapi di depan ada tulisannya mbak, masa tidak ada lowongan sama sekali." Sahut Evelyn lagi.
"Hei, memangnya kau siapa hah? Lihatlah dirimu apakah pantas bekerja di perusahaan ternama ini." Ucapnya merendahkan Evelyn yang memakai pakaian biasa saja.
Evelyn mengigit bibir bawahnya dan menarik nafasnya lagi." Mbak, tolonglah saya kali. Saya benar-benar butuh pekerjaan ini."
Resepsionis itupun bangun dari duduknya dan menghampiri Evelyn, lalu dia pun mendorong tubuh Evelyn hingga terjatuh ke lantai.
"Aw.." Ucapnya, saat resepsionis mendorong dengan sekuat tenaga.
"Heh! Baru begitu saja sudah lemah, bagaimana mungkin kau bisa bekerja di perusahaan ini. Ingat ya ini adalah perusahaan kelas elit tidak mungkin menerima orang rendahan sepertimu." Tunjuknya pada Evelyn, dengan melipat tangan di dada.
Perusahaan Kiel'z grup adalah perusahaan yang terkenal dan gajinya pun cukup besar, jadi banyak orang yang berlomba-lomba ingin melamar pekerjaan di perusahaan itu. Tetapi kualitas para pekerjanya pun harus yang seimbang dengan gajinya, jika tidak bisa maka bersiaplah untuk di lempar keluar dari perusahaan tersebut.
Evelyn menundukkan wajahnya saat resepsionis itu menghina dirinya, memang sudah biasa baginya tetapi kali in Evelyn benar- benar butuh pekerjaan saat ini. Dengan semangat yang tinggi Evelyn bangun dari jatuhnya dan merapikan pakaiannya.
"Mbak, jangan pernah melihat orang dari penampilannya saja, belum tentu orang yang berpenampilan baik seperti mbak itu bisa tulus hatinya." Menjeda kalimatnya."Atau mungkin mbak bisa saja memakai cara licik agar bisa mendapatkan pekerjaan ini." Evelyn tersenyum sinis menatap resepsionis itu.
__ADS_1
Resepsionis itu pun menjadi kesal dan geram dengan sikap Evelyn saat ini, lalu dia mengangkat tangannya dan akan menamparnya tetapi ada yang menahan tangannya saat itu juga.
"Cukup."Ucap seseorang dengan suara datarnya.
Resepsionis itupun menoleh kebelakang, ada rasa terkejut bercampur takut saat melihat siapa yang ada di belakangnya, seketika wajahnya memucat serta keringat dingin di pelipisnya mulai bercucuran, juga tangannya yang mulai terasa dingin.
"Kenapa kalian ribut di sini, ini kantor bukan taman hiburan." Ucapnya lagi datar.
"Maaf Tuan, ini semua salah gadis miskin itu." Tunjuknya pada Evelyn.
Evelyn pun menundukkan wajahnya, mungkin ini kesalahannya dan seseorang yang menatap Evelyn pun terdiam sejenak.
Apa gadis ini yang di maksud Tuan.Batin Chris.
Evelyn belum berani mengangkat wajahnya dia masih sangat takut untuk menatap seseorang yang ada di depannya saat ini.
"Securty, urus orang ini jangan sampai dia kembali lagi." Titahnya.
Dua securty pun datang menghampirinya, Evelyn pasrah jika dirinya harus di seret keluar karena memang itu kesalahannya, dia pun memejamkan matanya. Sepersekian detik dia tidak merasakan apapun atau tidak ada yang menariknya untuk keluar dari perusahaan itu.
"Tuan maafkan aku, tolong aku Tuan! Aku masih membutuhkan pekerjaan ini." Teriaknya lagi.
Tetapi dia tidak mendengarkannya dan malah memanggil Evelyn dan membuatnya terkejut.
"Nona, kau boleh masuk."Ucapnya sopan.
Apa.. sepertinya aku mengenal suara ini.Batin Evelyn.
Perlahan pun dia membuka matanya dan begitu terkejut saat seseorang yang pernah bertemu dengannya. Lalu Evelyn pun mengerjapkan matanya dan Evelyn pun memastikannya sekali lagi namun hasil tetap sama tidak berubah.
"Maaf, sepertinya saya salah masuk perusahaan. Saya permisi dulu Tuan." Ucapnya akan segera pergi.
"Nona, tidak perlu takut ini di perusahaan."Ucapnya lagi.
Baru saja melangkahkan kakinya dan membuat Evelyn terhenti, saat Chris memanggilnya kembali. Tetapi Evelyn bingung harus bagaimana menghadapinya karena dia pernah memarahinya dan meminta ganti rugi untuk gerobaknya, Chris malah memanggilnya kembali.
__ADS_1
Dengan perlahan Evelyn pun membalikkan badannya dengan senyum kikuknya dia pun menghampiri Chris.
"Tu-Tuan ma-maafkan sa-saya." Ucapnya gugup setelah dia tahu jika Chris bekerja di perusahaan ternama.
"Nona tidak perlu takut, anggap saja tidak ada masalah apapun."Jawabnya datar." Mari Nona ikut saya, Nona ingin melamar pekerjaan 'kan? Ayo ikuti saya."Melangkah lebih dulu.
Evelyn bingung harus bagaimana mengikutinya atau pergi dari tempat itu, dan pastinya jika ada Chris pasti ada Yehezkiel dan itulah saat ini yang Evelyn fikirkan bagaimana mana cara menghadapinya.
Dari kejauhan Chris memanggilnya dan membuat Evelyn mau tidak mau harus mengikuti langkahnya dan masuk ke dalam lift. Selama di dalam lift perasaan Evelyn kini bercampur aduk jadi satu, entah kata apa yang akan dia katakan. Pintu lift pun terbuka lalu Chris keluar lebih dulu dan Evelyn pun mengekor di belakangnya.
Chris masuk lebih dulu ke ruangan yang bertuliskan Presdir, Evelyn tidak ikut masuk dia masih gugup dan keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.
Tak lam Chris pun keluar dari ruangan yang menurutnya terasa sesak dan menyuruh Evelyn untuk masuk ke dalam. Dengan langkah perlahan Evelyn pun masuk sambil menundukkan kepalanya dan Chris memberitahunya.
"Tuan, silahkan!"Ucap Chris, lalu membungkuk hormat dan meninggalkan mereka berdua.
Sementara seseorang dengan santainya memutar kusrinya lalu melihat ke arah Evelyn dengan tatapan datarnya. Evelyn semakin ketakutan dia meremas kedua tangannya.
"Apakah kau yang bernama Evelyn?" Tanyanya datar.
"Be-benar Tu-Tuan." Jawabnya gugup.
Diapun tersenyum kecil melihat tingkah Evelyn lalu merubah kembali mode datarnya." Jadi kau ingin bekerja di sini?"
"Be-benar Tuan, ap-apakah masih ada lowongan pekerjaan." Evelyn masih menundukkan wajahnya.
"Kenapa kau begitu sopan Nona, tidak seperti kemarin saat bertemu. Kau begitu emosi." Sindirnya.
"Eh, ma-maafkan sikap saya Tuan." Ucap Evelyn sambil menundukkan wajahnya.
Yehezkiel tersenyum tipis melihat sikap Evelyn yang masih gugup, lalu Yehezkiel bangun dari duduknya dan menghampiri Evelyn yang masih ketakutan. Lalu Yehezkiel sedikit membungkukkan badannya dan berbisik di telinganya.
"Benarkah Nona Ge-RO-BAK."Ucapnya dengan penuh penekan.
Deg......
__ADS_1
Bersambung