
Sudah seminggu kondisi Nyonya Eliana belum juga ada perubahan entah sudah beberapa hari ini Tuan Vikram tidak ada rasa bersemangat saat ini. Jangan untuk pulang ke rumah, untuk makan saja dia begitu enggan meninggal istri tercintanya.
Seperti saat ini Kezia menyuruhnya untuk makan siang karena sedari kemarin Tuan Vikram selalu menolaknya.
"Papi ayolah makan dulu, walalu sedikit saja. Jika Mami sadar pasti dia akan sedih Papi!" Ujar Kezia yang begitu khawatir dengan kondisi Tuan Vikram saat ini.
"Tidak Zia, Papi ingin menunggu Mami dan akan makan bersama." Ucap Tuan Vikram dengan tatapan sayunya.
Karena Tuan Vikram semalaman tidak tidur karena dia terus saja menjaga Nyonya Eliana, bahkan orang lain pun tidak di izinkannya.
Kezia hanya bisa menghembuskn nafas kasarnya entah harus bagaimana lagi membujuk Tuan Vikram. Dia hanya berharap jika Yehezkiel mau membujuknya agar Tuan Vikram mau mendengarkannya.
Setelah selesai dengan pekerjaanny kini Yehezkiel pun segera bergegas keluar dari ruangannya karena dia begitu khawatir kepada Tuan Vikram. Karena Kezia baru saja memberi tahunya jika Tuan Vikram tidak mau makan.
Sesampainya di rumah sakit Yehezkiel pun menyuruh Tuan Vikram untuk segera makan dan beriatirahat.
__ADS_1
"Papi makanlah dulu dan beriatirahatlah, di sini ada Zia yang menemani Mami." Ucap Yehezkiel yang duduk di sebelah Tuan Vikram.
"Kiel kau tidak mengerti bagaimana rasanya melihat orang yang kita cintai terbaring lemah. Papi tidak tega melihat keadaan Mamimu."Ujar Tuan Vikram dengan raut wajah sedihnya
Yehezkiel pun mengusap pundak Tuan Vikram." Iya Papi, aku mengerti! Tetapi setidaknya Papi makanlah walaupun hanya sedikit."
Tuan Vikram menghembuskan nafas kasarnya lalu dia pun menganggukkan kepalanya dan membuat Kezia tersenyum manis.
Malam hari barulah Nyonya Eliana sadar tetapi dia tidak banyak bicara karena penyakitnya begiti cepat menggerogoti tubuhnya
"Mami kau harus cepat sembuh ya, kami semua menunggumu." Ucap Yehezkiel lembut.
Nyonya Eliana pun menganggukkan kepalanya dan Yehezkiel menyuruhnya untuk tidur karena hari sudah begitu larut malam.
"Mami tidurlah, aku akan menjaga Mami di sini. Besok Papi akan kemari untuk menjaga Mami." Mengusap lembut kepala Nyonya Eliana.
__ADS_1
Nyonya Eliana pun menganggukkan kepalanya, dan tidak terasa mata Nyonya Eliana pun memanas dan tidak terasa bulir bening pun jatuh membasahi wajah cantiknya yang tidak muda lagi. Melihat hal itu Yehezkiel pun menyeka air mata yang mengalir di pipi Nyonya Eliana.
"Mami kenapa kau menangis? Sudah jangan menangis lagi." Ucap Yehezkiel lembut.
Nyonya Eliana pun tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya lagi lalu Yehezkiel pun mengusap lembut dan mengecup kening Nyonya Eliana dan dia pun memejamkan matanya.
Keesokkan paginya Evelyn pun telah bangun dan dia pun menuju kamar mandi dan tiba-tiba perutnya bergejolak seakan ingin muntah. Lalu Evelyn pun menuju washtafel dan dia pun muntah.
Hoek.... Hoek.....
Setelah selesai memuntahkan isi yang ada di dalam perutnya dia pun segera mencuci mulutnya dan menatap wajahnya di cermin, terlihatlah wajah yang pucat pasi serta tarikkan nafas yang tidal beraturan.
"Ada apa denganku? Tiba-tiba mual dan... ugh pusing sekali kepalaku." Gumam Evelyn
Lalu dia pun memelngkahkn kakinya menuju tempat tidur dan dia pun merebahkan kembali tubuhnya karena rasa pusing di kepalanya.
__ADS_1