Di Nikahi Tuan Muda

Di Nikahi Tuan Muda
Edward Membuat Masalah


__ADS_3

Pagi ini mentari telah bersinar, kini Eliana telah bangun pagi dan Nyonya Mely pun telah pulang ke rumahnya dan Vikram pun telah pergi bekerja. Sebelum pergi ke kantor dia sempat mengatakan jika malam nanti ada acar pesta.


Dan membuat Eliana mengeluarkan semua isi lemarinya, satu persatu dia keluarkan demi mencoba gaun yang akan dia pakai nanti malam. Tetapi sayang sekali gaun yang dia pakai semuanya tidak ada yang cocok untuknya, karena perutnya yang mulai sedikit buncit yang membuatnya tidak percaya diri lagi.


"Apakah tidak ada gaun yang cocok untuk acara nanti malam? Lalu untuk apa semua gaun ini, satupun tidak ada yang cocok di tubuhku, apa lagi perutku sekarang sudah mulai terlihat" keluhnya yang kini duduk di pinggir ranjang.


Banyak gaun yang tidak bersalah, Eliana melemparnya begitu saja. Terdengar pintu kamar di ketuk lalu Eliana dengan malasnya pun membuka pintu tersebut. Dan di depan pintu berdirilah Bi Helen yang sedang tersenyum ke arahnya.


"Nyonya apakah bibi bisa membantu Nyonya?"Ucap Bi Helen sopan.


"Masuklah Bi, lihatlah sendiri!"Ucap Eliana, menyuruh Bi Helen masuk.


Bi Helen pun masuk dia sempat terkejut melihat kamar Nyonya yang berantakan seperti di mall, Eliana yang melihat hal itupun hanya acuh saja dan duduk di sofa.


"Bibi, semua gaun itu tidak berguna bagiku sekarang, apa lagi lihatlah perutku ini yang sudah mulai buncit"adu Eliana."Pasti Vikram akan mentertawakanku, Bi?"Keluh Eliana dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Nyonya, jangan berfikir seperti itu, belum tentu Tuan akan mentertawakan Nyonya. Jadi Nyonya jangan berfikir seperti itu"saran Bi Helen."Sudah Nyonya jangan bersedih lagi, bibi bantu bereskan semua gaun ini"ucap Bi Helen yang mulai memunguti satu persatu gaun tersebut.


Eliana hanya diam saja dia menatap nanar gaun tersebut, jika saja tubuhnya masih langsing pasti gaun itu akan cocok di tubuhnya. Tetapi sayang sekarang Eliana tidak sendirian ada kehidupan baru di dalam perutnya, Eliana menatap perutnya lalu mengusap lembut.


Setelah Bi Helen selesai Mentan kembali gaun tersebut, lalu menghampirinya Eliana.


"Nyonya, tunggu sebentar di sini, bibi akan kembali lagi"ucap Bi Helen yang melangkah keluar dari kamar Eliana.


"Ada apa bibi?"Eliana mengerutkan keningnya, tetapi dia tetap menunggunya."Sebenarnya ada apa dengan Bi Helen?"Gumam Eliana.


Tak lama Bi Helen pun kembali dengan paperbag yang dia bawa, lalu memberikannya kepada Eliana.


"Nyonya ini untuk Nyonya dan bisa di pakai untuk acara nanti malam"memberikan paperbag tersebut.


"Dari siapa Bi?"Bingung Eliana.


"Dari Tuan, Nyonya!" Sahut Bi Helen.


Eliana tidak tahu sejak kapan Vikram membelikannya gaun, karena Vikram belum mengatakan apapun sedari tadi pagi.


"Kenapa dia tidak bilang padaku Bi?"Tanya Eliana yang penasaran.


"Mungkin Tuan, lupa memberi tahu Nyonya jadi menitipkannya ke bibi"


"Baiklah Bu, terima kasih"


Bi Helen pun menganggukkan kepalanya dan keluar dari kamar Eliana.


Di tempat berbeda di perusahan ED grup kini sedang mengalami penurunan saham, entah tiba-tiba saja menurun drastis.


"Tuan bagaimana ini saham kita begitu menurun, padahal kita sudah bekerja sama dengan VV grup"ucap salah satu karyawan tersebut.

__ADS_1


"Cari masalahnya kenapa kalian malah banyak tanya, cepat"bentaknya.


Semua karyawan pun menunduk diam tidak ada yang berani menatapnya, lalu dia melangkahkan kakinya menuju ruangannya dan duduk di kursi keberadaannya lalu memijat pelipisnya.


"Kenapa mendadak seperti, apakah Vikram sengaja mempermainkaku"gumamnya."Aku harus bertemu dengannya" bangun dari duduknya.


Baru saja membuka pintu ruangan tiba-tiba sekertarisnya memanggil dirinya.


"Tuan Edward, semua investor telah menarik semua sahamnya dan mereka meminta ganti rugi untuk dana yang telah mereka inves Tuan"ucapnya sambil memperlihatkan tabletnya.


"Sekarang kau urus semuanya, aku akan ke perusahaan VV grup" ucap Edward melangkah meninggalkan sekertarisnya.


Selama di dalam lift Edward banyak berfikir apakah ini ulah Vikram sendiri, atau ada orang lain yang sengaja. Dia pun belum tahu kebenarannya, pintu lift terbuka melangkah keluar menuju parkiran mobil dan melajukannya menuju perusahaan VV grup.


Tak butuh waktu lama mobil Edward sudah sampai di depan perusahaan Vikram, lalu keluar dari dalam mobil dan melangkah ke dalam dia melewati resepsionis yang memanggilnya.


"Tuan maaf, apakah anda sudah membuat janji?"Tanya resepsionis.


"Tidak perlu memakai janji, aku sudah mengenalnya"jawab Edward acuh dan terus melangkah.


Tetapi resepsionis pun menghalangi langkah Edward dengan tangannya.


"Maaf Tuan, jika belum memiliki janji anda todak boleh masuk"ucapnya tegas.


"Hei, memangnya kau siapa berani mengaturku, kau itu hanya resepsionis biasa saja jadi jaga sikapmu"kesal Edward.


"Tetap saja tidak bisa Tuan, lebih baik Tuan segera pergi dari sini"usirnya.


Edward menghembuskan nafas kasarnya."Kau jangan memancing amarahku, aku ingin bertemu dengan Vikram. Apa kau mengerti, jadi menyingkirlah!"Edward mendorongnya.


Dan masuk ke dalam lift tersebut, sementara resepsionis pun kesakitan karena di dorong oleh Edward. Dan dia pun memanggil security dan dua security tersebut menghampirinya.


"Nona kau tidak apa-apa?"Tanya salah satu security itu.


"Pak cepat hentikan orang itu, jangan sampai mengacaukan segalanya"ucap resepsionis itu, lalu bangun dari jatuhnya.


"Baik Nona, Ayo cepat kita harus menghentikannya"ucapnya.


Lalu mereka berdua pun masuk ke dalam lift dan menyusul Edward yang kini sudah sampai di ruangan Vikram.


"Vik, kenapa kau menyuruh investor menarik sahamnya"kesal Edward.


"Hei, apa maksudmu? Kenapa kau tiba-tiba datang dan langsung berkata seperti itu!" Jawab Vikram dengan wajah setenang mungkin.


"Kau tidak perlu beralasan lagi, cepat katakan apa maksud dari semua ini" ucap Edward yang semakin tidak sabar.


"Aku tidak pernah menyuruh merak untuk menarik semua invesnya, mungkin karena kinerja karyawanmu yang buruk jadi mereka menarik kembali"jawabnya, lalu menyadarkan punggungnya.

__ADS_1


"Kau jangan macam-macam Vik,"ancamnya.


"Siapa yang macam-macam hah! Satu macam pun belum aku lakukan"menaikan alisnya.


Edward menghampiri Vikram dan mencengkram kuat jas Vikram.


"Kau fikir aku akan takut hah! Kau lihat saja aku tidak akan tinggal diam, perlahan-lahan aku pasti akan mengganggumu" menatap dengan sorot mata tajam.


Vikram hanya tersenyum kecil, lalu melepaskan kedua tangan Edward yang memegang jasnya.


"Tuan Muda Edward yang terhormat, ingat siapa yang membantumu di saat perusahaanmu akan hancur hem! Jika bukan aku yang menolongmu siapa lagi yang akan mau bekerjasama denganmu"tunjuknya.


Belum sempat menjawab kedua security sudah masuk ke dalam ruangan Vikram dan membungkuk hormat.


"Tuan, maafkan kami yang begitu ceroboh"ucapnya menundukkan kepalanya.


Bangun dari duduknya dan menghampiri kedua security tersebut.


"Kalian memang ceroboh, tetapi ada orang yang lebih ceroboh daripada kalian, cepat bawa keluar kalau tidak kalian berdua yang ceroboh"ucapnya dingin dengan sorot mata tajam.


"Ah baiklah Tuan"


Kedua security itupun menghampiri Tuan Edward dan menarik paksa agar dia keluar dari ruangan Vikram.


"Tuan mohon kerja samanya, jangan membuat masalah"ucap salah satu security tersebut.


"Vik, apa maksudmu hah! Bentaknya.


"Tidak ada maksud apapun"ucapnya santai.


"Kau..."


"Tuan, lebih baik anda cepat keluar, jangan membuat keributan di perusahaan ini"


Kedua security itupun menarik paksa Edward sedangkan Vikram menghembuskan nafas kasarnya lalu dia pun duduk di sofa.


"Huuh.. cukup menguras tenaga"ucapnya, lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa.


Lukas pun masuk ke dalam ruangan Vikram,.


"Tuan apakah anda tidak akan pulang?"Tanya Lukas.


Vikram pun menatap Lukas, lalu melihat jam di pergelangan tangannya.


"Baiklah saatnya untuk pulang, ayo Lukas!" Bangun dari duduknya dan merapikan jas yang di pakainya.


Lukas pun mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2