
Dua bulan telah berlalu hari-hari Eliana selalu di hiasi dengan keluarga barunya, kini dia merasa jauh lebih bahagia di bandingkan sebelumnya saat bersama keluarga angkatnya.
Pagi ini Eliana sedang memasak dan Vikram memeluknya dari belakang Eliana hanya tersenyum melihat tingkah Vikram, lalu Vikram mengecup tengkuk leher Eliana dan membuatnya merasa geli dan juga rasa yang tidak karuan.
"Vik, hentikan aku sedang memasak"ucap Eliana yang sedang memotong sayuran.
"Sudah lama tidak seperti ini"ucap Vikram.
"Vik, hentikan!"
Vikram terus saja mengecupnya membuat Eliana tidak bisa bergerak bebas, tetapi bukan Vikram namanya jika dia tidak bisa mendapatkan apa yang dia mau.
"Sebentar saja"ucap Vikram dengan suara seraknya.
"Tidak Vik, tolak Eliana dia mencoba mendorong Vikram.
Tetapi Vikram mencekal kedua tangannya sehingga Eliana tidak bisa berontak, lalu tanpa menunggu apapun Vikram akan mengecup bibir Eliana tetapi sangat di sayangkan ada seseorang yang tidak sengaja mengganggunya.
"Elia...na"ucapnya lalu pun terkejut dan membalikkan badanya.
Vikram terlonjak kaget kala melihat seseorang yang datang dengan cepat Vikram melepaskan Eliana dan Eliana pun merapikan pakaiannya yang sempat kusut karena tingkah Vikram.
"Aku tidak melihat apapun,"ucapnya.
"Kakak, sudahlah ada apa kau kemari?"Eliana menghampirinya.
Ternyata yang datang adalah Tuan Daniel, kakak Eliana dan Vikram hanya mendengus kesal melihat kedatangannya karena mengganggu saja di saat yang tidak tepat.
"Huh.. kenapa kau kemari, menganggu orang saja"kesal Vikram.
Tuan Daniel pun membalikkan badanya dan menatap Eliana."Maaf El, kakak tidak bermaksud seperti"
"Tidak apa-apa kak"
"Jelas sekali kau jika ingin menganggu kami"cibir Vikram.
Lalu Eliana mencubit pinggang Vikram dan membuatnya meringis kesakitan dan dia pun mengusap pinggangnya.
"Aw.. sakit sayang, kenapa kau mencubitku!" Kesal Vikram.
"Dia kakakku kenapa kau mengatakan hal itu"Eliana melipat tangan di dada dan menatap sinis.
"Ini rumahku seharusnya dia ketuk pintu dulu, bukannya langsung masuk ke dalam rumah orang"ucap Vikram tak kalah sinis dari Eliana.
__ADS_1
"Kau...."geram Eliana.
Melihat keduanya akan bertengkar Tuan Daniel pun berusaha untuk memisahkan keduanya.
"Sudah sudah, ini memang salahku El"ucap Tuan Daniel.
"Kakak kau jangan mengatakan hal itu," ucap Eliana dengan memasang wajah sedihnya.
"Sudahlah, kau lanjutkan saja memasakmu El, biarkan kakak yang mengurus suamimu"menarik tangan Vikram.
Eliana pun menganggukkan kepalanya dan Tuan Daniel menarik Vikram ke ruang keluarga.
"Ada hal yang ingin aku katakan Vik," menarik nafas dalam-dalam."Ibuku bertanya padaku kapan kalian akan mengadakan pesta pernikahan?"Tanya tuan Daniel, dia menatap serius ke arah Vikram.
Sejenak Vikram memikirkan kata-kata dari tuan Daniel, lalu dia pun menjawabnya.
"Kakak, untuk masalah itu lebih baik kau tanyakan pada Eliana, aku akan mengikuti keputusannya"jawab Vikram.
"Baiklah, jika kau mengatakan hal itu, aku akan bertanya pada El" ucap tuan Daniel.
Setelah selesai memasak lalu Eliana pun memanggil kakak dan suaminya.
"Vik, kakak ayo makan!" Ucap Eliana yang berada di ruang makan.
Keduanya pun bangun dari duduknya menuju ruang makan, lalu keduanya pun duduk sedangkan Eliana sedang menata makanan.
Tuan Daniel menarik nafasnya.
"Jadi begini El, ibu menanyakan kepadaku tentang kau dan Vikram, kapan kalian akan mengadakan pesta pernikahan?"Tanya tuan Daniel menatap Eliana.
Eliana menatap Vikram dan Vikram memutar kepalanya dan membuat Eliana semakin kesal bukannya membantu malah bersikap acuh.
"Apa yang Vikram katakan kak?"Tanya Eliana.
"Dia akan mengikuti apa yang kau katakan El"ujar Tuan Daniel, sambil memakan makanannya.
Eliana bukannya menjawab dia malah bertanya lagi kepada Vikram."Vik, bagaimana menurutmu?"
"Jika aku mengatakan besok apa kau siap?"Tanya Vikram.
"Astaga Vik, kau bercanda ya! Semua itu harus di pikirkan dengan baik jangan sampai salah"tutur Eliana.
"Baiklah, jika seminggu lagi bagaimana? Apa kau setuju?"Menatap keduanya.
__ADS_1
Tuan Daniel menatap Eliana lalu Eliana menganggukkan kepalanya, karena semua sudah setuju mereka pun melanjutkan kembali ke makanannya.
Di tempat lain kini Aini sedang merenungkan perbuatannya saat beberapa waktu yang lalu dia bahkan tidak berani bertemu dengan Eliana ataupun sekedar menyapanya.
"Apakah Eliana akan marah padaku?Jika dia tahu yang sebenarnya?"Gumam Aini."Tidak boleh, bagaimanapun juga aku harus meminta maaf pada Eliana, iya aku harus meminta maaf padanya"
Aini pun mengambil ponselnya yang ada di atas meja dan mencari kontak nama seseorang, lalu jari lentiknya pun terhenti kala mengingat bayangan beberapa waktu yang lalu saat dia dengan sengaja meminta dokter untuk mengambil sampel darah Eliana.
"Tidak, pasti Eliana akan marah padaku!"Aini menaruh ponselnya.
Lalu dia melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengambil segelas air agar bisa menenangkan pikirannya saat ini.
"Tenang Aini kau harus tenang, Eliana bukan orang yang seperti itu"menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan ya kembali.
Aini kembali ke kamarnya dia mencoba untuk membaringkan tubuhnya lalu menarik selimut dan memejamkan matanya, tetapi tidak bisa otaknya selalu berputar mengingat kejadian itu.
Aini pun memutar tubuhnya kepala jadi kaki dan kaki menjadi kepala, dia terus saja berpindah-pindah posisi tidurnya sampai pada akhirnya dia pun terlelap dengan sendirinya.
Kembali lagi ke Eliana dan Vikram setelah kepulangan Tuan Daniel kini Eliana dan Vikram sedang duduk di sofa, Eliana memainkan ponselnya sebenarnya dia sangat khawatir dengan keadaan Aini. Karena setelah kecelakaan itu Aini jarang menemuinya dan itu yang mengganjal di hati dan pikirannya.
"Kenapa kau melamun?" Vikram menepuk bahu Eliana.
"Eh, ada apa Vik!" Jawab Eliana yang tidak fokus.
"Haish kau ini, aku bertanya apa kau menjawab apa?" Vikram menggelengkan kepalanya.
"Eh maafkan aku, aku sedikit lelah Vik"sahut Eliana bangun dari duduknya.
Eliana melangkah menuju ranjangnya dan di susul oleh Vikram lalu Eliana pun merebahkan tubuhnya dan menarik selimutnya. Melihat hal itu Vikram pun mengerti jika Eliana sedang memikirkan sesuatu, Vikram pun ikut naik ke ranjang dan memeluk Eliana.
"Jika kau ada masalah katakan saja padaku"ucap Vikram di belakang Eliana.
Hembusan nafas Vikram terasa menusuk ke tulang dan membuat Eliana merinding,lalu dia membalikkan badanya dan menatap ke arah Vikram.
"Aku memikirkan Aini, kenapa dia tidak memberi kabar padaku"ucap Eliana yang menatap Vikram.
"Mungkin dia sibuk dengan pekerjaannya, kau jangan terlalu berfikir yang aneh-aneh, El!" Jawab Vikram yang menatap intens.
"Tetapi Vik, tidak seperti biasa dia begitu. Bahkan sudah dua bulan Aini tidak memberi kabar padaku, aku sangat khawatir Vik"tutur Eliana dengan wajah sedihnya.
Lalu Vikram pun menarik Eliana ke dalam pelukkannya dan mengusap lembut rambutnya.
"Sabar El, dia pasti akan baik-baik saja, kau tidak perlu bersedih" mengecup puncak kepala Eliana.
__ADS_1
Eliana menganggukkan kepalanya lalu dia pun mulai memejamkan matanya.
Bersambung