
Bulan telah berganti bulan dan kini tiba saatnya bagi Evelyn dan juga Yehezkiel untuk melangsungkan acara pesta pernikahan mereka. Evelyn dan Yehezkiel berada di kamar yang terpisah.
Evelyn telah di rias secantik mungkin juga make up yang terlihat tipis tetapi tetap cantik bagi siapapun yang melihatnya.
“Nona, kau cantik sekali dan kulit wajahmu begitu halus.” Puji salah satu penata rias.
“Terima kasih kakak, tetapi kau terlalu berlebihan memujiku.” Ucap Evelyn yang kini malu.
Tak berapa lama Nyonya Eliana bersama Kezia pun menghampiri kamar Evelyn dan masuk ke dalam.
“Kak Eve, kau sangat cantik sekali!” Puji Kezia lagi.
“Zia sudahlah, tadi kakak perias yang memujiku dan sekarang kau lagi.” Sahut Evelyn malu karena wajahnya sudah memerah.
“Hahaha.... Itu berarti kau memang sangat cantik kak, bagaimana reaksi kak Kiel jika dia melihat kakak dengan penampilan seperti ini.” Jawab Kezia tertawa sambil membayangkan wajah terkejut Yehezkiel.
“Hust.... Sudahlah Zia, kau selalu saja menggoda kakakmu. Lebih baik cepat turun para tamu undangan telah menunggu kita, ayo cepat!” Lerai Nyonya Eliana, sekaligus mengajaknya keluar.
Kezia pun memapah Evelyn keluar dari kamarnya bersama Nyonya Eliana juga Jeslyn yang tidak pernah jauh dari sang kakak, satu persatu mereka menuruni anak tangga. Tamu undangan pun saling menatap ke arah tangga karena mereka sedang menunggu calon pengantin wanita.
Mata Yehezkiel fokus menatap ke arah tangga dia sama sekali tidak berkedip, Yehezkiel menelan salivanya kala melihat seseorang menuruni anak tangga di balut dengan gaun berwarna putih serta hiasan dan juga make up yang tidak tebal.
Sampai di lantai dasar, Kezia bersama Jeslyn pun memapah Evelyn menuju altar pernikahan dan pendeta pun telah siap untuk menikahkan mereka berdua. Evelyn masih menundukkan kepalanya dia begitu malu karena banyak mata memandang ke arahnya, Yehezkiel pun menghampiri Evelyn mereka berdua saling berhadapan dan saling menggenggam tangan pasangannya lalu pendeta pun memulainya.
“Yehezkiel apa kau bersedia menerima Evelyn menjadi istrimu di saat senang maupun susah, di saat sehat maupun sakit, dan di saat kaya atau miskin apa kau menerima semuanya?” Tanya pendeta kepada Yehezkiel.
“Aku bersedia menerima Evelyn di saat kaya, sakit, susah maupun senang dan menerimanya.” Jawab Yehezkiel yakin menatap Evelyn.
“Baiklah, dan sekarang kau Nona Evelyn apa kau bersedia menerima Yehezkiel sebagai suamimu di saat senang maupun susah, di saat sehat maupun sakit, dan di saat kaya ataupun miskin apa kau menerima semuanya?” Kini pendeta bertanya kepada Evelyn.
“Aku bersedia menerima Yehezkiel sebagai suamiku di saat kaya, susah, sakit maupun senang dan menerimanya.” Jawab Evelyn yang juga menatap Yehezkiel.
“Baiklah sekarang kalian sudah sah menjadi sepasang suami dan istri.” Ucap pendeta tersebut, lalu mereka pun berdoa kepada Tuhan.
__ADS_1
Selesai berdoa lalu Yehezkiel memakaikan cincin di jari manis Evelyn, begitu juga dengan Evelyn dia pun sama memakaikan cincin di jari manis Yehezkiel.
Setelah selesai Yehezkiel mencium kening Evelyn dan suara riuh tepuk tangan pun saling bersahutan. Para tamu undangan pun saling bersorak sorai meneriaki pengantin baru itu.
“Ayo cium....” Ucap salah satu tamu undangan.
Evelyn terkejut sekaligus malu, Yehezkiel hanya tersenyum kecil menanggapinya. Yehezkiel menatap Evelyn yang sedang malu.
“Ayo cium jangan malu...” soraknya lagi.
Yehezkiel mendekatkan wajahnya ke arah Evelyn dan membuat Evelyn semakin gugup, Yehezkiel memegang dagu Evelyn lalu semakin lama wajah Yehezkiel semakin mendekat dan mereka pun saling menautkan bibirnya. Yehezkiel pun mengecup bibir Evelyn dengan lembut membuat Evelyn membulatkan matanya.
Lambat laun Evelyn pun mengikuti permainan Yehezkiel dan seluruh tamu undangan saling bertepuk tangan bahagia.
Malam hari acara pun di lanjutkan kembali dengan resepsi pernikahan, acara pernikahan Yehezkiel dan Evelyn pun berjalan dengan lancar.
Kini semua tamu undangan pun sedang menikmati makanan dan juga minuman tersebut.
Jeslyn menghampiri Evelyn yang sedang duduk di kursi pelaminan dengan senyum yang mengembang di wajah cantiknya.
“Iya adikku sayang, sekarang kau juga harus bahagia ya.” Mengusap lembut kepala sang adik.
“Tentu saja, kakak sudah menikah dan kau juga harus bahagia bersama kakak tampan itu.” Sahutnya.” Kakak aku pergi dulu dan tidak akan mengganggumu.”, Berjalan meninggalakan Evelyn.
Selesai acara resepsi kini para tamu undangan telah pulang ke rumah masing-masing, begitu juga dengan Evelyn yang kini gugup entah dia harus bagaimana.
Yehezkiel baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan rambutnya yang masih basah serta handuk yang melingkar di pinggangnya, membuat mata Evelyn tidak berkedip dan menelan salivanya kala melihat roti kekar yang berotot seperti itu.
Sekilas Yehezkiel menoleh dan tersenyum licik, dia berencana menjahili Evelyn dan melangkahkan kakinya mendekati Evelyn yang sedang duduk di ranjang pengantin mereka.
“Kau sudah siap sayang.” Goda Yehezkiel, sambil berjalan mendekat.
“A-ap- apa? Siap? Apa maksudmu sudah siap!” Jawabnya dengan wajah yang malu melihat roti kekar yang ada di hadapannya.
__ADS_1
“Jangan malu sayang, kau adalah istriku.” Mengangkat dagu Evelyn.”Aku sudah mengecup bibirmu apa kau tahu rasanya? Itu sangat enak, membuatku ketagihan sayang.” Tersenyum manis.
Evelyn menelan salivanya kala melihat mata Yehezkiel yang sedang menggodanya, Yehezkiel hanya tersenyum lalu wajahnya semakin dekat dengan Evelyn dan tidak ada jarak di antara mereka. Sedangkan Evelyn menatap Yehezkiel dengan tatapan yang sulit di artikan dan hembusan nafas Yehezkiel pun terasa menembus kulitnya yang membuatnya bergidik ngeri.
Evelyn pun memejamkan matanya kala wajah Yehezkiel semakin dekat, sementara Yehezkiel tersenyum melihat tingkah Evelyn dan menggelengkan kepalanya. Lalu dia meniup wajah Evelyn yang sedang memejamkan matanya.
“Huuufff....”
Evelyn terkejut lalu dia membuka matanya, dan melihat Yehezkiel sudah pergi ke ruang ganti pakaian. Evelyn pun merutuki kebodohannya karena bisa- bisanya dia di perdaya oleh Yehezkiel.
“Aduh... Apa yang aku lakukan! Kau ceroboh dan bodoh Eve mau saja di perdaya olehnya.” Mencubit pipinya.
Setelah selesai berganti pakaian Yehezkiel pun kembali dengan piyamanya, lalu dengan cepat Evelyn bangun dari duduknya dan segera melangkah menuju kamar mandi. Karena badannya sudah terasa lengket, di dalam kamar mandi dia pun mencoba menarik resleting gaun yang dia pakai tetapi tidak sampai.
Evelyn berdiri di depan cermin besar dan sedikit memiringkan tubuhnya agar dia bisa membuka resleting itu, cukup lama Evelyn berkutat dengan gaunnya tetapi dia belum bisa melepaskannya.
“Astaga bagaimana ini? Kepada siapa aku harus minta tolong!” Keluhnya yang sedari tadi belum bisa menggapainya.
Sejenak dia berpikir untuk meminta tolong kepada Jeslyn, tetapi setelah mengingatnya jika Jeslyn telah di ajak pergi oleh Kezia bersama mertuanya. Evelyn pun menepuk keningnya dan bersandar pada dinding kamar mandi.
Yehezkiel yang sedang duduk di ranjang pun melihat ke arah pintu kamar mandi, lalu melihat jam di dinding. Yehezkiel bangun dari duduknya menuju kamar mandi, saat akan membuka pintu ternyata Evelyn menguncinya dari dalam.
Tok tok tok
“Eve, apa kau masih lama? Cepatlah keluar, kalau tidak aku akan mendobraknya.” Ucap Yehezkiel dari luar pintu kamar mandi.
Evelyn pun terkejut mendengar teriakkan Yehezkiel, dia pun sangat panik harus bagaimana mengatakannya.” Iya tunggu sebentar, A- aku sedang berganti pakaian.”
“Cepatlah apa kau akan tidur di dalam kamar mandi!” Sahutnya kesal.
“Tidak, kau tunggu saja.” Teriaknya lagi.
Evelyn bingung haruskah dia meminta bantuan Yehezkiel? Tetapi dia takut jika Yehezkiel akan menjahilinya lagi.
__ADS_1
Bersambung