Di Nikahi Tuan Muda

Di Nikahi Tuan Muda
Sesaon 3


__ADS_3

Seminggu telah berlalu kini kondisi Nyonya Eliana semakin membaik, kini Nyonya Eliana sibuk dengan acara pesta pernikahan putranya dengan di temani Kezia yang sedang merinci serta memesan berbagai macam gaun pengantin.


Evelyn yang kini sedang membantu di rumah mewah itu merasa canggung, karena dia tidak di perbolehkan melakukan pekerjaan apapun begitu juga dengan adiknya yang bahagia atas pernikahan sang kakak.


“Mami, bagaimana jika gaun ini saja pasti kak Eve terlihat cantik.” Ucap Kezia menujuk salah satu gaun berwarna putih.


“Iya Zia kau benar, Mami akan mempersiapkannya lalu Eve dan Kiel akan datang ke butik langganan kita.” Jawbanya antusias, lalu dia pun mengambil ponselnya dan menelepon seseorang di sebrang sana.


Evelyn bingung harus melakukan apa di rumah mewah itu. Dia begitu bingung karena saat ini dia sedang di kamarnya yang telah di siapkan oleh Nyonya Eliana.


“Aku harus melakukan apa ya.”Gumamnya sambil melihat ke arah jendela luar, seketika dia pun menemukan ide dengan mengembangkan senyuman segera keluar dari dalam kamar.


Melangkahkan kakinya menuruni anak tangga sambil mengamati sekelilingnya seperti maling saja, Evelyn terus saja mengawasi sekitarnya jika saja ada yang melihatnya dia mengendap-endap setelah menuruni anak tangga.


Sungguh Evelyn seperti maling saja yang akan kabur tanpa bertanggung jawab. Seketika langkahnya terhenti saat ada tangan yang menepuk bahunya, tentu saja membuat Evelyn terkejut serta detak jantungnya berdetak dengan cepat.


Perlahan dia menoleh dan mengelus dadanya saat seseorang yang berdiri di hadapannya.


“Huuff, Jes kau mengejutkan kakak saja.” Mengelus dadanya.


“Kakak kenapa berjalan seperti maling saja.” Ucap polos Jeslyn.


“Ssttt, jangan berisik.” Membekap mulut Jeslyn.”Kakak hanya ingin pergi ke taman belakang, bosan kakak di kamar terus Jes.” Ucapnya yang mulai jenuh.


Jeslyn pun menganggukkan kepalanya, lalu Evelyn melepas tangannya yang membekap Jeslyn. Kemudian Evelyn perlahan berjalan menuju taman belakang sesampainya di taman dia pun menghembuskan nafas lega.


“Akhirnya bisa keluar dari kamar.” Ucapnya dengan senang, lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya.


Sedangkan Nyonya Eliana tidak sengaja melihat Evelyn yang ada di taman belakang, dia melihat menantu kesayangannya sedang meregangkan oto-otonya yang kaku.


“Zia, kau katakan kepada Eve sore ini pergi ke butik bersama Kiel. Mami akan menghubungi Kiel.” Ucapnya Nyonya Eliana yang sibuk dengan ponselnya.


“Iya Ma, kalau gitu Zia ke kamar kak Eve dulu.” Bangun dari duduknya.


“Jangan ke kamar, Eve ada di taman belakang!” Ucap Nyonya Eliana yang matanya fokus pada layar ponsel.


Kezia pun menurutinya lalu dia melangkah ke taman belakang dan benar saja di sana ada Evelyn yang sedang duduk di kursi taman, dia melihat banyak berbagai macam bunga dan membuatnya terpesona akan keharuman bunga itu.

__ADS_1


“Kakak!” Menepuk bahu Evelyn sedikit kencang.


Evelyn terkejut sekaligus detak jantungnya berpacu lebih cepat. Dia pun menoleh dan tersenyum canggung, seperti maling ketahuan mencuri.


“Zia.. kau mengejutkan kakak saja, ada apa?” Tersenyum canggung.


“Kak Eve santai saja, Mami bilang kak Eve harus bersiap-siap sore karena kau dan kak Kiel akan pergi ke butik untuk mencoba gaun pengantin.”


“Baiklah, aku akan segera bersiap Zia, terima kasih sudah memberitahuku.” Evelyn melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah.


Kezia menganggukkan kepalanya dan tersenyum kecil melihat tingkah kakak iparnya. Evelyn telah sampai di kamarnya lalu dia pun mulai mendekati lemari dan mencari baju yang cocok untuknya, Evelyn bingung harus memakai yang mana karena ada banyak sekali gaun yang di belikan Nyonya Eliana untuknya.


“Aku harus memakai yang mana banyak sekali.” Ucapnya dengan melihat gaun tersebut.


Tak lama terdengar suara pintu kamar di ketuk Evelyn pun menoleh dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam kamarnya.


“Mami, masuklah!” Ucap Evelyn yang masih kebingungan memilih baju.


“Kau kenapa sayang, apakah tidak ada yang cocok? Kalau begitu di buang saja, Mami akan membelikan gaun yang baru untukmu.” Mengusap lembut rambut Evelyn.


Nyonya Eliana pun tersenyum manis kepada Evelyn dan membelai lembut pipinya.” Ini hanya masalah kecil, Mami akan membantumu.”


Nyonya Eliana pun mencari gaun yang cocok untuk Evelyn dan dia menjatuhkan pilihannya pada gaun berwarna biru muda dengan selutut, lalu Nyonya Eliana pun menuju lemari sepatu Evelyn yang memang sengaja sudah di siapkan oleh Nyonya Eliana lalu membuka lemari sepatu dan di sana banyak sepatu yang sudah di tata dengan rapi dan juga berbagai macam model. Nyonya Eliana pun memilih salah satu sepatu high heels untuk Evelyn dan memberikN kepadanya.


“Ini sepatu yang cocok untukmu,  lebih baik kau mencoba sekarang.” Memberikan sepasanga sepatu dengan warna yang sama seperti gaunnya.


Evelyn pun menurutinya dia segera dia pergi ke ruang ganti dan memakai yang di pilihkan oleh Nyonya Eliana, tak lama Evelyn pun keluar dari ruangan ganti pakaian dengan kepala menunduk serta kedua tangannya saling meremas. Dia menghampiri Nyonya Eliana dan membuat Nyonya Eliana pun terpesona.


“Cantik sekali kau Eve, lalu tinggal merapikan rambutmu saja.” Tersenyum manis lalu dia menyuruh Kezia membantu Evelyn.


Kezia pun membantu merapikan rambut Evelyn dia mengerai rambutnya dan poninya di sisir ke depan serta sisi kiri dan kanan rambutnya sedikit di pakaikan hiasan rambut, dan tak lupa juga memakaikan perhiasaan yang membuat penampilan Evelyn semakin cantik serta make up yang tipis karena kulit Evelyn sudah putih dan cantik pula. Membuatnya tidak berkedip menatap cermin yang ada di hadapannya, dia tidak percaya jika itu adalah wajahnya.


Selesai merias kini terdengar deru mesin mobil yang tepat berhenti di depan rumah mewah itu, bersama asistennya lalu membukakan pintu mobil dan keluarlah seseorang dari dalam mobil dengan gagahnya meskipun hari sudah semakin sore tetapi tidak mengurangi ketampanannya.


Melangkah masuk ke dalam dan mencari sosok yang dia sayangi, siapa lagi jika bukan Nyonya Eliana.


“Mami... Aku merindukanmu.” Ucapnya manja lalu memeluk.

__ADS_1


“Haish... Dasar anak ini, apa kau tidak malu seperti ini di hadapan calon istrimu.” Menggelengkan kepalnya.


“Tidak, karena kau ibuku yang telah merawatku sedari kecil.” Ucapnya yang masih erat memeluk.


Nyonya Eliana menghembuskan nafas kasarnya lalu, terdengar langkah seseorang berjalan dari atas tangga. Yehezkiel menoleh dan melepaskan pelukkannya, sementara seseorang yang masih di atas tangga perlahan mulai menurunkan salah satu kakinya dan membuat Yehezkiel menatap fokus pada tangga itu.


Satu kaki mulus telah terlihat dan dia pun mulai turun dengan kaki yang satunya terlihatlah gaun yang kini menghiasi kakinya, mata Yehezkiel menatap tajam dia tidak berkedip sedikitpun lalu seseorang itupun mulai terlihat siapa orang itu.


Setelah melihat siapa seseorang yang ada di atas tangga mata Yehezkiel membulat sempurna dan tidak berkedip sedikitpun, Nyonya Eliana hanya tersenyum melihat Yehezkiel yang terpesona dengan tampilan Evelyn yang lebih cantik dari biasanya. Evelyn perlahan menuruni anak tangga dan di bantu oleh Kezia karena dia belum terbiasa memakai sepatu haigh heels.


Setelah melewati beberapa anak tangga kini Evelyn dan Kezia melangkah menghampiri Yehezkiel dan Nyonya Eliana, tetapi Evelyn menundukkan kepalanya dia sangat malu saat ini karena Yehezkiel terus menatapnya.


Kezia terkekeh melihat kakaknya yang begitu fokus menatap gaun Evelyn dari atas hingga bawah, lalu dia pun menjentikkan jarinya membuat Yehezkiel tersadar.


Ctar.....


“Jangan terlalu serius kak, kau membuatnya gugup saat ini.” Goda Kezia.


Yehezkiel pun mengalihkan pandangannya dan berdehem untuk mencairkan suasana.


“Tidak biasa saja, iya sudah cepat hari sudah semakin sore.” Melangkah lebih dulu.


“Ayo kak, kau berhati- hatilah jangan sampai kak Kiel memakanmu.” Ucap Kezia tertawa jahil.


Evelyn yang mendengar hal itupun menelan salivanya dia benar-benar takut jika Yehezkiel memakannya, lalu Nyonya Eliana pun menepuk bahu Kezia yang selalu saja menjahili Evelyn.


“Zia, kau jangan menakuti kakakmu, Eve pergilah kau tidak perlu takut, Zia hanya menggodaku saja. Ayo pergilah!” Ucap Nyonya Eliana lembut.


“Ba-baik Mami, Eve pergi dulu.”


Evelyn pun melangkahkan kakinya menyusul Yehezkiel yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.


Bersambung


 


 

__ADS_1


__ADS_2