
Seminggu telah berlalu kini Vikram sudah di perbolehkan untuk pulang, tentu saja Yehezkiel merasa senang dengan semangat dia pun segera memapah Vikram.
"Papi ayo Kiel bantu"ucapnya dengan semangat.
"Baiklah jagoan Papi" ucapnya.
Lalu Eliana telah selesai dengan administrasinya dan melangkahkan kaki perlahan keluar dari rumah sakit menuju lobi dan sampai di loby mereka pun masuk ke dalam mobil.
"Papi, malam ini kau harus tidur ddnganku'ucap Yehezkiel yang begitu antusias.
"Baiklah sayang"jawab Vikram.
Tak berapa lama mobil pun telah sampai di depan rumah lalu Eliana keluar dan dia mengitari pintu mobil sebelahnya karena dia akan membantu memapah Vikram.
"Selamat datang kembali sayang"ucap Eliana dengan senyum mania di wajahnya.
Vikram pun menatap kagum karena rumahnya tidak ada yang berubah sama sekali, lalu dia mengedarkan pandangannya.
"Ternyata tidak ada yang berubah masih seperti dulu"ucapnya.
Eliana hanya tersenyum menanggapinya dan mereka masuk ke dalam, di sana sudah ada keluarga Eliana dan sang kakak bersama sahabatnya.
"Selamat datang kembali....."ucapnya bersamaan.
Vikram begitu terkejut melihatnya karena sudah sekian lama tidak bertemu dengan mereka semua, lalu Vikram menghampiri ibu mertuanya.
"Ibu maafkan aku Bu, selama bertahun-tahun aku tidak mengenali kau dan yang lainnya"ucap Vikram mencium punggung tangan ibu mertua dan menatap ke arah Tuan Daniel.
"Sudahlah, kau tidak perlu meminta maaf. Ibu sudah memafkanmu"tersenyum manis.
"Terima kasih bu"ucap Vikram senang.
Lalu mereka pun merayakannya bersama-sama dengan hati yang penuh suka cita.
Berbeda tempat kini Callista sedang mencari cara agar dia bisa kabur dan menemui Devan, dia mencoba melangkah ke arah jendela kamar lalu dia melihat ada banyak penjaga yang sedang berjaga. Karena mereka takut jika Callista akan kabur.
__ADS_1
"Aku harus secepatnya sampai di sana, Devan pasti membutuhkan bantuanku"ucapnya dengan melihat keluar dari kaca jendela.
Entah keberuntungan sedang berpihak kepadanya atau bukan tetapi para penjaga pun satu persatu pergi meninggalkannya, dan membuat senyum Callista mengembang lalu dengan langkah cepat dia segera membuka jendela dan menarik sprei yang sudah dia ikat menjadi sambung menyambung dengan kain lainnya.
Melihat situasi seperti Callista hanya membawa beberapa barang yang dia butuhkan untuk di bawah, melemparkan barang tersebut ke bawah lalu perlahan-lahan dia pun turun dan hingga akhirnya dia sampai di bawah juga, lalu Callista melihat sekelilingnya aman dan dia pun bergegas segera pergi lewat pintu pagar samping yang tidak pernah di buka sama sekali.
Sampai di pintu pagar tentu saja tidak mudah baginya dia harus memanjat pintu pagar tersebut, karena pintu tersebut tidak pernah di buka jadi hanya di gembok saja.
"Baiklah, aku harus memanjatnya, bukan masalah"ucapnya, lalu dia melemparkan barangnya terlebih dahulu.
Dengan gerakkan cepat Callista pun sudah memanjatnya lalu dengan langkah cepat akhirnya dia pun bisa bebas dan segera cepat pergi dari rumahnya. Cukup jauh dia berlari dan akhirnya dia pun masuk ke dalam taxsi yang lewat di hadapannya.
Callista masuk dengan nafas yang tidak beraturan."Pak...to..long...antar..saya ..ke bandara."
"Oh baiklah Nona"jawab supir taxsi tersebut.
Kini para bodyguardnya sedang kewalahan mencari Callista mereka mencari ke sana dan ke mari tetapi tidak menemukan batang hidungnya sedikitpun, dan Tuan Handoko langsung marah besar dengan mata yang memerah juga tatapannya begitu tajam.
Plak....
"Bagaimana kalian bisa lengah dan membuat putriku kabut begitu saja"bentaknya."Percuma saja aku membayar kalian dengan mahal, karena hal sepele saja kalian tidak bisa menanganinya"tarikkan nafas tidak beraturan.
"Maafkan kami Tuan, ini kesalahan kami"ucapnya menunduk sopan.
"Cepat cari dia sampai dapat, jika tidak kalian akan tahu akibatnya, mengerti kalian semua!" Ucapnya dengan tegas.
"Mengerti Tuan"jawabnya serentak.
Mereka semua pun bergegas mencari Callista yang kabur pasti mencari Devanius.
Mereka semua berpencar mencari sekelilingnya tak lupa juga mereka memeriksa bagian mobil taxsi yang ada di sekitarnya. Saat memeriksa Callista terpaksa keluar secara diam-diam agar tidak ketahuan setelah membayar taxsi tersebut.
Dengan mengendap-endap dia pun melangkahkan kakinya keluar dari dalam mobil taxsi dan mencari taxsi lain. Sedangkan para bodyguard sedang sibuk memeriksa taxsi lain, Callista pun bisa kabur dari kejaran para bodyguard Ayahnya lalu dengan cepat dia menghentikan taxsi yang melintas di sekitarnya sambil mengedarkan pandangannya dia taku jika bodyguard suruhan Ayahnya mengetahui.
Callista pun masuk ke dalam taxsi menuju Bandara.
__ADS_1
"Pak tolong antarkan saya ke bandara ya"ucapnya.
"Baik Nona"
Taxsi pun melaju menuju bandara, tak berapa lama taxsi yang di tumpangi Callista pun telah sampai di Bandara lalu dia pun segera membayarnya dan bergegas masuk ke dalam Bandara.
Malam hari setalah Yehezkiel tertidur di pangkuan Vikram dan dia pun merebahkannya di ranjang miliknya, lalu Vikram melangkahkan kakinya menuju kamarnya dia pun masuk ke dalam kamar dan mengedarkan pandangannya dia tidak melihat Eliana. Lalu melangkahkan kakinya menuju balkon dia melihat Eliana sedang menatap langit malam yang kebetulan malam ini cerah sekali, Banyak bintang di langit dan juga cahaya bulan.
"Sayang!"Ucap Vikram memeluk Eliana dari belakang.
Eliana terkejut dan dia pun tersenyum."Ada apa? Apakah Kiel sudah tidur?"
"Sudah sayang, kau sendiri kenapa di luar sudah malam begini?" Menaruh kepalanya di pundak Eliana, dan dia mencium aroma tubuh istrinya itu.
"Menatap bintang di langit"jawabnya.
"Apakah bintang lebih penting dari pada aku?"Ucapnya dia semakin candu dengan aroma tubuh Eliana, lalu dia pun mengecup leher jenjang milik Eliana dan mendandaninya jika Eliana adalah miliknya.
Membuat Eliana meringis merasakan sensasi geli tetapi dia membiarkannya saja, karena Eliana pun menikmatinya.
"Sayang, maafkan aku kare..."belum selesai mengatakannya, Eliana menoleh ke belakang menatap wajah Vikram.
"Sstt sudahlah kau tidak perlu meminta maaf"sahutnya dan meletakan jarinya di bibir Vikram.
Vikram tersenyum lalu dia pun mengecup kening Eliana dengan lembut lalu kecupan itu turun ke mata dan seluruh wajah Eliana dia kecup. Dan yang terakhir dia pun mengecup bibir milik Eliana dengan senang hati Eliana pun membalasnya.
Semakin lama semakin dalam lalu Eliana pun melingkarkan tangannya di leher milik Vikram mereka saling menyalurkan rasa rindu yang sudah lama di pendamnya. Tanpa melepaskan kecupan tersebut Vikram perlahan-lahan mendorong tubuh Eliana ke atas ranjang dan tangan Vikram mulai meremas nutri jelly milik Eliana semakin kencang meremasnya semakin Eliana mengeluarkan suara indahnya.
Setelah puas lalu Vikram melepaskan penghalang di tubuh Eliana dan kini Eliana pun sudah polos tanpa sehelai benang pun, lalu Vikram pun melepaskan penghalang miliknya dan terlihatlah belut licin yang sudah menegang lalu Vikram pun memulai aksinya dengan melahap Nutri jelly milik Eliana dan tangan satunya sibuk meremas Nutri jelly yang satu lagi, memutar-mutar pentilnya sehingga Eliana semakin mengeluarkan suara indahnya.
Setelah puas bermain kini Vikram pun mengarahkan belut licin ke hutan belantara dengan menghentak-hentak belut licin itu, Eliana sibuk dengan suara indahnya membuat Vikram tersenyum senang melihat Eliana menikmatinya.
Hentakan demi hentakkan di lakukan oleh Vikram keringat pun bercucuran tidak membuat keduanya goyah mereka masih bermain-main sampai keduanya benar-benar puas.
Bersambung
__ADS_1