Di Nikahi Tuan Muda

Di Nikahi Tuan Muda
Kekhawatiran Eliana


__ADS_3

Seperti biasa pagi ini Eliana sudah bangun pagi dan dia tidak mempermasalah hal semalam.


Vikram pun sudah berangkat ke kantornya, lalu Eliana merengek dia ingin ke supermarket dan Vikram pun mengizinkannya asal di temani oleh BI Helen. Tentu saja Eliana menurutinya dan pada akhirnya mereka pun pergi ke supermaket.


"Bibi saja Nyonya yang mendorong trolinya, Nyonya pilih saja barang yang akan di beli"ucap Bi Helen yang langsung mengambil alih.


"Baiklah bibi, kau cari sebelah sana ya aku sebelah sini"ucap Eliana, lalu dia pun pergi ke arah yang berlawanan.


Bi Helen pun menurutinya, kini Eliana memilih bahan makanan karena persediannya hampir habis. Saat mengambil salah satu sayuran tidak sengaja Eliana menabrak seseorang dan belanjaan mereka berdua pun terjatuh.


"Maaf, maafkan saya"ucap Eliana, lalu mengambil barang yang telah dia pilih.


"Tidak apa-apa Nona"ucapnya.


Eliana pun mendongakkan kepalanya dan matanya membulat sempurna.


"Kau..."


"Heh! Ternyata kau lagi kenapa dunia ini begitu sempit ya"ucapnya lalu melipat tangan di dada.


Eliana menghembuskan nafasnya dan tersenyum kecil, Eliana tidak tahu siapa orang yang ada di hadapannya ini dan ada hubungan apa dengan Vikram. Karena Vikram belum mengatakan apapun kepada Eliana.


"Nona, mungkin itu suatu keberuntungan bagi kita bisa bertemu lagi"jawab Eliana santai.


"Hei, kau jangan senang dulu, belum tentu itu keberuntungan bagimu. Karena apa yang pernah menjadi milikku akan aku rebut kembali"ucapnya sinis.


"Maksud Nona apa? Aku tidak mengerti?" Eliana mengerutkan keningnya.


"Kau jangan berpura-pura tidak tahu dan bersikap polos"


"Bagaimana aku tahu, dengan apa yang kau maksud Nona, dan aku juga tidak mengenalmu. Tetapi aku memang sangat penasaran dengan dirimu, sebenarnya ada hubungan apa kau dan suamiku?"


Dia hanya tersenyum lalu menggelengkan kepalanya."Apa suamimu itu tidak mengatakan apapun hem, naif sekali!"


"Jangan berbelit-belit katakan saja, ada hubungan apa!" Kesal Eliana.


"Baiklah, kalau kau memaksa aku akan memberitahumu, aku adalah......"


Sementara Vikram di kantornya pun tidak fokus bekerja, jangankan untuk bekerja kedatangan Lukas saja dia tidak menyadarinya. Sudah berapa kali Lukas memanggil nama Vikram, sampai pada akhirnya Lukas pun menepuk bahu Vikram.


"Tuan, apakah ada masalah? Kau tidak terlihat fokus bekerja hari ini"ucap Lukas yang memperhatikan Vikram.

__ADS_1


"Iya Lukas, kau benar hari aku tidak fokus bekerja"bangun dari duduknya."Apa kau tahu Lukas? Dia telah kembali, di saat aku sudah mulai melupakannya"Vikram duduk di sofa dan menghembuskan nafas kasarnya.


"Jadi karena itu, kau seperti ini!"Sahut Lukas, dia tidak percaya dengan ucapan Vikram.


"Aku hanya takut akan membuat masalah bagi El, walaupun aku hanya menganggap dia sebagai adik saja" kini Vikram menyandarkan tubuhnya ke sofa.


"Semoga saja dia tidak membuat masalah Tuan"


"Hem.."


Pikiran Vikram pun semakin tidak tenang dengan kedatangannya yang begitu tiba-tiba, bahkan Vikram belum mengatakan apapun kepada Eliana karena dia takut jika suasana hatinya akan terganggu. Jadi untuk sementara dia masih menyimpannya.


Kini Eliana telah kembali dari supermarket selama perjalanan dia diam saja kata-kata darinya membuatnya berfikir terlalu jauh. Dan dia pun mulai ragu dengan Vikram saat ini.


FLASHBACK ON


"Baiklah, kalau kau memaksa aku akan memberitahumu, aku adalah Patricia cinta masa kecil Vikram"mengulurkan tangannya.


Deg....


Hati Eliana terasa di hantam batu besar dia tidak menyangka jika seseorang yang ada di hadapannya saat ini adalah cinta masa kecil Vikram, terasa sesak bagi Eliana tetapi dia mencoba untuk tenang dan menerima uluran tangan dari Patricia dengan senyum kecutnya.


"Aku Eliana, istri Vikram"jawabnya tersenyum."Senang bisa berkenalan denganmu Nona"melepaskan tangannya.


"Maksud Nona, ingin merebut Vikram kembali? Heh, kau terlalu percaya diri Nona!" Ucap Eliana merendahkan, tetapi di hatinya terasa sakit.


"Tentu saja, karena bagaimanapun aku sudah pernah ada di kehidupannya, sedangkan kau..."cibirnya."Aku hanya memberi saran padamu Nona, Vikram itu hanya menjadikanmu sebagai pelarian saja, karena saat itu aku sedang kuliah di luar negri. Jangan mimpi terlalu tinggi Nona"ucap Patricia dengan angkuhnya.


Eliana menarik nafasnya dalam-dalam, sebenarnya mata sudah berkaca-kaca tetapi sebisa mungkin dia menahannya,


"Bukankah kata-kata itu lebih pantas untukmu Nona Patricia"


"Kita lihat saja, siapa yang akan mendapatkannya kembali" tersenyum miring dan pergi meninggalkan Eliana.


FLASHBACK OFF


Bi Helen yang melihat Eliana tidak fokus pun menepuk pundaknya pelan.


"Nyonya, apa kau tidak enak badan?"Tanya bi Helen sopan.


"Eh bibi, aku baik-baik saja tidak ada masalah kok bi"jawab Eliana tersenyum manis."Bi tolong bereskan sisanya ya, aku lelah ingin istirahat Bi" ucap Eliana, dia merasa lelah.

__ADS_1


"Iya Nyonya, istirahat saja biarkan bibir yang membereskannya"


Eliana pun pergi meninggalkan Bi Helen menuju kamarnya sampai di depan pintu kamar Eliana membuka pintu dan menuju balkon, Eliana duduk menatap burung yang berterbangan serta semilir angin berhembus yang menerpa rambutnya.


kata-kata itu selalu saj terngiang-ngiang di telinga dan membuatnya menutup kedua telinga lalu dia menggelengkan kepalanya.


"Tidak ......."teriak Eliana.


Seseorang memegang kedua bahu Eliana.


"Sayang kau kenapa? Ada masalah apa sampai kau berteriak seperti itu"ucapnya dengan raut wajah khawatir.


Eliana membuka matanya lalu menatap intens dan memeluknya begitu erat, lalu bulir bening jatuh begitu saja.


"Hiks hiks Vikram... jangan tinggalkan aku hiks"ucap Eliana dengan Isak tangisnya yang tidak bisa di tahan lagi.


"Sayang, aku tidak akan meninggalkanmu. Sudahlah jangan menangis lagi"mengusap lembut rambut Eliana.


"Aku takut kau akan meninggalkanku hiks!" Ucapnya tanpa ingin melepaskan sedikitpun.


Sebenarnya apa yang terjadi pada El, aku harus bertanya kepada ni Helen.batin Vikram.


Perlahan-lahan Vikram melepaskan pelukkannya lalu menatap wajah Eliana yang sudah sembab seperti tidak sekali saja dia menangis.


"Sayang sebenarnya apa yang terjadi, katakan padaku"Vikram menatap lembut Eliana.


"Aku takut kehilanganmu Vik, aku takut jika anak ini tidak memiliki ayah nantinya"mengusap lembut perutnya.


"Aku tidak akan meninggalkanmu sayang"tersenyum manis."Dan kau juga"mengusap perut Eliana.


"Benarkah? Kau tidak berbohong 'kan?"


"Iya sayang"


Vikram pun mengecup kening Eliana dengan lembut, lalu dia pun mengajak Eliana masuk ke dalam karena hari sudah semakin sore.


"Ayo sayang masuk, tidak baik untukmu dan dia"ucapnya.


"Baiklah"


Eliana pun patuh mengikuti langkah kaki Vikram masuk ke dalam dan Eliana pun duduk di sofa sementara Vikram membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2