
Enam tahun kemudian kini Eliana sudah bisa melupakan Vikram sedikit demi sedikit, tetapi walaupun dia bisa melupakan sosok Vikram namun di hatinya masih terukir nama Vikram.
Pagi ini Eliana sudah rapi dengan pakaiannya karena semenjak Vikram meninggal, yang mengurus perusahaan VV grup adalah Eliana dan di bantu juga oleh sang kakak.
Sedangkan Nyonya Mely mengurus si kecil yang tampan dan juga imut, wajahnya pun mirip seperti Vikram, bertahun-tahun Eliana mencoba untuk bisa ikhlas melepaskan bayangan Vikram tetapi dia tetap tidak bisa.
"Mami, kau jangan pulang terlambat ya, aku dan Nenek menunggumu"ucapnya dengan senyum kecil di wajah tampannya.
"Iya sayang, Mami akan tepat waktu"Eliana mencubit pipi gembul anaknya.
Yehezkiel Valdes Viktor seorang anak kecil yang tampan tersenyum ke arah Eliana, lalu Nyonya Mely pun menghampirinya.
"Iya sudah El, kau pergi bekerjalah, biarkan Kiel bersama ibu"ucapnya pada Eliana.
"Iya Bu, aku titip Kiel ya, sayang jangan nakal ya, ingat di sekolah kau jangan jahil kepada teman-temanmu ya"ucap Eliana lalu mengecup pipinya.
"Baik Mami, Kiel akan jadi anak baik"
"Baguslah, Bu aku pergi bekerja dulu"
"Iya hati-hati nak"
Setelah kepergian Eliana kini Nyonya Mely pun mengajak Yehezkieluntuk berangkat ke sekolah.
"Kiel ayo nak, kita harus pergi ke sekolah"ucap Nyonya Mely.
"Iya nenek ayo"
Mereka pun berangkat menuju ke sekolah setelah masuk ke dalam mobil, Tak berapa lama mobil pun telah sampai di sekolah lalu Yehezkiel pun mencium punggung tangan Nyonya Mely.
"Nenek, Kiel sekolah dulu ya dadah nenek"ucap Yehezkiel polos.
"Iya nak, nanti nenek akan menjemputmu"ucap Nyonya Mely.
Yehezkiel tidak pernah mau di antar sampai masuk ke dalam sekolah, dia lebih suka sampai di depan sekolah.Mobil Nyonya Mely pun melaju kembali untuk pulang ke rumah.
Sementara Eliana sibuk dengan perusahaan milik suaminya dia sedang mengerjakan beberapa berkas yang harus dia tanda tangani.
Lalu pintu ruangan terbuka dan masuklah seorang pria tampan dengan gayanya sendiri,Menghampiri Eliana.
"Adikku ini ternyata sangat rajin ya"pujinya lalu duduk di sofa dan melipat kakinya.
Eliana menoleh hanya tersenyum kecil, setelah selesai Eliana bangun dari duduknya dan menghampiri seseorang yang dia kenal.
"Hmm... ada apa dengan kakak tampanku ini, tidak biasanya kau mengunjugi perusahaanku"ucap Eliana lalu duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Huff adikku memang pintar!"Mengacak-acak rambut Eliana.
"Kak hentikan, aku bukan anak kecil lagi"kesal Eliana.
"Hahaha iya benar kau bukan anak kecil lagi, tapi sudah pandai membuat anak kecil"Tuan Daniel pun tertawa puas meledek adiknya.
Eliana memutar bola matanya malas dengan candaan dari sang kakak, lalu Tuan Daniel pun merubah mode wajahnya kali ini dia serius.
"El, apa kau belum bisa membuka hatimu?"Tanya Tuan Daniel serius.
Eliana menatap ke arah Tuan Daniel.
"Kak sudahlah, aku tidak ingin membahas ini lagi."menarik nafasnya."Aku tidak ingin terulang kembali"ucap Eliana dengan wajah sendunya.
"Kakak hanya bertanya saja El, iya sudah kakak akan kembali ke kantor lagi"bangun dari duduknya."Jaga dirimu baik-baik, jika ada masalah hubungi kakak" melangkah keluar.
"Baik kak"
Tuan Daniel pun melangkah keluar untuk kembali ke perusahaan sementara Eliana menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya bangun dari duduknya menuju meja kerja lalu dia menarik laci dan mengambil bingkai dan menatap foto tersebut.
"Vikram, sampai kapan aku harus menunggumu, aku benar-benar merindukanmu, jika kau masih hidup cepatlah pulang sayang" Eliana meneteskan matanya dan memeluk bingkai foto tersebut tak lupa dia mengecupnya.
Berbeda tempat kini di sebuah ruangan yang bernuansa putih ada seseorang yang sedang terbaring koma, sudah enam tahun dia masih belum sadar dokter pun tiada hentinya memeriksa keadaan pasien saat ini.
"Bagaimana keadaannya dok, sudah enam tahun dia belum sadar juga"ucapnya yang begitu khawatir.
"Iya dokter, terima kasih sudah mau merawatnya"ucapnya ramah.
"Sama-sama Nona, kalau begitu saya permisi dulu"
"Baik dok"
Dokter pun pergi meninggalkannya, lalu dia pun menghampirinya, dia begitu terpesona dengan wajah tampannya.
"Sayang sekali aku tidak tahu namamu, kau begit tampan"gumamnya.
Lalu dia pun duduk di sofa sambil menunggunya sadar, tidak terasa matanya pun terpejam karena sangat mengantuk. Di brankar tangannya pun mulai bergerak walaupun belum bisa semua di gerakkan.
Perlahan-lahan dia membuka matanya lalu mengedarkan pandangannya dan melihat sosok yang tidak di kenalnya.
Dimana aku ini? Dan siapa dia? batinnya.
Lalu dia pun menatap langit-langit kamar yang bernuansa putih itu serta tercium bau obat-obatan yang menusuk ke hidungnya. Seseorang pun terbangun dari tidur saat dia akan terjatuh ke sofa karena dia tidur sambil duduk, lalu menatap ke arah brankar diapun terkejut lalu bangun dari duduknya.
"Kau sudah sadar, sebentar aku panggilkan dokter dulu"melangkah keluar untuk menemui dokter.
__ADS_1
Dia hanya diam saja tanpa mengatakan apapun, tak lama dokter pun datang dan segera memeriksa keadaannya. Lalu dokter tersebut bertanya kepadanya.
"Siapa namamu?"Tanya dokter tersebut.
Dia tidak langsung menjawab karena dia tidak ingat apapun, dokter masih menunggunya.
"Aku.....aku..aku tidak tahu siapa namaku"ucapnya yang mencoba meningkatnya.
Dokter menarik nafasnya lalu dia menatap ke arah Nona itu dengan tatapan sulit di artikan.
"Nona, seperti saya harus melakukan pemeriksaan kembali, dia tidak mengingat apapun"ucap dokter tersebut.
"Baik dok,lakukan saja yang terbaik"ucapnya tersenyum manis.
"Baik Nona saya permisi dulu"ucapnya
"Baik"
Setelah kepergian dokter tersebut, lalu dia pun menatap seseorang yang kini entah siapa namanya, dia pun tidak tahu jangankan nama jalan pulang saja mungkin dia akan tersesat.
"Kamu......siapa?"Tanya dengan wajah datarnya.
"Oh, namaku Callista Wijaya" mengulurkan tangannya.
Dia pun bingung harus menerima atau mengabaikannya, sebab dia belum tahu siapa dirinya saat ini.
"Kau tidak ingat namamu 'kan! Bagaimana jika aku yang memberimu nama yang cocok untuk?"Ucapnya dengan senyum manisnya.
"Boleh,"
Sejenak dia pun berfikir nama apa yang cocok untuknya, sepersekian detik kemudian akhirnya dia menemukan nama yang cocok.
"Bagaimana jika namamu adalah Devanius? Apa kau suka?"Tanya lagi.
"Iya, aku menyukainya terima kasih"ucapnya datar.
"Tidak perlu sungkan ya",sahutnya lagi.
Dia pun menganggukkan kepalanya tak butuh waktu lama para suster pun datang untuk membawa Devanius ke ruang pemeriksaan.
"Maaf Nona, pasien akan di bawa ke ruang pemeriksaan" ucap salah satu suster tersebut.
"Baiklah dokter"
Suster pun mendorong brankar Devanius menuju ruang pemeriksaan di ikuti oleh Callista.
__ADS_1
Bersambung