Di Nikahi Tuan Muda

Di Nikahi Tuan Muda
Season 3


__ADS_3

Satu jam berkutat di kamar mandi akhirnya Evelyn pun menyerah dia keluar dari dalam kamar mandi dan masih memakai gaun pengantin, Yehezkiel menatap Evelyn dari atas sampai bawah dia mengerutkan keningnya.


“Kenapa kau belum berganti pakaian?” Tanya Yehezkiel datar.


“A-aku... Aku ti-tidak bisa menggapai resleting ga- gaun ini, ap-apa kau bisa mem- membantuku.” Ucap Evelyn dengan gugupnya, sambil menundukkan wajahnya.


Yehezkiel bangun dari duduknya dan menghampiri Evelyn, tentu saja membuat jantung Evelyn berdetak kencang. Kini Yehezkiel sudah ada di hadapannya, tangan Evelyn saling meremas karena dia takut dan juga gugup.


“Ayo aku bantu kau.” Ujar Yehezkiel.


Evelyn pun mengangkat kepalanya.”Ap- apa, kau..kau akan membantuku?”


“Ck ck jika bukan aku siapa lagi? Kau pikir di rumah ini ada orang lain selain aku?” Berdecak kesal.


Evelyn pun bingung haruskah Yehezkiel yang membantunya? Tetapi dia adalah suaminya sendiri. Yehezkiel menatap Evelyn yang masih diam saja tidak bergerak sedikitpun, dengan cepat Yehezkiel membalikkan badan Evelyn sontak saja membuat Evelyn terkejut tetapi dia diam saja.


Perlahan jari-jari kekar itu mulai menyentuh resleting gaun pengantin dan membukanya perlahan-lahan, Yehezkiel menelan salivanya kala dia mulai menarik gaun tersebut dan ada sesuatu yang membuatnya terasa sesak. Bagaimanapun Yehezkiel ada pria normal yang tidak bisa melihat keindahan di depan mata.


Evelyn masih setia menunggunya tetapi, sedangkan Yehezkiel tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika dia begitu tertarik dengan pemandangan yang saat ini dia lihat. Tangannya terulur untuk menyentuh benda halus dan lembut, dan membuat Evelyn terkejut dengan cepat dia membalikkan badannya.


“Kau.. apa yang kau lakukan!” Ucap Evelyn dengan menyimpangkan tangan di dadanya.


“Tidak ada, cepatlah berganti pakaian.” Jawab Yehezkiel lalu dia pun melangkahkan kakinya menaiki ranjang.


Dengan cepat Evelyn pun segera masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Yehezkiel mulai gelisah karena ada yang mengganjal dan tidak bisa diam, dia berusaha untuk tenang dan memainkan ponselnya tetapi tetap saja pikiran fokus pada Evelyn.


Evelyn keluar dari dal kamar mandi dengan memakai piyamanya, dia tidak langsung naik ke ranjangnya melainkan mematung di tempat. Evelyn bingung dia harus tidur dimana malam lalu pandangan matanya tertuju pada sofa panjang yang berada di kamar tersebut.


Melangkahkan kakinya menuju sofa, tetapi di cegah oleh Yehezkiel dan membuat Evelyn menghentikan langkah kakinya.


“Mau kemana kau.” Ujarnya datar, karena sedari tadi dia menahannya.


“Tidur di sofa.” Jawabnya menujunk pada sofa.


“Aku suamimu kenapa kau harus tidur di sofa? Apa kau takut jika aku akan memakanmu!” Sahutnya dengan nada ketus.


“Bu-bukan begitu tap...” Ucapnya langsung di potong oleh Yehezkiel.


“Tidur di ranjang atau aku akan memakanmu sekarang juga.” Ucapnya menatap tajam ke arah Evelyn.

__ADS_1


Akhirnya Evelyn pun menurutinya lalu dia menaiki ranjang dan membelakangi Yehezkiel, kemudian Yehezkiel pun ikut tidur di sebelah Evelyn dan tangan kekarnya langsung memeluk erat Evelyn. Karena sedari tadi, Yehezkiel mencoba menahannya dia tidak ingin memaksa Evelyn untuk melakukannya sekarang dan dia akan mencoba bersabar.


Evelyn terkejut tetapi dia tidak bisa mengatakan apapun, lalu Evelyn mencoba memejamkan matanya karena hari ini begitu lelah.


Pagi hari mentari telah bersinar dan kedua insan masih terlelap di atas ranjang, lalu seorang gadis mulai mengerjapkan matanya karena ada sesuatu yang menindih perutnya.


Evelyn pun merabanya sebuah tangan kekar melingkar di perut ratanya.


“Kenapa berat sekali.” Ucapnya yang masih setengah sadar.


Lalu tangannya bergerak menuju roti kekar dia memegangnya lalu mengusap lembut. Lalu dia pun merasa ada yang salah, Evelyn membuka matanya dan menoleh lalu dia membulatkan matanya karena terkejut dengan apa yang dia pegang.


Coklat dengan mata panda yang saat ini dia pegang dan menelan salivanya.


“Apakah ini, coklat mata panda yang kekar itu. Apakah aku tidak salah lihat.” Evelyn pun memegang keduanya.


Tangan kekar itupun mencegkram tangan Evelyn yang sedang memegang coklat mata panda itu.


Greb....


“Nona hati-hati dengan batasanmu, jika itu sampai terjadi aku bisa saja memakanmu hari ini juga.” Ucapnya dengan suara serak bangun tidur.


“Eve kenapa kau masih saja ceroboh.” Menepuk kedua pipinya.


Sedangkan Yehezkiel membuka matanya dan tersenyum kecil, memang semalam dia memakai baju piyama karena suasana yang membuatnya panas jadi dia memutuskan untuk melepaskan baju piyamanya dan hanya memakai singlet saja.


“Dasar kucing kecil, masih saja berani menggoda.” Gumamnya, lalu kembali memakai piyamanya.


Selesai mandi kini Evelyn keluar dari kamar dan melihat sekelilingnya suasana di rumah memang sepi tidak ada satupun yang ada di rumah tersebut, kecuali mereka berdua.


Karena orang tua Yehezkiel bersama adiknya pindah ke rumah yang satu lagi dan tidak ingin mengganggu malam mereka, Evelyn membuka kulkas dan di sana sudah ada bahana untuk di masak lalu Evelyn mengambil beberapa bahan untuk di masak olehnya.


Selesai memasak Evelyn pun menata di meja dan tak lama Yehezkiel menuruni anak tangga menuju meja makan.


“Tuan, makanan sudah siap.” Ucap Evelyn sambil menundukkan kepalanya, karena malu dengan masalah tadi.


“Aku ini suamimu bukan Tuanmu, ayo cepat sarapan, kita akan ke rumah Mami.” Ujar Yehezkiel lalu duduk di kursi.


Evelyn pun duduk di kursi lalu dia mengambil nasi dan lauk untuk Yehezkiel, setelah selesai barulah dia mulai menyendok makanannya.

__ADS_1


Selesai dengan sarapannya kini mereka sudah di dalam mobil dan akan menuju rumah kedua orang tua Yehzkiel. Mobil telah sampai di depan rumah dan tak kalah bagusnya dari rumah yang pertama, Evelyn di buat takjub melihatnya dan juga ada air mancur di tengah-tengah taman juga banyak pohon yang tumbuh dengan subur.


Evelyn mengikuti langkah kaki Yehezkiel masuk ke dalam dan di sana ada Jeslyn yang berlari ke arah mereka berdua.


“Kakak.....” panggil Jeslyn.


Evelyn pun menoleh dan tersenyum manis lalu merentangkan kedua tangannya dan Jeslyn menyambutnya.


Yehezkiel hanya acuh lalu dia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan mencari sang ibu. Mereka semua sedang di ruang keluarga lalu Yehezkiel menghampirinya.


“Mami...” Ucap Yehezkiel lalu duduk di samping sang ibu.


“Hey ada apa denganmu, bagaimana dengan semalam apa kau berhasil!” Tanya Nyonya Eliana yang antusias.


Tuan Vikram hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang istri yang begitu sibuk dengan putranya. Yehezkiel mendengus kesal mendengar pertanyaan konyol dari sang ibu.


“Sudahlah Mami jangan bahas itu, baru saja datang sudah membahas hal itu.” Memutar bola matanya malas.


“Mami, sudahlah mereka yang menikah kenapa Mami jadi sibuk sendiri.” Tutur Kezia ikut menimpali.


“Nah benar apa kata Zia tuh.” Shsut Yehezkiel dengan cepat.


“Kau ini Zia, Mami hanya ingin memastikan jika kita....” Ucapnnya terpotong karena kedatangan Evelyn.


“Memastikan apa Mami?” Tanya Evelyn yang kini sudah duduk bersama Jeslyn.


“Akh.. tidak ada Mami hanya bertanya saja kepada Kiel jika kau merasa nyaman di rumah utama dan Mami bersama Papi akan tinggal di manisoin ini bersama Kezia juga adikmu.” Ucapnya tersenyum canggung.


“Oh begitu ya, tetapi rumah utama terlalu besar Mami dan yang tinggal hanya aku dan Kiel saja.” Jawab Evelyn.


“Tenang saja kak, aku pasti akan main ke rumah utama.” Timpal Kezia.


“Aku juga kak Zia.” Sahut Jeslyn yang tak mau kalah.


“Iya adikku sayang.”Tersenyum manis.


Evelyn bahagia melihat kedekatan Kezia dengan Jeslyn jadi dia tidak perlu khawatir lagi dengan keadaan Jeslyn saat ini dan juga keluarga Yehezkiel sangat menyayangi Jeslyn seperti anaknya sendiri.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2