Di Nikahi Tuan Muda

Di Nikahi Tuan Muda
Season 2


__ADS_3

Hari ini adalah metting bersama dengan VV grup Callista telah siap dengan segala berkasnya begitu juga dengan Devanius yang sudah memasukkan beberapa berkas ke dalam koper karena mereka akan menginap di hotel di kota A.


"Devan apa kau sudah siap?"Tanya Callista.


"Iya Nona, ayo kita berangkat"ucap Devanius sopan.


Callista pun menganggukkan kepalanya dan melangkah lebih dulu, lalu seperti biasa Devanius membuka pintu mobil untuk Callista.


Mobil pun melaju menuju bandara agar samapi di kota A, tak lama mereka pun sampai di bandara dan masuk ke dalam pesawat setelah mereka di periksa.


Cukup lama perjalanannya hingga akhirnya mereka pun sampai di hotel, dan setelah memesan kamar yang terpisah.


Devanuis pun masuk ke dalam kamarnya karena dia sangat lelah dan besok pagi harus menemani Callista untuk metting.


"Lebih baik aku istirahat dulu, tetapi badanku rasanya lengket sekali"Devanuis pun bangun dari duduknya."Lebih baik aku mandi dulu"berjalan ke arah kamar mandi.


Berbeda kamar Callista pun selesai dengan ritual mandinya, lalu dia pun memakai pakaiannya dan tersenyum sendiri di depan cermin.


"Devan sedang apa ya? Apakah aku ke kamarnya saja, tetapi..."dia berfikir sejenak."Sudahlah hanya sebentar saja"berjalan ke arah pintu dan membukanya.


Callista sudah ada di depan pintu kamar Devanius lalu dia mengetuk pintu tetapi tidak ada jawaban dari dalam sana.


"Apakah dia sedang tidur?"Gumamnya.


Lalu memegang gagang pintu yang tidak terkunci dan dia pun menyembulkan kepalanya mengedarkan pandangan mencari Devanius mungkin saja di tertidur.


Tidak ada yang dia cari lalu diapun memutuskan untuk masuk kedalam, setelah menutup pintu.


"Devan....Devanius!"Panggilnya.


Lalu terdengar suar gemercik air di dalam kamar mandi yang menandakan bahwa Devanius pasti sedang mandi.


Lalu Callista pun duduk di sofa sambil menunggu Devanius selesai dengan mandinya. Tak lama Devanius telah selesai dengan mandinya lalu dia keluar hanya memakai handuk sebatas pinggang kebawah serta rambutnya yang sedikit basah membuat aura ketampanannya pun terlihat.


Ada sepasang mata yang tidak berhenti menatapnya melihat roti sobek yang begitu jelas, bersusah payah dia menelan salivanya. Sadar ada menatapnya Devanius menoleh ke arah sofa dan dia begitu terkejut.


"Nona Callista? Sejak kapan anda ada di sini?"Tanya Devanius.


"Eh, ba-baru saja Devan"tersenyum kikuk."I-iya baru saja"menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Baiklah, aku berpakaian dulu"ucapnya lalu menuju ke koper yang sudah dia bawa dan mengambil pakaiannya.


Lalu pergi lagi ke kamar mandi untuk memakai pakaiannya, setelah selesai devanuis pun keluar dan menghampiri Callista.

__ADS_1


"Jadi ada hal apa Nona kemari? Apakah ada masalah dengan pekerjaannya?" Tanaya Devanuis.


Callista tidak menjawab dia begitu tersihir oleh ketampanan Devanius sehingga matanya tidak berkedip menatapnya.


"Nona.... Nona ada apa denganmu?" Mengibaskan tangan di depan wajah Callista.


"Hah! Ah i-iya ada apa Devan?"Ucapnya gugup.


"Apakah ada pekerjaan yang belum selesai?"Tanyanya sekali lagi.


"Ah iya benar,"ucapnya


"Lalu mana berkasnya, katanya ada pekerjaan yang belum selesai"Devanius menatap ke arah tangan Callista yang kosong dan tidak ada berkas apapun.


"Astaga... aku lupa sebentar ya"bangun dari duduknya.


Dasar bodoh, bisa-bisanya aku sampai lupa dasar mata ini baru saja melihat roti sobek sudah melupakan semuanya.umpatnya dalam hati.


Selama perjalanan menuju kamar Callista tiada hentinya merutuki kebodohannya karena dia begitu terpesona dengan ketampanan Devanius.


Sesampainya di kamar Callista pun mengambil berkas yang akan dia bahas dengan Devanius. Keluar dari kamar dan menuju kamar Devanius yang telah menunggunya.


"Ini berkas untuk besok, menurutmu apa ada yang kurang? Jika ada yang kurang beritahu aku"ucap Callista yang duduk di sebelah Devanius.


Sehingga Devanius pun menoleh ke arah Callista.


"Nona, apa kau mengerti apa yang aku jelaskan?"Tanya Devanius,


"Eh, i-iya aku mengerti Devan, kau tenang saja"ucap Callista gugup.


"Apa kau benar-benar mengerti?"Tangannya lagi.


"Iya aku mengerti Devan, iya sudah ayo kita makam malam apa kau mau?"Tanya callista yang bangun dari duduknya, dan melangkah lebih dulu.


"Nona kau melupakan berkasnya"mengangkat berkasnya.


Callista pun menoleh dan dia tersenyum canggung lalu callista kembali lagi saat melangkah entah kenapa tubuhnya tidak seimbang dan dia akan terjatuh, tetapi tangan kekar menangkapnya lebih dulu kini tidak ada jarak di antar mereka tatapan keduanya saling bertemu.


Cukup lama mereka saling pandang dan tatapan itu berakhir dengan suara perut Callista yang sudah lapar sedari tadi. Dan membuat keduanya pun tersadar.


Kruuk....


Wajah Callista memerah menahan malu lalu dengan cepat dia pun segera bangun karena Callista berada di atasnya.

__ADS_1


"Ah, maafkan aku Devan"bangun dan merapihkan pakaiannya.


"Ehm... tidak masalah Nona, ayo kita pergi makan dan ini berkasmu"memberikannya.


"I-iya terima kasih Devan"ucapnya dengan cepat, lalu melangkah keluar lebih dulu.


Dan Devanius mengikutinya dari belakang.


Kini Eliana sedang memandang langit malam yang di hiasi oleh Bintang dan juga bulan. Duduk di balkon sendirian pikirannya pun menerawang jauh teringat akan kenangannya dengan Vikram pun berputar lagi di otaknya.


Entah sampai kapan Eliana akan seperti itu karena dia belum bisa membuka hatinya untuk yang lain. Tersenyum kecil lalu air matanya lolos begitu saja, Eliana pun mengusap air matanya. Lalu Nyonya Mely pun menghampirinya.


"El, kenapa kau belum tidur nak?"Ucap Nyonya Mely menghampiri Eliana.


"Eh ibu, belum Bu"mengusap kasar air matanya.


Nyonya Mely pun duduk di samping Eliana.


"Kau menangis lagi?"Tanya Nyonya Mely, yang melihat mata Eliana sembab.


"Tida Bu, aku sedang menatap bintang di langit bagus sekali cahayanya".


Nyonya Mely pun menoleh dan menatap langit malam juga bersama Eliana.


"Bu, besok ibu bisa 'kan membantuku untuk mendaftarkan Kiel ke sekolah baru?"Tanya Eliana seirus.


"Bisa nak, kau tenang saja jangan khawatir"


Terima kasih bu, ayo Bu masuk hari sudah semakin malam" ajak Eliana.


"Baiklah"


Mereka berdua pun masuk ke dalam dan menuju kamar masing-masing.


Pagi hari suara burung saling bersahutan begitu juga dengan Yehezkiel yang sudah bangun pagi dan telah rapi dengan memakai seragam sekolahnya karena hari ini Yehezkiel akan bersekolah di tempat baru jadi dia pun bersemangat dan langsung membangunkan Eliana.


"Mami, ayo bangun"ucap Yehezkiel yang menarik selimut Eliana.


"Hmmm, ada apa Kiel"ucap Eliana dengan suara seraknya.


"Bangunlah nanti kau telat ke kantor"ucapnya."Bukankah kau bilang ada metting di kantor dengan negara kota C?"Tanya Yehezkiel.


Eliana langsung membuka matanya dan bergegas bangun lalu pergi ke kamar mandi sedangkan Yehezkiel bercedak kesal sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ck Ck Mamiku ini selalu seperti itu, untung saja ada nenek"membereskan selimut.


__ADS_2