
Pagi ini Eliana sudah sampai di kantornya lalu dia melangkahkan kakinya menuju pantry dan di sana sudah ada Vitto dia adalah adik dari Vikram. Eliana pun mengambil gelas lalu dia membuat teh lalu Vitto pun menyapanya.
"Eli, sedang apa?"tanya Vitto basa basi.
"Aku akan membuat teh, apa kau mau?"
"Baiklah, jika tidak merepotkanmu,"
Eliana pun tersenyum manis lalu dia mengambil satu gelas lagi untuk Vitto, setelah selsai Eliana pun memberikan satu gelas teh manis hangat kepada Vitto. Sebelum sampai di tangan Vitto sudah ada tangan seseorang yang merebutnya.
"Teh ini kelihatannya enak sekali,"meneguk teh tersebut.
Sementara Vitto dan Eliana terkejut dengan seseorang yang ada di hadapannya. Setelah habis lalu dia memberikannya kepada Eliana.
"Tehnya sudah habis, kembali bekerja" tatapan dinginnya.
Vitto pun melangkahkan kakinya meninggalkan Eliana."Baiklah kak,"
Eliana hanya menahan senyum melihat tingkah Vitto yang begitu takut pada Vikram, lalu Vikram menatap Eliana dengan tajam.
"Kenapa kau tersenyum kepada pria lain heum,"menyentil kening Eliana.
"Aduh sakit vik!" keluh Eliana.
"Jangan pernah mendekati pria lain selain aku, kembali bekerja"
Eliana mengerucutkan bibirnya lalu dia pun melangkah keluar dan meninggalkan Vikram di pantry. Kembali ke ruangannya dengan wajah yang di tekuk membuat Fika bertanya-tanya.
"Lu kenapa El?"tanya Fika penasaran.
"Gue kesel sama Vi..." Eliana pun menghentikan ucapannya, seakan suaranya tertahan di tenggorokan." Akh tidak ada, lanjut kerja"
Fika memutar bola matanya malas lalu kembali ke meja kerjanya.
...******...
Di perusahaan kini Edward sedang sibuk karena saham perusahaannya menurun dratsis lalu asisten Bara pun masuk ke dalam ruangan Edward.
"Tuan, saham perusahaan semakin anjlok" ucap Bara.
"Ada masalah apa sebenarnya ini kenapa bisa anjlok seperti itu" mendengus kesal."Cepat cari investor yang mau menanam saham di perusahaan kita"
"Baik Tuan"
Bara pun keluar dari ruangan Edward setelah beberapa menit kemudian Imel pun masuk ke dalam ruangan Edward dan menghampirinya.
__ADS_1
"Sayang, uang yang kemarin kurang, sekarang aku minta uang lagi," ucap Imel.
Edward pun memijat pelipisnya yang terasa pusing karena memikirkan saham di tambah lagi Imel yang datang langsung meminta uang.
"Mel, bisakah kau berhenti meminta uang, uang dan uang, selalu saja uang yang kau pikirkan hah," bentak Edward kesal.
"Ed, kenapa kau membentakku, aku ini istrimu!" Tak kalah dari Edward.
"Jika kau istriku, berhentilah meminta uang. Saham perusahaan sedang anjlok kau jangan menambah masalah lagi untukku" Edward mengacak-acak rambutnya.
"Apa..anjlok, Ed kau harus lakukan sesuatu"
"Diam"
Imel pun terkejut dengan teriakkan Edward lalu dia pun menghentakkan kakinya keluar dari ruangan Edward.
"Ini semua gara-gara gadis itu, aku harus membuat perhitungan dengannya,"
Melangkahkan kakinya keluar dari perusahaan menuju ke perusahaan Eliana tempat dia bekerja.
Sepersekian detik kemudian mobil Imel pun telah sampai di depan perusahaan Eliana.
Kemudian dia keluar dari mobil dan masuk ke dalam cafe sambil menunggu kedatangan Eliana, jenuh? Itulah yang di rasakan Imel karena sudah satu jam dia menunggu Eliana.
Memesan makanan lalu tak berapa lama Imel pun menghampiri Eliana yang sedang bersama Fika.
"Hai Eli, ternyata kehidupanmu semakin baik ya" ujar Imel lalu duduk di hadapan keduanya.
Fika menatap tidak suka pada Imel, Eliana hanya menatap datar dan juga ada rasa kesal di hati Eliana karena Imel tidak pernah mengakui perbuatannya.
"Kenapa kau mencariku? Ada masalah apa lagi tentang Edward, aku sudah mengatakannya jangan pernah menggangguku lagi, tetapi sayangnya suamimu tidak pernah berfikir sedikitpun," ucap Eliana mencibir."Heh, naif sekali sampah di pungut lagi oleh sampah,"
Wajah Imel semakin memerah akibat menahan amarah kepada Eliana saat ini, dia pun menggeretakkan giginya lalu mengangkat tangannya tetapi kalah cepat dengan Eliana lalu dia menahan tangan Imel.
"Kakakku sayang, jangan pernah kau mengotori tanganmu untuk menyentuh wajahku ini," menepis tangan Imel.
"Kau...tidak tahu malu Eliana, jangan pernah kau menggoda Edward lagi. Jika kau masih ingin tinggal di keluarga Wijaya, atau kau lebih ingin di usir dari rumah," menatap sinis, lalu melangkahkan kakinya keluar dari cafe.
Sementara Fika mengusap lembut punggung Eliana agar dia bisa lebih tenang.
"Sabar El, kalau Lu di usir sama keluarga Wijaya, Lu bisa tinggal di kontrakan gue," ujar Fika.
Eliana menghembuskan nafas kasarnya."Sudah sampai tahap ini, gue gak bisa mundur lagi Fik"
Keduanya pun saling berpelukkan lalu di rasa telah tenang Eliana dan Fika kembali ke perusahaan dan mereka menuju meja kerja masing-masing, entah kenapa Eliana pun ingin pergi ke toilet.
__ADS_1
"Fik, gue ke toliet dulu ya, kalau bos nyariin bilangin aja," bangun dari duduknya.
"Tenang aja,tar gue bilangin,"
Eliana pun melangkah menuju toilet lalu dia pun memutar kran dan membasahi wajahnya, lalu dia menatap wajahnya di cermin dan menghembuskan nafasnya. Sebenarnya Eliana pun sangat kecewa dengan keluarganya seakan dia tidak pernah di anggap ada.
"Sebenarnya aku ini siapa? Apa aku bukan anak kandungnya?" menatap nanar lalu air matanya menetes lagi membahasi pipinya.
Eliana pun memutar kran lagi, lalu dia membasahi wajahnya karena matanya sembab sepersekian detik barulah Eliana keluar dari dalam kamar mandi, melangkahkan kaki baru beberapa langkah ada seseorang yang menarik tangannya.
"Akh..."teriak Eliana.
Namun seseorang membekap mulutnya dan menariknya ke pojok, mata Eliana membulat sempurna dan detak jantungnya tidak beraturan. Hembusan nafasnya terasa menyentuh ke kulitnya.
'Kenapa dia ada di sini'.batin Eliana.
Dia pun mengedarkan pandangannya seperti sedang mencari seseorang, lalu Eliana menepuk tangannya karena dia hampir ke habisan nafas.
Puk..Puk..Puk...
Eliana menunjuk ke arah tangannya yang masih membekap mulutnya dengan cepat dia melepaskannya. Dengan cepat Eliana pun menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau sembunyi, apa kau sedang di kejar seseorang!"tanya Eliana beruntun.
Seseorang yang ada di hadapannya pun menghembuskan nafas kasarnya."Berisik sekali kau, bukan urusan kau,"
Eliana menggelengkan kepalanya dan melangkahkan kakinya, tetapi dia menarik tangannya.
"Hei, kau mau kemana? Kenapa kau tinggalkan aku!" menarik tangan Eliana.
"Tadi kau mengusirku, sekarang kau menarik tanganku, sebenarnya apa yang kau inginkan Vikram!" jawab Eliana dengan nada penuh penekanan.
"Baiklah, maafkan aku,"
Eliana semakin tidak mengerti dengan pria yang ada di hadapannya saat ini."Sebenarnya kau sembunyi dari siapa?"
"Gadis gondrong,"jawabnya asal, karena tatapan matanya sedang menyelidiki sekitarnya.
"Apa? Gadis gondrong,"Eliana berdecak kesal dengan ucapan Vikram."Kau yang aneh atau seseorang yang sedang menunggumu?"
"Lebih baik kau pergi saja, membuatku pusing saja," usir Vikram lalu dia mengibaskan tangannya.
Eliana pun mengerucutkan bibirnya melihat sikap Vikram yang seperti itu.
Bersambung
__ADS_1