
Mobil pun telah sampai di gang kecil karena tidak bisa jadi Evelyn pun keluar dari dalam mobil tersebut, dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
“Terima kasih Tuan sudah mengantarku.”Ucap Evelyn sopan.
“Tidak perlu sungkan Nona.”Jawab Chris tersenyum manis.
Sementara di kursi belakang seseorang sedang menatap datar ke arah keduanya, Evelyn mengacuhkannya dan malah tersenyum ke arah Chris. Dengan kesal Yehezkiel pun memukul kursi kemudi dan membuat keduanya terkejut.
“Ada apa dengan kalian senyum-senyum seperti itu, cepat jalan mau sampai kapan kau akan seperti itu.”Ketus Yehezkiel.
“Baiklah Tuan, Nona Evelyn sampai bertemu di kantor.”Ucap Chris ramah dan tak lupa memberikan senyum manisnya.
“Tentu Tuan.”Sahut Evelyn, membalas senyuman tersebut.
Yehezkiel memutar bola matanya malas mendengar ucapan dari keduanya, lalu mobil pun melaju menuju kediaman Valdes.
Sedangkan Evelyn masuk ke gang tersebut Dangan perasaan lelah karena, Yehezkiel telah membuatnya membersihkan seluruh lantai kantor.
“Dasar papan gilingan yang tidak punya perasaan.”Umpatnya sepanjang jalan.
Tak lama pun Evelyn pun sampai di kontrakkan yang sederhana dan dia pun masuk ke dalam kontrakkan tersebut dan mengedarkan pandangannya mencari sosok sang adik.
“Jes..Jeslyn kau dimana?”Panggil Evelyn tetapi tidak ada sahutan dari Jeslyn.
Karena penasaran Evelyn pun masuk ke dalam kamar dan dia tidak menemukan Jeslyn, lalu mencarinya ke dapur dan dari arah kamar mandi terdengar suara percikkan air dan itu artinya Jeslyn sedang mandi.
Evelyn pun merasa lega dia takut jika Jeslyn pergi dari rumah dan tidak pulang. Evelyn pun duduk di kursi plastik sambil menunggu Jeslyn selesai mandi.
Jeslyn selesai dengan mandinya dan langsung masuk ke kamarnya setelah selesai dia pun keluar dari kamar dan menghampiri sang kakak yang sedang duduk.
“Kakak kau sudah pulang.”Ucao Jeslyn senang.
“Iya, kau sendiri bagaimana di rumah sendirian saja, tidak ada yang menganggumu ‘kan?”Tanya Evelyn yang terlihat khawatir.
Jeslyn tersenyum manis sambil menggelengkan kepalanya.”Tidak ada kak, kau tenang saja.”
“Baguslah, kakak senang mendengarnya.”Jawab Evelyn lalu mengusap lembut kepala Jeslyn.
__ADS_1
Mereka berdupun makan bersama-sama.
Di tempat berbeda kini Yehezkiel luar dari dalam kamarnya dan menuju ke ruang keluarga karena Nyonya Eliana memanggilnya agar segera berkumpul. Di sana sudah ada Tuan Vikram bersama Kezia dan juga Nyonya Eliana.
Yehezkiel menghampirinya dan duduk di sofa panjang dekat sang adik.
“Ada hal penting apa Mami memanggilku?”Tanya Yehezkiel, lalu duduk di sofa tersebut.
“Besok Mami akan mengenalkanmu dengan seseorang yang cocok untukmu.”Tutur Nyonya Eliana menatap Yehezkiel.
Yehezkiel menarik nafas dalam-dalam dia tidak mengerti kenapa Nyonya Eliana masih saja berniat menjodohkannya.
“Mami sudahlah, aku tidak tertarik.”Jawab Yehezkiel malas.
“Kiel, kau tidak boleh begitu. Mamimu pasti tahu yang terbaik untukmu.”Tutur Tuan Vikram dengan tatapan datarnya.
“Papi lihatlah Mami terus saja ingin menjodohkanku!” Kesal Yehezkiel.
“Pilihan Mami itu pasti yang terbaik.”Jawab Kezia dengan senyum manisnya.
“Kau ini masih kecil, tahu apa tentang cinta. Lebih baik kau kuliah dengan benar.”Sahut Yehezkiel.
“Kau..”
Nyonya Eliana pun melerai keduanya yang sedang bertengkar.”Sudah, sudah kaliana ini seperti anak kecil saja. Dan kau Kiel tidak ada penolakkan apapun, dan satu lagi jangan membuat alasan apapun itu.”
Nyonya Eliana mengatakan dengan tegas dan membuat Yehezkiel tidak bisa menolak lagi dan dia hanya bisa pasrah saja.
“Baiklah Mami.”
“Baguslah jika kau mengerti!”
Nyonya Eliana meninggalkan Yehezkiel, dia melangkah masuk ke kamarnya. Sedangkan Kezia sudah pergi sedari tadi dia sibuk dengan tugas kuliahnya, tinggallah Yehezkiel dan Tuan Vikram yang masih duduk.
“Papi, apa dulu Papi seperti ini?”Tanya Yehezkiel penasaran.
“Kiel, seharusnya kau beruntung memiliki Mami yang peduli padamu, dia melakukan itu semua karena dia sayang padamu.”Tutur Tuan Vikram dan menepuk bahu Yehezkiel meninggalkannya.
__ADS_1
Tuan Vikram sengaja meninggalakan Yehezkiel agar dia bisa memikirkannya kembali dengan tenang.
Malam harinya Yehezkiel pun memikirkan apa yang di katakan oleh Nyonya Eliana dan membuatnya semakin frustasi memikirkan seperti apa gadis yang akan di kenalkan oleh Nyonya eliana kepadanya. Mengingatnya saja sudah membuat Yehezkiel merinding karena pernah sekali Nyonya Eliana mengenalkan kepada Yehezkiel seorang gadis yang bukan tipenya, dan hal itu membuat Yehezkiel enggan untuk di jodohkan oleh Nyonya Eliana.
“Apa aku ikuti saja apa kata Mami, tetapi akankah sama seperti yang dulu?”Gumam Yehezkiel di atas ranjang miliknya.”Akh sudahlah lebih baik aku tidur jika memikirkannya maka aku akan gila.”Lalu dia pun merebahkan tubuhnya dan masuk ke alam mimpi.
Berbeda situasi berbeda tempat pula kini Evelyn sedang bingung karena Nyonya Eliana baru saja menelefonnya mengatakan jika dirinya ingin bertemu besok siang dan membuat Evelyn terkejut, karena semenjak Nyonya Eliana ingin menjodohkan anaknya dengan dirinya dia tidak pernah mengubunginya. Baru kali ini dia menghubungi lagi Evelyn, dan membuatnya frustasi dengan acara besok, dia bingung karena tidak memiliki pakaian yang bagus dan juga mewah.
Karena Evelyn baru saja bekerja di tempat Yehezkiel dan saat ini dia sedang mengacak-acak pakaian yang sudah di susun oleh, karena akan ada hal penting dia pun harus berpenampilan rapi jika bertemu dengan seseorang. Pintu kamar di buka dan masuklah Jeslyn dengan raut wajah bingung melihat kamanya berantakan seperti bangunan yang sudah hancur membuatnya bertanya kepada Evelyn.
“Kakak, ada apa ini? Kenapa kamar kita berantakkan seperti ini!”Tanya Jeslyn yang memunguti satu persatu pakaian yang berjatuhan di lantai.
“Besok kakak akan bertemu dengan Nyonya Eliana dia bilang ada hal penting, jadi kakak harus datang.”Ucap Evelyn yang sibuk dengan pakaiannya.
“Oh begitu kak, iya baguslah mungkin dia akan memberikan kakak pekerjaan paruh waktu, semoga saja.” Sahut Jeslyn yang kini mebantu Evelyn.
Evelyn hanya tersenyum kecut menanggapinya mana mungkin Nyonya Eliana mau memberikan pelerjaan kepadanya dan setelah selesai menemukan pakaian yang cocok lalu Evelyn pun menyimpannya dan setelah membereskan semuanya lalu mereka pun terlelap karena lelah sehabis membereskan pakaiannya.
Pagi telah berganti siang dan kini Evelyn sibuk dengan pakaian yang sudah dia pilih bersama Jeslyn, lalu Evelyn melihat dirinya di pantulan cermin dan dia pun menyisir rambut panjangnya lalu di ikat kuncir kuda serta poni yang sudah dia sisir rapi. Juga memakai bedak tipis dan juga memakai liptin. Setelah selesai berdandan ala kadarnya, dia pun sgera keluar dari kamarnya karena waktu sudah pas jadi dia pun segera berpamitan kepada Jeslyn.
“Jes, kakak pergi dulu dan ingat jangan kemanapun ya.”mengusap lembut rambut Jeslyn.
“Iya kak, kau berhati- hatilah.”
“Tentu.. Kakak pergi dulu.”
Melangkah keluar rumah dan menysuri jalanan menuju gang kecil, beberapa menit berjalan akhirnya Evelyn sampai di depan gang dan dia menunggu supir yang menjemputnya karena Nyonya Eliana sudah memberitahu kepadanya.
Seperesekian detik kemudian sebuah mobil mewah pun berhenti tepat di hadapan Evelyn, lalu keluarlah seorang supir dan sedikit membungkuk hormat kepada Evelyn.
“Mari Nona silahkan masuk.”Ucap supir tersebut, lalu membukakkan pintu mobil.
“Terima kasih pak.”Jawab Evelyn sopan.
Setelah Evelyn masuk lalu supir itupun segera memutari mobil dan masuk ke dalam kursi kemudi lalu melajukan kembali mobilnya menuju restaurant mewah dan juga elengan. Mobil telah sampai dan seperti biasa sang supir membukakan pintu tersebut.
“Silahkan Nona, Nyonya besar ada di dalam.” Ucap supir tersebut.
__ADS_1
“Terima kasih pak.”
Bersambung