Di Nikahi Tuan Muda

Di Nikahi Tuan Muda
Season 2


__ADS_3

Semenjak membaca diary Yehezkiel kini Devanius semakin yakin jika yehezkiel adalah putra kandungnya, tetapi dia masih bingung bagaimana mengatakannya walaupun Eliana tidak mengatakan apapun padanya.


Hari ini Devanius pun akan berkunjung ke rumah Yehezkiel karena hari libur jadi Yehezkiel ingin pergi bermain tentu saja Devanius menyetujuinya.


Masuk ke dalam mobil dana melajukannya belum sampai rumah Eliana dua mobil hitam itu mulai mengikutinya, Devanius yang tahu hal itupun hanya tersenyum tipis.


"Masih belum menyerah heh! Naif sekali!" gumamnya dengan mempercepat laju mobilnya.


Selama Devanius tidak kembali Callista terus saja menghubunginya tetapi Devanius hanya acuh dan mengabaikannya sehingga Callista pun merasa kesal dengan sikap Devanius.


Devanius masih melajukan mobilnya dengan lihai karena mobil di belakangnya masih terus saja mengejarnya, lalu Devanius melihat dari kaca spion dan ternyata masih saja mengejarnya.


Karena terlalu fokus melihat kaca spion Devanius tidak menyadarinya dari arah berlawan ada sebuah mobil truk yang tidak seimbang dengan membawa beban yang begitu banyak sehingga mobil itu kehilangan keseimbangannya.


Saat Devanius menoleh dia pun sangat terkejut lalu membanting stir ke arah kiri sehingga mobilnya menabrak pohon besar dan mobilnya mengeluarkan asap lalu kepalanya membentur stir mobil dan mengeluarkan darah segar dari keningnya. Dengan sisa tenaga Devanius pun segera keluar sebelum orang itu menemukan keberadaannya.


Keluar dari dalam mobil dengan terpingkal-pingkal lalu dia di bersembunyi di semak-semak pohon sambil menarik nafasnya dalam-dalam dan merasakan sakit di kepalanya lalu berputarlah bayangan Eliana saat ini dan dia mulai mengingatnya.


"El...El dimana kamu!" Dengan nafas yang memburu karena menahan sakit."Sshh.. sakit sekali kepalaku"ucapnya.


Terdengar suara mobil berhenti depan mobilnya lalu keluarlah bawahan dari Tuan Handoko dan mencari keberadaannya.


"Dimana dia, cepat sekali kaburnya pada hal sebentar lagi dapat agrhh..." ucapnya kesal.


Lalu terdengar dering ponsel miliknya dan di lihatnya siapa yang memanggilnya dan ternyata dia adalah Tuan Handoko yang memanggilnya, dengan perasaan takut dia pun menjawab panggilan tersebut.


"Tu-Tuan"ucapnya gugup.


"Apa kau sudah menemukannya?" Tanyanya dengan tidak sabar.


"Ma-maaf Tu-Tuan, kami kehilangan jejaknya lagi. Kami hanya menemukan mobilnya yang kecelakaan tetapi belum menemukan orangnya"jawabnya gugup.


"Dasar ceroboh kalian, menangkap satu saja tidak bisa di andalkan. Cari sampai ketemu, cepat!"


"Baik Tuan"


Tuan Handoko pun mematikan ponselnya sepihak dan para bawahan Tuan Handoko bergegas mencari Devanius. dan pergi meninggalkan tempat itu sebelum ada polisi datang.


Setelah kepergiannya lalu Devanius bernafas lega karena dia masih aman, lalu perlahan-lahan dia menyembulkan kepalanya dan perlahan melangkahkan kakinya dan kepalanya begitu terasa pusing setelah bersusah payah akhirnya dia pun bisa melewatinya.


Tetapi rasa sakit di kepalanya sudah tidak bisa di tahan lagi dan akhirnya dia pun pingsan.


Sementara Yehezkiel sedari tadi sudah gelisah menunggu kedatangan Devanius sesekali dia melihat ke arah jam, tetapi sudah siang Devanius pun belum datang juga.


"Haaah.. Om Devan kemana ya belum datang juga"ucap Yehezkiel, sambil memangku dagunya.


Eliana yang melihatnya segera menghampirinya dan mengusap lembut kepala Yehezkiel.

__ADS_1


"Kiel, Om Devan belum juga datang sedari tadi?"Tanya Eliana yang kini duduk di samping Yehezkiel.


"Belum Mami, Om Devan jadi akan datang dan menemaniku hari ini"ucap Yehezkiel lemas.


Lalu terdengar dering ponsel milik Eliana lalu mata Yehezkiel menatap ponsel Eliana."Mami ponselmu berdering, mungkin itu Om Devan"


"Baiklah"


Eliana pun mengambil ponselnya yang berada di atas meja, bukannya menjawab Eliana malah mengerutkan keningnya.


"Nomor siapa ini?" Gumamnya, lalu dia pun menjawab panggilan tersebut.


Tutt...


"Hallo" ucap Eliana...


"Apa....Baiklah, saya akan segera ke sana"


....


"Iya terima kasih"


Yehezkiel khawatir melihat raut wajah Eliana terlihat panik lalu dia pun bertanya kepadanya.


"Ada apa Mami?"Tanya Yehezkiel.


"Baiklah ayo Mami!"


Eliana dan Yehezkiel pun bergegas menuju mobil dan segera melaju ke rumah sakit, padatnya kendaraan membuat Eliana berdecak kesal karena dia sangat khawatir dengan kondisi devanius. Tak lama akhirnya mobil bisa melaju kembali dengan normal.


Mobil Eliana pun telah sampai di depan rumah sakit lalu dengan cepat Yehezkiel keluar dari dalam mobil dan di susul Eliana.


Setelah menanyakan kepada perawat Eliana pun segera menuju ruangan rawat Devanius, dan pintu ruangan masih tertutup karena dokter belum keluar dari ruangan tersebut. Eliana dan yehzkiel pun duduk di kursi tunggu, cukup lama menunggu akhirnya dokter pun keluar dari ruangan tersebut, dengan cepat Eliana dan Yehezkiel segera bangun dari duduknya dan menghampirinya.


"Dokter bagaimana keadaannya?" Tanya Eliana, jelas sekali dari raut wajahnya terlihat khawatir.


"Maaf sebelumnya anda siapanya pasien?" Tanya dokter tersebut sopan.


"Saya keluarga terdekatnya dok"


"Baiklah Nyonya, pasien tidak ada luka serius, hanya saja dia sebelum di obati terus saja memanggil nama Eliana, apakah ada orang yang bernama Eliana di sini?" Tanya dokter


"Saya sendiri dokter, jadi sekarang keadaannya bagaimana? Apakah sudah lebih baik?"Tanya Eliana lagi.


"Oh maafkan saya Nyonya, pasien sudah saya tangani kemungkinan dia akan sadar Nyonya"


"Baiklah dokter terima, apakah saya sudah boleh mengunjunginya?"

__ADS_1


"Silahkan Nyonya, kalau begitu saya permisi dulu Nyonya" ucap dokter tersebut dengan sedikit membungkukkan badannya.


Eliana menganggukkan kepalanya dan mereka berdua masuk ke dalam ruangan Devanius, Eliana dan Yehezkiel menatap Devanius yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.


"Om Devan, kau bilang akan ke rumahku tetapi kau malah ada di rumah sakit ini Om, bangunlah Om Kiel menunggumu"ucap Yehezkiel yang memegang tangan Devanius.


Eliana yang melihat hal itupun hatinya terasa sakit melihat Yehezkiel begitu sedih melihat keadaan Devanius sekarang.


"Sayang, sudahlah lebih baik kau doakan Om Devan agar cepat pulih dan segara sadar ya" mengusap lembut tangan Yehezkiel.


"Iya Mami, tetapi aku ingin bertanya kepada Mami, boleh 'kan?" Tanya Yehezkiel


"Tentu saja sayang kau boleh bertanya apapun dan Mami akan menjawab pertanyaannya itu"ucapnya tersenyum manis.


Yehezkiel menghembuskan nafas kasarnya sebelum dia menanyakan hal yang begitu penting kepada Eliana, dan Eliana sendiri selalu sabar menghadapi sikap Yehezkiel.


"Sayang, katakanlah kau jangan takut, Mami tidak marah padamu, jadi katakanlah nak!" Ucap Eliana lagi.


"Baiklah Mami, Tetapi Mami harus menjawab jujur ya padaku. Karena aku sangat membutuhkan jawaban dari Mami saat ini"


"Baiklah sayang, Mami akan menjawab jujur padamu"


Yehezkiel pun mulai bertanya tetapi belum selesai tiba-tiba tangan Devanius pun bergerak dan membuat keduanya menoleh.


"El...."ucapnya pelan.


Lalu Eliana pun segera menghampirinya dan mengusap air matanya yang sedari tadi dia tahan.


"Kau sudah sadar Devan!"Ucap Eliana tersenyum manis.


"Devan? Siapa dia El?"Tanyanya bingung.


"Jadi kau benar-benar sudah ingat siapa dirimu?" Tanya Eliana balik, dia tidak percaya dengan ucapan Devan.


"Ingat? Memang aku kenapa?"


"Kau hilang ingatan Vik, lalu kau melupakan aku dan..." Eliana menggantungkan kalimatnya.


"Dan apa El? Aku tidak mengerti apa yang kau katakan!" Ucap Vikram yang mulai bingung dengan Eliana.


"Dan.....dia" cicitnya pelan.


Lalu Vikram pun menoleh dan matanya membulat sempurna dia tidak mengenali siapa yang ada di hadapannya, tetapi wajahnya mirip sekali dengannya.


"Dia......."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2