
Setelah menyelesaikan tugasnya Yehezkiel pun menuju ruangan khusus untuknya di lantai paling atas, dan sampai di depan pintu kamar Yehezkiel menghembuskan nafasnya.
Lalu dia mendorong pintu kamar dan terlihatlah Chris bersama Evelyn. Dia sangat ketakutan dan tubuhnya juga ikut bergetar, Yehezkiel menghampirinya lalu duduk di samping Evelyn. Sedangkan Chris dia duduk di sofa sambil menunggu dokter keluarga yang akan datang.
“Eve, kau baik-baik saja?”Tanyanya dengan lembut.
Evelyn tidak menjawab dia hanya menangis dan menangis, bahunya pun ikut berguncang serta tarikkan nafasnyya tidak beraturan. Perlahan-lahan Yehezkiel merangkul Evelyn lalu memeluknya.
“Menangislah jika menangis membuatmu lebih tenang.”Mengusap lembut punggung Evelyn.
Di tempat berbeda kini seseorang sedang khawatir karena sedari tadi belum ada kabar juga, dia terus saja menatap pintu mungkin saja dia akan pulang.
“Ini sudah larut malam kenapa kakak belum juga pulang!” Ucapnya yang begitu khawatir.
Karena sudah begitu larut dia pun menunggu sang kakak sampai matanya pun terpejam dengan sendirinya. Tetapi dia tidak bisa tenang lalu membuka matanya lagi dan memutuskan untuk menunggunya di depan gang, mungkin sang kakak akan kembali dengan cepat.
“Aku tidak boleh tidur, kakak pasti akan pulang.” Dia pun bergegas bangun dan membuka pintu.
Ada perasaan takut saat akan melangkahkan kakinya tetapi dia menarik nafasnya dalam-dalam, lalu dengan semangat dia pun segera berjalan untuk menunggu sang kakak.
Saat sampai di depan ada sebuah mobil mewah melewatinya, karena silau dengan cahaya lampu mobil dia pun menutupnya dengan kedua tangannya. Mobil itupun segera berhenti dan keluarlah seorang pria paruh baya.
“Apakah Nona yang bernama Jeslyn?” Tanya pria paruh baya itu, dengan sedikit mencodongkan badannya.
“Iya, aku Jelsyn! Paman siapa?”Tanya Jeslyn sopan.
Pria paruh baya itu tersenyum manis.”Saya kemari untuk menjemput Nona, karena kakak Nona ada bersama Tuan Muda kami.”
“Tuan Muda? Maksud paman, kakakku sedang bersama Tuan Muda yang mana?”Ujar Jeslyn yang kebingungan, karena Evelyn tidak pernah mengatakan apapun padanya.
“Mari Nona, saya akan mengantarkan Nona!”Ucap pria paruh baya itu, lalu membuka pintu mobil untuk Jeslyn.
Jeslyn masih diam di tempat dia bingung, harus percaya atau tidak kepada pria paruh baya itu dan pria itupun mengerti dengan sikap Jeslyn.
“Nona tenang saja, saya pasti akan mengantarkan Nona menemui kakak Nona yang bernama Nona Evelyn.”
Jeslyn menghembuskan nafas leganya, dan dia pun masuk ke dalam mobil mewah tersebut.
Kembali ke Evelyn, setelah perasaannya tenang dia pun melepaskan pelukan Yehezkiel dan mengucapkan terima kasih karena telah membantunya.
“Tuan terima kasih telah menolongku.”Ucap Evelyn terunduk.
“Kau tidak perlu berterima kasih, karena kau adalah wanitaku.”Ujar Yehezkiel secara lantang.
Membuat Evelyn membulatkan matanya mendengar ucapan dari Yehezkiel.
“Papan gilingan siapa yang mau menjadi wanitamu, kau terlalu percaya diri.” Memalingkan wajahnya.
“Kau harus ingat Mami sudah menjodohkan kita.”Ucapnya sambil melipat tangan di dadanya.
__ADS_1
Evelyn menatap sinis ke arah Yehezkiel.”Siapa yang mau di jodohkan denganmu, siapa juga yang mau menikah denganmu!”
Chris yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya, tak lama pintu terbuka lalu seorang pria paruh baya itu menghampiri Yehezkiel, kini Yehezkiel telah kembali ke Manison miliknya, setelah Evelyn di periksa oleh dokter tadi.
“Tuan, saya telah membawanya.”Ucapnya dengan membungkuk sopan.
“Suruh saja dia masuk, paman.”Titahnya.
Pria paruh baya itupun membungkuk hormat lalu melangkah keluar dari kamar Yehezkiel. Tak lama seorang gadis kecil melangkah masuk dan menyembulkan kepalanya, setelah melihat ada sosok yang dia kenal lalu gadis itupun berlari menghampiri sang kakak.
“Kakak....” Panggilnya.
Evelyn pun menoleh dan betapa terkejutnya saat melihat adik yang dia sayangi.
“Jeslyn, kakak merindukanmu.”Memeluk serta mengecup pipi Jeslyn.
Mereka berdua pun berpelukkan melihat pemandangan seperti itu Yehezkiel pun teringat dengan sang adik yang selama ini selalu saja bertengkar dengannya.
Sepersekian detik mereka berdua pun melepaskan pelukkannya, lalu Jeslyn pun menatap ke arah Yehezkiel.
“Paman, apa kau yang menolong kakakku?” Tanya Jeslyn polos.
Mata Yehezkiel membulat sempurna saat Jeslyn memanggilnya dengan sebutan Paman. Sedangkan Chris hanya menahan senyumnya serta pria paruh baya itupun sama.
“Apa yang kalian tahan, memang ada yang lucu.”Ketusnya.
“Tidak ada Tuan Muda?” Jawab pak Andes, pria paruh baya.
Yehezkiel memutar bola matanya malas lalu dia menatap Jeslyn dan mensejajarkan tubuhnya dan mengusap lembut pipi Jeslyn.
“Hmm..Tetapi jika di fikir-fikir lagi paman tampan juga, apakah paman mau menjadi kekasih kakakku?” Tanyanya dengan raut wajah berbinar.
Evelyn langsung menutup mulut Jeslyn dan dia tersenyum canggung ke arah Yehezkiel.”Maafkan sikap adikku ini.”
“Tidak apa-apa, lebih baik kalian istirahtlah dulu. Besok kalian baru pulang, karena ini sudah sangat larut malam.”Ujar Yehezkiel.
Yehezkiel melangkah keluar dari kamar Evelyn dan Jeslyn, di ikuti oleh Chris dan pak Andes. Baru sampai depan pintu Jeslyn memanggil Yehezkiel lagi, lalu Yehezkiel menoleh menatap Jeslyn.
“Paman tampan tunggu dulu, terima kasih sudah mengizinkan aku dan kakak tidur di rumahmu.”Ucap Jeslyn tersenyum manis.
Yehezkiel pun membalas senyuman Jeslyn lalu dia pun melangkahkan kakinya keluar, sampai di ruang utama pak Andes pun mengatakan sesuatu kepada Yehezkiel.
“Tuan Muda, sepertinya Nona Evelyn gadis yang baik.” Ucap pak Andes membungkuk hormat.
“Pak Andes hari sudah larut, besok baru kita bicarakan lagi.”Jawab Yehezkiel, yang menghindari ucapan dari pak Andes.
“Baiklah Tuan Muda, selamat malam dan beristirahatlah lebih awal.”Ucap Pak Andes, lalu dia pun melangkahkan kakinya.
Tinggallah Chris dia pun sama segera berpamitan kepada Yehezkiel, karena dia pun sangat lelah.
“Kiel, sepertinya aku harus kembali, sampai ketemu besok.” Pamitnya.
__ADS_1
“Hmmm.”
Keesokkan paginya suara burung saling berkicauan, seorang gadis telah bangun lalu dia pun menuju kamar mandi lalu membangunkan sang adik agar segera bangun.
“Jes, bangun sayang hari sudah pagi.”Mengusap lembut pipi Jeslyn.
“Ugh... Kakak sebentar lagi, ini sangat nyaman.”Ucap Jeslyn yang masih setia dengan selimut tebalnya.
Evelyn menggelengkan kepalanya melihat adiknya masih tertidur, lalu dia pun mencoba membangunkannya lagi. Tetapi ketukan pintu membuat Evelyn mengurungkan niatnya, lalu dia pun berjalan dan membuka pintu kamar lalu terbukalah.
“Selamat pagi Nona, sarapan telah siap, silahkan Nona sarapan dulu.”Ucap kepala pelayan sopan.
“Terima kasih Bibi, sebentar lagi aku akan turun.”Jawab Evelyn tersenyum manis.
“Baiklah Nona, Bibi permisi dulu.”Membungkuk hormat.
“Iya Bibi.”
Evelyn kembali menutup pintu kamar dan segera membangunkan Jeslyn yang masih terlelap, dengan segala usaha akhirnya Jeslyn pun bangun dari tidurnya.
Saat ini mereka sedang di meja makan, lalu Yehezkiel pun menuruni anak tangga menuju ruang makan.
“Paman tampan, kenapa kau sangat tampan jika pagi hari tetapi semalam penampilanmu sangat kusut sekali. Apa pama khawatir dengan kakakku.”Goda Jeslyn.
Di goda seperti itu Yehezkiel menjadi salah tingkah, sedangkan Evelyn tersedak saat memakan makanannya.
“Uuukh....”
Reflek tangan Yehezkiel segera mengambil gelas yang berisi air dan memberikannya kepada Evelyn. Tanpa sadar Evelyn pun menerimanya dan meneguknya hingga setengahnya.
“Paman tampan kau sangat perhatian dengan kakakku, kenapa kalian tidak menjadi se...”Ucapannya langsung di potong Evelyn.
“Jes, makanlah sarapanmu setelah itu kita langsung pulang.” Ucap Evelyn yang malu.
Yehezkiel hanya acuh saja lalu dia pun sarapan bersama, setelah selesai Yehezkiel bangun dari duduknya dan melangkah pergi untuk ke kantor.
“Tuan tunggu.”Panggil Evelyn.
Yehezkiel menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh.”Ada apa?”
“Setelah ini aku dan adikku akan kembali ke rumahku, jadi kau tidak perlu menyuruh supir untuk mengantarku pulang.” Tutur Evelyn panjang lebar.
Yehezkiel hanya menghembuskan nafas kasarnya.”Apa aku mengizinkanmu pergi? Eve, dengarlah Mamiku sudah mendojohkan kita dan nanti siang Mami akan kemari.”
“Maksudmu kau menerima perjodohan ini, bukankah kau menolaknya? Kenapa sekarang jadi seperti ini.” Kesal Evelyn.
“Aku mohon mengertilah, ini demi kebaikan Mamiku”Ucap Yehezkiel memohon.
“Aku tidak peduli dan aku akan tetap pulang.”Jawab Evelyn lalu meninggalkan Yehezkiel.
Yehezkiel menghembuskan nafas kasarnya, dia sebenarnya tidak ingin memaksanya tetapi ada hal yang tidak bisa dia katakan kepada Evelyn.
__ADS_1
Bersambung