
Sudah seminggu Eliana berada di rumah sakit dan sampai saat ini Vikram belum datang untuk menjemputnya pulang, dan Eliana sedari sudah kesal menunggu Vikram.
Pintu ruangan pun di buka tetapi sayang bukan seseorang yang Eliana tunggu sedari tadi.
"Hai El, apa kabarmu? Semoga kau lebih baik ya"ucapnya lalu duduk di kursi.
"Aku sudah lebih baik Fik, kau bersama siapa?"Tanya Eliana, seakan dia menunggu sesuatu.
"Aku sendiri El, ada apa? Apakah ada masalah?"Fika mengedarkan pandangannya.
"Eh, tidak ada"
"Hari ini kau jadi pulang 'kan?" Tanya Fika lagi.
"Iya, tetapi Vikram belum datang menjemputmu" jawab Eliana dengan wajah sedihnya.
"Sabar El, mungkin dia masih ada urusan"Fika mengusap lembut rambut Eliana.
Eliana hanya tersenyum kecut mendengar ucapan dari Fika saat.
Sementara di sebuah bangunan kumuh seseorang sedang mengerjapkan matanya akibat dia pingsan, lalu dia merasa tangan dan kakinya pun di ikat dia mencoba untuk berontak tetapi tidak bisa.
"Dimana aku?"mengedarkan pandangannya.
"Yoi.. kau sudah bangun Nona"ucap seseorang yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
Dia pun mengedarkan pandangannya lalu melihat ke arah seseorang tersebut.
"Siapa kau? Kenapa kau menculik ku" ucapnya dengan raut wajah kesal.
"Heh! Tidak penting siapa aku lebih baik kau mengaku lah kesalahan apa yang telah kau lakukan"ucapnya dengan sinis.
"Apa maksudmu? Kesalahan apa yang kau maksud" dia pun mengerutkan keningnya.
"Cobalah kau ingat lagi kesalahan apa yang kau lakukan pada hari itu"sahutnya mencoba mengingatkannya lagi.
Dia pun berfikir sejenak lalu mencoba mengingat kejadian apa yang telah dia lakukan.
FLASHBACK ON
Seorang gadis sedang membawa belanjanya, dia pun memesan taxsi tetapi taxsi tak kunjung datang juga dan akhirnya di sebrang jalan pun ada taxsi yang sedang menurunkan penumpangnya, dengan senyum manis yang membingkai di wajahnya dia pun memutuskan untuk menyebrangi jalan.
Saat sedang menyebrang tiba-tiba ponselnya berdering, lalu dia mencoba menjawabnya tetapi bukan panggilan telepon yang dia jawab melainkan dia di tabrak oleh mobil dengan kecepatan tinggi.
Mobil itu pun bukannya berhenti melainkan menambah kecepatannya lagi, agar terhindar dari orang-orang yang melihatnya jika dia sengaja menabrak seseorang tersebut.
FLASHBACK OFF
__ADS_1
Setelah dia mengingatnya pun dia hanya menatap sinis orang tersebut dan tersenyum kecut.
"Heh! Tidak peduli siapapun yang aku tabrak dia harus mati" jawabnya sinis.
"Memang kau mempunyai nyawa begitu banyak sehingga kau berani!" Ucapnya dengan datar.
"Siapa kau sebenarnya?"
Seseorang itupun hanya tersenyum, melihat seseorang di depannya begitu penasaran.
"Apa kau ingin tahu siapa yang menculik mu?"
"Cepat katakan, apa yang bos kalian inginkan"bentaknya.
Lalu seseorang pun masuk dengan wajah datarnya dan juga sorot matanya begitu tajam, membuatnya ketakutan.
"Apakah dia sudah mengakuinya"
"Belum Tuan"
Dia pun menghampiri seseorang yang ada di hadapannya, dengan wajah datarnya.
"Apakah kau tidak akan mengakuinya"mendekat
"Kau..kenapa kau melakukan ini Vikram"teriaknya.
"Lalu apa yang kau lakukan kepada Eliana, hah" tak kalah teriaknya dari Merliana.
Merliana membulatkan matanya dia tidak mengira jika Vikram akan tahu hal ini tetapi Merliana mencoba untuk tetap tenang.
"Apa yang kau maksud Vikram, aku tidak mengerti" elaknya.
"Oh tidak mengerti ya, Lukas berikan"titahnya pada Lukas.
Lalu Lukas pun mengambil pisau lipat dan mengarahkannya ke wajah cantiknya, Merliana sempat ketakutan dan tubuhnya bergetar tetapi dia mencoba untuk tenang.
"Heh, sungguh menjijikan kau hanya berani kepada wanita lemah sepertiku"ucapnya mencibir.
Dengan cepat Vikram mencegkram kedua pipi Merliana."Bukti sudah ada kenapa kau masih mengelak Merliana"
Merliana tidak takut sama sekali kepada Vikram dan Vikram pun melepaskan cengkramannya dari pipi Merliana.
"Lukas urus dia, serahkan saja pada polisi dan berikan bukti tersebut tetapi kau beri dia hadiah dengan cara yang begitu lembut"Ucap Vikram lalu melangkah keluar, karena Eliana sudah pasti sedang menunggunya.
Melangkah masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang, agar dia sampai di rumah sakit.
Di ruangan sudah ada Fika dan Aini yang menunggunya sedari tadi. Raut wajah Aini terlihat gelisah dan tidak tenang lalu dering ponsel pun bergetar dengan cepat Aini merogoh tasnya
__ADS_1
"El, aku akan jawab telepon dulu"ucap Aini, lalu bergegas keluar dari ruangan Eliana.
"Baiklah"
Dengan hati-hati Aini menjauh dari ruangan Eliana dan segera menjawab panggilan telepon tersebut, sepersekian detik Aini pun menutup panggilan telepon tersebut dan segera bergegas menuju ruangan seseorang.
Tok tok tok
"Masuklah"
Dia pun mendorong pintu ruangan tersebut dan masuk ke dalam, lalu Aini pun duduk di kursi depan dokter tersebut.
"Nona ini hasil yang kau minta"memberikan sebuah amplop berwarna putih.
Aini menatap amplop putih tersebut dia menelan kasar salivanya, lalu perlahan-lahan tangan Aini terulur dengan gemetaran dia meraih amplop tersebut dan membukanya.
Deg.......
Jadi benar dia adalah adik kandungnya.batih Aini.
Menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya, lalu Aini menatap dokter tersebut.
"Terima kasih dok, kalau begitu saya permisi dulu!"Ucap Aini, lalu menjabat tangan dokter tersebut.
Aini pun kuat dari ruangan dokter tersebut dengan langkah gontainya dia menyusuri tembok sebagai pegangannya saat ini.
"Entah, aku harus bagaimana mengatakan kepada dia, jika dia tahu semuanya apakah dia akan marah padaku" gumam Aini."Tidak boleh terjadi, aku harus segera memberi tahu ini pada dia"
Aini tidak berpamitan kepada Eliana dan saat di perjalanan menuju keluar dari rumah sakit tersebut, dia menabrak seseorang dan membuatnya hampir terjatuh dan beruntungnya ada tangan kekar yang sigap menolongnya.
"Hati-hati Nona"ucapnya, lalu meraih pinggang rampingnya.
"Eh, kau terima kasih Tuan"ucap Aini lalu dia melepaskan tangan dia."Terima kasih Tuan vikram, kau telah menolongku"
"Tidak masalah, kenapa kau begitu terburu-buru Nona" selidik Vikram.
"Hah! Tidak, tidak aku tidak terburu-buru, ini kesalahanku karena tidak melihat jalannya Tuan"ucap Aini membungkuk hormat.
"Nona tidak perlu bersikap seperti itu, kau adalah teman Eliana,"ucap Vikram." Apakah Eliana sudah boleh pulang?"Tanya Vikram, dia sengaja mengalihkan topik pembicaraan, karena melihat Aini yang begitu tidak tenang.
"Sudah Tuan, tetapi aku tidak bisa ikut bersama Eliana, karena perusahaan membutuhkan aku, maafkan aku Tuan"ucap Aini, lalu mengatupkan kedua tangannya.
"Baiklah Nona, tidak apa-apa"
Aini pun melangkahkan kakinya meninggalkan Vikram yang sedari tadi menatapnya. Vikram pun melangkah menuju ke ruangan Eliana dan dia masuk ke dalam, lalu melihat Eliana dan Fika sedang membereskan beberapa barang yang akan mereka bawa kembali.
Bersambung
__ADS_1