
Mentari telah bersinar menusuk ke celah jendela dua insan yang masih terlelap di ranjang empuk membuatnya enggan untuk bangun. Terdengar suara lenguhan dari seorang gadis yang terusik tidurnya.
"Ugh..."Ucapnya dengan mata yang masih terpejam.
Gadis itupun menoleh ke sebelahnya dan tersenyum manis karena pertempurannya semalaman membuatnya terbawa suasana, lalu dia mengangkat tangannya dan mencoba mengusap lembut pipi tampan itu.
"Kau memang tampan, tetapi apakah tidak ada gadis yang ingin dekat denganmu!"Ucapnya dengan masih setia mengusap lembut pipinya.
Tangannya mulai menyusuri wajah tampan itu dengan jari lentiknya, ketika sampai di bibir tangan itu berhenti dan mengusap lembut bibir itu.
"Karena inilah yang membuatku terhanyut dalam permainanmu tadi malam, kenyal dan juga manis."
Saat akan mengangkat tangannya, dia pun mencekalnya dengan mata yang masih terpejam.
"Sudah puas melihat wajah tampanku ini? Kau baru menyadarinya jika aku tampan hmm. Tetapi hatiku sudah ada orang yang menempatinya tidak akan pernah berpaling ke hati yang lain." Ucapnya lalu membuka kedua matanya.
Evelyn pun terkejut kenapa dia bisa tahu tentang ucapannya dan membuatnya malu lalu memalingkan wajahnya. Yehezkiel hanya terkekeh melihat sikap istrinya yang malu seperti itu. Dia pun menangkup wajah Evelyn dan mengusap lembut pipinya.
__ADS_1
"Dan pipi ini begitu lembut seperti kain sutra sayang, yang membuatku selalu ingin dekat denganmu."
Evelyn hanya diam saja dia menatap wajah Yehezkiel dengan serius lalu tangan Yehezkiel menyusuri wajah Evelyn dan berhenti di bibir Evelyn dan mengusap lembut.
"Dan ini yang membuatku candu akan kenikmatan ini sayang." Ucapnya lalu mengecup bibir Evelyn.
Mereka pun melanjutkannya kembali hingga berbagai macam gaya hingga siang hari pun mereka masih bergelut di kasur.
Sementara di kediaman utama Nyonya Eliana seperti biasa menyiram tanamannya dengan penuh suka cita, tetapi sangat di sayangkan entah kenapa kepalanya terasa pusing dan tiba-tiba mimisan lagi membuatnya harus berhenti menyiram tanaman itu. Lalu dia pun duduk di kursi sambil mengusap mimisannya dan menengadahkan kepalanya agar tidak keluar lagi.
Malam harinya Nyonya Eliana baru sadarkan diri lalu dia mengedarkan pandangannya di sana ada dokter serta suami juga Kezia dan Jeslyn.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?"Tanya Nyonya Eliana dengan suara lemasnya.
Tuan Vikram tidak tega melihat kondisi istrinya saat ini, dia pun tersenyum kecut dan mengusap lembut rambut Nyonya Eliana.
"Tidak apa-apa sayang, kau hanay kelelahan saja."Jawab Tuan Vikram lembut.
__ADS_1
Lalu dokter keluarga pun segera berpamitan karena Nyonya Eliana telah sadar, setelah kepergian dokter keluarga lalu Kezia dan Jeslyn saling berpelukkan menatap Nyonya Eliana yang terbaring lemah.
"Sayang katakan ada apa sebenarnya? Apa kau membohongiku? Haruskah aku mendengar semuanya dari orang lain!"Cecar Nyonya Eliana yang begitu penasaran tentang penyakitnya saat ini.
"Tidak ada yang perlu di takutkan sayang, kau hanya kelelahan saja."Mencoba menghibur sang istri.
Nyonya Eliana hanya mendengus kesal dia pun memalingkan wajahnya, dan Tuan Vikram menghembuskan nafas kasarnya dia tidak tahu harus bagaimana mengatakannya lagi jika penyakitnya tumbuh lagi dan membuatnya harus di rawat kembali.
"Sayang, sudahlah kau jangan marah seperti ini. Lebih baik kau istirahat saja, aku dan anak-anak akan selalu ada untukmu."Tutur Tuan Vikram dengan mengecup kening Nyonya Eliana.
Tuan Vikram pun mengajak Kezia dan Jeslyn keluar dari kamarnya karena mereka tidak tega melihat kondisi Nyonya Eliana saat ini.
Jika jempol kalian berkenan mampirlah ke sini.
Terima kasih buat semua jempolnya.
__ADS_1