
Evelyn pun menoleh ke arah belakang pria tersebut dia melihat sosok pria sombong dengan melipat tangan di dadanya yang sedang bersandar pada mobilnya.
"Kau...." geram Evelyn, lalu dia pun meninggalkan pria tersebut dengan mengerucutkan bibirnya." Dasar gilingan datar"ucapnya dengan melangkah pergi.
"Kau... gadis gerobak, jangan sampai bertemu lagi dengannya"ucapnya, lalu dia menatap datar asistennya."Apa yang kau lihat cepat pulang"kesalnya.
"Eh baiklah"
Dia pun melajukan kembali mobilnya menuju rumahnya.
Kini Evelyn sudah sampai di rumahnya setelah membereskan gerobak mie ayam tersebut lalu masuk ke dalam rumah dan dia sudah di sambut oleh bibi dan juga pamannya.
"Mana setotanmu hari ini"menengadahkan tangannya.
"Ini bibi" mengeluarkan beberapa lembar uang.
"Bagus, kau bisa di andalkan tidak seperti pamanmu yang hanya bisa mabuk saja setiap hari" ucapnya.
"Heh, Erlita mana bagianku! Cepat berikan padaku aku ingin membeli minuman" ucap paman Evelyn.
"Johan, kau fikir tidak butuh makan hah! Cari uang sendiri sana. Aku akan membeli keperluanku hari ini!" Ucapnya lalu masuk ke dalam kamarnya, dan Johan pun mengejarnya.
Sedangkan Evelyn hanya menghembuskan nafas kasarnya dia tidak tahu lagi harus bagaimana, karena Bibinya hanya memberi uang pas saja untuk keperluan berjualan dan dia tidak pernah memberi lebih kepada Evelyn, sedangkan pamannya tidak bisa di andalkan karena dia tidak mau bekerja dan Evelyn yang harus bekerja keras.
Di balik pintu ada seseorang yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka, lalu Evelyn perlahan masuk ke dalam.
"Kenapa kau harus sembunyi di balik pintu hem"ucapnya gemas.
"Kak, apa hari ini kita tidak makan lagi? Aku sangat lapar, bibi tidak memasak apapun kak"ucapnya dengan menahan rasa sakit di perutnya.
Raut wajah Evelyn pun berubah menjadi khawatir kepada adiknya saat ini."Ya ampun jadi kau belum makan apapun, kau tunggu sebentar ya"
Dia pun menganggukkan kepalanya, lalu Evelyn keluar dari kamar tersebut dan menghampiri gerobak tersebut. Evelyn selalu menyisakan sebungkus mir ayam untuk adik tercintanya, karena dia tahu jika bibinya tidak akan pernah mau memasak untuk adiknya, karena menurutnya sudah di beri tempat tinggal saja itu sudah cukup.
Evelyn membawanya ke dalam dan mengambil mangkok tersebut lalu menuangkannya dan memberikannya kepada adiknya.
__ADS_1
"Ini makanlah" menyodorkan semangkok mie ayam.
"Apa kakak sudah makan? Jika belum ayo makan bersama denganku kak!" Ucapnya.
"Jeslyn sayang, kau makanlah tidak perlu memikirkan kakak. Kakak sudah makan sekarang kau yang makan ya" mengusap lembut kepala Jeslyn.
"Baiklah kak"
Jeslyn makan dengan lahapnya dan membuat Evelyn tersenyum bahagia, walaupun perut dia terasa lapar tetapi dia lebih memilih adiknya karena Evelyn sangat menyayangi Jeslyn karena orang tua mereka sudah meninggal. Dan mereka tinggal bersama dengan Paman dan bibinya yang mempunyai usaha menjual mie ayam tersebut.
Setelah merasa kenyang akhirnya Jeslyn pun memutuskan untuk tidur karena dia sudah mengantuk.
"Kak, aku tidur dulu ya"ucapnya yang sudah menguap sedari tadi.
"Iya sayang, kau tidurlah"mengusap lembut kepalanya.
Jeslyn pun menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam kamarnya, lalu Evelyn pun masuk ke kamarnya lalu duduk di tepi ranjang suara perutnya sedari tadi membuatnya tidak bisa tidur dia pun memutuskan untuk pergi ke dapur mencari sesuatu di dapur.
Evelyn membuka kulkas dia mengedarkan pandangannya mungkin ada makanan atau bahan yang bisa di masak olehnya, tetapi sayang sekali di dalam kulkas tidak ada satupun makanan yang tersisa lalu di mengedarkan pandangannya menuju meja makan yang telah usang. Evelyn membukanya dan ada sepiring nasi yang sudah keras tanpa berfikir lagi Evelyn pun segera mengambilnya walaupun rasanya sudah tidak enak.
Pagi hari suara burung telah berkicauan dan seorang pria tampan sudah menuruni anak tangga untuk sarapan bersama keluarganya, menuju ruang makan lalu menyapa kedua orang tuanya.
"Pagi Mami dan Papi" sapanya lalu duduk di kursi.
"Pagi juga sayang" jawab Eliana yang sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Dan Tuan Vikram hanya menganggukkan kepalanya, lalu dari arah tangga turunlah seorang gadis cantik dia pun menghampiri ruang makan untuk ikut sarapan bersama juga.
"Pagi Mami dan Papi"ucapnya lalu mengecup kedua pipi orang tuanya.
"Eh anak gadis Mami sudah cantik"puji Eliana.
"Iya dong Mami"
Lalu mereka pun sarapan bersama setelah selesai sebelum pergi Eliana pun mengatakan sesuatu kepada Yehezkiel yang membuatnya kesal di pagi hari.
__ADS_1
"Kiel, kapan kau akan menikah? Mami ingin gendong cucu"ucapnya dengan wajah memelasnya.
"Mami, jangan bahas itu lagi jika aku sudah mendapatkan gadis yang cocok aku pasti akan menikahinya" jawab Yehezkiel dengan datarnya.
"Haish.. kau ini tidak ingat umur, Kiel harus kemana lagi Mami mencarikan gadis yang cocok untukmu. Semua yang Mami kenalkan kau selalu menolaknya atau kau membuatnya menangis"jawab Eliana yang tidak habis fikir dengan sikap putranya itu.
"Mami tenang saja, aku akan mengenal gadis cantik pada kakak" sahut Kezia.
Kezia Valdes Viktor adalah adik dari Yehezkiel Valdes Viktor, dia adalah seorang gadis yang cantik siapapun yang melihatnya pasti akan terpesona dengan kecantikannya. Tetapi dia memiliki kakak yang super posesif sehingga pria pun takut padanya dan tidak jadi mendekati sang adik.
"Zia, cukup apa lagi yang akan kau lakukan padaku hah! Tidak ada gadis yang cocok untukku, apa lagi teman-temanmu itu" kesal Yehezkiel.
"Kakak, kau jangan mengatakan hal itu! Apa kau sudah melihatnya?" Tanya Kezia dengan wajah polosnya.
"Haish.... sudahlah berdebat denganmu tidak akan ada habisnya, Mami, Papi, aku pergi bekerja dulu dan kau Zia cepat habiskan ssrapanmu. Jika tidak maka kau pergi naik taxsi saja" melangkah keluar.
"Mami, Papi...Zia pergi dulu"mengecup keduanya."Kakak tunggu aku!" Teriak Kezia lalu melangkah cepat keluar.
"Hati-hati Zia" ucap Eliana.
Kezia pun masuk ke dalam mobil dan duduk di samping sang kakak, Yehezkiel sibuk dengan ponselnya dia sedang membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya.
"Kakak, mau ya aku kenalkan pada temanku? Dia sangat cantik kak, baik dan juga pemberani pasti kakak akan menyukainya" oceh Kezia yang membuat telinga Yehezkiel semakin panas mendengarnya.
"Zia, sudah aku katakan jangan mengenalkan siapapun kepada kakak. Karena kakak tidak akan tertarik" ucapnya dengan nada lembut.
"Tetapi apa salahnya kakak mencobanya 'kan? Apa kakak tidak sayang lagi kepada Mami? Lihatlah Mami, Kak apa kau akan tega menyakiti hatinya?" Ucap Kezia yang mulai kesal dengan sikap kakaknya.
Yehezkiel pun terdiam tak butuh waktu lama mobil pun telah sampai di depan kampus lalu dia pun segera menyuruh Kezia keluar dari dalam mobil.
"Sudah sampai kampus, belajar dengan giat"ucap Yehezkiel.
"Akh, aku mempunyai kakak yang menyebalkan" umpatnya, lalu keluar dari dalam mobil.
Yehezkiel hanya menggelengkan kepalanya lalu mobil pun melaju ke perusahaan.
__ADS_1
Bersambung