
Keduanya bingung harus mengatakan apa kepada Eliana dan Eliana terus saja memohon kepada keduanya.
"Ayolah kak, Tuan Lukas apa kalian tega melihat kedua temanku terluka saat perjalanan pulang?ucap Eliana memohon.
"Tetapi Nyonya kenapa harus saya, Tuan Daniel 'kan ada!" Ucap Lukas hati-hati.
"Rumah kedua temanku berlawanan arah, jadi aku meminta tolong pada kalian berdua"sahut Eliana dengan wajah sedihnya.
Keduanya pun menghembuskan nafas kasarnya mana mungkin mereka sekejam itu terhadap wanita, dan pada akhirnya Tuan Daniel pun mengiyakan permintaan sang adik.
"Baiklah, kakak akan mengantar temanmu itu"jawab Tuan Daniel, sebenarnya dia malas tetapi demi sang adik dia mau melakukannya.
"Lalu Tuan Lukas bagaimana?"Menatap Lukas.
"Jika Tuan Daniel setuju, maka sayapun setuju Nyonya"jawab Lukas.
"Baiklah kalian berdua tunggu di sini, aku akan memanggil mereka"dengan wajah yang berbinar.
Tuan Daniel hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang adik, Eliana pun menghampiri keduanya dan mereka pun berdebat sangat panjang dan pada akhirnya keduanya pun memutuskan di antar oleh keduanya.
"Baiklah, kak dan Tuan Lukas ini kedua sahabatku kalian boleh mengantarnya"Ucap Eliana dengan tersenyum manis.
Tetapi tidak dengan kedua sahabat Eliana yang memasang wajah datarnya, Tuan Daniel pun menarik tangan Aini dan Lukas menarik tangan Fika, Eliana tersenyum penuh kemenangan lalu dia membalikkan badanya, saat membalikkan badanya dia terkejut saat dada bidang berada tepat di belakangnya.
"Aduh"ringgisnya, lalu mendongkakkan kepalanya."Vik, ternyata kau, aku pikir siapa"ucap Eliana yang mengusap lembut hidungnya.
"Apa kau menyuruh kakakmu dan Lukas yang mengantar kedua temanmu?"Tanya Vikram datar.
"Iya tidak masalah 'kan jika mereka di antar oleh Lukas?"Tanya Eliana balik.
"Tidak akan ada masalah, ayo hari sudah semakin malam dan semua tamu undangan telah pulang"menggenggam tangan Eliana.
Eliana patuh dia mengikuti langkah kaki Vikram sampai di kamar mereka pun membersihkan tubuhnya masing-masing, lalu naik ke ranjang menuju alam mimpi.
Matahari bersinar suara burung pun berkilauan begitu juga dengan Vikram saat ini dia telah bangun, tetapi berbeda dengan Eliana yang masih terlelap.
"El, bangunlah apa kau tidak pergi ke kantor?"Tanya Vikram, dia mengusap lembut rambut Eliana.
"Hmmmm, aku masih ngantuk"ucap Eliana yang masih memejamkan matanya.
"Sayang ayo bangun!"Bujuk Vikram yang mencubit hidung Eliana.
Eliana segera menepis tangan Vikram.
"Kau ini kenapa sih, sudah aku bilang aku lelah masih saja menggangguku"bentak Eliana.
__ADS_1
Vikram terkejut dengan ucapan Eliana tidak biasanya dia bersikap seperti itu.
"El, kau tidak perlu seperti itu sayang, baiklah jika kau lelah aku tidak akan mengganggumu" melangkah keluar dari kamarnya.
Mata Eliana berkaca-kaca seperti ingin menangis melihat Vikram meninggalkannya.
"Hiks hiks kau kejam Vikram, kau tidak menyayangiku lagi"ucap Eliana dengan air mata yang menetes.
Baru satu langkah Vikram akan keluar lagi dan lagi di kejutkan oleh sikap Eliana yang tiba-tiba menangis, Vikram menghampiri Eliana.
"El, kenapa kau menangis sayang?"Tanya Vikram khawatir.
"kau marah padaku 'kan? Jadi kau meninggalkan aku hiks hiks"Isak tangis Eliana.
Vikram semakin tidak mengerti bukankah tadi dia sendiri yang membentak Vikram kenapa sekarang Vikram yang di salahkan olehnya, aneh! Ada apa sebenarnya dengan sikap Eliana saat ini yang selalu berubah-ubah dan membuat Vikram serba salah.
"Tidak sayang, aku tidak marah padamu, aku harus ke kantor karena Lukas sudah menungguku"jawab Vikram yang mengusap air mata Eliana.
"Benarkah? Kau tidak bohong padaku 'kan!"Tanya Eliana dengan wajah yang berbinar.
"Iya sayang, aku keluar dulu ya"mengecup kening Eliana.
"Tunggu dulu"tahan Eliana.
"Ada apa sayang"
"Ada apa El?" Tanya Vikram.
"Gendong aku"rengek Eliana.
Vikram menepuk keningnya entah kenapa hari ini Eliana begitu manja kepadanya, tetapi Vikram pun menggendongnya.
"Kau harus mencuci wajahmu dulu, baru kita keluar untuk sarapan bersama"mengajak ke kamar mandi.
Eliana pun mencuci wajahnya dan juga sikat gigi setelah selesai, dia pun meminta Vikram untuk menggendongnya lagi. Vikram hanya bisa menghembuskan nafasnya karena jika menolak Eliana akan menangis lagi.
Menuruni anak tangga menuju ruang makan Eliana masih di gendong, namun bukan seperti anak monyet tetapi dia lebih menyukai di gendong di belakang seperti bakul jamu.
Di sana sudah ada Lukas yang menunggunya melihat hal itupun Lukas menahan tawanya, lalu Vikram menurunkan Eliana di kursi meja makan.
Bi Helen pun sempat terkejut melihat tingkah laku kedua majikannya, lalu bi Helen menyiapkan sarapan seperti biasanya.
Vikram memulai sarapannya tetapi tidak dengan Eliana yang hanya menatap nanar ke arah sarapan tersebut.
"Kenapa kau tidak memakannya?"Tanya Vikram.
__ADS_1
Eliana menggelengkan kepalanya lalu mendorong piring yang berisi sarapan tersebut.
"Aku tidak mau ini"menundukkan kepalanya.
"Lalu kau ingin sarapan apa?"
"Aku ingin makan rujak yang pedas juga mangga mudanya"ucap Eliana yang kini meremas kedua tangannya.
Vikram mengerutkan keningnya saat Eliana meminta makanan yang seperti itu dan lagi pula ini masih pagi mana ada orang yang menjual makanan yang diminta Eliana.
"El, ini masih pagi sayang siapa yang akan menjualnya!"Ujar Vikram."Sekarang kau makan sarapan ini dulu,nanti siang kau bisa mencarinya" bujuk Vikram.
Eliana tidak menjawab dia malah diam saja dan Vikram sudah waspada saja dengan sikap Eliana saat ini.
Tidak terasa bulir bening pun jatuh di wajah cantik Eliana, dan terdengar lagi Isak tangis dari Eliana. Vikram hanya bisa mengusap kasar wajahnya dia tidak tahu harus bagaimana lagi membujuk Eliana, lalu dia pun memanggil hi Helen.
"Bi Helen...bibi kemarilah"panggil Vikram.
Lukas tidak bisa menahannya lagi tanpa sengaja di pun cengengesan, dan membuat mata elang Vikram menatap tajam ke arahnya.
"Diam kau, atau aku akan melemparmu ke kandang macan"kesalnya.
Dengan cepat Lukas pun membungkam mulutnya, lalu bi Helen menghampiri majikannya.
"Ada apa Tuan?"Tanya bi Helen sopan.
"Bibi tolong belikan apa yang di minta Nyonya, aku ahrus pergi ke kantor"melihat jam di pergelangan tangannya.
"Baik Tuan"
"Sayang aku pergi ke kantor dulu ya, kau istirahat di rumah"mengecup kening Eliana.
"Iya"
Vikram pun melangkahkan kakinya meninggalkan Eliana di meja makan dan di susul oleh Lukas. Setelah kepergian Vikram, Bi Helen pun menghampiri Eliana.
"Nyonya menginginkan apa?"Tanya bi Helen sopan.
"Aku ingin makan rujak Bi, yang pedas juga ada mangga mudanya, sepertinya itu enak Bi"jawab Eliana yang membayangkannya."Bibi tolong belikan ya, aku ingin makan itu"ucap Eliana lagi dengan wajah memohonnya.
Bi Helen pun bingung mana dia harus mencarinya karena ini masih sangat pagi dan belum ada, terpaksa Bi i Helen harus mencarinya ke pasar.
"Nyonya tunggu di sini saja, Bi hi akan mencari"ucap Bi Helen.
"Baiklah bibi, aku menunggumu"jawab Eliana dengan tersenyum manis.
__ADS_1
Bi Helen pun meninggalkan Eliana lalu dia bergegas menuju dapur karena dia akan pergi ke pasar.
Bersambung