Di Nikahi Tuan Muda

Di Nikahi Tuan Muda
Season 3


__ADS_3

Wanita paruh baya itu menghampirinya dan mendekati gadis itu.


"Kau tidak apa-apa nak?" Tanya wanita paruh baya itu.


"A- aku ti-tidak apa-apa Nyonya." Nyonya jawabnya dengan gugup.


"Syukurlah, terima kasih kau telah menolongku"


"Iya Nyonya, hanya itu saja yang bisa aku lakukan. Nyonya tidak terluka 'kan?" Menarik nafas dalam-dalam."Jika Nyonya tidak terluka, saya harus pergi dulu Nyonya." Membungkuk hormat.


"Akh.. Aku tidak apa-apa, sekali lagi terima kasih ya." Tersenyum manis."Siapa namamu?"


"Eve, Nyonya!" Sahutnya, lalu dia mendorong lagi gerobak yang sempat dia tinggalkan.


"Baiklah, aku sudah mengingatmu."Tersenyum manis."Jika ada waktu apa aku bisa mengunjungimu?" Tanya Wanita paruh baya itu.


Evelyn pun menghentikan langkahnya saat wanita paruh baya itu bertanya lagi.


"Tidak. Eh maksud saya begini, kita membuat janji saja Nyonya bertemu di taman kota saja jika Nyonya ingin bertemu dengan saya" ucap Evelyn gugup.


"Oh... Baiklah! Bagaimana kalau besok kita bertemu lagi?" Ajaknya dengan senyum manisnya.


"Eh besok? Emmm...Baiklah di taman kota Nyonya, kalau begitu saya permisi Nyonya hari sudah semakin sore." Kembali mendorong gerobak mie ayam tersebut.


"Baiklah hati-hati di jalan"


Evelyn pun menganggukkan kepalanya lalu dia melangkah lebih dulu meninggalkan wanita paruh baya itu. Dan supirnya menghampirinya karena sempat pingsan di pukuli oleh preman tersebut.


"Nyonya tidak apa-apa?" Tanya supir itu khawatir.


"Tidak apa-apa, ayo kita pulang"jawabnya.


Mereka pun pulang kembali ke rumah Valdes dan Nyonya besar itu tak lain dan tak bukan adalah Eliana Valdes istri dari Vikram. Dengan senyuman yang terpancar di wajah cantiknya Eliana pun masuk ke dalam rumah mewah tersebut dan dia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan suaminya.


"Sayang, hari ini kau tahu tidak?"


"Tidak tahu."


"Ish... Kau ini dengarkan aku dulu, hari ini aku hampir saja di jambret sayang." Ucap Eliana.

__ADS_1


Vikram pun begitu khawatir kepada Eliana lalu dia mengecek seluruh tubuh Eliana juga kepala dan wajahnya.


"Tetapi kau tidak apa-apa sayang."Ucap Vikram yang menatap datar Eliana.


"Iya aku memang tidak apa-apa, karena ada yang menolongku sayang. Seorang gadis cantik yang baik dan sopan santun, ramah sekali." ucap Eliana dia membayangkan wajah cantik Evelyn.


"Lalu siapa namanya?"


Sejenak Eliana berfikir siapa nama gadis yang telah menolongnya tadi, beberapa detik kemudian Eliana pun bisa mengingatnya.


"Namanya Eve, sayang!"


"Eve? Siapa Eve? Pria atau wanita?" Vikram menautkan kedua alisnya, dia mulai posesif.


"Wanitalah sayang, tadi 'kan aku sudah mengatakannya." Memutar bola matanya malas.


"Oh baiklah, Iya sudah kau sudah mengucapkan terima kasih padanya?"


"Sudah sayang. Sayang bagaimana kalau gadis itu kita jodohkan dengan Kiel, pasti cocok."Usul Eliana.


"Apa kau yakin dengan idemu kali ini? Kau 'kan tahu jika Kiel itu sangat dingin dan juga datar melebihiku."


"Pasti sayang aku akan membujuknya"


Mereka berdua pun melangkah menuju kamar untuk beristirahat.


Di tempat berbeda kini Evelyn sudah merapikan barang yang sudah dia pakai untuk berjualan bahkan sudah di cuci sampai bersih. Baru saja dia akan duduk sudah ada telapak tangan yang menegadah ke hadapannya siapa lagi jika bukan bibinya yaitu Sherly yang selalu meminta setoran kepada Evelyn.


"Mana hasil hari ini?"


Dengan terpaksa Evelyn pun merogoh dompet yang sudah usang lalu dia mengambil uang tersebut, tetapi bagi Bibi Sherly itu sangat lama dan membuat merebut dompet milik Evelyn.


"Lama sekali sih hanya mengambil uang saja." Mengeluarkannya dan menghitungnya.


Setelah puas mendapatkan hasilnya lalu dia melemparkan dompet itu tepat ke wajah Evelyn, sebelum bibi Sherly melangkah Evelyn memanggilnya.


"Bibi, aku minta bagianku untuk adikku. Pasti dia belum makan." Ucap Evelyn ragu.


"Hei, jika ingin mendapatkan uang maka bekerjalah, jangan jadi pemalas." Ketus Bibi Sherly.

__ADS_1


"Tetapi bibi, dia belum makan Bi. Aku minta bagianku Bi tolong." Ucap Evelyn, dengan raut wajah sedihnya.


"Tidak ada, ini untuk membeli bahan-bahan, kau fikir berjualan mie ayam tidak memakai uang untuk membeli semuanya hah."Kesal bibi Sherly."Pergi sana, jangan menggangguku." Usir bibi Sherly.


Hati Evelyn sakit mendengar perkataannya dari bibi Sherly karena tidak biasanya bibi Sherly bersikap seperti itu, tanpa sadar air matanya pun jatuh lalu dia pun mengusap kasar air matanya dan membalikkan badannya.


Saat berbalik Evelyn terkejut karena Jeslyn sudah berdiri di hadapannya yang berarti dia sudah mendengar pembicaraannya dengan bibi Sherly. Dengan cepat Evelyn menghampirinya dan mensejajarkan tubuhnya agar bisa sejajar dengan Jeslyn.


"Sayang apa kau sudah makan?" Tanya Evelyn dengan senyum manisnya.


"Kakak jangan menangis lagi, Jes tidak lapar kak."Mengusap pembuat air mata Evelyn.


Evelyn tersenyum kecut mendengar ucapan dari Jeslyn yang mengatakan jika dirinya tidak lapar, lalu Evelyn pun memeluk erat Jeslyn.


"Maafkan kakak sayang, Kakak belum bisa menjadi kakak yang baik untukmu. Tetapi kakak akan berusaha semampu kakak agar kau tidak kelaparan lagi." Memeluk erat Jeslyn.


"Tidak apa-apa kak, Jes anak baik dan akan patuh kepada kakak." tersenyum polos.


Evelyn pun menganggukkan kepalanya setelah dia melepaskan pelukkannya."Iya sudah lebih baik kau beristirahatlah."


"Iya kak, Jes sudah mengantuk."


"Iya sayang"


Jeslyn pun masuk ke dalam kamarnya dan Evelyn menatap punggung kecil milik adiknya yang perlahan menghilang karena masuk ke dalam kamarnya. Evelyn menarik nafasnya dalam-dalam dia tidak tahu harus bagaimana lagi, karena dia sendiri tidak punya saudara lagi selain bibi Sherly.


Evelyn pun masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya lalu dia pun memejamkan matanya.


Kesokkan paginya mentari telah bersinar seperti biasa dan pagi ini Evelyn telah mendorong gerobaknya untuk berjualan. Setelah kepergian Evelyn, suhu badan Jeslyn tiba-tiba saja panas lalu gadis kecil itu keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan Evelyn. Namun dia tidak menemukannya karena Jeslyn tahu jika sang kakak sudah pergi untuk berjualan, di kamar Jeslyn melihat bibi Sherly sedang merias dirinya dan Jeslyn menghampirinya.


"Bibi tolong aku, badanku panas kepalaku juga pusing bawa aku ke dokter Bi." Ucap Jeslyn dengan wajah pucatnya.


"Alah.. Kau ini manja sekali harus pergi ke dokter, memang kau fikir punya uang hah!" Bentak Bibi Sherly.


"Tetapi bibi, badanku tidak enak tolong bibi." ucapnya lagi dengan mengatupkan kedua tangannya.


"Sudah sudah, kau ini berisik sekali masuk ke kamarmu sana, mengganggu saja." Usir bibi Sherly.


Dengan langkah gontai pun Jeslyn keluar dari kamar bibi Sherly, bukan menuju kamarnya tetapi dia pergi untuk mencari sang kakak karena suhu badannya semakin panas. Jeslyn berjalan gontai sambil mengedarkan pandangannya dia tidak tahu kemana Evelyn berjualan karena ada banyak tempat yang biasa di kunjungi Evelyn sampai akhirnya dia.

__ADS_1


"Awas........."


Bersambung


__ADS_2