Di Nikahi Tuan Muda

Di Nikahi Tuan Muda
Season 3


__ADS_3

Mobil telah sampai di depan rumah sakit lalu sebelum keluar dari dalam mobil Evelyn pun mengucapkan terima kasih karena sudah mengantarnya.


"Papan gilingan terima kasih sudah mengantarku."Sahut Evelyn yang akan bergegas keluar, tetapi tangannya di tahan oleh Yehezkiel."Apa lagi papan gilingan!" Ucap Evelyn yang mengerutkan keningnya.


"Sudah aku katakan namaku bukan papan gilingan, apa kau tidak mengerti." Kesal Yehezkiel.


Menghembuskan nafas kasarnya."Baiklah Tuan Yehezkiel, sekarang kau bisa lepaskan aku 'kan?"


"Tentu saja." Ucapnya gugup, dia tidak bisa berlama-lama melihat wajah cantik Evelyn, tetapi tangannya belum melepaskan tangan Evelyn.


"Papan gilingan kenapa masih belum di lepas? Atau kau tidak mau jauh dariku 'kan! Goda Evelyn yang membuat Yehezkiel dengan cepat melepaskannya.


"Siapa yang mau dekat denganmu gadis gerobak bau ayam lagi." Ketusnya, padahal dia sangat gugup dan memalingkan wajahnya.


"Yakin?" Menaik turunkan alisnya.


"Sudah cepat kau keluar, jangan sampai aku melemparmu." Usir Yehezkiel yang salah tingkah.


"Baiklah papan gilingan, jangan sampai kau rindu padaku ya." Keluar dari dalam mobil.


Setelah Evelyn keluar mobil pun melesat dengan cepat, karena hari sudah semakin sore. Selama perjalanan Yehezkiel dia saja tetapi fikirannya tertuju pada wajah cantik Evelyn.


"Akh... Aku bisa gila, kenapa juga harus dia."Kesalnya frustasi dan menjambak rambutnya.


"Ada apa Tuan? Apa kau pusing dengan pekerjaan di kantor?" Tanya Chris yang sudah sampai di depan rumah mewah Yehezkiel.


"Berisik kau menyetirlah dengan benar." Memukul kursi kemudi dari belakang.


"Hei Kiel, apa yang harus aku setir lagi. Apa kau tidak lihat?" Mendengus kesal.


Yehezkiel pun mengedarkan pandangannya jika dia sudah sampai lalu dengan sikap sombongnya dia pun keluar dari dalam mobil dan Chris pun melajukan kembali mobilnya itu.


Masuk ke dalam rumah dan dia sudah di sambut oleh sang Mami yang sedang berkumpul bersama suami dan juga adiknya.


"Kiel, kau sudah pulang nak, kemarilah!" Ucap Nyonya Eliana dengan semangat.


Dengan langkah malasnya Yehezkiel pun menghampirinya dan duduk di samping Nyonya Eliana."Ada apa Mami? Apakah ada hal penting?"


"Ada apa dengan wajahmu, tidak seperti biasanya? Apa kau baik-baik saja?" Nyonya Eliana memegang kening Yehezkiel.


Yehezkiel melepas tangan Nyonya Eliana yang menempel di keningnya."Sudahlah Mami, aku baik-baik saja."


"Baiklah, Mami ingin bertanya padamu. Apa kau mau mendengarkan Mami?" Nyonya Eliana memastikannya kembali.


"Baiklah, katakan saja Mami." Menghembuskan nafas kasarnya.


"Mami dan Papi ingin mengenalkan kamu dengan seorang gadis cantik, dia juga gadis yang baik Kiel. Mami harap kamu..." Belum selesai mengatakannya dengan cepat Yehezkiel memotongnya.

__ADS_1


"Jadi Mami ingin aku memiliki kekasih setelah bertemu dengan gadis itu, yang pernah Mami bilang itu 'kan? Tidak Mami, Kiel tidak mau." Tolak Yehezkiel.


"Kakak apa salah jika kalian saling bertemu dulu." Ucap adik Yehezkiel.


"Anak kecil kau diam saja." Sahutnya ketus.


"Kak, aku ini adikmu, kenapa kau begitu." Mendengus kesal.


Nyonya Eliana dan Tuan Vikram hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Yehezkiel seperti itu.


"Kiel, kau jangan seperti itu kepada adikmu." Ucap Tuan Vikram.


"Sudahlah Mami dan Papi tidak perlu menjodohkanku dengan gadis itu, aku tidak tertarik." Bangun dari duduknya dan melangkah menuju kamarnya.


Nyonya Eliana hanya bisa menatap kepergian anaknya yang kini sudah menaiki anak tangga.


Keesokkan paginya tempat berbeda kini Evelyn sedang menyuapi Jeslyn, setalah selesai memakan makanannya. Pintu terbuka dan dokter pun masuk ke dalam ruangan Jeslyn untuk memeriksa keadaannya saat ini.


"Bagiamana perasaanmu hari ini adik kecil apa sudah lebih baik?" Tanya dokter Dolly.


"Sudah dokter, bahkan aku sudah sembuh." Jawabnya sambil tersenyum polos.


"Syukurlah, hari ini kau boleh pulang. Nona adikmu sudah boleh pulang hari ini." Ucap dokter Dolly kepada Evelyn.


"Baik dok terima kasih."Jawabnya." Jes, kau tunggu di sini sebentar, kakak akan ke administrasi dulu."Ucapnya lalu mengusap lembut rambut Jeslyn.


Evelyn melangkahkan kakinya lalu, Dokter Dolly pun memanggil kembali.


"Nona tunggu semua adminitrasinya sudah di bayar, jadi kalian bisa langsung pulang." Tutur dokter Dolly.


"Benarkah dok? Jika boleh tahu siapa yang melunasinya dok? Aku ingin mengucapkan terima kasih padanya." Ucap Evelyn terkejut sekaligus bersyukur.


"Nona kau tidak perlu repot-repot mengatakan hal itu, karena dia orang yang sangat sibuk jadi tidak ada waktu." Jawab dokter Dolly.


"Oh begitu dok, baiklah sekali lagi terima kasih." Sedikit membungkukkan badannya.


"Sama-sama Nona, kalau begitu saya permisi dulu." Pamit dokter Dolly.


"Iya dokter silahkan!"


Dokter Dolly pun melangkah keluar dari ruangan Jeslyn, lalu Evelyn pun membereskan barang-barangnya karena dia akan pulang bersama Jeslyn.


Kini Evelyn dan Jeslyn sudah sampai di depan rumah bibi Sherly, tetapi rumah tersebut sangat sepi sekali dan tidak ada penghuninya. Karena selam beberapa hari ini Evelyn selalu pulang pergi ke rumah sakit untuk menjaga Jeslyn, jadi dia tidak tahu apakah bibinya sering pulang atau tidak ke rumah tersebut sedangkan sang paman tidak pernah pulang, karena dia sibuk bermain judi dengan temannya.


Baru saja membuka pintu sudah ada beberapa orang berpakian serba hitam serta seorang wanita paruh baya menghampirinya.


"Sherly cepat kau keluar, bayar hutangmu."Teriak pria yang memakai jas hitam.

__ADS_1


Lalu dia pun menyuruh Jeslyn untuk masuk ke dalam rumah agar beristirahat."Jes, lebih baik kau masuk ke dalam dan beristirahatlah, biar kakak yang akan mengurusnya."


"Baik kak." Jawab Jeslyn cepat, lalu dia melangkah masuk ke dalam.


Evelyn pun menoleh."Maaf Tuan ada apa?"


"Dimana Sherly? Dia belum bayar hutang kepada bos kami." Ucapnya dengan garangnya.


Evelyn hanya bisa menelan salivanya, entah hutang apa lagi yang di lakukan oleh bibinya sehingga ada orang yang menagihnya.


"Maaf sebelumnya, bibi saya mempunyai hutang apa ya kalau boleh tahu."Tanya Evelyn sopan.


"Kau siapa?" Tanya wanita paruh baya itu dengan ketusnya.


"Aku keluarganya Tante, lalu berapa hutang bibi saya?" Jawab Evelyn lagi.


"Heh! Apa kau sanggup membayarnya hah!" Ucapnya sinis.


"Akan saya usahakan Tante."Jawab Evelyn.


"Baiklah jika kau sanggup membayarnya serta bunganya."Jawabnya lagi, dan dia meminta anak buahnya untuk memberikan isi perjanjian itu dan memberikannya kepada Evelyn.


"Bacalah ini dengan teliti." Memberikan kertas perjanjian kepada Evelyn.


Dengan perasaan takut juga campur aduk menjadi satu tangan Evelyn pun meraih kertas tersebut dan membacanya. Kata demi kata dia baca dan membuatnya semakin sesak entah apakah dia sanggup untuk membayarnya.


Evelyn menelan salivanya dia tidak tahu harus bagaimana membayar hutang bibinya, jika dia membayar hutang maka dia tidak bisa berjualan lagi. Tetapi jika tidak di bayar pasti akan di usir dari rumahnya, karena Bibi Sherly mengadaikan rumahnya sebagai jaminan jika dia tidak sanggup membayarnya.


"Jadi bagaimana? Apa kau bisa membayarnya?" Tanyanya lagi yang sudah tidak sabar.


"Emm bagaimana kalau sa- saya mencicilnya Tante, karena it- itu sa- sangat banyak sekali da-dan saya hanya bisa mencicilnya saja." Ucap Evelyn terbata-bata.


" Apa kau bilang ingin mencicilnya, tidak bisa kau pasti akan kabur sama seperti bibimu itu. Bayar sekarang atau kau keluar dari rumah ini!" Bentaknya.


"Jangan Tante, saya mohon berikan saya waktu untuk melunasinya."Ucap Evelyn yang bersimpuh di kakinya.


"Kalian semua keluarkan barang-barangnya." Dia tidak mendengarkan Evelyn, dan menyuruh anak buahnya untuk masuk ke dalam rumah dan mengeluarkan barang miliknya.


"Jangan Tante aku mohon." Ucap Evelyn dengan air mata yang sudah membahasi wajah cantiknya.


"Enyalah kau dan juga anak kecil itu."Mendorong Evelyn sehingga dia pun terjatuh.


"Kakak hiks hiks Jes, takut." Isak tangis Jeslyn yang ketakutan.


Dengan cepat Evelyn memeluknya."Tidak apa-apa, kakak ada di sini."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2