
Seminggu sudah Evelyn lalui semenjak kejadian itu dia benar-benar menjaga jarak dari Yehezkiel dan juga Nyonya Eliana.
Tidak hanya itu, dia bahkan berniat ingin mengundurkan diri dari perusahaan terkutuk itu. Karena dia merasa telah di jebak, saat mengatakan ingin mengundurkan diri kepada Yehezkiel.
Tentu saja dia sangat marah karena Evelyn tidak bisa bekerja dengan kompeten dan Yehezkiel meminta agar Evelyn membayar uang denda yang cukup membuat mata Evelyn membulat.
“Jika kau ingin mengundurkan diri maka kau harus membayar uang denda itu.”Tutur Yehezkiel santai di kursi kebesarannya itu.
“Apa? Kau memerasku heh! Kau fikir aku bodoh dengan trik murahanmu.”Ucap Evelyn menatap tidak suka.
Yehezkiel pun mengeluarkan surat kontrak milik Evelyn dan melemparkannya tepat ke wajahnya, dan membuat Evelyn reflek menangkapnya.
“Baca dengan teliti isi kontrak tersebut.”Menatap datar.
Evelyn pun menatap surat kontrak itu dan membaca setiap lembarnya, dan betapa bodoh dirinya saat di terima dia tidak membaca detailnya sehingga membuatnya rugi sendiri.
“Apa kau bercanda, harus membayar denda sebanyak ini.”Menatap sinis.
Menghembuskan nafas kasarnya.”Perusahaanku hanya menerima orang yang berkompeten dalam bekerja, jika tidak suka maka bayar dendanya saja.”
Evelyn menggeretakkan giginya karena kesal lalu dia menaruh kembali surat kontrak itu dan melangkah keluar dari ruangan Yehezkiel.
Kembali ke ruangannya dengan raut wajah kesalnya dan dia pun duduk di kursinya sambil menopang dagu.
Lalu seorang wanita dengan memakai kacamata tebalnya menegur Evelyn.
“Sudahlah jalani saja, daripada kau harus membayar denda itu.”Ujarnya menepuk bahu Evelyn.
“Lalu aku harus bagaimana? Dena, apa kau bekerja paruh waktu, ajaklah aku agar aku bisa membayar denda tersebut.”Menggenggam tangan Dena.
“Apa kau yakin Eve? Ingin bekerja paruh waktu?”Dena meragukan Evelyn.
“Iya aku sangat yakin.”Ucapnya mantap.
“Baiklah, aku akan menghubungimu nanti malam. Sekarang kau lanjutkan pekerjaanmu, jangan sampai bos tahu.”Ucap Dena yang langsung kembali mengerjakan pekerjaannya.
Malampun tiba kini Evelyn sudah siap dengan pakaian yang dia kenakan, memakai kaos dan juga celana panjang serta memakai jaket juga. Evelyn sudah menunggu Dena sedari tadi, cukup lama dia menunggu tetapi Dena belum datang juga.
“Dena kemana, apakah aku harus menunggunya bahkan ini sudah malam.”Melihat jam yang melingkar di tangannya.
Tak lama sebuah mobil pun berhenti tepat di hadapan Evelyn dan membuatnya mengerutkan keningnya.
Dena keluar dari dalam mobil dengan pakaian seksinya dan juga bagian gunung kembarnya terlihat menyembul keluar.
“Eve, ayo masuk ke mobil. Kita sudah terlambat.”Mengajak Evelyn masuk ke dalam mobil.
Mobil pun melaju menebus jalanan kota pada malam hari pemandangannya lebih indah karena banyak lampu-lampu jalanan yang berkelip. Mobil telah sampai di sebuah tempat yang begitu asing bagi Evelyn, lalu Dena pun keluar lebih dulu.
__ADS_1
“Eve, kita sudah sampai, ayo keluarlah.”Ucap Dena yang keluar lebih dulu.
Tetapi Evelyn tidak keluar dia malah mengerutkan keningnya saat Dena mengajaknya ke Club malam, dimana banyak orang yang datang. Melihat Evelyn diam saja lalu Dena memutari mobil dan membuka pintu mobil, lalu menarik tangan Evelyn.
“Dena, kenapa kita ke sini, kau bilang akan mengajakku kerja paruh waktu.”Ucap Evelyn, yang mulai takut.
“Kau tenang saja Eve, ini tempat kerjaku dan orang di sini sangat mengenalku, jadi kau tidak perlu takut.”Menarik masuk ke dalam Club.
Dengan terpaksa Evelyn masuk ke dalam dan suara dentuman musik membuat telinganya sakit, juga banyak orang yang berpasangan serta ada yang menari. Evelyn ingin lari dari tempat terkutuk itu tetapi tangannya di tarik Dena.
“Dena kita mau kemana?”Tanya Evelyn yang merasa tidak nyaman.
“Kau mengatakan apa!”Dena tidak mendengar apa yang di katakan Evelyn, karena suara dentuman musik yang yang kencang.
Lalu seorang pria bertubuh buncit menghampiri Dena, dan memeluk Dena. Lalu Dena berbisik kepada pria buncit itu, dan Dena pun mengajak Evelyn untuk duduk.
“Ayo kita duduk di sana.”Menunjuk salah satu sofa.
Evelyn mengikutinya dari belakang walaupun berdesak-desakkan tetapi akhirnya Evelyn bisa melewatinya. Mereka pun duduk lalu Dena pun berpamitan kepada Evelyn karena dia sudah di panggil oleh pelanggannya.
“Eve, kau tunggu di sini dulu. Aku akan menemani pelangganku karena dia sudah menunggu.”Bangun dari duduknya.
“Dena jangan tinggalkan aku, aku takut sendirian di sini.”Menarik tangan Dena.
“Kau tenang saja, tidak ada yang akan mengganggumu Eve.”Melepaskan tangan Evelyn, lalu berjalan meninggalkannya.
“Cantik, kau sendirian saja.”Godanya dengan mengedipkan sebelah matanya.
Evelyn tidak menjawab dia berharap Dena cepat kembali.
Di tempat yang berbeda kini Yehezkiel bersama dengan Chris sedang dalam perjalanan pulang. Entah kenapa sudah seminggu ini dia merasa jika Evelyn sedang menjauh darinya, dan hal itu membuat kepala Yehezkiel pusing apa lagi jika dia pulang ke rumah utama pasti Nyonya Eliana akan bertanya terus tentang Evelyn.
“Kiel, kau akan pulang kemana? Ke rumah utama atau ke apartementmu?” Tanya Chris yang sedang melajukan mobilnya.
“Kita ke apartement saja, tetapi tunggu lebih baik kita ke Club saja. Aku ingin menenangkan fikiranku saat ini.”Ujar Yehezkiel yang memijat pelipisnya.
“Kenapa harus ke Club, itu tidak bagus untukmu Kiel. Lebih baik ke apartement saja.”Tutur Chris yang tidak ingin ke Club.
“Berisik kau mau mengantarku atau tidak, jika tidak kau lebih baik keluar dari mobilku.”Ketus Yehezkiel.
Chris hanya bisa menghembuskan nafasnya karena percuma saja mengatakan apapun kepada Yehezkiel, karena dia tidak akan mendengarkannya. Mobil pun melaju ke Club malam dan telah sampai, lalu Yehezkiel pun keluar lebih dulu dan Chris menyusul.
“Kiel, kau tidak boleh banyak minum.”Ucap Chris yang kini telah masuk ke dalam Club tersebut.
“Sudahlah, aku tahu itu jadi kau tidak perlu mengatakan apapun lagi kepadaku.”
Berjalan masuk ke dalam Club tersebut, semakin malam Club semakin ramai dengan banyaknya orang yang berdatangan.
__ADS_1
Dan seperti biasa Yehezkiel bersama Chris selalu memesan ruangan khusus untuk mereka berdua, karena mereka tidak ingin di ganggu oleh kupu-kupu malam.
Di ruangan khusus Evelyn sedang ketakutan karena pria bogel itu mendekat ke arahnya dan membawakan minuman untuknya.
“Cantik minumlah ini, kau pasti akan ketagihan.”Ucapnya dengan memberikan gelas kecil kepada Evelyn.
“Ti-tidak Tu-Tuan, aku tidak meminumnya.”Tolak Evelyn, dia tersenyum canggung.
“Ayolah, kau pasti akan merasakan kenikmatan yang tiada duanya.”Memaksa Evelyn.
“Maaf Tuan.”
Pria bogel itupun kesal dengan sikap munafik Evelyn, lalu dia pun mencengkram kedua pipi Evelyn dan memaksa meminumnya. Diapun menggelengkan kepalanya sehingga minuman tersebut tumpah mengenai tangan pria itu dan juga pakaian Evelyn pun basah.
“Ukh..Ukh..”Evelyn pun terbatuk.
Plak...
“Dasar gadis j*****g tidak tahu diri, berani kau mengotori bajuku.”Pria bogel itupun murka melihat Evelyn menolaknya.
Evelyn pun mengusap bibirnya yang basah dan juga memegang pipinya yang memerah akibat di tampar oleh pria itu.
“Tuan maafkan saya, tetapi saya bukan gadis seperti itu.”Bersimpuh di kaki pria bogel itu.
“Heh sekali j*****g tetaplah j*****g, kau begitu lebih baik kau temani aku.”Menarik paksa rambut Evelyn.
Sehingga dia meringis kesakitan.
“Tuan ampuni aku, tolong jangan sakiti aku.”Memegang tangan pria bogel itu.
Tetapi pria itu tidak menghiraukan perkatan Evelyn, dengan senyum smriknya dia terus menyeret Evelyn hingga melewati ruangan demi ruangan.
“Tuan tolong jangan paksa saya, hiks hiks.”Air mata Evelyn pun mulai menetes.
“Diam kau, aku tidak peduli apa perkataanmu. Dan malam ini kau harus menemaniku.”Ucapnya yang mulai masuk ke dalam kamar yang sudah dia sewa.
Menyeret Evelyn dan melemparnya ke atas kasur, lalu pria bogel itupun mengukung tubuh Evelyn dan dia tidak bisa bergerak kemanapun.
“Tolong Tuan lepaskan saya.”Isak tangis Evelyn.
Tetapi pria bogel itu tidak perduli dia terus melajutkan aksinya dan sebuah tendangan membuatnya pun mengangkat wajahnya.
Brakkk....
Bersambung
__ADS_1