
Bi Helen pun kembali dengan membawa rujak yang di inginkan Eliana, sedangkan Eliana sedari tadi sudah kesal menunggu makanan yang dia inginkan.
"Nyonya ini makanannya" ucap Bi Helen, memberikan pesanannya.
"Taruh saja Bi, aku sudah kenyang"sahut Eliana lalu bangun dari duduknya.
Bi helen pun mengerutkan keningnya bingung dengan Nyonya mudanya, lalu Eliana membalikkan lagi badanya.
"Bi belikan aku ketoprak saja, aku ingin makan ketoprak yang pedas bi"ucap Eliana, sampai menelan salivanya.
"Eh, baiklah Nyonya, bibi akan membelinya"bergegas keluar rumah.
Eliana melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju ke kamarnya lalu dia merebahkan tubuhnya di ranjang lalu mengambil ponsel yang ada di meja sebelahnya.
Eliana pun mencari kontak nama yaitu dengan nama 'Vikram dingin' lalu menekan tombol memanggil.
Sedangkan Vikram yang ada di ruang kerjanya pun terusik dengan panggilan tersebut, lalu mengambil ponselnya dan menjawab panggilan tersebut.
"Ada apa sayang?"
"Kapan kau pulang?"
"Seperti biasa, sore aku sudah sampai rumah"
"Baiklah"
Lalu Eliana menutup panggilan tersebut dengan wajah murungnya, lalu dia pun melempar ponsel tersebut.
"Kenapa harus pulang sore, padahal aku ada di rumah"gerutu Eliana."Vikram menyebalkan!"Keluhnya dengan mata yang sudah meneteskan air mata.
Sementara Vikram mengerutkan keningnya melihat tingkah Eliana yang berbeda.
"Kenapa dari pagi sikapnya berbeda, ada apa dengannya!" Gumam Vikram.
Dia pun melanjutkan pekerjaannya kembali, setelah berkutat cukup lama akhirnya Vikram pun selesai dengan pekerjaannya. Lalu dia keluar dari ruangannya menuju ruangan Lukas dan melihat Lukas yang senyum-senyum sendiri dan Vikram pun berdehem membuat Lukas segera menyimpan ponselnya.
"Ada apa denganmu? Apa kau sudah tidak ingin bekerja lagi!"Ucap Vikram datar.
"Eh tidak Tuan, baiklah ada pekerjaan apa Tuan"ucap Lukas yang bangun dari duduknya.
"Sudahlah, ayo kita keluar"melangkah lebih dulu.
Lukas hanya bisa mengikutinya dari belakang sesampainya di lobi Lukas menuju parkiran sedangkan Vikram menunggunya di lobi.
Masuk ke dalam mobil dan Vikram menyuruh Lukas untuk melajukannya menuju rumahnya.
"Lukas, kita pulang ke rumah, karena aku sangat khawatir dengan Eliana"ucap Vikram.
__ADS_1
"Baiklah Tuan"
Tak berapa lama mobil mewah pun telah sampai di kediaman Vikram, lalu dia bergegas keluar dari dalam mobil masuk ke dalam lalu dia mengedarkan pandangannya mencari Eliana.
Saat melewati ruang keluarga dia melihat Eliana sedang memakan makanannya, lalu Vikram menghampirinya dan menutup kedua mata Eliana dengan tangannya.
"Vikram, apa ini kau?" Ucap Eliana lalu dia memegang tangan kekar yang menutup kedua matanya.
Vikram pun melepaskannya lalu Eliana pun menoleh dengan wajah cemberutnya dan membuat Vikram bingung saja.
"Kenapa sayang, wajahmu kusut seperti itu"ucap Vikram mentap Eliana.
"Kau...mmphh"belum selesai Eliana mengatakannya, tiba-tiba saja perutnya terasa mual.
Dengan cepat Eliana pergi ke dapur lalu dia pun memuntahkan isi yang baru saja dia makan. Vikram yang melihat hal itupun segera menyusul Eliana yang sedang muntah.
"Hoekk hoekk"
"Kau kenapa El?"
Eliana menggelengkan kepalanya, cukup lama dia berada di wastafel dan setelah puas Eliana mencuci mulutnya dan Vikram yang sedari tadi memijat tengkukknya pun melepaskannya, lalu dia memapah Eliana menuju sofa kini wajahnya pucat dan Vikram semakin khawatir.
"Lukas cepat telepon dokter keluarga"titah Vikram.
Dengan cepat Lukas menekan tombol untuk memanggil dokter keluarga, sementara Eliana dia diam saja karena lelah lalu Vikram mengusap keringat di pelipisnya Eliana.
"Sayang bersabarlah" ucap Vikram mengecup punggung tangan Eliana.
"Lukas kenapa lama sekali"ucap Vikram yang sudah tidak sabar.
"Sabar Tuan sebentar lagi akan datang"
Lukas mencoba menangkan Vikram agar tidak terlalu khawatir, Vikram pun menatap Eliana yang memejamkan matanya.
Tidak berapa lama dokter keluarga pun datang lalu dia segera mencari Vikram lalu mengedarkan pandangan, saat melihat Lukas dokter Valdi pun segera menghampirinya.
"Siapa yang sakit Lukas?"Tanya dokter Valdi.
Sebelum Lukas menjawab Vikram sudah memanggilnya lebih dulu.
"Valdi, cepat kemari"titah Vikram.
Lalu dengan cepat dokter Valdi menghampiri Vikram yang sedang bersama Eliana yang sudah terlihat lemas.
"Astaga Vikram ada apa dengan kakak ipar"ucap Valdi yang khawatir melihat keadaan Eliana.
"Sudah aku bilang dia bukan kakak iparmu, cepat periksa dia"kesal Vikram.
__ADS_1
"Baiklah"
Dokter Valdi pun segera memeriksa Eliana, tetapi dia tidak begitu tahu penyebabnya, lalu dia menyarankan untuk ke dokter kandungan.
"Vik, aku tidak tahu dia sakit apa"ucap dokter Valdi.
"Apa kau bilang hah!"Menarik kerah baju dokter Valdi.
"Sabar Vik, aku akan menyuruhmu untuk periksa ke dokter kandungan saja, mungkin dia lebih tahu"ucap dokter Valdi.
Lalu Vikram pun melepaskannya dan segera menggendong tubuh Eliana yang lemah menuju mobilnya.
"Lukas cepat antar ke rumah sakit"titah Vikram dengan cepat.
Lukas pun mengikutinya dari belakang di susul oleh dokter Valdi, Vikram masuk ke dalam mobil dan Lukas pun melajukannya menuju rumah sakit keluarga Vikram.
Tak berapa lama mobil pun sampai di rumah sakit lalu Vikram pun berteriak memanggil suster.
"Suster cepat tolong istriku"teriaknya.
Lalu suster pun segera membawa brankar untuk Eliana yang kini sudah tak sadarkan diri akibat kelelahan. Dengan cepat dokter Valdi menyuruh suster untuk membawa Eliana ke poli kandungan.
Vikram pun mengikuti kemana arah berankar itu di bawanya sesampainya di depan ruangan yang bertuliskan dokter Mawar, dokter Valdi pun segera masuk ke dalam dan memberi tahu dokter Mawar.
Dengan segera dokter Valdi pun membawa brankar Eliana masuk ke dalam lalu dokter mawar segera memeriksa keadaan Eliana yang tidak sadarkan diri.
Cukup lama dokter Mawar memeriksa Eliana sampai pada akhirnya Eliana pun sadar, lalu dia mengerjapkan matanya karena silau oleh cahaya lampu.
"Aku dimana?"Ucap Eliana yang mulai mengedarkan pandangannya.
"Nyonya kau tenang saja, sekarang kau ada di rumah sakit"ucap dokter Mawar, dengan senyum manisnya.
"Di rumah sakit dok, dimana suami saya dok? Tanya Eliana.
"Suami Nyonya ada di depan, dia sedang menunggu, kalau begitu saya akan panggilkan sebentar Nyonya"ucap dokter Mawar, lalu melangkah keluar untuk memanggil Vikram.
Pintu ruangan terbuka dan dengan cepat Vikram menghampirinya sebelum dokter Mawar mengatakannya.
"Dokter, bagaimana apakah Eliana sudah sadar?"Tanya Vikram, yang langsung bertanya saat pintu di buka.
"Tuan tenang saja, Nyonya sudah sadar dan Tuan mari ikut saya masuk dan temani Nyonya"ucap dokter Mawar, lalu dia pun masuk ke dalam.
Dengan cepat Vikram pun segera mengikuti masuk ke dalam dan menghampiri Eliana, lalu dia mengusap lembut kepala Eliana.
"Sayang kau tidak apa-apa 'kan?"Tanya Vikram khawatir.
Dengan senyum manisnya Eliana menggelengkan kepalanya."Aku tidak apa-apa sayang"
__ADS_1
Dokter Mawar yang melihat hal itupun hanya tersenyum tipis melihatnya.
Bersambung