Di Nikahi Tuan Muda

Di Nikahi Tuan Muda
Season 3


__ADS_3

Deg....


Detak jantung Evelyn semakin cepat berdetak juga tubuhnya kini bergetar dia bukan takut menghadapi Yehezkiel tetapi dia gugup harus bagaimana nantinya. Setelah berbisik di telinga Evelyn, lalu Yehezkiel kembali duduk di kursi kebesarannya dan menatap Evelyn yang masih menundukkan wajahnya.


"Baiklah, aku tidak akan mempermasalah yang kemarin, karena kau ingin bekerja maka aku akan profesional." Ucap Yehezkiel, dia menarik nafas dalam-dalam." Baiklah Evelyn, mulai besok kau bisa bekerja di perusahaan ini dan jangan sampai terlambat, jika terlambat kau akan di hukum. Kau mengerti?"Tanyanya datar.


"Ba-baik Tuan, saya akan datang tepat waktu."Sahutnya yang masih gugup.


"Hei, kau tidak perlu gugup, dan tanda tangani surat kontrak kerjanya." Mengeluarkan sebuah surat kontrak kerja.


Evelyn pun mulai mengangkat kepalanya dan perlahan melangkah mendekati meja kerja Yehezkiel, lalu Yehezkiel meletakan ballpoint untuk Evelyn dan tanpa mengatakan apapun Evelyn langsung menandatanganinya. Dia tidak bertanya lebih dulu karena sangat gugup dan juga takut.


"Ini aku sudah tanda tangani." Memberikan kertas tersebut.


"Baiklah, apa kau tidak ingin membacanya terlebih dahulu. Kau langsung tanda tangan saja, bagaimana jika aku berbuat curang?"


"Tidak mungkin Tuan bisa berbuat seperti itu, Tuan itu orang yang baik." Jawab Evelyn dengan tersenyum, entah tersenyum terpaksa atau dia ketakutan.


"Baiklah, akan aku beri tahu, kau bekerja sebagai asistenku mulai besok. Dan jangan membantah apapun yang aku katakan." Tuturnya dingin.


"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu." Bangun dari duduknya.


"Hemm."


Evelyn pun segera keluar dari ruangan Yehezkiel, yang menurutnya semakin lama semakin sesak saja. Setelah keluar dia menarik nafas dalam- dalam karena di dalam sana udaranya terasa panas, walaupun suhu di ruangan itu sudah dingin.


"Haah,sudahlah tidak boleh menyerah lakukan saja. Sekarang aku harus pulang pasti Jes menungguku." Gumamnya, lalu melangkah untuk pulang.


Sampainya di rumah, Evelyn membuka pintu terlihatlah sang adik yang sedang tertidur pulas lalu Evelyn langsung ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.


Selesai dengan mandi kini Evelyn menuju dapur untuk memasak makanan untuk sang adik dan juga dirinya. Selesai memasak Evelyn pun membangunkan sang adik dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Jes bangunlah, ayo kita makan dulu." Ucap Evelyn yang mengusap lembut kepala Jeslyn.


"Ugh... Kakak sudah pulang, Jes sudah kelaparan sedari tadi menunggu kakak." Keluhnya lalu bangun dan duduk.


"Iya sayang, maafkan kakak, sekarang kau pergi mandi setelah itu kita makan bersama."


"Baik kak."

__ADS_1


Jeslyn pun menuruti kata Evelyn, dia pun bergegas ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian Jeslyn telah selesai dan menghampiri sang kakak yang sudah menunggunya.


"Ayo kak, Jes sangat lapar."


"Iya sayang."


Mereka berdua pun makan bersama walaupun makan seadanya saja, selesai makan Evelyn mencuci piring kotor dan merapikannya kembali.


Sementara di rumah mewah dan megah seorang pria tampan yang sedang duduk di balkon rumahnya sedang menatap langit malam, sampai saat ini belum bisa menemukan keberadaan seseorang yang dia cari.


"Harus kemana lagi aku mencarinya, Eve dimanakah kamu sebenarnya." Gumamnya dengan menatap langit malam.


Lalu wanita paruh baya pun masuk menghampirinya, dan menepuk pelan bahu sang anak, dia pun menoleh dan menatap biasa saja.


"Delon, apa yang kau fikirkan nak." Tanyanya lembut.


"Tidak ada, hari sudah malam Mami, aku sangat lelah."Melangkah masuk ke dalam kamar.


"Delon, kau masih memikirkan gadis miskin itu?"Tebaknya.


Menghembuskan nafas kasarnya lalu membalikkan badannya kembali.


"Delon, Mami juga sudah berapa kali mengatakan ini kepadamu, kalau dia itu tidak pantas untuk dan derajat kita akan di permalukan." Ucapnya dengan kesal.


"Jadi Mami lebih mementingkan derajat daripada kebahagian anaknya sendiri." Geram Delon.


"Cukup Delon, mulai besok kau tidak perlu datang ke kantor lagi. Kau urus perusahaan Papimu yang ada di luar negri sampai kau bisa melupakan gadis miskin itu."


Melangkah pergi meninggalkan Delon yang menatap kesal sekaligus juga tidak percaya dengan ucapan sang ibu, Delon duduk di tepi ranjang dan menjambak rambutnya dia begitu frustasi dengan keadaan ini. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan gadis yang begitu dia cintai.


"Akh... Mami kenapa kau tega padaku." ucapnya.


Keesokkan paginya Yehezkiel telah rapi dengan stelan jasnya lalu menuruni anak tangga dan ikut sarapan bersama keluarganya. Tidak ada yang mengatakan apapun mereka sibuk dengan fikirannya masing-masing selesai sarapan lalu Yehezkiel pun bangun dari duduknya dan bergegas untuk pergi ke kantor.


"Mami dan Papi, aku pergi ke kantor dulu." Pamit Yehezkiel.


"Iya hati-hati di jalan." Ucap Eliana lalu membereskan puring kotor tersebut.


Begitu juga dengan Kezia diapun sama pergi ke kampus juga, mereka berdua mengendari mobil masing- masing karena Kezia tidak ingin bersama Yehezkiel karena sanga kakak sangat posesif padanya.

__ADS_1


Tiba di kantor Yehezkiel pun masuk ke dalam perusahaan menuju pintu lift, lalu masuk ke dalam dan dia melihat jam di pergelangan tangannya.


Tak lama pintu lift terbuka lalu Yehezkiel pun melangkah menuju ruangannya dan masuk ke dalam.


Sementara Evelyn saat ini sedang naik angkutan umum sesekali dia melihat jam di pergelangan tangannya seharusnya dia sudah sampai di kantor, tetapi ban angkutan umum tersebut bocor dia pun harus naik angkutan yang lain. Entah hukuman apa yang akan dia terima dari papan gilingan saat dia sudah sampai di kantor.


"Pak, bisa cepat sedikit nanti saya terlambat." Ucap Evelyn yang sudah gelisah sedari tadi.


"Maaf neng, ini sudah cepat di depan sepertinya ada kecelakaan." Jawab supir itu.


"Aduh bisa telat nih." Gumam Evelyn, lalu dia pun memutuskan untuk berjalan kaki saja walaupun hasil sama saja dia akan terlambat." Pak, saya berhenti disini saja."Memberikan ongkosnya.


"Tetapi neng, ini masih jauh."


"Tidak apa-apa pak."


Evelyn keluar dari dalam mobil lalu dengan cepat dia melangkahkan kakinya dan juga dia pun berlari, karena waktunya hampir habis.


Di kantor kini Yehezkiel sedang melihat jam yang terus berputar dia terus menatapnya lalu Chris pun masuk ke dalam ruangan yang begitu mencekam baginya.


"Tuan ada yang kau butuhkan?" Tanya Chris, sambil menundukkan wajahnya.


"Dimana dia? Apa sudah datang?" Tanyanya dingin.


"Dia belum datang Tuan, mungkin terlambat." Jawab Chris yang ketakutan.


"Heh, sudah aku katakan dia tidak bisa di andalkan. Hari pertama saja sudah telat." Ocehnya lagi."Jika begitu aku akan....." Ucapnnya langsung di potong oleh suara seseorang yang dia kenal.


"Tuan...Hosh.. Hosh.. Maaf aku terlambat." Ucapnya dengan nafas yang tidak beraturan, karena dia berlari.


"Heh masih berani kau datang? Telat sepuluh menit, kau di hukum." Jawabnya datar.


"Tuan tunggu sebentar, sebelum kau menghukumku biarkan aku menarik nafasku dulu." Ucap Evelyn yang masih kelelahan.


"Ck ck merepotkan."Mendengus kesal.


Pintu pun terbuka dan masuklah OB yang membawa segelas air untuk Yehezkiel, belum sampai ke meja Yehezkiel lalu dengan cepat Evelyn meminumnya sampai habis. Bukan cuma On saja yang terkejut kedua orang itupun ikut terkejut melihat sikap Evelyn.


Melihat hal itu Yehezkiel menggeretakkan giginya karena kesal kepada Evelyn, sedangkan Evelyn tidak peduli yang di fikirkan saat ini adalah bagaimana cara mengatasi papan gilingan saat ini.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2