
"Nona apa kau bisa menunggu di sini se..."Belum selesai mengatakannya, Evelyn sudah memotongnya lebih dulu.
"Tidak! Aku tidak mau, jika aku menunggu kalian pasti akan kabur dan tidak bertanggung jawab." Jawab Evelyn cepat.
"Tidak Nona, percayalah jika Tuan sudah memberikan cek ini. Itu artinya dia sudah bertanggung jawab kepada Nona." Jelas Chris.
"Tetap tidak mau!" Sambil membulatkan matanya dengan raut wajah galaknya.
Chris hanya bisa menelan salivanya dia pun bingung harus bagaimana lalu dia pun menghampiri mobilnya dan mengatakan kepada Yehezkiel.
Ckck merepotkan sekali, kalian yang bermasalah aku yang jadi korban. batin Chris.
"Ada apa lagi?" Tanya Yehezkiel bingung.
"Anu... Itu Tuan sepertinya Nona itu tidak ingin menunggu, dia ingin ikut Tuan."Jawab Chris hati-hati.
"Ck ck merepotkan sekali gadis itu, iya sudah cepat urus jangan sampai membuang waktuku."Berdecak kesal.
Chris pun kembali menghampiri Evelyn dan mengajaknya masuk ke dalam mobil, selama perjalanan mereka semua terdiam. Setelah mengganti rugi Yehezkiel pun menyuruh Chris agar Evelyn pulang sendiri, tentu saja Evelyn menolaknya kapan lagi dia akan menaiki kendaraan gratis jika bukan karena terdesak dengan keadaan sekarang.
"Gadis gerobak, hutangku sudah lunas jangan sampai bertemu lagi denganmu karena selalu sial." Ucap Yehezkiel dengan gaya sombongnya.
"Heh! Papan gilingan siapa juga yang mau ketemu sama kamu, jangan terlalu percaya diri deh." Sahut Evelyn sinis.
"Iya sudah turun kau, ini mobilku." Usir Yehezkiel dengan nada ketus.
Tunggu dulu, jika aku keluar dari mobil ini maka aku akan terlambat ke rumah sakit. Batin Evelyn.
"Ehmm.. Papan gilingan ini 'kan tempatnya terlalu ramai ya jadi bisa 'kan kau antarkan aku ke rumah sakit saja." Pinta Evelyn hati-hati tak lupa juga memasang wajah memelasnya.
"Enak saja kau fikir aku supir hah! Tidak, aku sudah mengganti rugi dan sekarang kau minta di antar ke rumah sakit." Tolak Yehezkiel mentah-mentah.
"Ayolah papan gilingan, sekali ini saja ya. Besok- besok kita tidak akan bertemu lagi." Sahutnya lagi dengan mengatupkan kedua tangannya.
"Tidak! Turun!"
"Papan gilingan."
"Cepat turun."
Akhirnya Evelyn pun turun dari mobil Yehezkiel dengan mengerucutkan bibirnya, lalu dia pun mengedarkan pandangannya mencari angkutan umum. Sementara mobil Yehezkiel telah melesat jauh meninggalkan Evelyn.
"Dasar papan gilingan, seenaknya saja menurunkanku di pinggir jalan seperti ini. Aduh mana taxsinya lagi?"Mengedarkan pandangannya.
Evelyn menyurusuri padatnya jalan kota yang begitu banyak polusi serta teriknya matahari tak mengurungkan niatnya untuk pergi ke rumah sakit. Melewati gak yang begitu sepi membuat evelyn ketakutan, karena dia membawa uang yang di berikan oleh Yehezkiel.
__ADS_1
Mengedarkan pandangannya dia takut jika ada orang yang mengikutinya saat ini, dan benar saja ada sekelompok orang yang mencurigakan yang sedari tadi mengikutinya.
"Aduh bagaimana ini, siapa yang akan menolongku." Gumam evelyn.
Sampai di depan rumah kosong sekelompok orang itupun mulai melancarkan aksinya dengan mendekati Evelyn yang memegang erat amplop tersebut.
"Hei cantik, mau kemana? Kemarilah temani kami dulu." Ucap pria bertubuh gendut.
"Tidak mau! Kalian jangan menggangguku." Jawab Evelyn gugup.
"Hehehe... Kami tidak akan mengganggumu, tetapi berikan yang ada di tanganmu itu."Mengulurkan tangannya.
"Tidak! Ini untuk adikku, kalian jangan mengambilnya." Tolak Evelyn dan memeluk erat amplop itu.
"Bos, bagaimana menjinakkannya, sepertinya susah sekali."
"Hahaha paksa saja!"
Lalu keempat orang itupun mengelilingi Evelyn yang mulai ketakutan, sedangkan Evelyn tidak bisa lari kemanapun dia hanya berharap ada orang yang mau menolongnya saat ini.
Siapapun tolong aku.Batin Evelyn.
"Cepat berikan amplop itu, jangan sampai kami memaksamu! Cepat!" Ucapnya dengan kasar.
"Tidak akan!"
"Baik bos!"
Merekapun menarik kedua tangan Evelyn yang berusaha berontak tetapi kakinya sudah di tarik lebih dulu sehingga diapun terjatuh, tentu saja empat orang itu memegang kuat tangan dan kaki Evelyn sehingga dia tidak bisa kabur.
"Tolong.... Jangan sakiti aku, baiklah kalian ambil saja uang itu." Ucap evelyn dengan air mata yang sudah menetes.
"Hahaha sekarang kau baru memohon, sudah terlambat cantik waktunya bersenang-senang." Mengusap lembut pipi Evelyn.
"Jangan menyentuhku, lepaskan aku." Ucapnya lagi.
"Sudahlah tidak ada gunanya nikmati saja." Jawab preman yang memegang tangan Evelyn.
Tanpa aba-aba dia pun langsung mengecup leher Evelyn belum sampai puas sudah ada seseorang yang menendangnya.
Bguh....
"Siapa itu beraninya mengganggu kesenanganku." Ujarnya dengan sorot mata tajam.
"Heh! Pria yang tidak tahu diri." Jawabnya santai.
__ADS_1
"Siapa kau berani mengganggu kesenangan kami." Ucap si gimbal.
"Tidak perlu tahu siapa aku, kau sudah siap!" Ucapnya.
"Siap Tuan."
Mereka pun mulai satu persatu melawannya sedangkan Evelyn diam mematung dia begitu syok dengan kejadian yang menimpanya. Evelyn hanya diam menatap mereka yang berkelahi, tak butuh waktu lama kelima preman tersebut sudah babak belur bahkan ada yang terkapar dan tak berdaya lagi.
Akhirnya para preman itupun pergi meninggalkan Evelyn dan juga kedua orang itu. Setelah puas memukulnya kemudian mereka meenghampiri Evelyn yang masih terduduk. Lalu dia pun membuka jasnya dan memakaikan ke tubuh Evelyn lalu menggendongnya dan masuk ke dalam mobil.
Selama perjalan Evelyn hanya diam saja dia masih syok, lalu dia pun mencoba memberikan sebotol air mineral.
"Minumlah dulu, agar kau lebih tenang!" Memberikan botol air minum.
Evelyn pun menerimanya dengan fikiran yang entah kemana arahnya, dia meminumnya sampai setengahnya lalu memberikan lagi kepada orang itu.
"Terima kasih." Ucapnya.
Dia pun membiarkannya agar perasaannya lebih tenang, sepersekian detik kemudian perasaan Evelyn pun telah tenang barulah dia bertanya kepadanya.
"Kau mau kemana sebenarnya?" Tanya lembut.
Evelyn pun menoleh dia menatap tidak percaya dengan sosok yang ada di hadapannya saat ini.
"Aku akan ke rumah sakit, karena adikku sedang di rawat di rumah sakit."Ucapnya dengan raut wajah sedihnya."Makanya tadi aku meminta kau untuk mengantarkanku, tetapi kau menolaknya." Dengan wajah sendunya.
Ada perasaan bersalah karena dia tidak mau mengantarkannya, lalu dia pun menyuruh asistennya untuk mengantarkannya ke rumah sakit.
"Chris ke rumah sakit." Titahnya.
Evelyn menatap tidak percaya dengan ucapannya." Papan gilingan kau serius? Tidak bercanda 'kan?"
Yehezkiel pun memutar bola matanya malas, sedangkan Evelyn mencoba memegang kening Yehezkiel agar memastikan dia tidak amnesia.
"Eh apa yang kau lakukan." Kesal Yehezkiel.
"Aku hanya memastikan saja papan gilingan jika aku tidak salah dengar, tetapi terima kasih papan gilingan jika kau mau mengantarkanku." Ucapnya tersenyum manis.
Yehezkiel yang melihat senyuman di wajah Evelyn membuatnya terpesona akan kecantikan alaminya. Tetapi sesaat kemudian dia pun tersadar lagi dengan sebutan papan gilingan kepadanya.
"Gadis gerobak, hentikan namaku bukan papan gilingan. Aku mempunyai nama."Ucapnya dengan raut wajah kesalnya.
"Heh! Apakah penting bagiku untuk tahu siapa namamu? Namamu memang cocok di panggil papan gilingan karena wajah datarmu itu." Jelas Evelyn panjang lebar.
"Namaku YEHEZKIEl ingat itu." Ucapnya dengan penuh penekanan.
__ADS_1
"Baiklah, baiklah.. Terserah kau saja!" Mengibaskan tangannya, lalu fokus menatap jalanan.
Bersambung