Di Nikahi Tuan Muda

Di Nikahi Tuan Muda
Season 2


__ADS_3

"Mami...."teriaknya.


Lalu semua mata menatapnya begitu juga dengan Devanius, dia menatap sosok kecil yang sedang berjalan ke arahnya. Eliana pun memanggil Yehezkiel agar mendekatinya lalu dia pun melangkah mendekati Eliana.


"Mami kenapa kau melupakan ini"memberikan bekal yang di bawa Yehezkiel.


"Terima kasih sayang"ucap Eliana tersenyum manis.


Lalu Callista pun menanyakan kepada Eliana.


"Nona Eliana apakah dia..."menggantungkan kalimatnya.


"Dia putraku Nona Callista, sayang sapa Tante Callista"ucap Eliana menatap Yehezkiel.


"Hallo Tante aku Kiel senang bisa bertemu denganmu"ucapnya membungkuk sopan.


"Iya sayang Tante juga senang bertemu denganmu, kau tampan sekali"jawab Callista dengan mengusap lembut kepala Yehezkiel.


Yehezkiel sebenarnya dia sangat malas jika ada orang yang mengusap kepalanya, jangankan orang lain Eliana saja sebagai ibunya tidak mau di sentuh kepalanya.


Lalu Eliana pun beralih menatap Devanius." Sayang satu lagi, Om Devan"


"Hallo om senang berkenalan denganmu, namaku Kiel"ucapnya sopan.


Devanius menatap Yehezkiel, dia tidak tahu apakah dia pernah bertemu dengannya atau tidak. Lalu Callista menepuk pelan tangan Devanius.


"Devan kenapa kau diam saja, lihatlah Kiel sudah menunggumu"ucap Callista.


"Eh, maafkan om nak, kau sangat tampan"ucap Devanius.


Lalu Yehezkiel pun duduk di samping Eliana dan tak lama makanan pun datang pelayan pun segera menata makanan di meja dan pelayan pun meninggalkannya.


"Silahkan Nona Callista"


"Iya Nona Eliana"


Berbeda tempat di kamar hotel seseorang sedang merebahkan tubuhnya di ranjang sambil menatap langit-langit kamar sekilas dia teringat pertemuannya dengan Eliana dan juga Yehezkiel. Dia merasa seperti pernah bertemu dengannya tetapi entah dimana.


Dia pun mencoba membalikkan badannya berharap pikirannya tidak memikirkan eliana dan juga Yehezkiel.


"Astaga, kenapa aku jadi memikirkan mereka, apa ini cuma kebetulan saja. Tetapi kenapa akau merasa seperti familiar ya"gumamnya, lalu bangun dan duduk.


Dia pun melangkahkan kakinya menuju sofa dan menuangkan segelas air putih dan meneguknya sampai habis.


Tetapi pikirannya terus saja melayang memikirkan Eliana.


"Ini tidak bisa di biarkan, aku harus segera bertemu Nona Eliana"ucapnya dengan memakai jaketnya.


Membuka pintu dan dia pun di kejutkan oleh seseorang yang ada di hadapannya saat ini.


Ceklek...


"Hai..."sapanya.

__ADS_1


"Astaga Nona, kau mengejutkanku saja, apakah ada masalah?"Tanya Devanius yang di depan pintu.


"Tidak ada, kau mau pergi kemana Devan? Dengan memakai jaket seperti itu!" Tanya Callista curiga.


"Aku akan pergi menemui Nona Eliana"ucapnya datar.


Apa menemui Nona Eliana, Bahakan ini sudah malam sebenarnya ada apa ini. batin Callista.


"Oh begitu ya, emm.. tetapi ada hal apakah sehingga kau ingin menemui Nona Eliana?" Tanya Callista hati-hati.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin bertanya apakah kita pernah bertemu sebelumnya"ucapnya datar.


Callista pun menganggukkan kepalanya dan muncullah ide di otaknya.


"Bagaimana kalau aku juga ikut Devan? Kau keberatan tidak jika aku ikut?" Tanya Callista ragu.


Devanius pun menghembuskan nafasnya."Baiklah, aku tidak akan lama hanya sebentar saja"


"Baiklah" tersenyum manis.


Aku jadi penasaran sebenarnya ada hubungan apa yang mereka sembunyikan dariku. batin Callista.


Lalu Devanius pun melangkahkan kakinya dan di ikuti oleh Callista, karena Devanius sangat penasaran lalu dia masuk ke dalam mobil sedangkan Callista sedikit berlari mengejar Devanius yang langkahnya lebih cepat.


Ikut masuk ke dalam mobil dan Devanius melajukannya menuju rumah Eliana, sebelumnya di cafe tadi siang Eliana mengatakan alamat rumahnya kepada Callista tentu saja Devanius mengingatnya jadi tidak perlu bertanya lagi dimana alamat rumahnya.


Satu jam kemudian mobil telah sampai di depan rumah Eliana dan security tersebut menghampirinya dan bertanya kepada Devanius.


"Saya ingin bertemu dengan Nona Eliana, bilang saja saya rekan kerjanya"ucap Devanius.


Deg.......


Security pun diam membisu seperti patung sulit untuk mengatakannya Bahkan untuk mengucapkan satu kata saja dia seperti orang bisu. Devanius mengerutkan keningnya dia tidak mengerti dengan security yang ada di hadapannya.


Tuan Vikram masih hidup. batin security, dia pun menggosok-gosok matanya seperti melihat hantu saja.


"Pak ada masalah?" Tanya Devanius.


security pun segera tersadar dari keterkejutannya dan segera menganggukkan kepalanya dan sedikit berlari masuk ke dalam rumah Eliana.


"Selamat malam Nona, maaf bapak ganggu istirahatnya"ucap security sopan.


"Iya, kenapa pak?" Eliana menoleh dan menganggukkan kepalanya."Suruh masuk saja pak"titah Eliana.


"Baik Nona"jawab security sopan lalu melangkah keluar.


Security menghampiri mobil Devanius dan membuka gerbangnya lalu mobil pun masuk ke dalam rumah Eliana. Kemudian Devanius dan Calista pun keluar dari dalam mobil dan kebetulan malam ini keluarga Eliana sedang berkumpul bersama di ruang keluarga.


Bi Helen menyambut kedatangan tamu Eliana bukan cuma security saja yang terkejut, Bi Helen pun membulatkan matanya seakan tidak percaya jika orang yang ada di hadapannya masih hidup dan sehat.


Tuan Vikram.batin Bi Helen.


Lalu Eliana pun menghampirinya di ruang tamu dan menyuruh Devanius dan Callista pun untuk duduk. Lalu bi Helen membuatkan minuman untuk mereka.

__ADS_1


"Jadi ada masalah apa Tuan?" Tanya Eliana hati-hati.


"Nona, tolong katakan kepada saya apa sebelumnya kita pernah bertemu?"


Deg......


Hati Eliana pun semakin tidak karuan dia harus mengatakan apa kepadanya mana mungkin jika dia mengatakan yang sebenarnya di hadapan Callista. Eliana mencoba menetralkan suasananya lalu datanglah Yehezkiel menghampiri Eliana.


"Mami... aku kira kau sedang bekerja ternyata kau di sini"ucap Yehezkiel sambil mengerucutkan bibirnya.


"Iya sayang, Mami ada tamu. Kenapa Kiel?" Tanya Eliana.


"Kiel rindu Papi...."ucapnya dengan raut wajah sedihnya.


Deg......


Entah kenapa hati Devanius terasa sakit saat Yehezkiel mengatakan hal itu, lalu Yehezkiel pun menoleh ke arah Devanius dan menghampirinya lalu Yehezkiel memeluk Devanius begitu hangat dan membuat Devanius sendiri bingung, dia tidak tahu harus bersikap bagaimana.


Callista yang melihat hal itupun semakin curiga saja kepada Eliana dan juga putra, tetapi dia mencoba untuk tetap tenang sebelum ada bukti apapun.


"Om, bolehkan Kiel peluk? Karena Om sangat mirip dengan Papiku" mata polos itu menatap sedih ke arah Devanius."Jika Om tidak percaya tanya saja Mamiku, Om itu sangat mirip dengan Papiku"memeluk lagi.


"Eh, benarkah!"


"Iya Om"


Eliana yang melihat hal itupun ingin sekali dia menyesakan air matanya dan mencoba untuk mengatakannya, tetapi itu tidak mungkin. Eliana akan mencoba mendekati Devanius dan mencari waktu yang tepat di saat ada kesempatan untuknya barulah dia akan mengatakannya.


"Kiel sudah jangan peluk Om Devan lagi nak"ucap Eliana tak enak hati.


"Tidak apa-apa Nona, sepertinya Kiel sangat merindukan Papinya"jawab Callista tersenyum manis.


Keduanya saling menatap ke arah Yehezkiel dan Devanius.


"Kiel jika kau merindukan Papimu kau boleh anggap Om sebagai Papimu sayang"mengusap lembut rambut Yehezkiel.


"Benarkah Om, jadi kecil boleh ketemu Om lagi"ucapnya dengan sumringah.


"Iya nak"menganggukkan kepalanya.


"Hore....Mami lihat Om Devan mau jadi Papi Kiel hore...."ucapnya bersorak.


Eliana yang melihat hal itu hanya tersenyum canggung entah dia harus bahagia atau sedih mendengarnya.


"Kiel sudah nak, kasihan Om Devannya. Kemarilah nak!" Ucap Eliana merentangkan tangannya.


"Tidak Mau!" ucap Yehezkiel, kalau memeluk erat Devanius.


"Kiel...."


"Tidak apa-apa Nona, namanya juga anak-anak. Tidak apa-apa"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2