Di Nikahi Tuan Muda

Di Nikahi Tuan Muda
Mengantarkan Eliana


__ADS_3

"Kau.."Eliana terkejut dengan seseorang yang ada di hadapannya saat ini, dia pun mengerjapkan matanya seolah pandangannya salah melihat.


"Apa kabarmu? Apa kau lupa padaku"ucapnya tersenyum manis, lalu dia merentangkan tangannya.


Eliana masih diam saja dia masih mencerna kata-kata yang di katakan oleh orang itu, sementara dia menggelengkan kepalanya lalu menghampiri Eliana dan memeluknya.


"Ini aku El, apa kau sudah lupa? Aini Pricilla" memeluk Eliana.


Setelah mencernanya lalu Eliana pun memeluk balik sahabat lamanya yang sudah pindah karena bisnis keluarganya, Aini anak orang kaya karena dia adalah teman Eliana selama di panti asuhan dan memiliki nasib yang bagus dan sangat jauh berbeda dengan Eliana yang di adopsi oleh keluarga yang tidak pernah menganggapnya ada.


"Benarkah ini kau Ai?" Melepaskan pelukkannya dan menatap cantik wajah sahabatnya saat ini.


"Iya ini aku El"balas Aini tersenyum manis.


"Akhhh ternyata ini kau"ucap Eliana setengah berteriak dan m3mbuat karyawan lain menoleh ke arahnya.


Melihat semua karyawan menoleh kepadanya Eliana sedikit membungkukkan badannya dan tersenyum kikuk, sedang Aini hanya tersenyum kecil melihat tingkah Eliana.


"Kau sama sekali tidak berubah El, selalu saja ceroboh" jawab Aini.


"Ishh.. kau ini, sudahlah ayo ikut denganku ada banyak hal yang ingin aku katakan padamu" Eliana menarik tangan Aini.


Tetapi Aini menahan tangan Eliana." El, ini masih di kantor lho!"


Seketika Eliana pun menepuk keningnya dia benar-benar ceroboh."Astaga Aiai, kau benar sekali, bagaimana setelah pulang dari kantor kita bertemu dan aku akan ke Apartment mu hemm?"saran Eliana.


"Baiklah, aku juga ingin bertanya banyak hal padamu El, kalau begitu aku pulang dulu samapai ketemu nanti ya" sahut Aini dan melangkah keluar.


"Baiklah sahabatku!" Ucap Eliana dengan senyum merekah di bibir manisnya.


...****...


Setelah pekerjaan selesai dengan cepat Eliana membereskan meja kerjanya dan hal itu membuat Fika bertanya.


"Ada apa El, kenapa kau terburu-buru sekali?" Tanya Fika heran.


"Oh iya Fik, kau belum bertemu dengan teman lamaku 'kan? Hari ini dia sudah kembali Fik dan aku akan mengunjungi nya"jawab Eliana begitu antusias.


"Benarkah? Pantas saja kau terlihat bahagia seperti itu El" jawab Fika yang juga ikut membereskan meja kerjanya.


"Benar Fik, setelah bertemu dengan Tuan Daniel aku akan mengunjunginya. Apa kau mau ikut?" Tanya Eliana.


Sejenak Fika berfikir sebenarnya dia ingin sekali ikut dengan Eliana tetapi dia akan pergi ke supermarket untuk membeli keperluannya.


"Sepertinya aku tidak ikut El, aku harus belanja bulanan, tidak apa-apa 'kan jika kau pergi sendiri?" Tanya Fika yang sangat khawatir pada Eliana.


"Tidak apa-apa Fika"balas Eliana tersenyum manis.


Setelah selesai membereskan meja kerja keduanya pun keluar dari ruangan dan masuk ke dalam pintu lift, samapai di lobi Eliana dan Fika bertemu dengan Vito.


"Kakak ipar, kau mau kemana?" Tanya Vito yang menghampiri Eliana.


"Aku akan pergi ke rumah teman lamaku, ada apa Vito?" Tanya Eliana


"Nanti malam kakak akan pulang, dan kau harus ada di rumah jika tidak kau tahu bagaimana kakakku itu 'kan"ujar Vito membayangkan bagaimana Vikram menatapnya tajam.


"Aku mengerti, sudahlah aku harus cepat pergi agar aku tidak terlambat untuk pulang"


"Baiklah, kau hati-hati di jalan, apakah aku perlu mengantarmu?" Tawar Vito.


"Tidak, aku bisa bersama dia"tunjuknya pada Fika.


"Baiklah"


Eliana dan Fika pun pergi meninggalkan Vito yang masih menatapnya.

__ADS_1


Jika kau bukan milik kakak, aku pasti sudah mendekatimu.batin Vito.


Dia pun melangkahkan kakinya menuju parkiran dan melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah utama.


Eliana dan Fika pun sampai di Restaurant yang sudah di janjikan oleh Tuan Daniel, Eliana turun dari motor Fika, sedangkan Fika tidak bisa menemaninya.


"El, aku tidak bisa menemanimu maafkan aku ya"ujar Fika merasa bersalah.


"Tidak apa-apa Fik, aku baik-baik saja pergilah" tersenyum manis.


"Baiklah, kabari aku jika terjadi sesuatu ya, jaga dirimu baik-baik El"ucap Fika sebelum melajukan kbali motornya.


"Iya Fik, kau juga hati-hati di jalan"


Setelah kepergian Fika, lalu Eliana pun masuk ke dalam Restaurant tersebut dan di sana sudah ada tuan Daniel yang sudah menunggunya sedari tadi.


"Maaf tuan sepertinya aku terlambat,"ucap Eliana sedikit membungkukkan badannya.


"Tidak apa-apa, aku baru saja sampai" jawabnya santai."Silahkan Nona duduk, dan aku sudah memesan minuman, tetapi aku tidak tahu minuman apa yang di sukai Nona"


"Terima kasih tuan"


Eliana pun meminumnya lalu dia pun memulai pembicaraannya.


"Jadi apa yang ingin tuan katakan padaku?"Tanya Eliana dengan penasaran.


Tuan Daniel pun mengeluarkan sebuah foto seseorang yang sangat cantik dan memberikannya kepada Eliana untuk dia lihat.


"Ini apa tuan Daniel?" Eliana mengambil fotoq tersebut.


Cukup lama dia menatap foto tersebut sesekali keningnya berkerut, entah apa yang ada di pikiran Eliana saat ini.


"Kenapa wajahnya mirip denganku Tuan Daniel?" Tanya Eliana, tetapi mata fokus menatap foto tersebut.


Eliana menatap lama foto tersebut lagi dan lagi kepala Eliana terasa begitu sakit, sekilas dia mengingat ada bayangan seseorang tetapi entah siapakah dia? Eliana pun tidak mengetahuinya tetapi yang pasti kepala Eliana sekarang sangat sakit.


"Aduh.. sakit sekali" memegang kepalanya.


"Nona apa kau baik-baik saja?"


"Aku.....tidak apa-apa, tetapi bayangan itu seolah mengenaliku!" Ucap Eliana, yang memegang kepalanya terasa sakit.


"Nona, jika boleh tahu sebenarnya kau ini siapa?" Tanya tuan Daniel yang akhirnya tidak sabar lagi.


"Maksud Tuan Daniel apa?".Mengerutkan keningnya."Apakah Tuan Daniel mengetahui indentitas ku saat ini?" Menatap sinis.


"Bu...bukan seperti itu Nona, karena wajahmu sangat mirip dengannya jadi aku hanya ingin tahu saja" jawab Tuan Daniel hati-hati.


"Tetapi Tuan, aku memiliki keluarga jadi mana mungkin jika aku adalah adikmu"tersenyum kecut."Maaf Tuan Daniel, aku harus segera pulang"melihat jam di pergelangan tangannya.


"Ah baiklah, Nona mungkin suatu saat nanti kita akan bertemu lagi"ucap tuan Daniel.


Eliana hanya membalasnya dengan senyuman dan meninggalkan tuan Daniel sendiri, sementara tuan Daniel semakin yakin jika Eliana adalah adik kandungnya yang selama ini dia cari. Tetapi bagaimana caranya agar dia bisa meyakinkan Eliana jika dirinya adalah adiknya yang selama ini dia cari?


Entahlah sepertinya dia harus mencari bukti lagi agar hasilnya tepat dan tidak salah, lalu Tuan Daniel pun melangkah keluar dan masuk ke dalam mobilnya untuk pulang.


...****...


Eliana telah sampai di Apartemen milik temannya yaitu Aini, lalu dia menekan bel dan seorang gadis pun membukakan pintu.


"El, akhirnya kau datang juga, aku baru saja selesai memasak"ucap Aini yang masih memakai Appron.


"Wah sepertinya enak, bolehkah aku masuk Aini?"Tanya Eliana yang masih di ambang pintu.


"Tentu saja El, kau boleh masuk!"lalu Aini melepaskan Appronnya.

__ADS_1


Mereka berdua pun duduk di meja makan dan dengan lahap Eliana memakan makanannya.


"Ternyata masakmu masih seperti dulu Aini, sama seperti di panti asuhan"ucap Eliana dengan mulut yang masih menguyah makanan.


Aini tersenyum melihat Eliana memakan makanannya dengan lahap.


"Makanlah dulu, setelah itu barulah kau memuji masakkanku ini"ucap Aini yang menggelengkan kepalanya.


Eliana pun menganggukkan kepalanya dan melanjutkan makannya, setelah selesai tidak terasa hari pun sudah malam dan membuat Eliana lupa akan waktu.


"Astaga, Aini hari sudah malam aku harus segera pulang"ucap Eliana lalu melihat jam di pergelangan tangannya.


"Waktu begitu cepat El, padahal aku masih merindukan sahabatku ini"memeluk Eliana.


"Sudahlah, besok kita masih bisa bertemu"


Aini pun melepaskan pelukkannya lalu dia pun bangun dari duduknya dan mengambil kunci mobil, Eliana yang melihat hal itupun bertanya kepada Aini.


"Kau mau kemana?"Bingung Eliana.


"Aku akan mengantarkanmu, tetapi aku tidak tahu dimana kau tinggal sekarang.Karena kontrakan lamamu sudah kosongkan!"Tanya Aini yang begitu penasaran.


"Aku....emm aku...sebenarnya..."ucapan Eliana menggantung.


Dan membuat Aini semakin bingung dengan tingkah Eliana saat ini.


"Sebenarnya apa El? Kau menyembunyikan sesuatu dariku?"


"Itu...apa kau tidak akan marah padaku, jika aku menceritakannya?" Tanya Eliana hati-hati.


"Katakanlah El!"


Sebelum Eliana mengatakan yang sebenarnya dering ponsel pun berbunyi dan Eliana merogoh tasnya lalu melihat siapa yang memanggilnya. Mata Eliana membulat saat seseorang yang dia kenal meneleponnya.


Kenapa aku begitu ceroboh, kalau Vikram hari ini akan pulang.batin Eliana.


Eliana memejamkan matanya sambil mengigit bibirnya, lalu Aini pun bertanya kepadanya.


"Ada apa El? Apakah terjadi sesuatu?"memegang pundak Eliana.


"Hah! Eh tidak Aini, seperti aku harus pulang"jawab Eliana yang melangkah lebih dulu.


"El tunggu, aku akan mengantarmu"teriak Aini.


Eliana sudah masuk ke dalam lift dan di susul oleh Aini, sampai di lobi Eliana mengedarkan pandangannya tanpa menjawab panggilan dari ponselnya yang terus saja berdering.


"Maafkan aku Vik,"gumam Eliana.


Eliana menunggu taxsi yang lewat tetapi sangat di sayangkan tidak ada satupun taxsi yang lewat, lalu sebuah mobil melaju tepat di samping Eliana dan berhenti.


Dia membuka kaca jendela mobil dan memanggil Eliana.


"Ayo El, aku akan mengantarkanmu"


"Baiklah"


Tidak ada pilihan lagi bagi Eliana lalu dengan cepat masuk ke dalam mobil Aini, dan Aini pun melajukan mobil lalu dia bertanya dimana dia tinggal sekarang. Mau tidak mau Eliana akhirnya mengatakan alamat rumah yang sebenarnya.


Sampai di depan rumah yang terlihat mewah serta adanya penjagaan yang ketat membuat Aini pun bertanya.


"Ini rumah siapa El?" Tanya Aini penasaran.


"Ini......"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2