Di Nikahi Tuan Muda

Di Nikahi Tuan Muda
Season 3


__ADS_3

Beberapa detik kemudian Tuan Karsten pun berdehem agar mencairkan suasana yang begitu tegang.


"Sayang sudahlah, lagi pula Evelyn ini gadis yang baik tidak perlu mempermasalahkannya lagi."Ucap Tuan Karsten menatap istrinya lembut."Evelyn masuklah nak, jangan sungkan."Sahutnya ramah.


"Papi apa maksudmu menyuruhnya masuk, apa kau tidak lihat pakaiannya begitu lusuh juga tas lusuhnya. Pasti sangat kotor dan rumah ini akan menjadi sarang kuman. Mami tidak setuju." Ucapnya dengan menatap tajam ke arah Evelyn.


Sakit? Tentu saja sakit dengan ucapannya yang tidak begitu berperasaan, dan membuat Evelyn menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan matanya. Lalu menarik nafas dia pun memberanikan diri untuk mengatakannya.


"Baiklah, Nyonya jika anda tidak suka dengan kehadiran saya maka saya dan adik saya akan pergi." Ucap Evelyn lalu menarik tangan sang adik.


"Eve... Tunggu dulu, kau akan tidur dimana? Ini sudah larut malam." Cegah Delon.


"Benar Eve, menginaplah malam ini lihatlah adikmu dia sudah kelelahan." Ucap Tuan Karsten.


Ibunya Delon semakin tidak suka kepada Evelyn." Papi apa maksudmu hah, kenapa kau menceganhnya biarkan saja dia pergi. Lagi pula ini bukan panti asuhan."


"Cukup Ma, jaga sikapmu membuatku malu saja."Bentak Tuan Karsten.


"Oh jadi sekarang Papi membela pengemis ini? Itu 'kan maksud Papi hah!" Menatap tajam.


Melihat perdebatan itu, Delon hanya menarik nafas kasarnya dan Evelyn semakin tidak enak hati karena kedua orang tua Delon bertengkar karena dirinya. Evelyn pun memutuskan untuk segera pergi dari rumah Delon.


"Om dan Tante, saya akan pergi. Maaf merepotkan Om danTante." Pamitnya.


"Eve, tunggu teriak Delon."Ingin mengejar tetapi tangannya di tahan.


"Untuk apa Delon kau mengejarnya, dia tidak pantas untukmu."


"Ini semua ulah Mami yang selalu menilai semuanya dari materi, aku kecewa."


Melangkah menaiki anak tangga dengan rasa kesal di hatinya, dan Tuan Karsten sama meninggalkannya tanpa peduli padanya.


Menyusuri jalanan yang semakin malam membuatnya memutuskan untuk tidur di sebuah toko bersama adiknya.


"Jes, kita tidur di sini saja untuk sementara, besok kita akan mencarinya." Mengusap lembut rambut Jeslyn.


"Iya kak, tidak apa-apa." Sahut Jeslyn dengan senyum manisnya.


Mereka pun mencari sesuatu untuk bisa di pakai menjadi alas tempat tidur, Evelyn melihat di sudut pojok ada tumpukkan kardus lalu dia pun mengambil beberapa kardus dan menyusunnya. Selesai menyusun lalu mereka berdua pun tertidur karena sudah sangat lelah.


Mentari menyapa suara burung pun mulai terdengar begitu juga dengan seseorang yang sudah rapi dengan stelan jasnya, lalu keluar dari kamar dan menuruni anak tangga.


Di ruang makan terlihat kedua orang tuanya dan juga adiknya yang sedang sarapan. Dia pun menghampirinya lalu duduk dan sarapan bersama.

__ADS_1


"Mami, hari in aku tidak pergi ke kampus." Ucapnya dengan raut wajah sedihnya.


"Kenapa Zia? Tidak biasanya kau seperti itu?" Tanya Nyonya Eliana.


"Itu karena mie ayam langgananku tidak berjualan sudah beberapa hari ini Mami."Ucapnya dengan nada manjanya.


"Kau ini selalu saja mencari alasan, pergi ke kampus. Banyak alasan saja kau." Jawab Yehezkiel.


"Kak Kiel, kau tidak perlu mengaturku, aku sudah dewasa." Memutar bola matanya malas.


"Jika kau sudah dewasa, maka kau harus pergi kuliah. Bukan malah mengatakan hal yang tidak berguna seperti itu."Memakan makanannya.


"Cukup kak Kiel." Jawabnya kesal." Mami, Papi lebih baik Zia pergi saja, bikin pusing saja." Meninggalkan ruang makan.


"Zia... Kezia... Sarapanmu belum habis." Teriak Nyonya Eliana.


"Mami sudahlah, jangan selalu memanjakan Zia lagi." Ucap Yehezkiel, lalu bangun dari duduknya dan melangkah meninggalkan kedua orang tuanya.


"Lihatlah Vik, anak kesayanganmu selalu saja seperti itu." ucapnya kesal.


"Sudahlah sayang, mereka sudah dewasa." Jawab Tuan Yehezkiel.


Di tempat yang berbeda seseorang pun membangunkan Evelyn dan Jeslyn mereka pun perlahan-lahan membuka matanya.


"Paman, apakah aku tidak bekerja di sini? Aku sangat membutuhkan pekerjaan paman." Ucap Evelyn setelah bangun dan membantu sang adik.


"Tidak ada, cepat pergi pengemis." Bentaknya.


"Tapi Paman."


"Pergi."


Evelyn pun pergi dengan Jeslyn entah kemana lagi dia akan pergi, dan hari sudah semakin siang membuat perut Jeslyn kelaparan.


"Kak, aku lapar." Ucap Jeslyn dengan memegang perutnya.


"Akh kau lapar ya, baiklah kita cari makanan dulu."Jawabnya.


Berjalan menyusuri kota lalu mata Evelyn pun menatap tulisan yang terpampang di depan rumah tersebut. Dengan mengembangkan senyumannya lalu Evelyn pun menarik Jeslyn untuk melihatnya.


"Jes, sepertinya ada kontrakan. Ayo kita lihat dulu ya." Ajak Evelyn.


"Baiklah kak."

__ADS_1


Mereka berdua pun masuk ke dalam gang kecil dan mencari tahu siapa pemiliknya kontrakan tersebut. Setelah bertemu pemilik tersebut pun mengizinkannya, lalu Evelyn pun membayar sewa kontrakan selama beberapa bulan dan uang itu hasil ganti rugi dari Yehezkiel.


"Terima kasih bu." Ucap Evelyn ramah.


"Iya nak, semoga betah dan bayarannya juga lancar."Jawabnya.


"Baik Bu."


Lalu pemilik kontrakan tersebut pun pergi meninggalkan keduanya, Evelyn pun memeluk Jeslyn dengan penuh kasih sayang.


"Jes, mulai sekarang kita akan tinggal di sini." Ucap Evelyn, sambil menaruh tas lusuhnya.


"Iya kak, ini sudah cukup untuk kita berdua.Tetapi aku sangat lapar kak." Rengeknya lagi.


"Akh betul hampir saja kakak lupa, baiklah kau tunggu di sini dan jangan pergi kemanapun sebelum kakak kembali. Kau mengerti?" Ucap Evelyn menatap ke arah Jeslyn.


"Iya aku mengerti."


Evelyn pun tersenyum manis lalu mengacak-acak rambut Jeslyn, dan dia pun melangkahkan kakinya keluar dari kontrakkan kecil itu. Mencari makanan, setelah menadpatkannya Evelyn pun bergegas untuk pulang tetapi langkahnya terhenti saat mobil mewah berhenti di depannya.


Seseorang pun keluar dari dalam mobilnya dan menghampiri Evelyn.


Nyonya yang pernah aku tolong. batin Evelyn.


"Hai, kenapa kau menatapku seperti itu? Apakah ada yang aneh?" Tanyanya dengan melihat dirinya sendiri.


"Akh.. Tidak ada Nyonya, Nyonya sedang apa di sini?" Tanya Evelyn sopan.


"Aku mencarimu, apakah kau ada waktu? Tetapi... Tunggu dulu." Mengedarkan pandangannya." Sedang apa kau di sini Eve?" Selidik Nyonya itu.


"Eh, anu..A-aku..." Ucapannyaenggantung.


"Aku? Eve, katakanlah!" Ucapnya sambil keningnya berkerut.


"Eh maksudnya, aku sudah pindah ke sini." Ucapnya bohong.


"Oh baiklah, ayo masuk ke mobil ada hal yang ingin aku katakan padamu." Ajaknya lagi.


"Tetapi Nyonya, saya harus mengantarkan ini dulu untuk adik saya, dia sedang menunggu saya."Jawab Evelyn tidak enak hati.


"Baiklah, kalau begitu ayo aku akan mengantarmu ke rumah. Dan aku juga bisa mengatakan sesuatu yang penting ini."


"Baiklah Nyonya."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2