
Tiba di depan rumah sederhana dan tidak bagus juga Evelyn mengajaknya dan masuk ke dalam, lalu Jeslyn dengan cepat menghampiri sang kakak.
"Kakak sudah pulang." Sambut Jeslyn tersenyum.
"Iya sayang, ini makananmu." Memberikan sekantong plastik makanan.
"Baik kak."
Evelyn tersenyum manis lalu diapun menyuruhnya untuk masuk walaupun tidak ada kursi hanya sebuah tikar saja yang ada di kontrakkan kecil itu. Dengan senang hati Nyonya itupun masuk ke dalam lalu dia pun duduk, tak lupa juga Evelyn membawakan segelas air putih.
"Silahkan Nyonya diminum, aku tidak memiliki apapun selain air putih." Ucap Evelyn sopan.
"Tidak apa-apa, tetapi dimana orang tuamu? Apakah kalian hanya berdua saja?" Tanyanya dengan mengedarkan pandangannya mungkin saja ada di dalam sana.
"Itu.. Maaf Nyonya kedua orang tuaku sudah meninggal, dan kami sebenarnya tinggal bersama paman dan bibi." Jawab Evelyn menarik nafasnya yang terasa sesak di dadanya saat akan melanjutkan ucapannya."Tetapi mereka berdua memiliki hutang kepada seseorang, jadi bibi menjaminkan rumah sebagai gantinya." Jawabnya dengan menundukkan kepalanya, serta tangannya saling meremas satu sama lain.
Mendengar hal itu membuat hatinya terasa sakit melihatnya apa lagi dia memiliki adik yang masih sangat kecil. Juga tinggal di tempat seperti ini, Dia pun menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya kembali.
"Baiklah, Eve mulai sekarang kau jangan memanggilku Nyonya, panggilnya saja aku Mami." Pintanya lalu mengusap lembut tangan Evelyn yang sudah berkeringat.
Evelyn mengangkat kepalanya." Ma-Mami? Maksudnya Nyonya Eliana apa mengatakan hal seperti itu dan saya baru saja kenal beberapa waktu yang lalu."
Nyonya Eliana dia adalah seseorang yang di selamat oleh Evelyn beberapa waktu yang lalu, dia hanya tersenyum menanggapi ucapan dari Evelyn. Karena Nyonya Eliana ingin agar Evelyn mau menikah dengan putranya yang bernama Yehezkiel.
"Tenanglah Eve, kau tidak perlu seperti itu tetapi kau juga harus berfikir tentang adikmu juga karena jika kau mau menikah dengan anakku maka semua biaya dan kebutuhan adikmu akan aku tanggung. Jadi fikirkanlah baik- baik." Ucapnya lalu bangun dari duduknya dan meninggalkan Evelyn begitu saja.
Setelah kepergian Nyonya Eliana, Evelyn pun menarik nafasnya dalam dia tidak tahu harus berbuat apa lagi, dia pun sama memikirkan nasib sang adik yang masih membutuhkan biaya yang sangat banyak.
Tetapi itu tidak akan memutuskannya semangatnya Evelyn akan berjuang dengan sekuat tenaga demi sang adik, rencananya hari ini dia pun akan pergi mencari pekerjaan.
Selesai dengan ritual mandinya Evelyn pun berpamitan kepada Jeslyn agar dia tetap di rumah dan tidak pergi kemanapun. Lalu Evelyn pun bergegas pergi dengan langkah semangatnya diapun menyusuri kota tersebut.
Di tempat yang berbeda kini Yehezkiel sibuk dengan laptopnya, lalu Chris masuk ke ruangannya dengan membawa berkas yang harus di tanda tangani oleh Yehezkiel.
"Tuan, ini berkas yang harus kau tanda tangani." Ucapnya dengan menyerahkan berkas tersebut.
"Baiklah."
Mengambilnya lalu dia pun membaca setelah itu Yehezkiel pun menandatanganinya, lalu Chris pun mengambilnya kembali.
__ADS_1
"Chris, beberapa orang dari kita sudah di pecat, kau carilah pegawai yang handal dan bisa bekerja keras."Ucapnya datar.
"Baiklah, Tuan. Saya akan membuat lowongan pekerjaan." Jawab Chris sopan.
"Kau boleh pergi."
"Baik Tuan."
Chris pun segera pergi dari ruangan Yehezkiel, lalu dia pun kembali ke ruangannya dan mengerjakan apa yang di katakan Yehezkiel tadi.
Pintu ruangan terbuka dan masuklah sosok pria tampan tanpa mengetuk pintu dia pun langsung duduk begitu saja. Sedangkan seseorang yang ada di singgah sana hanya acuh saja dia sibuk dengan pekerjaannya.
"Bro, mau sampai kapan kau sibuk dengan laptopmu itu." Ujarnya, lalu menyandarkan punggungnya di sofa.
"Sudahlah, ini memang sudah bagian dari pekerjaanku. Kenapa kau datang ke sini?" Tanyanya tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun dari laptop.
"Tidak ada masalah apapun, aku hanya ingin berbagi kisah sedihku." Ucapnya dengan wajah sesedih mungkin.
Yehezkiel menghentikan tangannya yang sedang sibuk bekerja, lalu menatap ke arah sahabatnya itu. Dia pun bangun dari duduknya berjalan mendekati sahabatnya itu, lalu dia duduk dan memeriksa kening sahabatnya itu.
"Tidak panas." Ucapnya datar.
Yehezkiel berdecak kesal dia mengira ada hal yang membuatnya tertarik untuk mendengarkan ucapan sahabatnya itu.
"Ck ck cinta saja yang kau pikirkan, Delon di luar sana masih banyak gadis yang baik dan bisa menjadi kekasihmu sekaligus istrimu nanti."
"Tidak Kiel, dia adalah gadis yang baik dan aku sangat menyukai sewaktu kami masih sekolah bersama." Sahutnya, lalu membayangkan saat masa- masa sekolah dulu bersama Evelyn.
Delon begitu menyukai Evelyn sewaktu sekolah tetapi dia tidak berani mengatakannya karena Evelyn selalu menghindarinya ataupun selalu mengalihkan pembicaraannya. Dan membuat Delon semakin ingin memiliki seutuhnya, Yehezkiel hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya yang sedang kasmaran.
"Jika kau suka kenapa tidak mengejarnya." Jawab Yehezkiel enteng.
"Nah itu masalahnya, aku tidak tahu dimana keberadaan dia sekarang karena Mami telah mengusirnya." Jawabnya bingung.
Yehezkiel pun menyetil kening Delon yang menurutnya terlalu bodoh ataukah terlalu pintar dalam hal ini, sementara Delon mengusap keningnya yang sakit akibat mendapat sentilan dari Yehezkiel.
"Aw sakit Kiel, kenapa kau menyetil kening tampanku ini." Mengusap keningnya.
"Kau itu terlalu bodoh atau terlalu pintar Delon, kau tinggal suruh orangmu untuk mencari tahu dimana dia sekarang."Menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Seketika Delon pun ingat untuk apa dia bersusah payah memikirkannya jika ada orang kepercayaannya, dengan semangat lalu Delon bangun dari duduknya dan meninggalkan Yehezkiel begitu.
Yehezkiel hanya menatap datar dengan tingkah sahabatnya itu lalu dia pun melanjutkan kembali pekerjaannya.
Teriknya panas matahari membuatnya tidak merasa lelah karena dia tetap semangat untuk berjuang demi sang adik. Evelyn kini sedang mencoba melamar pekerjaan, tetapi selalu saja di tolak karena kurang memenuhi syarat.
Duduk di kursi panjang dan mengusap keringatnya yang berada di pelipisnya.
"Kemana lagi aku harus mencari pekerjaan ini sudah beberapa perusahaan ataupun toko menolakku begitu saja."
Evelyn pun menenguk sebotol air mineral karena tenggorokkannya sangat haus. Setelah selesai minum lalu dia pun melanjutkan kembali perjalanannya untuk mencari pekerjaan.
Kakinya pun sampai di sebuah perusahaan ternama dan nomor satu di kota ini, dengan harapan Evelyn mencoba bertanya kepada securty mungkin saja ada lowongan pekerjaan.
"Permisi pak." Ucap Evelyn sopan.
"Iya neng, ada apa ya?" Tanya securty tersebut yang sedang meminum kopinya.
"Pak apakah di perusahaan ini tidak ada lowongan pekerjaan untuk saya."
"Aduh neng, maaf di sini tidak ada lowongan yang ada malah pengurangan karyawan."
Evelyn pun terdiam sesaat lalu diapun mencoba bertanya kembali karena rasa penasarannya.
"Kalau ada pengurangan berarti ada lowongan 'kan pak, tolong saya pak saya butuh pekerjaan apa saja pak. Jadi OB pun boleh pak." Memohon dan mengatupkan kedua tangannya.
Securty tersebut tidak enak hati dia pun bingung harus menjawab apa karena memang tidak ada lowongan pekerjaan untuknya.
"Ayo pak tolong saya, sudah seharian saya mencobanya tetapi tidak ada satupun pak."Ucapnya dengan wajah sedihnya.
Hati pak securty pun terasa sesak mendengarnya dia tidak tega tetapi dia juga tidak bisa berbuat apapun, karena dia pun sama sangat membutuhkan pekerjaan ini.
"Maaf neng, di sini tidak ada lowongan cari saja ke tempat lain."
Evelyn pun menarik nafasnya dalam- dalam lalu berpamitan kepada securty tersebut dengan perasaan sedih.
"Baiklah pak, terima kasih. Saya permisi dulu."
"Iya neng silahkan."
__ADS_1
Bersambung