
Keesokan paginya, setelah selesai mandi dan bersiap-siap, Viara berjalan mendekati mejanya dan tertegun mendapati adanya kotak merah di samping bukunya
"Ila, dari siapa ini?" Tanya Viara sambil menunjukkan kotak merah itu
"Ohh itu dari bang Pandu semalam, katanya buat kamu" jawab ila sambil menyisir rambutnya
"Bang pandu?" Tanya Viara kembali
"Iyah Viara, coba dibuka saja, aku jadi kepo sama isinya" saran Ila. Viara mengangguk dan mulai membuka kotak itu, seketika Viara menyunggingkan senyumnya melihat ada jam tangan indah yang menjadi isi kotak itu
"wah, sangat cantik" batin Viara senang. Viara langsung membuka secarik kertas yang juga terdapat di dalam kotak tersebut
...Dek, maafin abang yah semalam karena abang nggak pergi bareng sama adek dipasar malam, padahal abang udah janji mau ngajakin kamu semalam. (Pandu pun menuliskan alasannya semalam karena tidak bisa pergi bareng Viara) sekali lagi maafin abang yah. Abang tau kamu kecewa sama abang, tapi semoga hadiah pemberian abang mampu membuatmu memaafkan abang, kalau nggak dimaafin yah nanti usaha lagi buat minta maaf ke adek, benarkan dek?...
Viara menyunggingkan senyumnya membaca kertas itu dan kembali meletakkannya ke dalam kotak itu. Ila tersenyum senang melihat wajah cerah Viara dan berjalan menghampirinya
"Cieee surat cinta yah?" goda ila
"Haha bukanlah, ini surat permintaan maaf bang Pandu karena tidak pergi bersamaku di pasar malam semalam. Dia juga memberiku jam tangan ini, apa aku pakai yah?" Kata Viara menunjukkan jam tangan itu
"Iyah Viara, bang Pandu pasti senang jika melihatmu memakainya" saran ila. Viara mengangguk dan mulai memasang jam tangan pemberian Pandu di pergelangan tangannya
"Pilihan bang Pandu memang tepat" ucap Ila senang melihat jam yang dikenakan Viara
"Viara, maaf jika aku lancang. Apa kamu menjalin hubungan dengan bang pandu?" Tanya Ila serius
"Kami hanya berteman kok, tidak lebih dari itu" balas Viara tersenyum
"Aneh yah, tapi mengapa bang Pandu meminta maaf sampe segitunya sama Viara, apa memang bang Pandu suka yah samaViara?" pikir Ila. Lamunan Ila seketika buyar saat Viara menepuk bahunya
"Hei, apa yang kamu pikirkan, dipanggil beberapa kali kamunya nggak dengar-dengar" kata Viara
"Ehh hehhehe ada deh" cengir Ila menunjukkan deretan gigi putihnya
"Lebih baik jika aku simpan pertanyaan ini sendiri sampai waktu yang akan menjawab semuanya" kata Ila dalam hati
"Ohh yaudah, aku pergi duluan ke sekolah yah, hari ini tugas piketku di sekolah" pamit Viara
__ADS_1
"Oke Viara, hati-hati yah". Setelah berpamitan, Viara segera memakai sepatunya di depan rumah dan berjalan keluar halaman. Pandu yang sedang nongkrong didepan pos tersenyum senang melihat Viara yang memakai jam tangan pemberiannya.
Pandu memakai baretnya dan bergegas menghampiri Viara, namun Pandu terlambat karena Andra yang lebih dulu menghampiri Viara dengan motor bututnya
"Ehh bang Andra, motor siapa ini?" Tanya Viara tersenyum
"Ini motornya pak Dullah dek, dia kasih sama abang karena motornya sudah banyak yang seperti ini" balas Andra lembut
"Wah, jadi inget motor kakek. Udah lama banget adek nggak naik motor seperti ini" Ucap Viara senang sambil memutari motor Andra
"Yaudah naik dek, abang anter adek ke sekolah" seru Andra
"Nanti motornya mati atau rusak gimana bang?"
"Tenang saja dek, motor ini aman kok. Dijamin adek bakalan ketawa kalau motornya udah jalan" Seru Andra
"Benarkah bang?"Tanya Viara berbinar
"Tentu saja adek manis, ayo naik" ucap Andra menyodorkan helm pada Viara yang langsung disambut oleh Viara sambil tersenyum. Setelah Viara memasukkan kepalanya dalam helm, Andra langsung memasangkan tali pengait helm di bawah leher Viara sehingga Viara tertegun dibuatnya
"Aa ehh Iyah bang" jawab Viara gelagapan dan langsung menaiki boncengan Andra. Tak lupa Viara memegangi bagian bawah rok panjangnya agar tidak terguling ban motor.
Setelah memastikan Viara duduk nyaman, Andra tersenyum dan langsung menjalankan motornya menuju ke sekolah tempat Viara mengajar. Seketika tawa Viara pecah mendengar suara motor yang dinaikinya itu yang berjalan pelan
"Loh dek, kenapa tertawa?" Tanya Andra
"Suaranya bagus bang, cocok untuk membangunkan orang tidur di pagi dan malam hari" Seru Viara dan kembali melanjutkan tawanya. Andra juga tertawa bersama Viara karena memang ucapan Viara benar, motor itu sangatlah bagus sehingga mampu membuat orang yang mendengarnya tertawa.
Pandu yang melihat kedekatan dan tawa keduanya merasa ada sebuah rasa yang aneh dalam hatinya, begitu juga dengan bibirnya yang tersenyum getir melihat Danrunya yang begitu dekat dengan Viara
"Astaghfirullah Pandu, sadar Pandu sadar. Apa yang terjadi padamu Pandu, kenapa kamu cemburu melihat mereka sih" gerutu Pandu menepuk-nepuk pipinya. Pratu Denis yang melihat Pandu terus menepuk-nepuk pipinya berjalan mendekatinya dan menampar pipi Pandu
PLAK
"Hei, kenapa kau menamparku!!" kesal Pandu sambil memegangi pipinya
"Abang sih mukulin pipi abang terus, jadinya aku bantu pukulin toh, biar nyamuknya hilang"
__ADS_1
"Nyamuk-nyamuk, disini nggak ada nyamuk tahu" gerutu Pandu kesal
"Lalu?" Tanya Pratu Denis kembali
"Ahh lupakan saja, aku harus segera pergi. Ada urusan penting " jawab Pandu segera berjalan menjauhi pos. Pandu membalikkan badannya dan kembali lagi ke posnya saat melihat Lani yang berjalan kearahnya
"Loh kenapa balik lagi? Bukannya ada urusan penting" Tanya Pratu Denis bingung
"Bukan urusanmu" ketus Pandu segera masuk kedalam pos
"Bang Pandu yang aneh, atau aku yah? Tidak biasanya Pandu seperti ini" gumam pratu Denis kembali melakukan pekerjaannya
______
Setelah menempuh perjalanan selama 10 menit, kini Viara telah sampai di depan sekolah tempatnya mengajar sambil memegangi perutnya yang terasa agak sakit karena lelah tertawa sepanjang jalan
"Terimakasih yah bang sudah antarin adek sampai sini, terimakasih juga padamu motor, kalau bukan karenamu aku tidak akan tertawa seperti tadi" seru Viara mengusap jok belakang motor Andra
"Sama-sama dek, tetap semangat mengajarnya yah" Ujar Andra menerima helm dari tangan Viara. Viara mengangguk sambil mengacungkan jempolnya pada Andra
"Yaudah bang, adek masuk ke sekolah dulu yah" kata Viara
"Tunggu dek" ucap Andra menghentikan Viara yang akan membalikkan badannya
"Ada apa bang?" Tanya Viara lembut. Andra tersenyum dan mulai mendekatkan wajahnya pada Viara. Viara merasa jantungnya kembali berdegup kencang dengan jarak sedekat ini, bahkan Viara takut jika Andra bisa mendengar detak jantungnya yang seolah baru saja berlari mengelilingi lapangan. Andra meraih daun yang terjatuh dikepala Viara sambil tersenyum manis pada Viara yang terus menatapnya
"Ada daun jatuh dikepala adek, jadi abang menyingkirkannya. Nggak apa-apa kan dek?" Tanya Andra lembut
"Ehh Iyah bang, nggak apa-apa" jawab Viara langsung membuang muka ke samping karena merasa pipinya telah merah merona
"Hahha yaudah abang balik ke pos dulu yah dek, assalamu'alaikum dek" kata Andra mengusap puncak kepala Viara yang tertutup hijab
"Walaikumsalam bang hati-hati yah" ucap Viara tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Andra yang telah menjauh bersama motor bututnya
"Terimakasih untuk hari ini ya Allah, terimakasih engkau masih memberiku tawa bahagia bersama hamba-Mu yang aku cintai. Terimakasih engkau masih memberiku detak jantung saat bertatapan dengannya. Jika memang waktuku tidak lama lagi di dunia ini, setidaknya aku pernah tersenyum dan bahagia bersama orang yang selalu ku sebut namanya dalam doaku"
Bersambung.......
__ADS_1