Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)

Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)
BAB 75. Tegar


__ADS_3

"Sayang, kamu ada disini?" Tanya Iqbal yang baru saja datang di acara pertunangan temannya.


"Ara, kamu kenapa nangis dek?" Tanya Iqbal menatap Viara yang menangis dipelukan dokter Citra


"Panjang ceritanya bang, nanti akan kuceritakan padamu" Ucap Dokter Citra tersenyum pada kekasihnya


"Baiklah, ayo abang antar pulang" Kata Iqbal membukakan pintu mobilnya untuk Viara dan dokter Citra


Sepanjang perjalanan pulang, Viara tak henti-hentinya menangis di kursi belakang mobil. Iqbal yang terus mengamati Viara dari kaca depan mulai khawatir karena tangisan Viara yang tak kunjung reda


"Dek, apa yang terjadi pada Viara, kenapa dia terus saja menangis sejak tadi. Abang jadi khawatir nih" Tanya Iqbal sambil memperhatikan jalanan.


Dokter Citra menghela nafasnya dan mulai menceritakan yang sebenarnya terjadi pada Viara, tak sengaja air mata dokter Citra ikut tumpah menceritakan kesedihan yang dialami Viara hingga Viara sampai seperti ini


"Kasian sekali kamu dek" gumam Iqbal menatap sendu pada Viara dari kaca depan


"Ikhlas? Aku sangatlah sulit mengikhlaskanmu pergi dariku. Aku sangatlah mencintaimu hingga aku lupa caranya untuk melupakan cinta itu. Tapi apalah dayaku, aku hanya bisa mencintaimu tanpa bisa memilikimu. Melihatmu bersama dengannya membuatku seolah ditembak mati di tempat. Aku begitu merindukanmu hingga aku hancur berkeping-keping, namun ketika bertemu kembali denganmu, hatiku kembali dihantam ribuan batu besar hingga aku tak sanggup lagi menahan segalanya. Menahan rasa sakit yang teramat sangat di hati ini" batin Viara semakin menangis deras dan menyembunyikan wajahnya dibalik kedua telapak tangannya


"Tapi tak mengapa sayang, hati ini akan terus mencintaimu meskipun kamu tak akan ada lagi disisiku. Hatiku akan selalu merindukanmu meskipun kamu tak akan pernah kembali menemuiku lagi. Namamu akan selalu terukir rapi dihati dan terucap indah disetiap doa yang aku langitkan. Hanya namamu saja Pandu, tidak ada yang lain di hatiku selain namamu saja" batin Viara mengingat setiap kenangan yang dilewatinya bersama Pandu


"Sekarang hanya kenangan itu sajalah yang akan selalu menemaniku di sisa umurku"


_________


Setelah menempuh perjalanan dari kota sampai ke desa selama 45 menit, kini Viara sudah sampai di depan rumah neneknya


"Terimakasih sudah mengantarku pulang ke rumah nenekku yah kakak, dokter Citra" Ucap Viara tersenyum tulus pada kedua teman baiknya


"Iyah sama-sama Ara, sekarang masuk dan istirahatlah yah, jaga kesehatanmu" Ucap Iqbal mengusap bahu Viara dibalas anggukan kepala oleh Viara sambil tersenyum.


Setelah kedua temannya pergi, Viara membalikkan badannya dan melangkahkan masuk ke dalam rumah neneknya


Ketika memasuki rumah neneknya, Viara yang melihat nenek Lula tengah menonton TV di ruang tengah meneteskan air mata dan berlari berhambur memeluknya


"Nenek!!!" Seru Viara berlari dan memeluk neneknya


"Cucuku Viara" Ucap nenek lula membalas pelukan cucu kesayangannya padanya


"Nenek hiks..hiks.." lirih Viara menangis di bahu neneknya


"Kamu kenapa sayang, kenapa matamu sembab seperti ini? Apa kamu sakit sayang?" Tanya nenek Lula mengusap punggung bergetar Viara


"Astaghfirullah Viara!!!" Teriak nenek lula khawatir karena Viara tiba-tiba tak sadarkan diri didalam pelukannya


"Bangun sayang, bangun.. Lena... Lena" Teriak nenek lula memanggil mbak lena


"Iyah nek, astaghfirullah Viara!!! Apa yang terjadi padanya nek?" kata Mbak lena cemas sambil berlari mendekati nenek Lula.


"Nenek juga tidak tahu Lena" kata nenek Lula cemas


Mbak Lena membantu Nenek Lula memapah tubuh lemas Viara untuk beristirahat di kamarnya


Setelah membaringkan Viara di atas ranjang, nenek Lula langsung membuka sepatu di kaki cucunya dan ikut naik keatas ranjang


"Sayang, bangun nak. Apa yang terjadi padamu hingga kamu seperti ini?" Lirih nenek Lula mengusap kening cucunya


"Viara tidak apa-apa nek, mungkin dia pingsan karena kelelahan saat datang kesini" Ucap Mbak Lena menjelaskan setelah selesai memeriksa Viara


"Ayo nek, kita biarkan Viara istirahat dulu. Nanti besok pagi setelah dia sadar, kita akan bertanya apa yang telah terjadi padanya" Ajak Mbak Lena lembut


Nenek Lula menghapus air matanya dan berjalan keluar kamar Viara bersama mbak lena


"Semoga kamu tidak apa-apa cucuku" batin nenek Lula penuh harap


_______


Keesokan paginya, Viara perlahan-lahan membuka matanya dan dalam pandangannya yang masih buram, Viara melihat neneknya yang berjalan mendekatinya sambil tersenyum


"Cucuku sayang, kamu sudah bangun hmm?" Tanya nenek Lula lembut membantu Viara untuk duduk bersandar


"Iyah nek" jawab Viara tersenyum manis pada neneknya


"Kamu sakit apa nak, kenapa kamu tak sadarkan diri semalam?" Tanya nenek Lula mengusap lembut kepala cucunya


"Viara nggak sakit kok nek, Viara cuman kelelahan saja setelah perjalanan jauh, jadinya Viara pingsan. Maafin Viara yang udah buat nenek cemas yah" ucap Viara tersenyum dan berhambur memeluk neneknya


"Iyah sayang nggak apa-apa kok. Sekarang Viara mandi yah, setelah itu kita sarapan bareng di dapur. Nenek udah siapin makanan kesukaan Viara" titah nenek Lula lembut


"Benarkah? Terimakasih nenekku sayang, nenek memang yang terbaik" Ucap Viara mengecup lembut pipi keriput neneknya


"Hahaha terimakasih pujiannya sayang, sekarang Viara mandi yah"


"Siap nek" seru Viara senang dan segera berlalu masuk ke kamar mandi.


Setelah selesai mandi dan bersiap-siap, Viara langsung menuju ke dapur menghampiri neneknya yang sejak tadi menunggunya


"Akhirnya cucuku datang juga, ayo dimakan buburnya sayang" Ucap nenek lula setelah Viara duduk berhadapan dengannya


"Iyah nek, tapi nenek juga harus makan dong bareng Viara!!" Ucap Viara mengerucutkan bibirnya


"Haha nenek sudah makan sejak tadi sayang, sekarang sudah waktunya nenek untuk minum obat" Balas nenek Lula sambil tertawa melihat wajah cemberut cucunya


"Sini Viara bantu bukain obatnya" Ucap Viara tersenyum dan langsung duduk di samping neneknya. Viara mulai membuka satu persatu bungkusan obat kesehatan milik neneknya dan memberikannya pada neneknya


"Nek, obat nenek tinggal sedikit" Lapor Viara melihat obat-obatan di depannya


"Iyah nak, nenek belum bisa pergi ke kota jadinya stok obat nenek mulai habis. Mbak Lena juga sangat sibuk dengan warung makan nenek di sini, jadinya nggak ada yang ke kota buat beliin obat nenek" jawab nenek Lula tersenyum pada Viara


"Yaudah biar Viara aja yang ke kota buat beliin obat nenek yah" Kata Viara tulus

__ADS_1


"Tapi sayang, kamu baru saja tiba di rumah nenek semalam, kamu pasti masih sangat lelah sayang, tidak usah ke kota yah nak" tolak nenek Lula halus


"Tidak apa-apa nek, Viara udah nggak capek lagi kok. Nenek tenang saja yah, Viara janji akan kembali dari kota dengan selamat sampai di rumah nenek. Jadi izinkan Viara ke kota yah nek" pinta Viara memelas.


Viara sengaja menggunakan mata memelasnya karena Viara tahu jika neneknya sangat menyayanginya hingga tidak berani menolak permintaannya


"Baiklah nak, tapi kamu sarapan dulu sebelum pergi yah sayang" pinta nenek Lula lembut


"Baik nek" jawab Viara sambil tersenyum dan mulai menyantap sarapannya.


Setelah selesai sarapan dan meminta resep obat dari neneknya, Viara langsung menaiki taksi online pesanannya yang akan mengantarnya ke kota


Dalam perjalanannya menuju ke apotik diitengah keriuhan kota B, Viara melihat seorang ibu dipinggir jalan yang menangis meminta tolong sambil mengendong anaknya


"Pak, tolong berhenti sebentar" perintah Viara pada supir taksi. Setelah taksi berhenti, Viara segera turun dan menghampiri ibu itu


"Astaghfirullah, anaknya kenapa Bu?" Tanya Viara khawatir melihat anak berusia sekitar 8 tahun yang tengah sesak nafas di gendong ibunya


"Nona, kumohon tolong anak saya nona, sejak tadi saya meminta tumpangan namun tak ada satupun yang berhenti dan menolong saya. Tolong anak saya nona, hiks.. Hiks.." Pinta ibu itu memohon sambil terus menangis melihat kondisi anaknya.


"Ikuti saya bu" Ucap Viara mengambil alih anak itu dari gendongan ibunya dan langsung berlari masuk ke taksi diikuti ibu anak tersebut


"Pak, tolong antar saya ke rumah sakit, saya akan menambah lagi biayanya. Tolong secepatnya yah pak" titah Viara


"Baik nona" Ucap pak supir mulai melanjutkan taksinya membela jalanan kota


"bertahanlah nak, sebentar lagi kita akan segera sampai di rumah sakit. Ibu mohon bertahanlah nak" lirih Ibu itu terus menangis melihat kondisi anaknya yang semakin parah di pangkuan Viara.


Viara merogoh tasnya untuk mengambil alat bantu pernapasannya yang masih baru dan langsung dipasangkannya di hidung anak tersebut


"Bernapas pelan-pelan yah dek, jangan takut. Adek akan baik-baik saja" Ucap Viara menghapus air mata di pipi anak yang tengah berjuang melawan sakitnya itu.


Viara terus memberikan arahan pada anak itu yang sepertinya mengalami penyakit yang sama dengannya. Karena Viara sudah berpengalaman melihat dokter Citra yang sering membantunya, Viara terus memberikan arahan agar anak itu tetap tenang dan bernafas dengan normal.


"Bagus dek, tetap tenang dan bernafas pelan-pelan yah" Ucap Viara tersenyum dan mengusap lembut kening anak itu yang dibanjiri keringat


Viara mendongkakkan kepala untuk menatap jalan di depannya dan alangkah terkejutnya Viara melihat jalanan di depan yang begitu macet


"Bagaimana ini nona hiks.. hiks.. Jalanan di depan sana sangat macet, bagaimana kita bisa sampai ke rumah sakit dalam waktu dekat" lirih Ibu itu terus menangis di samping Viara


"Ibu tenang yah, semuanya akan baik-baik saja. Pak tolong ikuti arahan saya yah, saya tahu jalan pintas menuju rumah sakit dengan cepat" kata Viara.


Supir itu mengangguk dan mulai mengikuti arahan Viara yang terus memberitahu letak jalan yang harus mereka lewati.


5 menit kemudian didepan gerbang rumah sakit, Viara membayar supir taksi yang dinaikinya dan kembali berlari masuk ke rumah sakit sambil terus mengendong anak itu.


"Bertahan yah dek, adek akan baik-baik saja" Ucap Viara menenangkan anak itu yang kembali menangis di gendongannya sambil terus berlari ke rumah sakit


"Dokter, tolong adik ini dokter" Teriak Viara meminta tolong di ruang tunggu rumah sakit. Saat melihat brankar kosong yang dikeluarkan perawat dari suatu ruangan, Viara kembali berlari mendekati brankar itu dan membaringkan anak kecil itu di brankar tersebut


"Viara!!!" gumam Pandu yang tengah berdiri di depan meja resepsionis sambil terus mengamati Viara yang baru saja masuk


"Dokter, tolong anak ini dokter, kumohon tolong dia dokter" pinta Viara menatap penuh harap pada dokter Citra


"Astaghfirullah Iyah Viara, aku akan segera menolongnya" balas Dokter Citra


"Kalian cepat bawa pasien ke ruangan ku" perintah dokter Citra pada dua suster yang mendorong brankar anak itu


"Kamu tenang yah dek, percaya sama kakak. Adek akan sehat kembali dan semuanya akan baik-baik saja" Ucap Viara ikut mendorong brankar anak itu dan berusaha menenangkannya.


Anak itu menganggukkan kepalanya dan menerbitkan senyumannya pada Viara


Langkah Viara terhenti setelah anak itu dibawa masuk ke ruangan dokter Citra. Viara tersenyum melihat anak itu yang tengah dirawat didalam sana lewat pintu kaca ruangan dokter Citra


"Semangat yah dek, kamu pasti bisa" gumam Viara membalas senyuman anak itu padanya.


Setelah anak itu tertidur pulas karena pengaruh obat bius, Viara membalikkan badannya dan beralih menatap ibu dari anak itu yang masih menangis sesenggukan di kursi depan ruangan dokter Citra


"Ibu kenapa nangis lagi? Anak ibu kan sudah dirawat intensif didalam sana" Kata Viara mengusap lembut punggung ibu itu yang menangis sambil memeluknya


"Iyah nak, tapi ibu tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit ini, ibu juga tidak punya uang untuk membeli obat untuk putra ibu hiks... Hiks.. " lirih ibu itu semakin terisak


"Ibu tenang saja yah, saya yang akan membayar biaya rumah sakit dan menebus semua obat untuk anak ibu" Ucap Viara mencoba tersenyum pada ibu itu karena kembali merasakan sensasi berputar dikepalanya


"Tidak usah nak, kamu sudah sangat berjasa untuk kami saat kamu membawa anak saya ke rumah sakit. Ibu tidak mau merepotkanmu lagi nak" tolak ibu itu halus


"Tidak apa-apa Bu, saya ikhlas untuk membantu ibu dan anak ibu kok, saya tidak mengharapkan imbalan dengan semua itu, tapi saya hanya ingin anak ibu kembali sehat dan tersenyum lagi. Jadi jangan ditolak yah Bu" pinta Viara tersenyum dan perlahan-lahan menutup matanya


"Tapi nak, astaghfirullah nak!!!" Teriak ibu itu panik melihat Viara yang tak sadarkan diri sambil bersandar padanya. Dokter Citra yang mendengar teriakan di depan ruangannya segera keluar ruangan dan alangkah terkejutnya ia melihat Viara yang tak sadarkan diri sambil ditahan oleh ibu itu


"Astaghfirullah Viara!!!"


"Dokter tolong nona ini, tolong selamatkan dia juga dokter" lirih Ibu itu berkaca-kaca


"Ibu tenang saja yah, aku akan segera menanganinya" Ucap dokter Citra menenangkan ibu itu dan memapah Viara masuk kedalam ruangannya dibantu oleh seorang perawat.


Dari pintu kaca ruangan dokter Citra, ibu itu menatap sendu pada wanita yang terbaring didalam sana. Wanita yang baik yang datang menolongnya di waktu yang tepat. Wanita baik yang seketika mengangkat beban hatinya dan mengulurkan tangan padanya saat orang lain tak mau untuk menolongnya.


"Bantulah wanita baik itu ya Rabb, mudahkanlah urusannya dan sehatkanlah tubuhnya. Wanita sebaik dirinya sangat berhak untuk mendapatkan kebahagiaan" gumam Ibu itu menghapus air matanya sambil terus menatap Viara yang tengah dirawat di dalam sana.


Tak berselang lama, ibu itu segera menghampiri pintu ruangan dokter Citra yang sudah terbuka


"Dokter, bagaimana keadaan anak saya dan gadis itu?" Tanya Ibu itu masih dengan linangan air mata


"Ibu tenang saja yah, berkat pertolongan pertama yang tepat, anak ibu bisa diselamatkan dan kondisinya sudah sangat membaik sekarang. Jika bukan karena pertolongan pertama yang tepat, mungkin nyawa anak ibu tidak bisa tertolong sekarang" Ucap dokter Citra menjelaskan


"alhamdulillah" ibu itu meneteskan air mata bahagia dan melakukan sujud syukur kepada sang Pencipta. Ibu itu segera bangkit dari sujudnya dan mengucapkan terimakasih kepada dokter Citra


"Lalu bagaimana dengan nona itu dokter?" Tanya ibu itu kembali

__ADS_1


"Viara masih tak sadarkan diri Bu. Dia masih harus dirawat sementara di rumah sakit ini" seketika bulir bening kembali lolos dari mata ibu itu mendengar penuturan dokter Citra


"Ibu bisa menemui anak ibu saat dia telah dipindahkan ke ruang rawatnya yah. Kalau begitu saya permisi dulu" pamit Dokter Citra


"Baik dokter, terimakasih" balas ibu itu sambil tersenyum


Setelah dokter Citra pergi, Ibu itu kembali berdiri di depan pintu ruangan dan menatap wanita yang masih tertidur pulas di depan sana. Pandu yang sejak tadi berada di rumah sakit dan mengamati Viara sejak Viara tiba di rumah sakit mulai melangkahkan kakinya mendekati ibu itu


"Bu, apa ibu kenal dengan wanita tadi?" Tanya Pandu ramah


"Ibu tidak mengenalnya nak, tapi ibu tahu kalau dia adalah wanita yang berhati malaikat. Jika bukan karena bantuan dan pertolongan pertama yang dilakukannya pada anakku tadi, mungkin nyawa anakku sudah tak tertolong sekarang. Beribu-ribu ucapan terimakasih tak mampu membayar tindakannya untuk kami hari ini" Ucap ibu itu menghapus air matanya. Ibu itu tersenyum dan beralih menatap Pandu di sampingnya


"Dia adalah wanita yang baik dan sangat berjasa bagi hidup kami. Ibu yakin, wanita itu pasti tidak akan pernah melukai hati oleh lain. Jika dia mau, dia bisa saja melewati dan meningalkan kami yang terus memohon pertolongan di pinggir jalan. Tapi dia tidak mungkin melakukan hal itu karena hatinya sangatlah mulia. Siapapun yang berhasil memilikinya, dia pasti lelaki yang paling beruntung di dunia ini. Semoga wanita itu diberi umur yang panjang dan mendapatkan semua kebahagiaan yang ada di dunia ini" Ucap ibu itu tersenyum manis pada Pandu dan juga Viara didalam sana.


Setelah brankar anaknya dipindahkan ke ruang rawatnya, ibu itu segera menyusul anaknya meninggalkan Pandu sendirian di depan pintu ruangan dokter Citra.


Pandu beralih menatap kedalam ruangan dokter Citra dan menatap sendu pada Viara yang masih terbaring lemah didalam sana.


"Adek" Seketika bulir bening lolos dari matanya melihat kondisi Viara sekarang dan ucapan ibu tadi yang kembali tergiang di telinganya


Pandu membuka pintu ruangan dokter Citra dan berjalan mendekati wanita yang masih dirindukannya itu


"Walaupun kamu begitu melukai hatiku, tapi hatiku masih sangat mencintaimu sayang. Aku memang sangat membencimu sekarang, tapi hatiku ini selalu saja rindu dan teringat akan dirimu" Ucap Pandu mengelus puncak kepala Viara yang masih tak sadarkan diri dengan lembut


"Maafkan abang yah, sekarang ada hati yang lain yang harus abang jaga. Maafkan abang karena tidak bisa menjadi pendampingmu lagi. Sebentar lagi abang akan menikah dengan wanita lain yang juga mencintai abang. Kalau bisa kamu lupakan abang, agar kamu bisa menemukan yang jauh lebih baik daripada abang" lirih Pandu mengenggam tangan Viara.


Melihat ada pergerakan di jari-jari Viara, Pandu langsung melepaskan tangan Viara dan melangkah keluar ruangan itu


Viara yang mulai sadar perlahan-lahan membuka matanya dan dalam pandangannya yang masih sangat buram, dia melihat bayangan punggung seseorang yang berjalan keluar dari ruangan dokter Citra


Tak berselang lama, dokter Citra masuk kedalam ruangannya dan tersenyum melihat Viara yang sudah terbangun dan tengah duduk bersandar di brankar nya


"Kamu sudah bangun Viara?" Tanya Dokter Citra senang


"Iyah dokter. Dokter siapa orang yang baru saja keluar dari ruangan ini beberapa menit yang lalu?" Tanya Viara


"Mungkin itu seorang perawat yang datang memeriksa kondisimu tadi" Ucap Dokter Citra sambil tersenyum


"Dokter, bagaimana dengan anak kecil tadi?" Tanya Viara berkaca-kaca mengingat wajah kesakitan anak itu


"Alhamdulillah dia sudah baik-baik saja Viara. Aku sudah mendengar cerita dari ibu anak itu. Kamu memang hebat Viara, kamu dengan sigap memberikannya pertolongan pertama pada anak itu. Anak itu mengalami sesuatu hingga dia kesulitan untuk bernafas. Beruntung kamu langsung memasangkannya alat bantu pernapasan saat menuju ke rumah sakit, kalau tidak mungkin nyawa anak itu sudah tak bisa tertolong lagi" Mendengar penuturan dokter Citra, Viara meneteskan air mata bahagia dan menerbitkan senyumnya pada dokter Citra


"Aku senang anak itu baik-baik saja dokter. Disaat hidupku sudah akan berakhir tak lama lagi, aku bangga masih bisa memberikan hidup yang baru untuk anak itu" Ucap Viara tersenyum. dokter Citra meneteskan air matanya mendengar penuturan Viara dan berhambur memeluknya erat


"Kamu harus tetap hidup Viara, kamu belum mendapatkan kebahagiaan yang kamu impikan selama ini. Kamu juga pernah berjanji untuk menghadiri pernikahanku bukan? Maka teruslah hidup dan penuhi janjimu itu" lirih dokter Citra terisak di bahu Viara.


"Maafkan aku dokter, maafkan aku yang tidak bisa memenuhi janjiku padamu. Tubuhku sudah sangat lelah dokter, aku sudah tak sanggup menahan semua ini lagi. Mungkin dengan pergi untuk selamanya, maka aku tidak akan merasakan sakit ini lagi. Izinkan aku pergi yah dokter" Ucap Viara mengelus punggung bergetar dokter Citra


"Tidak Viara, kamu tidak boleh pergi meninggalkan kami semua. Kamu boleh pergi sebentar dan kembali lagi tapi tidak dengan pergi untuk selamanya" lirih dokter Citra menangis di bahunya Viara


"Aku akan berusaha dokter" Ucap Viara menghapus air mata dokter Citra sambil tersenyum.


Setelah berpamitan pada dokter Citra, Viara turun dari brankar dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan dokter Citra.


Dengan langkahnya yang pelan dan bulir bening yang mengihiasi wajahnya, Viara berusaha sekuat tenaganya untuk terus melangkah mendekati meja resepsionis.


Pandu yang melihat Viara ingin sekali berlari memeluk pemilik cintanya itu, namun langkahnya tertahan karena Tara yang mencegahnya


"Mau kemana sayang?" Tanya Tara lembut. Karena tak kunjung ada jawaban dari Pandu, Tara mengikuti arah pandang calon suaminya dan tertengun melihat Pandu yang terus menatap Viara di depan sana


"Dia lagi!!!" gerutu Tara dalam hati


"Suster, saya yang akan membayar semua biaya rumah sakit dan obat untuk anak tadi" Ucap Viara pada resepsionis


"Baiklah nona, silahkan tanda tangan di berkas ini" Ucap resepsionis menyerahkan berkas dan pulpen pada Viara


Viara mengangukkan kepalanya dan mulai menandatangani kertas itu. Setelah menandatangani berkas, Viara merogoh tasnya untuk membayar semua biaya rumah sakit anak itu


"Ini mbak"


"Baiklah, terimakasih nona" ucap resepsionis itu dibalas anggukan kepala oleh Viara.


Ketika Viara membalikkan badannya untuk pulang, Viara tersenyum getir melihat dua orang yang dia kenali yang akan berjalan melewatinya


"Viara, apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Tara sambil merangkul lengan Pandu dengan manja


"Aku ada urusan di disini kak" balas Viara mencoba tersenyum


"Apa kamu tidak mau mengucapkan selamat pada kami?" Tanya Tara berusaha melukai hati Viara


"Ohh yah, selamat untuk kalian berdua" kata Viara berusaha tersenyum sambil membalas uluran tangan Tara padanya


"Ayo sayang, berjabatan tanganlah dengannya" Ujar Tara lembut pada Pandu yang hanya terdiam di tempat.


Pandu menganggukkan kepalanya dan mulai mengulurkan tangannya di depan Viara.


Dengannya tangan gemetar menahan sesak dan air mata yang sebentar lagi akan tumpah, Viara membalas uluran tangan Pandu sambil terus tertunduk tak berani menatapnya. Viara mendekatkan tangan Pandu ke wajahnya bersiap menyalaminya seperti biasa, namun Viara langsung menghentikan tangannya. Viara ingin sekali menyalami tangan Pandu, namun Viara sadar jika dua bukan lagi siapa-siapa untuk Pandu. Pandu juga telah memiliki calon istri yang sejak tadi bergelayut manja di tangannya


"Selamat untuk kalian berdua, semoga bahagia yah" Ucap Viara menguatkan hatinya dan mencoba tersenyum pada keduanya


"Iyah Viara, Terimakasih" Seru Tara tersenyum pada Viara


"Kalau begitu aku pamit dulu yah, assalamu'alaikum" ucap Viara membalikkan badannya sebelum air matanya tumpah di hadapan keduanya


"Kamu pasti terluka melihat kekasihmu yang sebentar lagi akan menjadi milikku hihi" batin Tara tersenyum senang melihat punggung Viara yang semakin menjauh


"Kamu harus tetap kuat yah Viara, jangan menangis atau menjadi lemah di hadapan mereka semua. Kamu tenang saja yah, sebentar lagi semuanya akan baik-baik saja. Saat itu tiba, kamu tidak akan menangis lagi, kamu juga tidak akan pernah merasakan sakit lagi. Tak lama lagi, kamu akan tidur terlelap mengikuti teman kecilmu. Teman kecilmu pasti sudah menunggumu diatas sana, jadi jangan menangis saat kamu telah bertemu dengannya lagi. Tetap kuat yah, semuanya akan baik-baik saja" gumam Viara menghapus air matanya dan menatap keatas langit


"Tunggu aku yah Risya, sebentar lagi kita akan bertemu dan bermain bersama seperti dulu lagi. Sebentar lagi, aku akan selalu ada dan terbaring di sampingmu. Aku juga akan terlelap bersamamu selamanya...."

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2