Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)

Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)
BAB 28. Menjauh Untuk Sementara


__ADS_3

5 orang preman yang masih memiliki tenaga segera bangkit untuk mengajar Pandu yang telah membuat Ketua mereka tersungkur dan tidak bisa melawan lagi


"Kaauuu!!! Ucap kelimanya serentak dan berlari menghajar Pandu. Viara berbalik kebelakang dan menatap kelima preman itu sangat tajam seolah siap membunuh kelimanya


"BERHENTI!!!!!" Tegas Viara berdiri tepat di depan Pandu dengan pisau ditangannya.


"Jika kalian berani maju atau memukulnya akan ku lenyapkan kalian!!" Ancam Viara menodongkan pisau kearah 5 preman itu


"Untuk apa kau melindunginya nona, dia hanya pria lemah yang berseragam" Ucap salah satu preman tersenyum smirk


"Terserah kalian mau berkata apa tentangnya, tapi bagiku dia lelaki kuat dan terbaik yang pernah aku kenal. Selama ini dia sudah melindungiku, jika kalian berani menyentuhnya maka hadapi aku!!" Tegas Viara dengan tatapan tajamnya. Sementara Pandu yang berdiri dibelakangnya merasakan hangat didalam hatinya hingga bibirnya menyunggingkan senyuman tipisnya mendengar ucapan Viara barusan


"Hahah dia berani juga, aku suka keberanian mu gadis kecil. Apa kau mau menjadi pacarku?" goda salah satu preman memajukan tangannya untuk memegang dagu Viara


"Apa katamu!!!" geram Viara mengeluarkan selang yang tersembunyi dibelakangnya dan mulai mencambuki para preman satu persatu


Prak..


Prak


Prak..


"Hahahhah, dasar payah. Aku sudah bisa jadi pelatih sekarang" tawa Viara senang. Pandu tersenyum mendengar ucapan Viara dan melihat keahlian wanita di depannya. Viara kembali mengayunkan selang yang didapatnya di semak-semak terus menerus ke tubuh dan wajah para preman itu


Plak..


Plak..


Plak..


Prang....


"Pergi kalian dari sini, sebelum ku laporkan pada kepala desa dan polisi agar kalian mendekam di penjara!!!"


"Ampun nona" ucap para preman dan mulai berlari terbirit-birit meninggalkan Viara yang tersenyum kegirangan


"Huh, dasar preman menyebalkan" ucap Viara meniup selang nya dan meletakkannya di pinggir jalan. Viara membalikkan badannya dan berlari menyusul Pandu yang sudah berjarak agak jauh darinya

__ADS_1


"Bang Pandu tunggu!!" seketika Pandu menghentikan langkahnya mendengar panggilan Viara


"Abang udah nggak apa-apa kan?" Tanya Viara cemas


"Nggak dek, abang nggak apa-apa" jawab Pandu tanpa menoleh kepada Viara dan melanjutkan langkahnya yang sedikit pincang.


"Biar adek bantu yah" ucap Viara merangkul lengan Pandu


"Nggak usah dek, abang bisa sendiri" ucap Pandu datar


"Tapi bang...."


"Sudah kubilang aku bisa sendiri!!" Bentak Pandu segera menarik lengannnya kasar dari rangkulan Viara dan kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Viara yang mematung di tempat. Viara tak percaya dengan perubahan sikap Pandu secara tiba-tiba hanya terdiam menatap nanar punggung Pandu yang telah menjauhinya


"Apakah adek punya salah padamu bang, sehingga abang berubah seperti ini" gumam Viara melihat keatas agar air matanya tidak tumpah


"Maafkan abang dek, mungkin sekarang kita harus menjauh untuk sementara. Biarlah abang menjauh darimu agar rasa cinta ini tak semakin besar ketika melihatmu bersama orang lain"


______


Dengan langkah pincangnya, Pandu berjalan memasuki pos tentara yang terlihat sangat sepi. Ketika pandu membuka tudung saji, sudah terdapat sepiring nasi dengan lauk pauk lengkap yang terhidangkan diatas meja


"Ohh itu punya abang, tadi dek Viara yang menyiapkannya untuk abang" jawab Rama


"Viara?"


"Iyah bang,tadi kami makan bersama disini. Karena abang nggak ada, jadi Viara keluar nyari abang untuk makan bersama. Dek Viara sengaja nyiapin ini buat abang untuk jaga-jaga kalau abang udah pulang duluan" tutur Bang Rama menjelaskan


"lalu apa Viara udah makan bang?" Tanya Pandu sedikit cemas


"Dia hanya makan sedikit tadi bang, setelah itu dia pergi nyari abang" mendengar ucapan Bang Rama, Pandu meraih kunci motor dan berjalan ke depan pos jaga


"Ehh baru juga datang mau kemana lagi bang?" Tanya Bang Rama


"Mau kedepan bang, mau nyari Viara" Kata Pandu segera membunyikan motornya dan kembali ke tempat tadi. Bang Rama menerbitkan senyumnya melihat kekhawatiran Pandu pada Viara, begitu juga sebaliknya saat mengingat wajah cemas Viara tadi pagi yang tidak mendapati Pandu ada diantara mereka


"Semoga dialah takdirmu Bang"

__ADS_1


______


Setelah sampai di jalan sepi tadi, Pandu tak mendapati adanya Viara disana, begitu juga dengan jalan yang dia lewati saat datang kesini, Viara justru tak terlihat dimana-mana


"Apa adek udah pergi ke sekolah yah" gumam Pandu dalam hati. Pandu segera turun dari motornya dan berjalan menghampiri benda yang tidak asing baginya


"Ini jam tangan Viara, jam yang ku berikan padanya di pasar malam dua bulan yang lalu. Astaghfirullah dek" ucap Pandu khawatir dan langsung merogoh ponselnya untuk menghubungi Viara


Jeda yang cukup panjang


"Ahh nomornya nggak aktif" gumam pandu kembali mencoba menghubungi Viara namun hasilnya tetap sama. Pandu mengetik nomor teman Viara secara cepat dan menekan tombol untuk menghubunginya


"Halo bang Pandu? Ada apa?" Tanya Ila di seberang sana


"Halo dek, apa adek lihat Viara pagi ini?" Tanya Pandu


"Ohh Viara lagi di sekolah bang, baru 10 menit dia sampai disini" jawab Ila


"bolehkah abang berbicara dengannya sebentar?" Tanya Pandu


"Maaf bang, jam sekolah sedang berlangsung sekarang. adek juga sedang mengajar, mungkin Viara juga sedang mengajar di kelas yang lain" tutur Ila menjelaskan


"Ohh terimakasih Infonya dek, maaf jika abang menganggu waktumu yah"


"Ahh nggak Apa-apa bang" Jawab Ila tersenyum. Setelah mengucapkan salam, Pandu mematikan sambungan dan menjalankan motornya menuju ke sekolah tempat Viara mengajar


"Maafkan abang yah dek, sudah membentakmu seperti tadi" gumam Pandu teringat kesalahannya saat menolak Viara yang membantunya tadi pagi.


Setelah sampai di depan gerbang sekolah, Pandu mengedarkan pandangannya dan pandangannya terhenti saat melihat Viara di dalam sana. Gadis yang dikhawatirkannya itu tengah duduk sendiri di depan kelas dan terus menatap lurus ke depan, entah apa yang dipikirkan wanita itu hingga bulir bening ikut tumpah dari matanya


"Ehh Bu Viara, lagi ada masalah ya?" Tanya Bu Elly


"Ahh nggak kok Bu, saya hanya mencari angin saja. Soalnya gerah didalam" sangkal Viara menghapus air matanya


"Ohh yaudah Bu, saya pamit ke kelas dulu yah" Ujar Bu Elly diangguki Viara sambil tersenyum.


Viara menghela nafasnya dan beranjak dari duduknya untuk masuk ke kelas. Sebelum membuka pintu, Viara melirik kearah gerbang sekolah dan menyadari Jauh didepan sana terlihat Pandu tengah duduk dimotornya sambil melihat kearahnya. Viara tersenyum getir dan melangkah masuk kedalam kelas tempatnya mengajar

__ADS_1


"Maafkan abang atas sikap abang tadi padamu. Untuk sekarang kita menjauh dulu yah dek, sampai hati abang siap untuk melepaskanmu bersama dengan sahabat abang. Jujur abang sayang banget sama kamu, tapi abang sadari posisi abang dimana. Abang tidak ingin menjadi duri dan perebut cinta sahabat abang. Biarlah abang berjuang sendiri untuk mengikhlaskan perasaan ini"


Bersambung.......


__ADS_2