Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)

Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)
BAB 39. HUT Desa S


__ADS_3

Hari ini bertepatan dengan hari minggu, Desa S tengah mengadakan lomba untuk memeriahkan ulang tahun desa tersebut. Semua warga desa yang memiliki kemampuan diwajibkan untuk ikut dan sisanya diundang untuk turut meramaikan serta meriahkan berbagai acara penyambutan ulang tahun tersebut.


Tentu kesempatan ini diikuti dan dilirik oleh warga desa yang memiliki potensi. Selain untuk memeriahkan ulang tahun desa tersebut, lomba-lomba ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi dan kekompakan sesama warga desa. Dengan diadakan perlombaan ini diharapakan agar meningkatkan kreativitas dan semangat warga desa untuk bekerja sama dan membantu antar sesama.


Seperti saat ini, Viara dan teman-teman gurunya juga berniat untuk mengikuti lomba memasak yang diadakan di depan balai desa. Terlihat didepan balai desa sudah sangat ramai dengan kelompok ibu-ibu para warga desa tersebut. Kini semuanya tengah mendengarkan acara pembukaan oleh kepala desa dengan pak ketua adat disampingnya


"Dalam rangka memperingati HUT Desa S yang ke 50 tahun, kami para pemimpin dan dewan desa mengadakan berbagai jenis lomba untuk memeriahkan hari ulang tahun desa kita ini. Dan untuk para kelompok ibu-ibu sekalian, di kesempatan ini kita tengah melangsungkan salah satu acara memeriahkan HUT desa ini dengan lomba yang digemari ibu-ibu sekalian yaitu lomba memasak. Hmm, jika memang ini semua karena usulan para ibu-ibu sekalian, maka kami siap menyediakan semua kebutuhan dan peralatan pelaksanaan lomba ini" Seru Pak Kepala Desa mendapatkan seruan senang dari para peserta kelompok ibu-ibu


"Hei bentar, kenapa kita dipanggil ibu-ibu yah, padahal kita kan masih muda, belum nikah lagi" kata Syifa berbisik dengan raut wajah sedikit kesal


"Kamu tahu nama kita yang sering dipanggil warga desa? Ibu Guru, jadi wajarlah jika kita juga dipanggil ibu-ibu" Tutur Ila menekankan bagian Ibu Guru dengan suara yang juga setengah berbisik


"Iyah Bu Syifa, mending panggil ibu-ibu aja. Kan disini lebih dominan ibu-ibu, kalau gadis-gadis mah nggak terlalu banyak sih" Ucap Bu Elly


"Iyah Bu Elly benar, coba sebutannya diganti gadis-gadis bukan ibu-ibu, bagaimana tanggapan Ibu-ibu nanti" bisik Ila sambil menahan tawa


"Sudah-sudah, ayo dengarkan sambutan dari Kepala Desa, setelah itu terserah kalian mau melakukan apa" kata Viara sambil memperhatikan pak Kepala Desa yang tengah membuka acara di depan sana


"Tunjukan jika desa kita memiliki kekayaannya jenis makanan yang meskipun bahan pembuatan makanan tersebut dari bahan sederhana yaitu singkong. Tunjukan kekompakan dan kreativitas ibu-ibu sekalian dalam mengolah singkong tersebut menjadi makanan yang siap disantap. Jadi langsung saja, lomba memasak antar kelompok ibu-ibu kami buka" Seru kepala Desa menepuk Mic di depannya


Prok..... Prok.... Prok.... (riuh semua ibu-ibu peserta dan penonton keberlangsungan lomba tersebut)


Setelah penyambutan selesai, para kelompok ibu-ibu itu antusias dan menuju ke tenda masing-masing yang sebelumnya telah dipersiapkan oleh pihak panitia mulai dari bahan makanan, bumbu dapur dan juga peralatan memasak.


"Kita mau buat menu apa dengan singkong ini?" Tanya Syifa sambil memegang satu buah singkong ditangannya. Mendengar pertanyaan Syifa, semua ibu guru berjumlah 6 orang itu terdiam, karena awalnya menang mereka tidak mengetahui caranya mengolah singkong.


"Kita buat brownis singkong aja teman-teman" saran Viara memecah kebimbangan


"Hah, brownies singkong!!! emang bisa?" Tanya Syifa tak percaya


"Bisa dong Syifa, sewaktu aku tinggal bersama nenekku di desa, aku dan nenekku selalu membuat brownies singkong kalau lagi ada acara adat di desa" tutur Viara menjelaskan


"Jadi bagaimana, kita buat brownies singkong atau ada menu lain yang terlintas dipikiran rekan-rekan sekalian?" Tanya Viara


"Brownies singkong aja Viara, lagi pula kami tidak tahu caranya mengolah singkong" Cengir Syifa diangguki rekan-rekannya


"Yaudah, ayo sini aku ajarin" Ajak Viara muka mengumpulkan semua bahan dibantu rekan-rekan satu kerjanya. Bahan-bahan yang digunakan Viara untuk membuat brownies singkong seperti tepung terigu, singkong, susu bubuk, gula pasir, vanili, telur, minyak sayur dan lain-lain


"Viara, langkah selanjutnya singkongnya diapain?" Tanya Syifa


"singkongnya dikupas dan dan dibersihkan yah, setelah itu baru diparut" titah Viara menjelaskan


"Oke" Jawab para guru itu serentak dan mulai mengupas singkong bersama-sama. Viara menyunggingkan senyumnya melihat kerja sama teman-teman nya dan kembali fokus pada pekerjaannya. Viara memanaskan kukusan dan menyediakan 4 wadah untuk meletakkan adonan, karena selain untuk perlombaan, brownies singkong buatan mereka juga bisa di cicipi oleh pembuatnya dan teman-teman mereka yang lain.


"Ini Viara, singkongnya sudah diparut. langkah selanjutnya bagaimana?" Tanya Ila dengan wadah singkong parut di tangannya


"kemarilah, kita akan mengolah bersama-sama adonan singkong itu" ajak Viara duduk di tanah yang beralaskan terpal diikuti teman-temannya


Langkah pertama, Viara mencampurkan singkong parut tadi bersamaan dengan terigu dan susu yang sudah diayak sebelumnya. setelah itu Viara menambahkan minyak sayur pada adonan dan kembali mencampurnya sampai merata.


"Ayo teman-teman letakkan adonan ini di keempat wadah yang sudah aku siapkan sebelumnya" perintah Viara


"Baik" jawab semuanya serentak dan mulai menata adonan yang dibuat tadi kedalam cetakan yang sudah diolesi margarin sebelum oleh Viara.


Setelah adonan sudah tertata rapi di dalam wadah, para guru tersebut memasukannya kedalam kukusan atas intruksi Viara.


40 menit kemudian


"Ayo teman-teman, browniesnya sudah matang tuh, langsung diangkat aja" kata Viara lembut


"Siap komandan" jawab semuanya serentak dan mulai mengeluarkan wadah berisi adonan yang sudah jadi itu

__ADS_1


"Wah Viara, browniesnya cantik!!! padahal bahan dasarnya terbuat dari singkong" seru Syifas berbinar


"iyah Viara, baru kali ini aku melihat singkong bisa diolah menjadi brownies seperti ini" seru Bu Elly berbinar diangguki teman-temannya


"Alhamdulillah teman-teman. Ayo kita hias browniesnya, aku sudah menyiapkan krim cokelat diatas meja tadi" ajak Viara. Viara bersama-sama rekan-rekannya pun mulai menghias adonan itu secantik mungkin sesuai keahlian mereka.


Ketika tengah menghias adonan, dari jarak yang sedikit jauh Viara melihat seorang anak kecil yang duduk sendirian dibawah pohon sambil melihat keatas


"Ila, tolong lanjutkan menghias browniesnya yah, aku ada urusan sebentar. Aku akan kembali secepatnya" pinta Viara lembut


"Baik Viara, selesaikan urusanmu sebelum penilaian dimulai yah" kata Ila dibalas anggukan kepala oleh Viara sambil tersenyum. Viara langsung keluar tenda dan melangkahkan kakinya menuju anak kecil tersebut


"Dek, kenapa adek duduk dan menangis disini? kenapa nggak main sama teman-temannya?" Tanya Viara lembut


"Hiks.. Bu Guru, layangan Evan tersangkut diatas pohon Bu. Evan nggak bisa naik keatas karena pohonnya tinggi, kaki Evan nggak sampai untuk panjat pohonnya. Kalau Evan suru ibu beli yang baru, ibu nggak bisa belikan karena ibu nggak punya uang banyak hiks.." Ucap anak itu menjelaskan sambil menangis.


"Tenang yah dek, nanti kakak bantu ambilkan diatas layangannya" Ucap Viara mengusap lembut puncak kepala anak kecil itu. Viara menoleh keatas dan menatap intens pohon di depannya


"Hmm aku pasti bisa memanjatnya, lagipula ada beberapa dahan dan celah yang bisa aku jadikan pijakan" gumam Viara. Viara mulai mengangkat tok panjangnya dan berusaha memanjat pohon tersebut.


Selang beberapa waktu, Viara kini telah sampai diatas pohon dan berpijak di dahan yang cukup besar untuk mengambil layangan anak itu yang tersangkut di depannya


"Alhamdulillah, akhirnya dapat juga" gumam Viara senang melihat layangan di tangannya


"adek, ini layangannya. Ditangkap yah" perintah Viara diatas sana. Viara menjatuhkan layangan kebawah dan anak laki-laki kecil itu dengan sigap menangkapnya


"Yeah!!!Terimakasih ibu Guru" seru anak itu menghapus air matanya dan melompat-lompat kegirangan dengan layangan di tangannya


Viara ikut tersenyum melihat kegirangan anak itu, namun ketika Viara menoleh tepat kebawahnya


Deg....


Senyum di wajahnya perlahan-lahan hilang dan keringat dingin seketika membasahi keningnya dengan sensasi berputar menatap ketinggian dibawahnya


Anak kecil yang dibawah sana berhenti meloncat kegirangan dan menatap gadis yang menolongnya masih bertengger diatas sana


"Bu guru, ibu kenapa masih diatas itu? ibu nggak bisa turun yah" tanya lelaki kecil itu sedikit cemas


"ehh Iyah dek, ibu nggak bisa turun" Ucap Viara sedikit malu untuk mengatakan yang sesungguhnya


"Ibu Guru bagaimana sih, kan bisa panjat, kenapa nggak bisa turun?" Tanya anak itu


"Haduh dek, aku sampai begini karena kamu juga, coba aku nggak panjat nih pohon demi kamu, tentu kamu masih menangis dibawah sana. kalau kamu temanku sudah kujewer telingamu. Huh dasar!!!" batin Viara mendengus kesal


"Hei Dek, daripada bertanya-tanya, mending cari bantuan untuk tolongin ibu turun deh" perintah Viara berusaha memendam kekesalan dan rasa takutnya


"Iyah baik bu,sebentar Evan cari bantuan dulu" seru Evan mulai berlari kearah keramaian.


Selang beberapa waktu, Evan telah kembali menemui Viara sambil menarik tangan seorang lelaki berseragam loreng


"Itu pak tentara, ibu guruku ada diatas sana" Ucap Evan cemas sambil menunjuk keatas pohon. Lelaki itu beralih menatap keatas, seketika tawa renyahnya pecah melihat gadis yang dicintainya berada diatas sana dengan raut wajahnya yang kesal


"Aduh dek, kenapa malah ngajakin dia ke sini sih" gerutu Viara dalam hati


"Hai sayang, ngapain adek diatas pohon? cari serangga yah?" Tanya Andra sambil menahan tawa


"Bukan cari serangga, tapi nyari abang" kesal Viara


"Nyari abang? kan abang ada di lapangan sayangku bukan diatas pohon"


"Udahlah bang, daripada tertawa mulu mending bantuin adek turun" perintah Viara dari atas sana

__ADS_1


"Loncat aja dek, nanti abang tangkap" Ucap Andra lembut


"nggak bang, adek nggak mau loncat. adek takut!!" lirih Viara kembali ketakutan menatap sensasi berputar ketinggian dibawahnya


"Loncat aja sayang, nggak apa-apa kok. abang akan menangkapmu. Jadi kamu tenang yah dan ikuti intrusi abang" perintah Andra lembut


"nggak mau bang, adek berat takutnya abang nggak bisa tangkap adek. abang cari tangga aja yah untuk bantu adek turun" pinta Viara ketakutan.


"Ya Ampun dek, tubuhmu itu kecil dan kurus sayang, jadi abang nggak keberatan kok untuk tangkap kamu, melompat lah sayang" Ucap Andra berusaha tetap tenang menghadapi gadis diatasnya


"ayolah bang cari tangga saya" pinta Viara


"Hmmm baiklah dek, tetap diatas situ yah, abang cari tangga dulu" kata Andra dibawah sana


"Iyah bang, cepat kembali yah bang, adek takut sendirian di sini" pinta Viara bergetar ketakutan. Andra mengangguk dan mulai berlari mencari tangga.


Sudah tiga menit Andra pergi mencari tangga namun tanda-tanda dia akan kembali tak kunjung nampak


"Aduh abang kemana sih, kok lama banget?" gumam Viara semakin ketakutan dengan keringat dingin membasahi keningnya.


Ketika Viara memperbaiki posisi berdirinya, Viara tak sengaja menginjak rok panjang bagian belakangnya hingga Viara kehilangan keseimbangan dan terjatuh kebawah


"AAKHH" Teriak Viara ketakutan dan menutup matanya


Bugh...


"Apa aku sudah mati sekarang? kok aku tidak merasakan sakit yah?" batin Viara bertanya-tanya masih dalam keadaan menutup mata


"Mungkin sewaktu aku hidup, aku selalu berbuat kebaikan jadi di saat aku mati, aku tidak merasakan sakit apapun" kata Viara dalam hati masih menutup matanya


"Ehh tunggu, aku belum mati. Nyatanya aku masih bernafas. Kok tanahnya lembut banget yah" kata Viara dalam hati. Karena kebingungan nya, Viara perlahan-lahan membuka matanya dan tertegun menyadari jika dia berada di gendongan seorang lelaki tampan dengan raut wajahnya yang melihatnya cemas


"Bang.... Bang Pandu" gumam Viara tertegun cukup lama menatap lelaki yang juga tengah menatapnya sekarang


"Adek nggak apa-apa?" Tanya Pandu lembut


"nggak apa-apa bang, terimakasih sudah nolongin adek yah" Ucap Viara tersenyum manis pada pada lelaki penyelamatnya. Keduanya saling bertatapan dan melempar senyuman satu sama lain dengan posisi Viara masih ada di gendongan Pandu


"EKHM" Andra berdehem mengagetkan keduanya hingga Pandu refleks menurunkan Viara dari gendongannya. Viara membersihkan pakaiannya dan melangkah mendekati Andra


"Dek, kamu tidak apa-apa kan? tidak ada yang luka kan?" Tanya Andra cemas sambil menangkup kedua pipi Viara


"nggak bang, adek nggak apa-apa kok" balas Viara menyentuh tangan Andra di pipinya sambil tersenyum.


"Kenapa adek bisa jatuh?" Tanya Andra cemas. Viara tersenyum menatap wajah cemas kekasihnya dan mulai menceritakan segalanya


"Untung tadi bang Pandu sigap menangkap adek bang, kalau tidak adek mungkin udah nggak ada di depan abang sekarang" tutur Viara tersenyum manis pada Andra


"Alhamdulillah kalau begitu dAk, terimakasih sudah menolong Viara yah Pandu" Ucap Andra tersenyum tulus pada Pandu


"Sama-sama bang" Jawab Pandu berusaha menapakkan senyumnya dibalik rasa cemburu yang kembali menghantam hatinya


"Ayo dek kita kembali ke lapangan, mungkin penilaian lomba memasaknya akan segera dimulai tuh" ajak Andra mengenggam tangan Viara.


"Ayo bang" jawab Viara tersenyum dan mulai melangkah beriringan bersama Andra.


Viara menoleh kebelakang dan menunjukkan senyumannya, senyumannya yang paling manis dan tulus yang jarang dia tunjukkan oleh teman-teman kecuali untuk keluarganya


"Terimakasih bang Pandu, terimakasih selalu melindungiku setiap saat" kata Viara dalam hati sambil menunjukkan senyumannya


"Sama-sama dek. Aku pernah berjanji untuk melindungimu selalu, maka akan kupenuhi janji itu dengan menjagamu sepenuh hatiku karena aku menyayangimu selalu meski nyawaku taruhannya" balas Pandu menyinggung senyumannya melihat senyum tulus Viara untuknya. terlintas dibenak Pandu untuk mengucapkan kata-kata itu, seolah terdapat ikatan batin yang cukup kuat diantara keduanya namun keduanya sama-sama tidak menyadari hal itu.

__ADS_1


Dan hanya author saja yang tahun kisah mereka berdua kedepannya


Bersambung.........


__ADS_2