
Sesampainya di puskesmas desa sebelah, Pandu langsung dilarikan ke salah satu ruang penanganan intensif di puskesmas itu.
Setelah Pandu dibawah masuk kedalam dan langsung ditangani oleh tim medis, Viara menyeka air matanya dan mengamati Pandu yang tengah dirawat didalam sana lewat jendela kaca di depannya
"Bertahan yah bang hiks... Kamu boleh tidur untuk sementara sekarang, tapi jangan pernah menutup mata dan tak mau lagi membukanya. Teruslah bernafas bang, aku akan selalu menjagamu tetap aman dalam doaku" kata Viara menyunggingkan senyumnya melihat wajah teduh Pandu sambil menyeka air matanya yang kembali keluar.
Viara terus menatap Pandu yang tengah dirawat didalam sana melalui kaca tersebut sambil berdoa dan berharap agar teman yang sudah dianggapnya sebagai kakaknya sendiri baik-baik saja didalam sana.
Tak berselang lama, Viara yang melihat dokter yang menangani Pandu keluar dari ruangan tersebut menghapus air matanya dan melangkahkan kakinya mendekati dokter yang sudah berdiri tegak di depan pintu
"Dokter, bagaimana keadaan teman saya didalam sana?" Tanya Viara
"Alhamdulillah pasien baik-baik saja nona. Dia tak sadarkan diri karena terlalu banyak menghirup asap dari kebakaran itu. Tapi kami sudah melakukan penanganan yang terbaik. Dan pasien akan segera sadar beberapa menit lagi" tutur dokter itu menjelaskan
"Alhamdulillah, terimakasih pak dokter" kata Viara senang
"Sama-sama nona, ngomong-ngomong pasien tadi pacarnya yah?" Tanya dokter tiba-tiba membuat pipi Viara terasa panas seketika
"Ehh dia teman saya dokter, hehehe" kata Viara salah tingkah
"Hahah, baiklah nona. Setelah ini tolong dijaga yah temannya. Dan tolong tebus obat ini di apotek yah" Ucap Dokter tersebut sambil memberikan secarik kertas pada Viara
"Baik dokter, terimakasih" Ucap Viara sambil tersenyum. Dokter itu mengangukkan kepalanya sambil tersenyum dan berlalu mengecek pasiennya yang lain.
Viara beralih menatap ruang rawat di depannya dan menyunggingkan senyumnya melihat wajah teduh Pandu yang masih tertidur pulas seorang diri didalam sana
"Tunggu sebentar yah bang, aku akan segera kembali" gumam Viara membalikkan badannya dan berlalu menuju ke apotik untuk menebus obat Pandu.
Sesudah menembus obat di apotik, Viara kembali melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Pandu untuk menemuinya
Ceklek....
ketika Viara membuka pintu itu, Viara menyunggingkan senyumnya menatap Pandu yang sudah terbangun dan tengah mengerjab-ngerjabkan matanya
"Uhuk... Uhuk.. " melihat Pandu yang kembali terbatuk-batuk, Viara berlari menghampiri brankar Pandu dan meletakkan obat yang dibelinya diatas nakas
"Uhuk..Adek" Ucap Pandu pelan menatap wajah cemas Viara padanya. Dalam hatinya, Pandu merasa sangat bersyukur dan bahagia karena Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk hidup dan melihat wajah wanita yang dicintainya setelah hampir meregang nyawa didalam rumah yang terbakar tadi
"Iyah bang" Ucap Viara lembut.
Uhuk.. Uhuk...uhuk...
Melihat wajah pucat Pandu yang terus terbatuk-batuk, Viara refleks meletakkan tangannya di dada Pandu dan mengusapnya dengan lembut
"Abang, dadanya masih sakit yah?" Tanya Viara cemas sambil terus mengusap lembut dada Pandu
"Iya dek, sedikit" kata Pandu pelan dan kembali terbatuk-batuk.
Pandu terlihat terus terbatuk-batuk, namun dalam hatinya menyunggingkan senyum bahagia melihat wajah cemas Viara yang terus mengusap dadanya lembut. Akibat usapan lembut tangan Viara di dadanya, batuk Pandu perlahan-lahan berkurang hingga Pandu tak lagi terbatuk-batuk. Merasa Pandu tak lagi terbatuk-batuk, Viara langsung menarik tangannya yang sejak tadi mengusap dada Pandu dengan wajahnya yang telah merah merona
"Terimkasih yah dek" Ucap pelan Pandu sambil tersenyum
__ADS_1
"Sama-sama" jawab Viara datar dan memalingkan wajahnya.
"Kenapa dek, adek marah yah sama abang?" Tanya Pandu
"nggak" ketus Viara tanpa menoleh kearah Pandu
Menyadari jika Viara tengah merajuk padanya, dengan sisa tenanganya,Pandu berusaha untuk bangun meski tubuhnya terasa sangat lemah. Tak tega melihat Pandu yang kesulitan, Viara refleks memegang bahu Pandu dan membantunya untuk bersandar dengan sempurna
"Katakan dek, mengapa kamu marah sama abang? apa abang punya salah lagi padamu dek?" Tanya Pandu dengan raut wajahnya yang murung.
Viara meneteskan air mata dan berhambur memeluk Pandu
"Iyah abang punya salah sama adek hiks...Mengapa abang tidak mendengar teriakan adek yang terus mencegah abang untuk tidak masuk kedalam sana hiks...Mengapa abang tidak mendengarkan adek hiks.. Tahukah kamu betapa takutnya aku melihatmu menembus hawa panasnya api, sedangkan kamu terus mempertahankan pendirianmu. Tahukah kamu betapa takutnya aku kehilanganmu hiks.. hiks.. Mengapa kamu tidak mendengarkanku" lirih Viara menangis sesenggukan di bahu Pandu mewakili kekhawatiran hatinya saat ini.
Pandu membalas pelukan Viara di tubuhnya dan mengusap lembut punggung Viara yang menangis di bahunya
"Bukannya aku tidak mendengarmu, bukan juga membuatmu cemas hingga menangis karena pendirianku. Aku menjagamu dan melindungi nyawa orang lain. Justru dalam perjuanganku, aku selalu mendengar doamu yang selalu menyertai langkahku. Dalam doa tulusmu, aku berhasil membawa anak kecil itu aman didalam dekapanku. Karena doa indahmu, aku berhasil melawan hawa panasnya api demi menemui dirimu yang menungguku di luar. Berkat doa dan harapanmu, aku berhasil selamat dari kebakaran itu dan tetap hidup disampingmu. Maafkan aku, bukannya aku tidak mencintaimu dengan membuatmu menangis, bukan aku tidak menyayangimu. Aku menjagamu tetap aman disisiku dan berusaha agar hanya ada senyumnya yang menghiasi wajahmu. Maafkan jika aku tak menghiraukan rasa takutmu jika kehilanganku, tapi ketahuilah meski tubuh ini sudah tak bernyawa lagi, cinta ini akan selalu hidup dan menyertaimu. Maaf jika aku mencintaimu, karena tidak ada wanita terbaik yang aku temui didunia ini selain dirimu. Akan ku jaga dan ku lindungi kamu selalu, karena aku mencintaimu walau nyawa ada didepan mata" kata Pandu dalam hati sambil mengusap lembut kepala Viara
Deg.....
Seketika air mata kembali lolos dari mata Viara, ikatan batin? Iyah ikatan batin itu selalu terhubung diantara keduanya. Meski Pandu tidak mengatakan kata hatinya namun kata hati itu selalu berhasil melintas dihati Viara. Viara meneteskan air mata melihat begitu banyaknya cinta dan ketulusan dari lelaki ini untuknya. Bahkan lelaki ini siap mengorbankan nyawanya demi cinta dan ketulusan untuk wanita yang dicintainya. Viara terus menumpahkan air mata, menyadari jika dia tak sanggup membalas ketulusan lelaki ini untuknya. Hati Viara sudah terpaut untuk orang lain sekarang dan Pandu sudah mengetahuinya, tapi Pandu tetap mencintai Viara dengan caranya hingga Viara semakin meneteskan air mata.
Viara takut, lelaki yang tulus mencintainya ini akan terluka, jika dia lebih memilih pria yang telah menjadi kekasihnya daripada memilihnya yang mencintainya dalam diam. Viara takut, lelaki baik ini akan terluka dengan pilihannya nanti. Viara semakin menangis dan memeluk Pandu erat, tak mau Pandu berbalik membencinya karena Viara lebih memilih orang lain selain dirinya. Viara takut Pandu akan terluka, terluka karena cintanya padanya.
"Maafkan aku hiks.. maafkan aku bang" lirih Viara pelan semakin berderai air mata di bahu Pandu.
Pandu melepaskan pelukan Viara padanya dan langsung menghapus air mata dipipi Viara dengan lembut
"Kenapa minta maaf dek, adek nggak salah kok" kata Pandu lembut sambil tersenyum. Viara langsung menghapus air matanya dan membalas senyuman manis Pandu padanya
"aku janji tidak akan melukai hatimu lagi" lanjut Viara dalam hati
"Sama-sama dek" balas Pandu sambil mengusap pipi Viara lembut
"Dek, abang pengen pulang" pinta Pandu
"Tapi, tapi bang, abang masih harus dirawat sehari disini" kata Viara
"Tapi dek, abang nggak suka kalau lama-lama di rumah sakit" pinta Pandu memelas. Viara menyunggingkan senyumnya menatap mata memelas Pandu yang terlihat sangat menggemaskan dan selalu berhasil membuat hatinya menurut
"Baiklah bang, adek tanya dokternya dulu yah" Ucap Viara dibalas anggukan kepala oleh Pandu sambil tersenyum.
Baru saja Viara bangkit dari duduknya, pintu ruangan kembali terbuka menampakkan dokter yang menangani Pandu tadi berjalan mendekati brankar Pandu
"Bagaimana kondisi anda pak?" Tanya Dokter itu ramah
"Alhamdulillah sudah agak mendingan dokter" balas Pandu sambil tersenyum
"Mendingan bagaimana? wajah pucat dan tubuh lemas begitu sudah dibilang mendingan. Dasar!!!" gerutu Viara dalam hati.
Viara sebenarnya ingin agar Pandu dirawat sehari di rumah sakit itu untuk lebih memastikan agar kondisi Pandu baik-baik saja dengan perawatan yang didapatkannya dari rumah sakit tersebut. Namun tak tega menolak permintaan Pandu, apalagi tatapan memelas Pandu berhasil membuatnya terpaksa mengiyakan permintaan lelaki itu
__ADS_1
"Apa kamu mengumpat ku dek?" Tanya Pandu membuat mata Viara melongo tak percaya
"Ehh nggak lah bang, nggak kok" jawab Viara gelagapan. Pandu menahan tawa melihat wajah gelagapan Viara yang langsung membuang muka darinya
"Dokter, pasien ini ingin agar dia dipulangkan saja, karena dia tidak mau dirawat di rumah sakit lama-lama. Jadi bagaimana dokter, apa dokter setuju?" Tanya Viara pada dokter tersebut sambil menunjukkan isyarat agar dokter tersebut menolak.
Dokter yang mengerti isyarat yang ditunjukkan gadis di sampingnya menyunggingkan senyumnya dan mengangguk paham pada Viara
"Boleh, pasiennya boleh dipulangkan sekarang. Tapi ingat obatnya jangan lupa diminum yah, biar kondisinya cepat membaik" tutur dokter sambil tersenyum.
Mendengar penuturan dokter yang bertolak belakang dengannya, Viara menatap tajam dokter tersebut seolah siap membunuhnya. Sementara Pandu dan dokter itu yang melihat tatapan membunuh itu tertawa dalam hati mereka
"Menyebalkan" gerutu Viara mendengus kesal
"Ayo bang, kita pulang" ketus Viara membantu Pandu untuk turun dari brankar
"Jangan lupa pacarnya dijagain yah nona" kata dokter itu
"hmmm" jawab Viara tanpa sadar membuat Pandu tertegun
"Jadi ini kekasih anda yah? tapi tadi anda bilang jika pasien ini teman anda" kata dokter itu menahan tawa.
Viara yang baru tersadar mendengar ucapan dokter itu seketika merasa pipinya kembali memanas melihat senyuman Pandu padanya, namun pipi merona itu berubah kesan dari yang sebelumnya memerah karena malu, sekarang memerah karena menahan amarah ketika sorot mata tajamnya beralih menatap dokter tersebut
"Kalau dia memang pacar saya, memangnya kenapa?" Tanya Viara lembut dengan sorot mata penuh intimidasi.
Sementara Pandu menyunggingkan senyumnya mendengar ucapan Viara barusan. Meski Pandu tahu ucapan itu hanya mainan yang diucapkan Viara saja, namun baginya itu sangat menenangkan hatinya
"Yah, jadi nggak bisa deketin dong kalau udah punya pacar" Ucap dokter tersebut murung,namun raut wajahnya seketika berubah dan tersenyum mengejek pada Viara
"Dasar dokter menyebalkan!!!!!!Jika aku pemilik rumah sakit ini, sudah kutendang kamu ke jalanan" umpat Viara dalam hati
"Ayo sayangku, kita pulang. Jangan hiraukan dokter gadungan itu" kesal Viara meletakkan tangan Pandu yang tersenyum cerah padanya di bahunya
"Ehh jangan asal bicara nona, aku dokter yang memiliki surat da sertifikat resmi sebagai dokter" kata dokter tersebut
"Terserah mau bilang apa, aku tidak peduli" ketus Viara memapah Pandu agar berjalan keluar bersamanya.
Sebelum hilang dibalik pintu, Viara membalikkan badannya dan menatap tajam dokter tersebut
"awas saja kamu!!!" gumam Viara menatap tajam dokter itu dan membanting pintu cukup keras hingga dokter itu tersentak kaget
"Hahah, gadis yang unik" gumam dokter tersebut menyunggingkan senyumnya dan berlalu menuju ke ruangannya
______________
Di lobi rumah sakit
"Bang Pandu, nggak usah hiraukan ucapan adek tadi yah" pinta Viara sambil memapah tubuh lemah Pandu
"Iyah dek, abang tahu kok. Lagipula kamu kan hanya milik Andra, mana mungkin jadi milik abang, Iyah kan?" kata Pandu sambil menunjukkan senyum kepalsuannya. Viara hanya terdiam sambil terus memapah Pandu sambil berjalan ke arah truk dimana bang Rama sudah menunggu mereka disana
__ADS_1
"Tapi tak mengapa dek, jika aku tidak berhasil mendapatkanmu. Semoga aku bisa menemukan kebahagiaanku sendiri, meski kebahagiaan itu tak seindah saat aku bahagia bersama denganmu. Akan ku tunggu sampai ucapanmu tadi berubah menjadi sungguhan karena aku ingin lihat, siapakah yang memang benar-benar ditakdirkan Tuhan untuk menjadi pendampingmu. Dia yang mencintaimu dan juga dicintai olehmu sejak 8 tahun yang lalu? atau aku yang juga mencintaimu sejak 8 tahun yang lalu, hanya saja cintaku dalam diam dan hanya aku saja yang mengetahuinya. Semoga di ujung penantian itu, hasilnya adalah yang terbaik untuk kita bertiga"
Bersambung.......