
Keesokan paginya, Viara terbangun dari tidurnya dengan tangannya yang masih mengenggam tangan Pandu. Dalam pandangannya yang masih buram, Viara melihat jika posisi Pandu kini sudah duduk bersandar di sandaran brankar.
Ketika Pandangan Viara kembali normal, Viara menjatuhkan air matanya dan berhambur memeluk Pandu yang sudah membuka matanya sambil tersenyum manis padanya
"Abang!!!!!!" seru Viara bahagia dan menangis sambil memeluk Pandu.
Pandu tersenyum dan mengusap lembut punggung bergetar Viara yang menangis deras di dadanya
"Iyah sayang, abang disini" kata Pandu lembut membalas pelukan Viara
"Maafin adek ya bang hiks.. hiks.. Maafin adek. Jangan tinggalkan adek karena adek nggak percaya sama abang. Jangan pergi hiks.." lirih Viara masih terisak di dada Pandu
"Nggak sayang, kamu nggak salah kok. Kamu sangat mencintai abang jadi kamu marah seperti kemarin karena kamu nggak mau abang dimiliki sama orang lain" Ucap Pandu lembut berusaha menenangkan Viara yang masih terisak
"Maafkan abang yah yang nggak bisa melawan wanita itu saat dia menyentuh abang" Ucap Pandu pelan.
Viara langsung melepaskan pelukannya dan mencium kening Pandu sangat lama dan penuh kasih sayang. Pandu menyunggingkan senyumnya melihat perlakuan Viara padanya
"Nggak bang, abang nggak salah kok. Wanita itu memang sekilas menyentuh abang, tapi yang tidur bersamanya itu bukan abang, tapi orang lain" Kata Viara sambil menghapus air matanya
"Jadi yang di gambar itu bukan abang? Tapi dek dilihat dari rupanya yang hanya terlihat separuh saja jelas itu abang dek" jawab pertanyaan Pandu bingung.
Viara mengusap lembut pipi Pandu sambil tersenyum dan mulai menceritakan kebenaran yang sesungguhnya kepada Pandu. Mendengar penjelasan Viara, Pandu tersenyum dan kembali membalas pelukan Viara erat di tubuhnya
"Maafkan adek yang nggak percaya sama abang yah" pinta Viara didalam pelukan Pandu
"Iyah dek, abang paham kok. Amarahmu bukanlah kesalahan sayang, tapi bentuk cintamu pada abang" Ucap Pandu menghapus air mata Viara sambil tersenyum
"Maafkan abang karena ada wanita lain yang telah menyentuh abang tanpa ada pencegahan dari abang yah" ucap Pandu pelan.
Viara mengelus pipi Pandu dengan senyuman yang menghiasi wajahnya
"Mungkin Kiara pernah melihat dan menyentuh benda pusaka abang, tak mengapa bang. Dia hanya sebentar menatap dan menyentuhnya, tapi adek akan selamanya memilikinya" Kata Viara sambil tersenyum. Mendengar penuturan Viara, Pandu tersenyum bangga dan mengusap puncak kepala Viara dengan penuh kasih sayang
"Jadi pengen cepat halalin kamu, lihat tuh dibawah" Ucap Pandu tersenyum
Viara mengikuti arah pandang Pandu dan tertegun melihat bagian bawah Pandu yang telah menonjol tertutup dari celana yang dikenakannya
"Hahaha, cepatlah sembuh sayang, biar bisa halalin adek secepatnya" Ucap Viara diangguki Pandu sambil tersenyum
Ceklek
Pintu terbuka menampakkan seorang perawat yang masuk bersama nampan makanan di tangannya
"Silahkan dimakan makanannya, adek juga yah karena adek nggak makan semalam" Ucap perawat itu tersenyum pada Viara dalam maskernya
"Baiklah, terimakasih kak" Jawab Viara tersenyum dan mengambil alih nampan makanan yang dibawa perawat itu.
Sementara Pandu hanya terdiam menatap perawat itu, Pandu mengenali wajah dan suara itu dibalik masker yang menutupi separuh wajahnya. Begitu juga dengan perawat itu yang terus menatap Pandu dalam diamnya
"Abang makan dulu yah, buka mulutnya, adek suapin. Akhh" Ucap Viara bersiap menyuapi Pandu dengan sendok ditangannya sambil membuka mulut. Pandu tertawa dalam hatinya melihat tingkah Viara dan mulai membuka mulutnya, menerima suapan lembut wanita yang dicintainya
Pandu tersenyum manis pada Viara yang mengusap tumpahan bubur di sudut bibirnya. Setelah mengusap bibir Pandu, Viara kembali menyuapi Pandu dengan lembut sambil tersenyum manis padanya.
Sementara perawat itu hanya diam menahan sakitnya hati melihat dua orang di depannya. Perawat itu kembali melihat cincin di jari tangan Viara dan Pandu, ia kembali berusaha untuk tetap tegar dan menampilkan senyumnya dibalik masker yang dikenakannya.
Perawat itu tersenyum getir dan membalikkan badannya untuk keluar dari ruangan itu yang bisa saja membuatnya kembali menangis
"Tunggu kak!!!" Perawat itu menghentikan langkahnya dan beralih menatap Viara
"Ada apa dek" Ucap perawat itu menatap Viara
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Wajah kakak seperti tidak asing bagiku" Tanya Viara.
Perawat itu tersenyum dan mulai membuka masker penutup wajahnya
"Kak Tara" Ucap Viara terkejut.
__ADS_1
Tara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada Viara. Tara menatap wajah Pandu dan menghela nafasnya pelan karena Pandu tak seperti Viara yang terkejut ketika melihatnya
"Kakak kerja disini? udah berapa lama kak?" Tanya Viara kembali
"Iyah dek, kakak bekerja disini sudah 4 tahun lebih" Balas Tara lembut.
"Abang, abang masih ingat nggak sama kakak ini. Kita dulu pernah bertemu dengannya di rumah sakit di desa adek 9 tahun yang lalu" Ucap Viara menjelaskan pada Pandu. Pandu hanya terdiam dan menatap tanpa ekspresi pada perawat wanita itu
Karena Pandu tak kunjung berbicara, Viara beralih menatap Pandu dan membulatkan matanya melihat perban di lengan Pandu yang telah berubah menjadi warna merah
"Astaghfirullah abang!! Luka abang kembali berdarah" Ucap Viara cemas memegang tangan Pandu.
Pandu melirik lengannya dan membenarkan ucapan Viara
"Iyah dek, pantas saja daritadi rasanya nyeri di lengan abang" Jawab Pandu tersenyum agar Viara tidak cemas melihat lukanya
"Kalau begitu saya obatin dulu lukanya yah" Ujar Tara cemas langsung mengambil kotak diatas lemari
"Iyah kak, silahkan" Ucap Viara menyingkir dari samping Pandu untuk menberi ruang kepada Tara yang akan mengobati luka di lengan Pandu.
Tara menahan air matanya agar tidak tumpah melihat luka yang begitu dalam di lengan orang yang dicintainya. Tara dengan telaten membersihkan darah yang menetes dan kembali melanjutkan pengobatan di luka Pandu. Sementara Pandu hanya diam menatap Tara dengan ekspresi datar.
"Kamu mungkin bisa mengobati luka di lenganku,tapi kamu tidak bisa mengobati luka dan rasa sakit hatiku saat kamu menghianatiku dulu" batin Pandu terus menatap Tara yang juga tengah menatapnya
"Maafkan aku yang tidak mengerti tentangmu dulu. Apakah kita bisa kembali seperti dulu lagi? Aku janji akan membalas semua cinta yang pernah kau berikan padaku dulu" batin Tara berkaca-kaca.
Pandu dan Tara beradu pandang cukup lama, namun karena Viara yang tersandung kaki brankar Pandu membuat tatapan keduanya buyar. Pandu refleks bediri dan menahan Viara agar tidak terbentur meja didepannya
"Adek nggak apa-apa?" Tanya Pandu lembut membawa tubuh mungil Viara duduk di pangkuannya
"Adek nggak apa-apa bang, adek cuma haus jadinya kesandung" Ucap Viara tersenyum sambil berusaha menahan sensasi berputar dikepalanya
"Jangan menyangkal dek, adek pasti pusing lagi yah" Ucap Pandu merasa khawatir melihat wajah Viara yang sangat pucat seolah tak dialiri darah.
Pandu membawa Viara agar bersandar bersamanya di sandaran brankar, sedangkan lengannya yang tidak terluka dilingkarkannnya di belakang tubuh Viara. Pandu mengambilkan segelas air di meja samping brankarnya dan membantu Viara untuk minum
"Yaudah adek istirahat yah, bersandar saja di bahu abang" kata Pandu lembut sambil mengusap tumpahan air di sudut bibir Viara.
"Terimakasih sudah menemaniku dan berusaha untuk tetap ada disampingku di setiap keadaan. Terimakasih sudah setia menjaga dan mencintaiku disini. Istirahatlah dengan tenang yah, bahuku akan selalu ada untukmu" Ucap Pandu mengecup puncak kepala Viara yang tertidur pulas di dadanya
Tara yang tak kuat lagi setelah mendengar ucapan penuh cinta Pandu untuk Viara menjatuhkan air matanya mewakili kehancuran hatinya saat ini
"Saya permisi" pamit Tara bergetar dan segera berlalu keluar dari kamar Pandu dengan air mata yang terus membasahi pipinya.
Pandu melihat punggung Tara yang berjalan keluar merasa yakin jika Tara tengah menangis sekarang. Dulu disaat tara sedang hancur dan bersedih, maka Pandu segera menyusul dan menenangkannya. Namun sekarang sudah sangat berubah, bahkan sudah tak ada lagi Tara dihati Pandu. Semenjak Tara menghianati Pandu sepuluh tahun yang lalu, saat itu Pandu sangatlah hancur. Sudah 2 tahun ia menderita, merasakan sakit hati yang begitu menghancurkan batinnya. Namun semenjak bertemu dengan seorang gadis di desa tempatnya bertugas, dia mulai membuka hati dan mencintai diam-diam si gadis itu.
Dan sekarang, gadis itu ada di sampingnya, tertidur sangat lelap di dalam rangkulannya. Gadis yang membuatnya kembali mecintai seorang wanita setelah hatinya dipatahkan dan dibanting sebelumnya. Gadis yang akan selalu menjadi semangat dan pelengkap didalam hidupnya
"Sekarang, aku hanya akan mencintaimu selalu, tidak dengan yang lain. Aku tidak mau berbalik ke belakang, aku justru ingin selalu melihat kedepan. Dimana di depan sana ada dirimu yang juga mencintaiku, begitu juga denganku yang tulus mencintaimu. Tak akan ku lepaskan dirimu karena aku menyayangimu selalu, hingga kita ditakdirkan untuk bersama nanti"
__________
Drttt.... Drttt..
Viara yang baru saja selesai menyuapi Pandu makan siang langsung meraih ponselnya yang berdering diatas nakas
"Assalamu'alaikum bu kepala sekolah, ada yang bisa saya bisa bantu?" Tanya Viara
(........)
"Ohh begitu yah bu"
(........)
"Iyah bu, saya paham"
(........)
__ADS_1
"Baik bu"
(........)
"Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" balas Viara dan mematikan sambungan.
Viara kembali meletakkan ponselnya di di dalam tasnya dan menghela nafasnya kasar
"Ada apa dek? Kok wajahnya murung kayak gini?" Tanya Pandu mengusap pipi Viara
"Begini bang, pergantian jadwal mengajar sudah berubah tadi pagi, dan adek harus segera kembali ke sekolah untuk mengajar besok" jawab Viara lesu
"Lalu kenapa cemberut sayang?"Tanya Pandu sekali lagi
"Kalau adek kembali ke desa, siapa yang bakalan jagain abang disini. Kalau jadwalnya belum berubah adek masih bisa nemanin abang untuk dua hari kedepan. Kan abang masih harus dirawat di rumah sakit" tutur Viara berkaca-kaca
"Nggak apa-apa dek, abang baik-baik aja kok. Kan banyak yang jagain abang, ada perawat, dokter dan teman-teman tentara juga. Jadi adek nggak perlu khawatir tentang abang yah" Ujar pandu lembut
"Tapi bang...."
"Nggak apa-apa dek, adek nggak usah khawatir soal abang. Adek pernah bilang kan kalau bekerja itu harus profesional, jadi jangan karena abang, adek abaikan murid-murid adek yang nungguin adek di sekolah. Bukannya adek ingin murid-murid adek pintar matematika? Maka terus ajari mereka yang begitu bersemangat menerima ajaranmu. Jangan patahkan semangat dan harapan mereka, lagipula abang kan udah besar, nggak nangis lagi. Kalau mereka masih bandel, masih rewel. Adek tahu kan bagaimana kalau anak kecil lagi rewel atau nangis?" Ucap Pandu membuat Viara menyungingkan senyumnya. Viara meneteskan air mata dan berhambur memeluk kekasihnya
"Abang jaga diri baik-baik disini yah, nggak boleh ada yang ambil abang dari adek lagi" Ucap Viara tersenyum dalam pelukan Pandu
"Iyah sayang, abang akan selalu menjadi milikmu, begitu juga adek yang berhak memiliki abang. Jaga diri baik-baik yah, abang sayang kamu" kata Pandu mengecup kening Viara
"Adek pulang dulu yah bang, assalamu'alaikum abang sayang" kata Viara tersenyum dan menyalami tangan Pandu
"Walaikumsalam, Hati-hati sayang" balas Pandu mengecup kening Viara
Viara menganggukan kepalanya sambil tersenyum dan beranjak keluar ruangan. Sebelum hilang di balik pintu, Viara berbalik badan dan tersenyum manis pada Pandu
"Adek sayang Abang"
__________
Setelah Viara pergi, tak berselang lama pintu kembali terbuka menampakkan Tara dengan perlatan di tangannya. Pandu hanya diam dan berpaling ke samping tidak mau melihat Tara yang berdiri di samping brankarnya sambil merapikan alat di atas meja
"Apa tidak ada lagi kesempatan untukku?" Pandu menoleh ke arah Tara yang fokus merapikan alat
"Apa kamu bertanya padaku?" Tanya Pandu datar.
Tara menghela nafasnya dan beralih menatap Pandu dengan mata yang siap menumpahkan bulir bening
"Apa memang dihatimu sudah tidak ada cinta lagi untukku?" Tanya Tara berusaha tetap tegar
"Cintaku padamu sudah mati sejak 10 tahun yang lalu" jawab Pandu santai tanpa menatap Tara, sedangkan Tara menjatuhkan air matanya mendengar ucapan Pandu yang sangat menikam hatinya
"Tapi kita bisa mengulang bersama lagi seperti dulu. Sekarang aku juga mencintaimu, dan aku tidak sanggup hidup dengan orang lain selain denganmu. Maafkan aku yang mencintai orang lain dan mengkhianatimu saat kamu belajar di Akademi Militer dulu" kata Tara mengenggam tangan Pandu
"Tidak Tara, aku sudah tidak bisa lagi mencintaimu. Kamu sahabatku dulu sehingga kemana-mana kita selalu bersama, tapi untuk sekarang kita tidak bisa bersama lagi. Ada hati yang harus ku jaga dan itu bukanlah kamu lagi" Ujar Pandu melepaskan genggaman tangan Tara
"Apa persahabatan kita yang dulu sudah tidak berarti lagi untukmu? Tolong jangan putuskan tali persahabatan kita, cukup aku tersakiti dengan perasaanku padamu, jangan hancurkan hatiku lagi dengan menghentikan langkah persahabatan kita" Pinta Tara berlinang
"Maafkan aku Tara, sekali lagi tidak bisa. Tali persahabatan itu sudah putus sejak 10 tahun yang lalu dan kamulah yang memutuskannya. Sekarang kamu mengerti rasa sakit hatiku dulu kan? Kamu merasa cemburu atas semua perhatian dan kasih sayang Viara padaku, begitu juga denganku yang cemburu saat kamu tak lagi menganggapku setelah aku pendidikan. Aku justru mendapatkan tamparan keras dari tanganmu, bukannya bunga atau kata-kata selamat. Sekarang kamu mengerti kan" Kata Pandu dibalas anggukan kepala oleh Tara sambil menangis
"Jika kamu mengerti, maka pergilah. Berhenti berharap dan mencintaiku karena aku tidak bisa lagi membalas itu untukmu. Ada hati yang harus ku jaga dan ku cintai setelah dia membawaku keluar dan menghapus segala sakit hatiku. Dia adalah masa depanku, dan aku sangat menyayanginya. Dia adalah cinta terakhir untukku, dan akan selalu menjadi wanita yang aku cintai selamanya" Tara kembali menangis sambil memegangi dadanya mendengar ucapan Pandu.
Tara berjalan mundur menjauhi brankar Pandu dan berlari keluar ruangan dengan air mata yang sejak awal tak dapat terbendung lagi
"Terimakasih atas luka yang kamu berikan padaku dulu. Sejak itu aku tahu jika kamu bukanlah wanita yang tepat untukku walau kita bersahabat. Mungkin tuhan sengaja mematahkan hatiku agar aku percaya pada-Nya bahwa masih ada wanita yang jauh lebih baik dan tulus yang ditakdirkan-Nya untukku. Dan sekarang aku telah menemukan wanita itu. Wanita yang dikirim oleh Rabbku untuk melengkapiku" gumam Pandu tersenyum mengingat wajah Viara
"Aku akan selalu mencintaimu Viara, meski tubuh ini sudah tidak bernyawa lagi"
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak biar author makin semangat untuk update episode selanjutnya😉
__ADS_1
Terimakasih Semua
Love You All😘💞