Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)

Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)
BAB 38. Melindungimu Sepenuh Hatiku


__ADS_3

"Terimakasih untuk apa dek?" Tanya Pandu membuat Viara menghentikan langkahnya.


Viara berbalik menatap Pandu dan menyunggingkan senyum tulusnya sambil mengucapkan


"Terimakasih untuk lagunya" seketika Pandu tertegun mendengar ucapan Viara barusan.


Pandu tersenyum senang menatap punggung Viara yang berjalan menuju rumah dinasnya


"Bang, sepertinya dek Viara tahu jika lagu itu untuk dia" Ucapan Rama yang bersandar di pintu sambil melipat tangannya


"Ucapanmu ada benarnya, tapi bagaimana dia bisa tahu kalau lagu itu kunyanyikan untuknya, padahal dia nggak ada disini tadi loh" kata Pandu kebingungan


"Mungkin itu ikatan batin antara kalian berdua. Lagipula abang senang kan kalau Viara tahu jika lagu itu abang nyanyikan untuknya" Ucap Rama diangguki Pandu sambil tersenyum


"Aku mencintaimu Viara"


_____________


Setibanya di rumahnya, Viara menghapus air matanya dan berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Viara membiarkan dinginnya air shower terus menyiramnya untuk mengurangi beratnya pikiran saat ini. Setelah diguyur shower selama 25 menit, Viara meraih handuk kimononya dan berlalu keluar kamar. Setelah rapi dengan pakaiannya, Viara yang tengah memakai hijabnya langsung mengambil ponselnya yang bergetar di meja riasnya tanda adanya pesan masuk


📩Bang Andra❤


Dek, gimana sore ini makan bareng di warung mbak iyem kan?


📩Viara


Iyah bang, jadi dong


📩Bang Andra❤


Oke, abang udah didepan rumah nih, abang tunggu yah


"Tunggu sebentar bang" Teriak Viara dari dalam kamarnya.


Setelah rapi dan memakai hijabnya, Viara langsung meraih tasnya dan berlalu keluar rumah. Viara menyunggingkan senyumnya dan kembali melangkahkan kakinya mendekati Andra yang bersandar di motornya sambil menatap kearahnya


"Wah,cantiknya calon istriku" puji Andra mengecup punggung tangan Viara dan menarik tangannya untuk mendekati motornya. Viara melirik ke arah pos tentara dan bernafas lega karena Pandu sudah tidak ada disana


"Alhamdulillah bang Pandu nggak ada disini" kata Viara dalam hati


"Kenapa dek? Ada yang ketinggalan yah?" Tanya Andra yang bisa mendengar nafas lega Viara


"Nggak ada yang ketinggalan bang, ayo kita langsung jalan saja" Ajak Viara dengan suaranya yang penuh kelembutan


"Oke dek" balas Andra memakaikan helm pada Viara yang tersenyum manis padanya


"Kenapa natap abang terus, ada sesuatu yang aneh diwajah abang?" Tanya Andra sambil memasang tali pengait helm dibawah leher Viara


"Heheh nggak ada bang, cuma ganteng aja" cengir Viara.


Andra mengusap puncak kepala Viara dan melajukan motornya menuju warung yang akan mereka tuju untuk makan bersama


"Dek, abang jadi inget kenangan 8 tahun yang lalu, dulu kita juga jalan bareng kan sama seperti ini. Di sore hari yang cerah dan adek yang memperkenalkan bangunan-bangunan di desa adek" Ucap Andra menceritan kembali kisah masa lalu yang pernah dilewati bersama dulu


"Iyah benar bang, adek ingat. Tapi adek jauh lebih hebat dari abang loh" kata Viara melingkarkan tangannya di pinggang Andra


"Hahah emang kenapa dek?" Tanya Andra sambil memperhatikan laju motornya


"Saat itu kan adek ngajakin abang ke bukit yang paling indah di desa, abang mah cuma ngajakin makan di warung mbak iyem doang" Ucap Viara memoyongkan bibirnya


"Hahaha, disini juga ada bukit indah seperti di desa adek. Tapi disini jauh lebih indah loh. Adek mau ikut?"


"Mau bang, mau" seru Viara antusias dibelakang Andra


"Haha sabar yah dek, sebentar setelah shalat isya, kita akan ke bukit bersama. Kebetulan ada para tentara juga yang nongkrong disana lohh" kata Andra sambil tertawa melihat antusias gadis yang merangkul pinggangnya erat dan membuatnya nyaman


"Nongkrong di bukit? Ngapain bang?" Tanya Viara kebingungan


"Setiap malam minggu kami selalu disana dek, bakar jagung dan menikmati indahnya lampu desa dari ketinggian"


"Kedengarannya seru bang, adek ikut yah, adek janji nggak bakalan nyusahin abang disana" bujuk Viara memelas


"Haha walau nyusahin juga nggak apa apa kali, kan calon istri" Ucap Andra dibalas anggukan kepala oleh Viara sambil tersenyum senang.


Setelah sampai di warung mbak Iyem, terlihat jika warung makan itu sangat ramai pengunjung. Andra mengenggam tangan Viara langsung masuk ke warung makan yang lumayan besar itu dan mencari tempat untuk mereka. Karena pesonanya, para wanita dengan suka rela memberikan tempat duduknya pada Andra membuat Viara geleng-geleng kepala di buatnya


"Dek, mau pesan apa?" Tanya Andra lembut


"Adek mau pesan ayam lalapan campur nasi sama jus jeruk bang" Ucap Viara tersenyum


"Oke dek, mbak iyem, saya pesan 2 ayam lalapan, 1 jus jeruk dan 1 cappucino yah" Pinta Andra langsung pada pemilik warungnya.


"Oke bang" jawab mbak iyem segera menyiapkan pesanan Andra.


10 menit kemudian


"Wah, sambalnya banyak banget bang, adek jadi nggak kuat" Ucap Viara menatap makanan di depannya yang telah dihidangkan oleh Mbak Iyem


"Nggak kuat tapi air liur udah mau keluar tuh" kata Andra sambil tertawa melihat Viara yang tertangkap basah. Viara yang sedikit kesal menyendok nasi dan langsung dimasukkan kedalam mulut Andra agar dia berhenti tertawa. Andra tersenyum mengunyah makannya dan memasukkan sesendok nasi di mulut Viara


"Terimakasih sayang, ayo buka mulut Aak....." kata Andra bersiap menyuapi Viara. Viara tersenyum dan membuka mulutnya agar sesendok makanan di tangan Andra berhasil masuk ke mulutnya


"Terimakasih bang, kalau disuapin abang rasanya jauh lebih nikmat" kata Viara sambil tersenyum

__ADS_1


"Haha, kalau kita udah halal nanti dek, abang akan selalu menyuapimu setiap kita makan bersama" kata Andra sambil mengusap tangan Viara lembut


"Iyah bang, tapi sekarang boleh nggak suapi adek lagi?" pinta Viara. Andra mendekatkan wajahnya di telinga Viara dan berbisik


"Adek lihat wanita disekitar kita, mereka perhatian kita berdua terus loh" Viara menoleh menatap kiri dan kanannya dan menyadari jika ucapan Andra benar adanya


"Emangnya kenapa bang?" Tanya Viara setengah berbisik. Andra tersenyum menyeringai dan berbisik


"Nanti salah satu dari mereka ada yang cemburu sama dek loh, hahaha" Tawa Andra pecah melihat wajah kesal Viara


"Abang ini, makan cepat sebelum dimasuki lalat mulutnya" kesal Viara. karena Andra masih tertawa, Viara menyendokkan makanan dan memasukkannya kedalam mulut Andra agar dia berhenti tertawa


"Terimakasih sayang" Ucap Andra tulus. Viara menyunggingkan senyumnya dan menganggukkan kepalanya pada Andra


"Ayo dek, dilanjutkan makannya" kata Andra yang mulai menakan makanannya diikuti Viara hingga keduannya makan dengan khidmat dan hanya suara dentingan sendok yang terdengar dari keduanya


Ketika Viara memasukkan potongan ayam kedalam mulutnya dan mengunyahnya, seketika Viara berhenti mengunyah menatap seseorang yang tersenyum getir berada tidak terlalu jauh dari belakang Andra


"Bang Pandu kenapa abang ada disini?" Kata Viara dalam hatinya. Pandu beralih menatap makanannya saat matanya tak sengaja bertabrakan dengan tatapan Viara


"Dek, kok bengong. Ayamnya nggak enak yah?" Tanya Andra setelah selesai mengunyah


"Hehe enak bang, enak" Ucap Viara kembali mengunyah ayamnya dengan cepat


"Lahdalah dek, abang nggak bakalan ambil ayam kamu kok, kenapa makanannya kayak dikejar singa aja" kata Andra geleng-geleng kepala melihat gadis didepannya


"Enak bang" seru Viara terus menyantap ayamnya dengan lahap


"Enak sih enak, tapi jangan sampai belepotan gini dong dek" Ucap Andra membersihkan sisi bibir Viara yang terdapat sisa saus melekat disana.


Viara tersenyum pada Andra, namun saat matanya melirik ke belakang tubuh Andra, senyum Viara kembali lenyap dari bibirnya


"Abang cepat makannya yah, habis itu kita langsung ke mushola untuk shalat magrib bareng" Ucap Viara membersihkan tangannya dengan tissu


"Tapi dek, ini masih jam 5 sore, kan shalat magribnya satu jam lagi. Jadi boleh lama-lama disini loh dek" Kata Andra sambil menyerumput kopinya


"Ayo lah bang, pengen jalan sore bareng Abang. Ayo bang please" Pinta Viara memelas


"Kata kuncinya?"


"Adek sayang Abang" jawab Viara tersenyum


"Haha ayo" Andra meletakkan selembar uang merah di meja dan menarik tangan Viara untuk berjalan bersamanya.


Sebelum hilang di balik pintu, Viara menghentikan langkahnya dan beralih menatap Pandu yang juga tengah menatapnya


"Maafkan aku bang" Batin Viara menatap Pandu dengan sendu dan kembali melangkah keluar mengikuti Andra


"Nggak apa-apa dek, mungkin bahagiamu menang bukan bersamaku" gumam Pandu menarik nafasnya dan menghembuskannya secara perlahan


________


Setelah menepuh perjalanan selama 15 menit, kini mereka telah sampai di tempat tujuan. Viara langsung turun dari jok belakang motor dan ikut bergabung dengan para prajurit yang sejak tadi telah tiba di bukit.


Ketika jaraknya sudah dekat dengan para prajurit tersebut, Viara tertegun menatap Pandu yang juga ada di antara para prajurit yang duduk bersama di depan api unggun


"Loh dek, kamu datang juga. Nggak takut saat perjalanan kesini tadi?" Tanya Bang Jaya


"Nggak takut Bang, kan ada Abang-abang semua yang siap jagain adek, kok adek takut sih" Ucap Viara di anggukan oleh para prajurit sambil tersenyum.


Mereka lanjut membakar jagung bersama dibarengi canda dan tawa para prajurit yang begitu menghibur hati Viara. Viara sesekali ikut bercanda dan mendapatkan gelak tawa dari para prajurit


"Beneran dek?" Tanya Bang Bayu memegangi perutnya karena lelah tertawa


"Iyah dong Bang, masa adek bohong. Emang ceritanya begitu" Ujar Viara kembali membuat teman-temannya tertawa


"Sudah sudah, ayo diangkat jagungnya sebelum gosong tuh" perintah Andra sambil membantu Viara mengambil jagungnya dari bara api.


"Astaghfirullah, panas!!" Ringis Viara tak sengaja menyentuh jagungnya yang baru saja diangkat


"Hati-hati dek, jagung yang baru dibakar emang panas, enak lagi. Sini Abang bantuin" Ucap Andra mencari cara agar Viara tidak kesusahan saat memakan jagungnya


"Gimana, enak nggak?" Tanya Andra menatap Viara yang sudah menikmati jagungnya


"Enak Bang, terimakasih yah" Jawab Viara lembut dan kembali melanjutkan makannya.


Andra tersenyum sambil mengelus puncak kepala Viara dengan penuh kasih sayang, sementara Pandu memaksakan dirinya untuk tetap fokus memakan jagungnya, walaupun matanya yang sesekali melirik Viara yang begitu bahagia bersama Andra.


Setelah menghabiskan jagung bakarnya, Viara melangkahkan kakinya dan duduk dekat dengan ujung bukit agar bisa melhat indahnya pemandangan desa. Andra melangkah menghampirinya dan duduk disamping Viara yang berbinar bahagia melihat keindahan lampu-lampu desa dari atas ketinggian


"Pemandangannya indah yah dek?" Kata Andra sambil merangkul bahu Viara


"Iyah Bang, dari sini bahkan kita bisa melihat balai desa, pos tentara, rumah, sekolah dan masih banyak lagi" Ujar Viara berbinar senang


"Kalau begini jadi keingat nenek di kampung" Lanjutnya lagi


"Jangan sedih yah dek, kan ada Abang disini, ada teman-teman adek juga, jadi meskipun jauh dari keluarga, adek nggak akan kesepian" Ucap Andra dibalas anggukkan kepala oleh Viara sambil tersenyum. Mereka berdua saling melempar senyum dan menatap indahnya pemandangan di bawah sana dalam diam


"Entah sampai kapan, aku bisa menghirup udara ini. Entah sampai kapan aku bisa menatap indahnya ciptaan-Nya dibawah sana. Entah sampai kapan aku akan meraih sesuatu yang ada di depan mata sebelum aku pergi untuk selama-lamanya" batin Viara menahan air matanya agar tidak tumpah


Drttt.. Drttt...


Andra merogoh ponsel yang bergetar di saku celananya

__ADS_1


"Halo, ada apa?" Tanya Andra


(..........)


"Hmm apakah ada pasukan tambahan yang dikirim?" Tanya Andra kembali


(..........)


"Siap, aku akan segera kesana" Balas Andra mematikan sambungan telepon. Andra beralih menatap Viara yang juga tengah menatapnya


"Dek, abang pulang dulu yah, abang ada misi khusus" kata Andra dengan mode serius


"Tapi Bang, adek masih pengen duduk bareng abang disini" pinta Viara memelas


"Abang akan suruh Pandu temanin kamu disini, karena tidak semua pasukan disini yang dibutuhkan" Ucap Andra mengelus puncak kepala Viara


"Hati-hati yah Bang" Ucap Viara menghapus air matanya


"Iyah dek, abang pergi dulu yah assalamu'alaikum" Kata Andra mengecup punggung tangan Viara


"Walaikumsalam Bang" bales Viara tersenyum. Andra menganggukkan sambil tersenyum dan berlari mendekati motornya diikuti oleh semua tentara yang ada di bukit kecuali Pandu.


Viara tersenyum dan membalas lambaian tangan Andra yang telah menjauh bersama personinya


Viara memantapkan hatinya dan berjalan mendekati Pandu yang duduk di depan api unggun. Setelah Viara duduk tepat didepan Pandu, hanya ada keheningan diantara keduanya, hanya suara jangkrik yang berbunyi memecah kesunyian diantara kecanggungan itu


"Dek" sapa Pandu mencegah keheningan


"Iyah Bang, ada apa?" jawab Viara menatap Pandu yang tersenyum padanya. Viara menatap lekat mata Pandu, masih tertera kesedihan dan luka disana meski bibirnya menyunggingkan senyuman manisnya. Tak sengaja air mata Viara kembali lolos dari matanya menatap sendu pada lelaki tulus didepannya


"Dek, kenapa nangis?" Tanya Pandu lembut. Viara langsung menyeka air matanya dan menunjukkan senyumnya pada Pandu


"Adek nggak apa-apa kok" kata Viara berusaha menyakinkan Pandu


"Kenapa dek, cerita sama abang" kata Pandu beralih duduk disamping Viara. Viara menghapus air mata di pipinya dan mengalihkan pembicaraan dari Pandu


"Duduk di depan api unggun ini, adek jadi ingat saat kita memancing bersama 2 bulan yang lalu" Ucap Viara dengan suaranya yang begitu lembut


"Saat itu, abang terpeleset dan tercebur ke danau. Jika memang abang tenggelam....." Pandu menghentikan ucapannya saat Viara menempelkan jari telunjuknya tepat di bibirnya


"Jangan diteruskan" lirih Viara menggelengkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca


"Jika memang abang tenggelam, jika..jika..." Viara berhambur memeluk Pandu karena tidak kuat lagi melanjutkan kata-katanya.


Pandu membalas pelukan Viara sambil mengelus lembut punggungnya yang terisak di bahunya


"Jangan pernah pergi Bang, jangan hiks.. hiks..adek memang salah sama abang, tapi jangan pergi di tempat yang sulit untuk adek gapai hiks.. hiks.. Maafkan adek" lirih Viara mendekap Pandu erat


"Maafkan abang yang buat kamu cemas dulu yah" Viara tersenyum dan melepaskan pelukannya dari Pandu. Viara beralih melihat keatas dan menatap bintang yang sedikit pudar karena tertutup awan tipis


"Risya, tenang yah disana. Aku sudah punya teman sebaik dirimu disini. Aku tak akan pernah melupakanmu. Tunggu aku di surga-Nya yah" Ucap Viara sambil mengenggam tangan Pandu.


Viara menyeka air matanya dan tersenyum cerah melihat bintang yang sudah kembali bersinar cerah di atas sana. Pandu menatap Viara dan mengelus puncak kepala Viara dengan lembut


"Terimakasih sudah menganggap abang teman terbaikmu setelah Risya" Ucap Pandu sambil tersenyum


"Sama-sama bang, ayo kita pulang" ajak Viara diangguki Pandu sambil tersenyum.


Pandu mengenggam tangan Viara dan berjalan mendekati motornya. Setelah memastikan Viara duduk dengan nyaman di belakangnya, Pandu membunyikan motornya dan melajukannya membelah jalanan yang sepi dan sangat gelap.


Viara ketakutan melihat burung hantu yang berbunyi dan menatap kearahnya


"Bang, apa nggak ada jalan lain?" Tanya Viara sedikit ketakutan


"Kenapa dek, adek takut?" Tanya Pandu diangguki Viara. Saat melihat kedepan, Viara semakin ketakutan karena jalan yang akan mereka lalui sangatlah gelap, cahaya dari lampu motor Pandu tak terlalu menerangi jalanan yang jauh didepan sana.


Pandu menyunggingkan senyumnya melihat Viara yang merangkul pinggangnya erat dan menyandarkan wajah ketakutannya di punggung Pandu


"Adek tenang yah, nggak apa-apa kok, disini aman" Viara mengangguk cepat di punggung Pandu.


Pandu berusaha untuk tetap tenang dan menjaga Viara tetap aman disisinya meskipun sejak tadi, dibelakang mereka ada beberapa kelompok bersepeda yang terus mengikuti keduanya


"Wajah mereka tidak terlihat jelas di kegelapan seperti ini" Batin pandu menatap kaca spionnya dengan sorot mata tajam dan penuh kewaspadaan


"Bang, apa abang dengar semacam bunyi sepeda?" Tanya Viara masih menyandarkan wajahnya di punggung Pandu


"Nggak dek, abang cuman dengar bunyi mesin motor ini dan jangkrik-jangkrik" sangkal Pandu sambil tersenyum agar gadis dibelakangnya tidak ketakutan.


Setelah sampai di jalanan desa, Pandu menambah sedikit kecepatan motornya dengan sorot mata tajamnya yang terus melirik kaca spion.


"Cih, mereka hanya bisa mengikuti dalam kegelapan. Siapa mereka akan ku selidik nanti" batin Pandu melihat para pesepeda itu berhenti di tempat dan tidak masuk ke desa.


Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit dari bukit, kini Pandu dan Viara telah sampai didepan rumah dinas Viara


"Nah sudah sampai, sekarang adek masuk dan istirahat yah" titah Pandu lembut


"Iyah bang, terimakasih udah anterin adek pulang" Ucap Viara tersenyum


"Sama-sama dek, langsung tidur yah dek, nggak baik kalau perempuan tidurnya kemalaman" kata Pandu kembali


"Iyah siap bang, adek masuk dulu yah assalamu'alaikum" pamit Viara


"Walaikumsalam" balas pandu tersenyum melihat Viara yang berjalan masuk ke rumah

__ADS_1


"Akan ku lindungi dirimu karena kamulah wanita pilihan hatiku. Jangan pernah takut atau menangis saat bersamaku disetiap keadaan. Kamulah kekuatanku, kamulah semangatku. Selama kamu ada disisiku, akan kujaga dan kulindungi kamu sepenuh hatiku meski nyawa adalah taruhannya"


Bersambung............


__ADS_2