Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)

Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)
BAB 61. Wanita Pilihanku


__ADS_3

📩Viara


Kak Tara, nanti malam datang main di rumah dinas adek yah


📩Tara


Iyah dek, kebetulan penginapan kakak tidak jauh dari rumah dinasmu. Setelah selesai shalat isya kakak kesitu yah


📩Viara


Iyah kak


Viara tersenyum senang setelah membalas pesan Tara


"Kenapa senyum begitu? Adek lagi suka sama orang lain selain abang yah" Tanya Pandu yang baru saja datang.


Viara mendongakkan kepalanya dan menyunggingkan senyumnya melihat Pandu yang bediri di samping pagar sambil melipat tangannya. Viara meraih tangan Pandu dan menggiringnya untuk duduk di depannya


"Kan abang cintanya adek, kan abang lelaki yang paling adek suka dan sayangi. Mana mungkin adek tertarik dengan orang lain sementara yang terbaik sudah ada di depan adek sekarang" Ucap Viara mengenggam tangan Pandu dan menyalaminya cukup lama


"Tapi abang tidak sempurna dek, dan banyak orang di luar sana yang jauh lebih baik dari abang"


"Semua orang tidak ada yang sempurna bang, begitu juga dengan adek. Tapi abang tak perlu khawatir. Tidak perlu diubah, karena abang akan jadi sempurna di mata orang yang mencintai abang. Kamu sempurna dimataku sayang. Dan lihatlah mata adek sekarang,apa ada keraguan atas cinta adek untuk abang selama ini dimata adek? Apa ada kebohongan dan main-main dibalik kasih sayang hati ini yang tertulis dimata ini?" Tanya Viara lembut. Pandu menggeleng kepada Viara karena hanya ada ketulusan dan kebenaran di mata Viara


"Jadi abang jangan ragu lagi yah. Sekarang hanya abang yang adek cintai selalu. Tidak ada lagi nama orang lain yang tertulis dihati ini selain namamu saja. Hanya Pandu saja yang adek cintai, dan akan selalu adek cintai sampai tubuh adek tertutup gundukan tanah" Kata Viara mengenggam tangan Pandu dan berhambur memeluknya


"Terimakasih yah dek, sudah berusaha selama ini untuk mencintai abang. Abang merasa sangat sempurna sejak adanya dirimu di samping abang. Terus genggam tangan ini hingga kita bersama selamanya nanti yah dek" Kata Pandu diangguki Viara sambil tersenyum


"Iyah abang sayang" Ucap Viara tersenyum sambil melepaskan pelukan Pandu


"Dek, ada yang ingin abang katakan padamu" Kata Pandu dengan mode serius


"Katakan saja bang, adek selalu siap mendengarnya" Jawab Viara sambil tersenyum.


Pandu mendudukkan Viara berhadapan dengannya dan mulai mengatakan maksdunya


"Jadi begini dek, adek tahu kan 2 minggu yang lalu terjadi penyerangan kelompok bersenjata di desa sebelah dan menghanguskan bangunan seisi desa. Abang dan beberapa pasukan dari pos diutus untuk turut membantu membangun desa itu dek" Tutur Pandu menjelaskan


"Berapa lama bang?" Tanya Viara menyembunyikan kegelisahannya


"Kalau sudah selesai, abang akan pulang dek. Kemungkinan 7 hari bahkan lebih. Nggak apa-apa kan dek?" Tanya Pandu


Viara tersenyum manis pada Pandu berusaha tetap tegar dan berhambur memeluk Pandu erat yang duduk di depannya


"Nggak apa-apa sayang. Adek tahu abang punya banyak tugas, apalagi abang sebagai seorang pengabdi negara. Sudah tugas abang menjaga negara ini dan adek sama sekali tidak bisa mencegah abang untuk pergi menjalankan tugas mulia disana. Satu yang adek minta, abang jaga diri disana yah. Adek takut abang terluka lagi bahkan adek takut abang meregang nyawa di tempat penugasan. Hati-hati menjalankan tugasmu yah bang, selalu ingatlah bahwa ada hati yang akan selalu menunggumu pulang" Ucap Viara tersenyum di bahu Pandu namun matanya tak henti-hentinya meneteskan bulir bening mewakili kekhawatiran hatinya saat ini.


Pandu tahu, meskipun Viara tengah tersenyum dan merasa baik-baik saja di bahunya, Pandu tahu jika wanita yang memeluknya ini tengah menangis deras di bahunya. Pandu mengangukkan kepalanya di pelukan Viara dan mengusap lembut punggung Viara yang bergetar hebat sambil memeluknya. Viara mengecup pipi Pandu yang ada di samping wajahnya dan langsung menghapus air matanya


"Cepat pulang yah bang, adek akan selalu merindukan abang" Ucap Viara tersenyum menatap Pandu


Pandu mengusap lembut puncak kepala Viara dan mengecup keningnya lembut


"Hanya wanita kuat dan hebat yang mampu mencintai seorang abdi negara, dan wanitaku adalah salah satunya" batin Pandu tersenyum dan menghapus lembut air mata di pipi Viara.


Viara mengusap lembut pipi lelaki yang sangat dicintainya dan menyalami tangannya sangat lama


"Hati-hati yah bang, jaga mata jaga hati" Ucap Viara tersenyum manis pada Pandu


"Siap laksanakan komandan" kata Pandu lantang mendapatkan gelak tawa dari Viara


"Hahaha...Ngomong-ngomong apa yang abang bawa di kantung kresek itu?" Tanya Viara berbinar melihat kantung yang dipegang Pandu


"Ini silahkan dimakan sayang" Viara menerima kantung kresek yang disodorkan Pandu dan tersenyum kegirangan melihat isi dari kantung itu

__ADS_1


"Sate ini, Sate ini hanya ada di kota kan bang?" Tanya Viara berbinar


"Iyah dek, abang tadi pagi ke kota, kebetulan lihat warungnya jadi abang langsung beliin buat kamu" tutur Pandu menjelaskan sambil tersenyum melihat wajah Viara yang sudah kembali cerah


"Wah, Terimakasih yah bang" Ucap Viara senang dan refleks memeluk Pandu.


Tara yang baru saja datang dan melihat itu di depan teras rumah Viara menghentikan langkahnya dan menatap keatas agar air matanya tidak tumpah. Tara menyemangati dirinya sendiri dan melangkahkan kakinya mendekati Viara dengan mantap


"Assalamu'alaikum" sapa Tara


"Walaikumsalam kak, akhirnya kakak datang juga" kata Viara senang dan membawa Tara duduk di sampingnya.


Pandu yang duduk berhadapan keduanya hanya terdiam tanpa ekspresi, sedangkan Tara menahan sensasi berdebar di dadanya saat matanya tak sengaja beradu pandang dengan Pandu


"Abang sama kak Tara ngobrol dulu yah, adek mau ke dapur dulu untuk siapin sate ini di piring" pamit Viara berlalu masuk ke dalam rumah meninggalkan dua orang yang hanya terdiam dan menatap kearah yang berbeda


"Pandu" Panggil Tara pelan.


Pandu hanya diam tak bergeming sambil menatap Tara yang kembali berkaca-kaca


"Bisakah kita kembali seperti awal lagi? Bisakah kita lupakan semua yang terjadi dulu dan memulai lagi dengan kisah yang baru?" Tanya Tara berlinang, sementara Pandu tetap diam dan terus menatapnya. Tara menghapus air matanya dan meraih tangan Pandu


"Kuakui aku memang melakukan kesalahan yang sangat fatal dulu, tapi izinkanlah aku memperbaikinya demi hubungan kita lagi. Aku hancur tanpamu Pandu, sangatlah hancur. Aku tak bisa melanjutkan hidupku tanpa adanya dirimu disampingku...." Pandu menarik tangannya dari genggam Tara dan terus terdiam tak bergeming.


Tara yang tak kuat lagi menahan sesak didadanya kembali menangis dan refleks memeluk Pandu


"Kumohon Pandu, kembalilah padaku. Kau pernah bilang jika kamu akan kembali menemaniku dan menghiburku jika aku bersedih, kau pernah bilang akan menuruti permintaanku jika itu baik. Maka kembalilah padaku Pandu hiks... hiks...kumohon" lirih Tara terisak di bahu Pandu.


Tara semakin menangis karena Pandu tak membalas pelukannya dan masih setia terdiam di tempat.


"Mengapa kamu baru memelukku sekarang? Mengapa kamu baru membalas perasaan cintaku padamu dulu? Mengapa kamu tak memelukku dulu saat aku kembali ke hadapanmu? Mengapa dulu kamu memilih menghancurkan hatiku dan menghianatiku dengan pergi bersamanya. apa semua cinta dan persahabatan kita tidak cukup untuk membuatmu puas hanya dengan satu lelaki saja?" Tanya Pandu datar. Pandu melepaskan pelukan Tara darinya dan menatapnya datar tanpa ekspresi


Tara semakin menangis dan beralih memegang tangan Pandu erat


"Ekhhmmm!!" Viara berdehem membuat Tara melepaskan tangan Pandu dan lekas menghapus air matanya.


Sementara Pandu hanya terdiam dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa barusan


"Kenapa kak Tara pegang tangan Pandu?" Tanya Viara tegas yang tengah dikuasai api kecemburuan


"Jangan salah paham dulu dek, kakak hanya urut tangan bang Pandu saja kok. katanya agak pegal setelah perjalanan jauh dan memperbaiki saluran air kemarin" Ucap Tara tersenyum berusaha menyakinkan Viara


"Benar begitu bang? Masih sakit tangannya?" Tanya Viara cemas dan beralih mengenggam tangan Pandu


"Nggak dek, udah nggak sakit lagi kok kalau dipegang sama adek seperti ini" Goda Pandu membuat wajah Viara merona seketika


"Ihh abang ini, adek serius tahu!!"


"Hahha, abang juga serius adek sayang" Ucap Pandu mengelus puncak kepala Viara.


Viara tersenyum dan mulai mencari topik pembicaraan yang seru bersama keduanya. Setelah sejam lebih mengobrol bersama, Pandu merangkul Viara yang kelelahan di sampingnya


"Adek capek lagi yah, kok wajahnya pucat lagi?" Tanya Pandu membawa Viara untuk bersandar di dadanya


"Hehhe iya bang, adek udah ngantuk banget jadinya kayak gini" Ucap Viara tersenyum berusaha menahan sensasi pening di kepalanya


"Yaudah sekarang adek masuk dan tidur yah, nanti besok kita lanjut lagi ngobrolnya" ucapy Pandu lembut dan merangkul Viara masuk ke dalam rumah


"Terimakasih yah sayang. Jangan lupa anterin kak Tara pulang yah, ini sudah malam jadi nggak baik jika perempuan pulang sendirian di jam segini" pinta Viara menyalami tangan Pandu


"Iyah dek, adek tenang saja yah, selamat malam sayang" Ucap Pandu mencium kening Viara


"Selamat malam juga abang sayang" ujary Viara tersenyum dan perlahan-lahan menutup pintu rumah dinasnya

__ADS_1


"Mari ku antar pulang" Ujar Pandu berlalu menaiki motornya


"Tapi....."


"Karena aku tidak lagi mencintaimu, bukan berarti aku berhenti perduli akan keselamatan warga desa. Cepatlah ini sudah malam" kata Pandu menyerahkan helm kepada Tara.


Tara menerima helm itu sambil tersenyum senang dan menaiki jok belakang motor Pandu


Selama perjalanan mengantar Tara, Pandu hanya terdiam sambil memperhatikan jalan di depannya. Tara sesekali mengajak Pandu untuk berbicara, namun Tara tersenyum kecut karena Pandu tetap tak bergeming dan terus fokus di jalanan di depannya


Sesampainya di tempat tujuan


"Terimakasih sudah meluangkan waktumu untuk mengantarku pulang" Ucap Tara tersenyum sambil menyerahkan helm kepada Pandu


"Sama-sama, selamat malam" kata Pandu segera melaju meninggalkan rumah penginapan Tara


"Tidak apa-apa kamu tak lagi menerima cintaku, tapi aku senang jika kamu masih peduli padaku" gumam Tara senang dan berjalan memasuki rumahnya


__________


Pukul 4.45 dini hari, Viara mengeliat dan terbangun dari tidurnya karena mendengar suara Adzan berkumandang dari masjid desa. Viara turun dari ranjangnya dan berlalu ke kamar mandi untuk mengambil air Wudhu.


Selesai mengambil wudhu dan rapi dengan mukena putihnya, Viara membentangkan sajadahnya dan mulai melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu shalat subuh.


Setelah shalat subuh, Viara merapikan peralatan shalatnya dan berlalu kedepan rumah karena mendengar arahan-arahan dan berbagai bunyi dari pos tentara yang bersebrangan dengan rumah dinasnya.


Sesampainya di depan rumah, Viara melihat para prajurit tengah mempersiapkan alat-alat dan senapan mereka dan dimasukkan kedalam truk dalam keadaan hari yang masih agak gelap.


Setelah Pandu memasukkan beberapa senapan kedalam truk, Pandu menoleh kesamping dan melihat didepan sana jika Viara tengah menatapnya sambil tersenyum. Pandu membalas senyumnya manis Viara dan melangkahkan kakinya mendekati kekasih hatinya dengan ransel besar di punggungnya.


Viara meraih tangan Pandu dan menyalaminya sangat lama sambil berderai air mata mewakili kekhawatiran hatinya saat ini. Pandu mengecup kening Viara dan membawanya kedalam pelukannya


"Abang pergi dulu yah dek" pamit Pandu sambil mengusap lembut punggung Viara yang bergetar di pelukannya. Viara lantas menghapus air matanya dan menampilkan senyuman termanisnya untuk mengantar kepergian kekasihnya


"Pergilah sayang, adek akan selalu menanti abang pulang kesini. Di ujung penantianku, aku hanya menunggumu sayang. Hati-hati yah" Ucap Viara sambil tersenyum.


"Pandu!!" panggil bang Zardan


Pandu mengusap pipi Viara lembut dan melangkahkan kakinya mendekati truk


"Tunggu abang!!!" panggil Viara membuat Pandu menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Viara


"Adek sayang abang" Ucap Viara tersenyum untuk menyemangati kekasihnya


"Abang juga saya sama adek. Hanya adek yang ada di hati ini. Tunggu abang pulang yah" balas Pandu diangguki Viara sambil tersenyum


Viara melambaikan tangannya pada truk tentara yang telah berlalu dari hadapannya sambil tersenyum manis pada Pandu yang telah terbawa bersama truk yang dinaikinya


"Memilihku adalah pilihan terberat bagimu. Disatu sisi aku adalah milikmu, tapi di satu sisi aku juga milik negara. Sebelum mencintaimu, aku terlebih dulu mencintai negaraku dan berjanji untuk menjaganya. Seperti negara yang selalu ku lindungi, begitu juga denganku yang akan selalu menyayangi serta melindungimu sayang. Aku mencintaimu dalam doa, jika Allah masih mengizinkanku untuk pulang, maka dalam doa itu juga aku akan kembali ke pelukanmu. Nyawaku ada di senapan, tapi cintaku akan selalu ada di hatimu dan hanya untukmu wahai wanita pilihanku. Aku, Lettu Pandu Praditya Maheswara, memilihmu dalam hatiku Viara"


Bersambung......


🌹🌹🌹


Pesan Author :


Episode yang ini adalah episode yang kemarin yah (Sudah dihapus). Author sudah merubah sedikit alurnya karena episode yang kemarin belum sempurna dan masih terdapat beberapa kesalahan.


Maaf jika novel author belum sempurna masih terdapat banyak kesalahan yah🙏 Maklum author masih pemula dan masih harus belajar banyak lagi. Terus nantikan episode selanjutnya dari novel karya author yah😉


Terimakasih semua


Love You All💞

__ADS_1


__ADS_2