Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)

Di Ujung Penantian (Kekasih Sang Prajurit)
BAB 57. Pemenang Dihatiku


__ADS_3

Setelah menjawab panggilan telepon dari orang tuanya, Viara kembali melangkahkan kakinya menghampiri dokter yang baru keluar dari ruang IGD


"Bagaimana kondisinya dokter?" Tanya Viara ramah


"Alhamdulillah pasien sudah baik-baik saja dan sudah terlepas dari masa kritisnya. Tadi pasien sangatlah drop, tapi pasien memiliki semangat hidup yang tinggi hingga ia berhasil lolos dari masa kritisnya. Untuk sementara, pasien masih mengalami koma karena peluru yang terkena bagian atas dada dan lengannya cukup dalam hingga merusak jaringan pembuluh darahnya. Tapi kamu tenang saja, dia hanya koma untuk sementara waktu" Ucap Dokter menjelaskan sambil tersenyum


"Terimakasih dokter. Bisakah saya menemuinya?" Tanya Viara penuh harap


"Boleh, tapi setelah pasien dipindahkan ke ruang rawatnya yah. Kalau begitu saya permisi dulu" Ucap Dokter tersenyum


"Baiklah, sekali lagi terimakasih dokter" Ucap Viara dibalas anggukan kepala oleh dokter sambil tersenyum


Setelah Pandu telah dipindahkan ke ruang rawatnya, Viara segera menyusul ke ruangan tersebut. Saat membuka pintu ruang rawat Pandu, Viara melangkahkan kakinya mendekati brankar Pandu dan duduk di kursi yang ada di samping brankarnya


"Terimakasih karena masih terus berjuang dan bertahan sampai sekarang. Jangan pernah pergi ke tempat dimana aku tidak bisa menggapaimu yah, aku tidak mau kehilangan cintaku kembali" lirih Viara menjatuhkan air mata sambil mengenggam tangan Pandu.


Viara menyeka air matanya dan menyunggingkan senyum bahagia karena bisa merasakan detak jantung Pandu yang berdetak sangat cepat saat dia menyentuh dada Pandu


"Cepatlah bangun sayang, aku begitu merindukanmu. Aku rindu mendengar suaramu, mendengar tawamu, mendengar percakapanmu, dan aku merindukan tatapan matamu bersamaku. Aku ada disini untukmu, mencintaimu adalah pilihan tepat dalam hidupku. Akan kujaga dan ku rawat kamu sepenuh hatiku karena hanya kamulah pemenangan di hatiku" Ucap Viara menyatukan keningnya dan kening Pandu sambil tersenyum menatap wajah teduh Pandu yang selalu berhasil merebut hatinya


"Cepatlah bangun, aku merindukanmu"


__________


Sudah 2 hari Pandu dirawat di rumah sakit kota, dan Viara selalu menyempatkan waktunya untuk menjaga dan menemani kekasihnya itu yang sampai sekarang masih setia menutup matanya. Meskipun harus pulang balik kota karena ada tugas yang menjadi tanggungjawab Viara di desa, tak mematahkan semangat Viara untuk tetap mendampingi Pandu selama tubuhnya masih bertenaga


"Jadi mau langsung ke kota nih?" Tanya Ila sambil menbantu memasukkan barang-barang kedalam tas Viara.


"Iyah Ila. Aku akan tinggal di kota untuk 2 hari karena aku tidak memiliki jadwal mengajar selama 2 hari kedepan" Ucap Viara sambil tersenyum


"Apa kamu tidak lelah jika setiap hari seperti ini?" Tanya Ila lagi


"Nggak lelah sama sekali. Yang lelah itu nanggung perasaan rindu kalau nggak lihat dia satu hari saja"Ucap Viara sambil tersenyum


"Hahhah kamu ini. Yaudah hati-hati di jalan yah Viara" Ucap Ila memeluk teman baiknya


"Iyah siap, aku pergi dulu yah assalamu'alaikum" pamit Viara


"Walaikumsalam Viara" balas Ila sambil tersenyum dan melambaikan tangannya pada Viara yang sudah terbawa bersama truk tentara


Setelah menempuh perjalanan selama 4 jam, kini Viara sudah sampai di rumah sakit tujuannya. Viara kembali melangkahkan kakinya untuk pergi ke ruang rawat Pandu yang berada di lantai 5 rumah sakit.


Ketika Viara membuka pintu kamar Pandu, Viara menyunggingkan senyumnya dan segera duduk di samping brankar Pandu yang masih terlelap disana


"Assalamu'alaikum abang sayang" sapa Viara meraih tangan Pandu dan menyalami tangannya cukup lama


"Abang kok masih tidur, apa badan abang nggak sakit terus berbaring seperti ini?" Tanya Viara tersenyum melihat wajah teduh Pandu


"Jika memang tidur bisa membuatmu sembuh, maka aku tidak akan mencegah hal itu. Tapi ingat, ada hati yang merindukanmu untuk segera bangun. Tapi tak mengapa sayang, tidurlah dengan nyenyak yah. Aku akan selalu menunggumu untuk terbangun meski memerlukan waktu yang sedikit lama. Aku akan selalu menjagamu disini, disampingmu" Ucap Viara mendekatkan wajahnya dan mengecup lembut kening Pandu dengan penuh kasih sayang


Viara berlalih memperbaiki selimut yang menutupi tubuh Pandu dan terus menggenggam tangan Pandu erat.


Tak berselang lama, terlihat pintu ruang rawat Pandu terbuka menampakkan 2 perawat wanita dan 1 perawat pria yang berjalan masuk


"Selamat sore nona" Sapa perawat lelaki yang bernama Dimas


"Selamat sore juga bang, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Viara ramah


"Kami datang untuk mengecek perkembangan pasien" Ucap salah satu perawat wanita yang diketahui bersama Sasa, sedangkan perawat wanita yang berdiri di sampingnya terus terdiam sambil mengamati percakapan kedua rekannya dengan Viara


"Yaudah, silahkan saja kak" balas Viara ramah.


Para perawat itu mengangguk dan langsung melakukan pemeriksaan pada Pandu


"Pasien baik-baik saja, detak jantungnya normal, tekanan darahnya normal, tubuhnya juga sehat. Hanya tinggal menunggu pasien untuk segera bangun" Viara tersenyum mendengar ucapan perawat sasa setelah dia melakukan pemeriksaan pada Pandu

__ADS_1


"Terimakasih kak" Ucap Viara senang


"Sama-sama dek. Ngomong-ngomong kamu selalu ada disini setiap kami mengecek ruangan pasien, apakah pasien adalah orang terdekatmu?" Tanya Perawat Dimas


Viara menyunggingkan senyumnya mendengar pertanyaan Dimas dan langsung menyatukan tangannya dengan tangan Pandu


"Dia calon suamiku" Jawab Viara tersenyum sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jari tangannya dan juga jari tangan Pandu. Seketika perawat wanita yang sejak tadi terdiam sambil memakai maskernya meneteskan air mata mendengar ucapan Viara


"Ohh calon suaminya yah, semoga cepat menikah yah" Ucap Perawat Sasa senang dan mulai menjabat tangan Viara, begitu juga dengan dokter Dimas yang ikut menjabat tangan Viara.


Sementara perawat yang terus terdiam sejak tadi mulai menjabat tangan Viara dengan gemetar. Viara menatap wajah yang tertutup masker itu, seolah Viara pernah bertemu dengannya tapi Viara lupa dimana.


"Ohh ya nona, kami datang kesini juga untuk membersihkan tubuh pasien" Ucap perawat Dimas


"Iyah silahkan kak" Ucap Viara mempersilahkan perawat Dimas melakukan tugasnya


"Tapi sepertinya pasien tidak ingin disentuh, lihatlah wajahnya yang berubah cemas seperti itu" Ucap perawat Sasa dengan alat ditangannya.


Mendengar ucapan Sasa, Viara melirik wajah Pandu dan benar saja jika raut wajah Pandu telah berubah seperti orang yang cemas


"Sebentar yah Kak, biar saya meminta izin dulu padanya" kata Viara


"Loh emangnya pasien bisa mendengar ucapanmu? Kan dia sedang tertidur" Kata Perawat Sasa mengerutkan alisnya


"Tentu saja bisa kak, aku percaya walaupun dia tengah tertidur lelap sekarang, tapi dia bisa mendengar ucapanku" Ucap Viara tersenyum dan melangkah mendekati Pandu.


Viara memajukan wajahnya dan mengatakan sesuatu di telinga Pandu


"Sayang, biarlah mereka membersihkan tubuhmu yah. Jangan cemas, hanya dokter lelaki saja yang melakukannya. Kan tidak mungkin perawat wanita yang akan melakukannya, sama saja adek membiarkan mereka menyentuh tubuh abang, sedangkan abang kan milik adek, hanya milik adek dan bukan yang lain. Jadi abang tenang saja yah, ada adek disini disamping abang" Ucap Viara lembut


Ketiga perawat itu melongo tak percaya melihat wajah Pandu yang berubah cerah setelah mendengarkan ucapan Viara meski matanya masih tertutup rapat


"Nah kalian berdua dengar kan, segera tinggalkan kamar ini. Jagalah privasi kami para lelaki, nanti perawat Edo yang akan membantuku disini" Perintah perawat Dimas menyuruh perawat wanita disampingnya untuk keluar.


"Silahkan keluar nona-nona, aku sudah datang " Ucap perawat Edo.


Viara yang juga akan keluar bersama dengan kedua perawat wanita itu menghentikan langkahnya saat mendengar panggilan perawat Dimas


"Mau kemana dek? Disini aja temani dia, kan dia calon suamimu, jadi tidak apa-apa" Ucap perawat Dimas


"Tidak kak, saya akan keluar saja" tolak Viara sopan


"Nggak apa-apa loh dek, kamu tetap disini saja. Apa kamu tidak melihat wajah calon suamimu yang kembali cemas" Kata perawat Dimas.


Viara melirik ke wajah Pandu dan benar saja jika raut wajah Pandu kembali cemas sekarang


"Tapi.... Tapi... "


"Ayolah dek, tidak apa-apa kok" pinta perawat Dimas sambil tersenyum.


Viara mengontrol nafasnya dan menganggukkan kepalanya kepada perawat Dimas


"Terimakasih dek, benar kan wajah pasien kembali teduh" kata perawat Dimas.


Viara tersenyum melihat wajah Pandu yang menerbitkan senyuman tipis di bibirnya.


Perawat Dimas pun mendekati Pandu bersiap membersihkan tubuhnya dengan alat ditangannya. Ketika dokter Dimas membuka pakaian Pandu, wajah Viara terasa memanas saat melihat Pandu yang sudah bertelanjang dada. perawat Dimas tersenyum pada Viara agar Viara menjadi tenang dan tidak merasa bersalah karena dia masih ada di ruangan itu.


Saat dokter Dimas bersiap membuka celana Pandu, Viara langsung menutup matanya dan menutupi mukanya dengan telapak tangannya


"Loh dek, kenapa ditutup mukanya? Itu sama saja dengan berada di luar ruangan" kata perawat Dimas


"Tidak apa-apa kak, lanjutkan saja pekerjaan kalian" Ucap Viara masih menutup wajahnya


"Kan dia calon suamimu dek, jadi kamu juga bisa melihat tubuhnya" kata perawat Edo

__ADS_1


"Tidak kak, dia memang calon suami ku, tapi kami belumlah pasangan yang halal. Setelah kami menikah nanti, maka aku tidak akan menutup mataku lagi saat melihatnya tanpa ditutupi apapun" Ucap Viara dibalik tangannya membuat kedua perawat pria itu menyunggingkan senyumnya


Mereka tersenyum dan kembali membersihkan tubuh Pandu. Sesekali mereka melirik dan menahan tawa melihat Viara masih setia menutup wajahnya dengan telapak tangannya


"Nah sudah selesai, silakan dibuka matanya" Ucap Perawat Edo


"Beneran kak? Kakak nggak lagi bercanda kan" Tanya Viara memastikan


"Iyah dek, benaran kok" Jawab Perawat Dimas.


Viara membuka matanya dan tersenyum melihat Pandu yang kembali memakai pakaian rumah sakit


"Terimakasih yah Kak" Kata Viara sambil tersenyum


"Sama-sama dek, kami permisi dulu yah" Viara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum hingga kedua perawat itu melangkah keluar meninggalkan ruang rawat Pandu


Viara melangkahkan kakinya mendekati Pandu dan mengusap lembut titik air di sudut bibirnya


"Sekarang sudah wangi, sudah segar dan makin tampan" Ucap Viara tersenyum dan mengecup lembut kening Pandu


Viara sedikit mengangkat badan Pandu dan membaringkannya dengan sempurna di bantalnya


"Abang tahu tidak, hari ini......" Viara mulai bercerita panjang lebar sambil mengenggam tangan Pandu.


Viara terus tersenyum dan menceritakan pengalamannya sejak Pandu sakit dan tidak menemaninya lagi di desa. Viara yakin, meskipun Pandu masih setia menutup matanya, Pandu masih mendengar ceritanya. Oleh karena itu Viara terus bercerita hingga pukul 9 malam. Karena hari yang sudah mendekati larut, Viara tersenyum dan mencium kedua punggung tangan Pandu cukup lama.


Viara memperbaiki selimut yang menutupi tubuh Pandu dan mengusap wajah teduhnya lembut sambil bersenandung kecil


Selama jantung ini berdetak


Ku akan selalu menjagamu


Hingga akhir waktu


Selama nafas ini berhembus


Tak akan ada cinta yang lain


Hingga tua bersama....


Viara mengakhiri senandung kecilnya dan mengecup lembut kening Pandu dengan penuh kasih sayang


"Cepatlah bangun sayang, aku merindukanmu" bisik Viara di telinga Pandu.


Karena lelah yang semakin menyerangnya, Viara perlahan-lahan menutup matanya dengan posisi masih terduduk di kursi disamping brankar Pandu dan masih mengenggam tangan Pandu


Pandu yang sudah tersadar sejak tadi pagi membuka matanya dan menyunggingkan senyumnya melihat Viara yang tidur di samping perutnya. Pandu membalas genggaman tangan Viara dan dengan tangan kirinya dia mengelus lembut kepala Viara dengan penuh cinta


"Terimakasih kamu masih setia menjaga dan menemaniku disini sayang. Terimakasih karena masih setia menungguku untuk membuka mata. Jangan pernah berpaling dariku lagi yah, sungguh aku sangat takut jika harus kehilanganmu lagi. Hanya kamu saja yang ada di hatiku, jadi tidaklah mungkin aku melukai hatimu. Seluruh jiwa dan raga ku hanya untukmu, karena hanya kamu wanita istimewa dalam hidupku. Selamanya hatiku untukmu dan hanya untukmu, hanya untuk Viara, bukan yang lain" Ucap Pandu mengecup kening Viara dan tersenyum sambil mengusap kepala Viara dengan lembut


Sementara di depan kamar Pandu, ada seseorang yang berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah melihat dari pintu yang sedikit terbuka. Namun usahanya nihil, karena matanya tidak bisa diajak bekerja sama. Hatinya sangatlah hancur melihat dua orang didalam sana


"Syukurlah kamu telah menemukan wanita yang jauh lebih baik dariku. Maafkan aku karena pernah mengkhianatimu dulu. Maafkan aku karena pernah membuatmu terluka. Sekarang akulah yang terluka karena menginginkanmu kembali lagi dalam hidupku. Namun aku sudah terlambat, sangatlah terlambat. Sekarang aku tahu betapa aku mencintaimu. Tapi semua itu sudah tidak teranggap lagi karena kamu sudah menemukannya, menemukan seseorang yang jauh lebih baik daripada aku" gumam perawat wanita itu terus menjatuhkan air matanya melihat Pandu yang mengusap lembut kepala Viara sambil tersenyum didalam sana


Perawat wanita itu menghapus air matanya dan segera berlalu meninggalkan depan ruang rawat itu


"Aku mencintaimu Pandu, namun cinta itu datang terlambat"


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan jejak biar author makin semangat untuk update episode selanjutnya😉


Terimakasih semua


Love You All 😘💞

__ADS_1


__ADS_2